Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.
Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.
*
Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Lucio masuk ke dalam mobil masih dengan Naya berada dalam pelukannya. Tangannya melingkar erat di tubuh gadis itu, seolah takut Naya akan lepas jika ia sedikit saja mengendurkan genggamannya.
Naya sempat berontak beberapa kali, mencoba mendorong dada Lucio, tetapi pria itu sama sekali tidak berniat melepaskannya.
“Cepat, Mario,” perintah Lucio.
“Baik, Tuan,” jawab Mario singkat dari kursi pengemudi.
Mesin mobil segera menyala, dan tak lama kemudian kendaraan itu melaju meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi.
Untuk kedua kalinya dalam satu hari yang sama, Naya kembali merasakan mobil melesat di jalanan dengan kecepatan yang membuat dadanya ikut berdebar.
“Lepaskan aku,” kata Naya sambil menggeliat pelan, berusaha membebaskan diri dari pelukan Lucio.
Namun bukannya melepas, Lucio justru mempererat lengannya.
“Diamlah atau kubuat kamu diam selamanya.”
Ancaman lagi.
Naya langsung mendelik kesal. Ia benar-benar muak dengan sikap pria itu, sok berkuasa, kasar, dan selalu mengancam seolah semua orang harus tunduk padanya.
Namun kali ini Naya tidak membalas. Ia hanya menghela nafas panjang dan memilih diam.
Sepanjang perjalanan setelah itu, tidak ada lagi yang bersuara.
Naya menundukkan pandangannya, matanya tanpa sadar tertuju pada tangan Lucio yang masih melingkar di tubuhnya. Buku-buku jarinya terlihat terluka, kulitnya terkelupas dengan sisa darah yang hampir mengering.
Luka itu kemungkinan berasal dari pukulan yang ia berikan pada kaca tadi.
Entah kenapa, melihat luka itu membuat dada Naya terasa sedikit tidak nyaman. Naya buru-buru menggeleng, untuk apa ia merasa kasihan dengan Lucio. Dia pantas mendapatkannya.
Dalam waktu singkat mereka tiba di rumah sakit. Mobil bahkan belum sepenuhnya berhenti ketika Lucio sudah membuka pintu dan turun lebih dulu.
Tanpa banyak bicara, ia segera membawa Naya masuk ke dalam gedung rumah sakit dan langsung menuju salah satu ruang perawatan VIP. Para staf rumah sakit tampak sudah mengenal Lucio, karena mereka segera membuka jalan tanpa banyak pertanyaan.
Di dalam ruangan itu, seorang dokter bersama perawat langsung menangani Naya. Dokter berlutut di depan kursi tempat Naya duduk, dengan hati-hati memeriksa telapak kakinya yang terluka.
Sementara itu Lucio berdiri tidak jauh dari sana. Ia bersandar ringan di dekat meja, sesekali mengotak-atik ponselnya seperti sedang membalas pesan seseorang.
Naya melirik sekilas ke arahnya, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan.
Matanya kemudian tertuju pada Mario yang berdiri tegap di dekat pintu ruangan. Pria itu tampak setia seperti biasa, diam dengan ekspresi datar, siap menunggu perintah kapan saja.
“Lukanya tidak dalam,” kata dokter akhirnya setelah selesai membersihkan luka Naya. “Hanya perlu dibersihkan dan diberi perban.”
Dokter itu kemudian mulai melilitkan perban dengan hati-hati di telapak kaki Naya.
“Tapi tetap saja, untuk beberapa hari kedepan kamu harus berhati-hati saat berjalan. Jangan terlalu banyak menekan kaki ini.”
“Iya, Dok,” jawab Naya pelan. “Setidaknya aku masih bisa bergerak bebas.”
Mendengar itu, Lucio yang sejak tadi fokus pada ponselnya seketika mendengus pelan.
Ia mengangkat kepala dan menatap Naya dengan tajam.
Tatapan itu membuat Naya langsung merasa gugup.
“W-wah… perbannya bagus,” kata Naya buru-buru.
Ia menundukkan kepala, pura-pura memperhatikan perban di kakinya. Padahal sebenarnya ia tidak benar-benar melihat apa pun. Pujian itu keluar begitu saja, hanya untuk mengalihkan perhatian Lucio yang sedang menatapnya seperti itu.
Dokter sempat tersenyum kecil mendengar komentar canggung itu.
Namun di sudut ruangan, Mario menundukkan wajahnya sedikit, mungkin untuk menyembunyikan ekspresi yang hampir tersenyum.
“Lain kali jangan lakukan kebodohan seperti itu.” Kata Lucio setelah dokter dan perawat akhirnya meninggalkan ruangan. Ia berdiri tidak jauh dari pintu, tangannya dimasukkan ke saku celana, menatap Naya yang sedang mencoba berdiri dari kursi periksa.
Mereka jelas bersiap untuk kembali pulang.
Naya yang baru saja menapakkan kaki yang diperban itu langsung mengerucutkan bibirnya kesal.
“Nggak usah sok peduli,” balasnya jengkel. “Kamu memukul kaca itu dengan tujuan melukaiku. Aku cuma mewujudkan keinginanmu.”
Alis Lucio langsung berkerut.
“Jangan bicara sembarangan, Naya. Aku tidak—”
“Oh, Mario,” potong Naya tiba-tiba dengan suara dibuat ceria.
Ia berbalik ke arah asisten pribadi Lucio yang sejak tadi berdiri dekat pintu.
“Kamu terlihat tampan hari ini. Ayo bantu aku ke mobil.”
Tanpa menunggu jawaban, Naya sudah berjalan setengah pincang ke arah Mario.
Mario langsung berkeringat dingin.
“Tapi, Nyonya…” katanya ragu.
Ia sadar betul bahwa di belakang Naya, Lucio sedang menatapnya dengan ekspresi yang jelas tidak senang.
Tatapan itu adalah peringatan untuknya, jika ia berani membantu Naya, mungkin ia tidak akan sempat melihat matahari terbenam.
“Bantu aku,” ulang Naya lagi sambil menatap Mario penuh harap.
Mario terlihat semakin canggung. Ia melirik Lucio sekilas, lalu kembali melihat Naya, benar-benar terjebak di tengah situasi yang tidak menyenangkan.
“Aku bisa membantumu.”
Suara Lucio tiba-tiba terdengar tepat di belakang Naya.
Pria itu sudah berdiri sangat dekat sekarang. Tatapannya tertuju lurus pada Mario, dan tanpa berkata apa-apa ia memberi isyarat kecil dengan dagunya agar pria itu pergi.
Sebuah perintah yang tidak perlu diucapkan.
“Permisi, Tuan, Nyonya,” kata Mario cepat. Ia membungkuk sedikit sebelum mundur beberapa langkah.
“Saya akan menyiapkan mobil.”
Tanpa menunggu lebih lama, Mario segera keluar dari ruangan. Ia jelas tidak ingin terseret lebih jauh ke dalam pertengkaran pasangan itu.
Kini hanya tersisa Lucio dan Naya di ruangan itu. Lucio menatap Naya beberapa detik.
“Puas kamu membuat orang lain kesulitan?” tanyanya datar.
Naya mendengus kecil.
“Setidaknya lebih menyenangkan daripada berbicara denganmu.”
“Naya, dengar.” Lucio meletakkan tangannya di bahu Naya, lalu memutar tubuh gadis itu dengan lembut agar menghadap ke arahnya. Tatapannya tidak lagi sekeras beberapa saat yang lalu.
“Aku hanya tidak suka seseorang mengkhianatiku,” katanya pelan. “Tapi bukan berarti aku ingin menyakitimu.”
Naya mengerutkan kening.
“Aku tidak berkhianat,” balasnya cepat.
Akhirnya ia menjelaskan kejadian yang sebenarnya, suaranya terdengar sedikit terburu-buru seolah takut Lucio tidak akan memberinya kesempatan lagi untuk berbicara.
“Aku hanya ingin bertemu Papa. Aku sama sekali tidak tahu kalau Ardan juga ada di sana. Dia yang memelukku tiba-tiba.”
Naya mendongak, menatap langsung ke mata Lucio, berusaha memastikan pria itu benar-benar mendengarnya.
“Dan apa maksudmu tidak ingin menyakitiku?” lanjutnya dengan nada sedikit menantang. “Kamu tadi melayangkan pukulan itu ke arahku—”
“Aku memukul kaca,” potong Lucio cepat.
“Sebenarnya tujuanmu aku,” sahut Naya tidak mau kalah.
Lucio menutup mata sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengacak rambutnya dengan kasar, tanda jelas bahwa kesabarannya sedang diuji.
Berbicara dengan perempuan ternyata memang jauh lebih rumit daripada menghadapi rapat bisnis atau negosiasi perusahaan.
“Baiklah,” katanya akhirnya dengan suara rendah. “Aku minta maaf.”
Naya langsung mengerjapkan matanya beberapa kali.
Apakah ia mendengar dengan benar?
Lucio baru saja meminta maaf?
Pria yang selalu bersikap angkuh, seenaknya, dan sering melontarkan ancaman, kini berdiri di depannya dan mengatakan kata yang hampir mustahil itu.
Naya menatapnya seolah mencoba memastikan bahwa telinganya tidak salah menangkap.
Ah, tampaknya semesta benar-benar sedang bercanda hari ini.
...***...
...Like, komen dan vote...