Marvel Dewangsa sadar bahwa hatinya sudah lama mati. Mungkin dari pengkhianatan oleh wanita yang ia sayangi, ditambah ia yang berkecimpung di dunia bawah yang tidak memerlukan simpati untuk bertahan hidup. Ia akhirnya percaya bahwa hidupnya akan seallau gelap sampai mati.
Namun, entah keajaiban apa, di hari itu seorang wanita yang bernama Elara , datang dan perlahan selalau ada di kehidupannya. Apakah marvel Dewangsa akan menerima Elara di kehidupannya dan hatinya akan luluh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
plot twist
Marvel berdiri di depan pintu kamar Aria, menghalangi jalan ayahnya. Tangannya mengepal di samping tubuh, urat-urat di lehernya menegang.
"Dia adikku, Ayah. Dia bukan barang dagangan yang bisa kau berikan kepada keluarga Valerio hanya untuk aliansi sialan itu!" suara Marvel rendah, bergetar oleh amarah yang tertahan.
Don Dewangsa tertawa dingin, matanya menatap tajam ke arah pintu kayu di belakang Marvel . "Di keluarga ini, tidak ada yang namanya 'adik' atau 'anak'. Hanya ada aset. Aria sudah cukup umur untuk membayar utang darah keluarga ini dengan pernikahannya."
"Aku sudah membayar semua utang darahmu!" bentak Marvel, melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak satu inci dari ayahnya. "Aku membunuh untukmu. Aku menyiksa untukmu. Aku kehilangan jiwaku agar tanganmu tetap bersih. Tapi Aria... dia tidak akan menyentuh dunia kotor ini."
"Kau menjadi lemah, marvel. Kau memanjakannya dengan buku dan lukisan, sementara dia seharusnya belajar bagaimana cara memegang belati di balik gaunnya," balas sang ayah dengan nada menghina. "Jika kau tidak menyingkir, aku akan menganggapmu sebagai pengkhianat, bukan putra mahkota."
Marvel menarik napas panjang, kedinginan yang biasa menyelimutinya kini berubah menjadi api yang membakar. "Kalau begitu, anggaplah aku pengkhianat. Karena mulai detik ini, siapa pun yang mencoba membawa Aria keluar dari rumah ini—termasuk kau—harus melaluiku terlebih dahulu."
Don Dewangsa erdiam, menyadari bahwa ia telah kehilangan kendali atas senjata terbaiknya. Marvel tidak lagi bertarung demi organisasi; ia bertarung demi satu-satunya hal yang tersisa dari kemanusiaannya: Aria.
Dinamika Baru:
Marvel sang Pelindung: Kekejamannya kini punya tujuan mulia, yaitu menjaga Aria agar tetap "suci" dari dunia mafia.
Aria sebagai Beban vs Kekuatan: Aria menjadi satu-satunya titik lemah Marvel yang bisa digunakan musuh (atau ayahnya sendiri) untuk menghancurkannya.
Aria Moretti adalah satu-satunya alasan mengapa Marvel masih memiliki sisa kemanusiaan. Dia adalah kontras murni dari kegelapan kakaknya.
Profil Aria (Adik Tiri marvel)
Si Gadis Lukis: Berbeda dengan Marvel yang terobsesi dengan senjata dan strategi, Aria lebih suka menghabiskan waktunya di studio lukisnya. Baginya, warna adalah pelarian dari rumah yang berbau mesiu.
: Marvel menyebutnya sebagai "bintang yang salah jatuh ke neraka." Marvel bersumpah Aria tidak boleh melihat darah, meski tangannya sendiri sudah merah pekat demi memastikan hal itu.
Kekuatan dalam Kelembutan: Meskipun tampak rapuh, Aria adalah satu-satunya orang yang berani membentak marvel atau menatap mata dinginnya tanpa rasa takut. Dia tahu Vico adalah monster bagi dunia, tapi pahlawan baginya.
Hubungan yang Rumit
Aria sering kali merasa bersalah. Dia tahu setiap kemewahan dan kebebasan yang dia miliki dibayar oleh nyawa yang diambil kakaknya. Perdebatan Marvel an ayahnya sering kali meledak karena:
Perjodohan Politik: Ayah Don ingin Aria menikah dengan putra mafia lain (keluarga Valerio) untuk memperkuat aliansi.
Marvel ingin Aria kuliah di luar negeri dan keluar dari dunia mafia, sementara Ayah ingin Aria tetap di Milan sebagai "aset" keluarga.
Fragmen Singkat:
Setelah perdebatan hebat dengan ayahnya, marvel masuk ke kamar Aria. Gadis itu sedang melukis, punggungnya menghadap pintu.
"Jangan lakukan itu, marvel," ucap Aria tanpa menoleh. "Jangan hancurkan hubunganmu dengan Ayah hanya karena aku."
Marvel berdiri di ambang pintu, jasnya masih rapi namun auranya mencekam. "Ayah ingin menjualmu, Aria. Dia ingin kau menjadi piala di rumah pria yang tidak kau cintai."
Aria berbalik, matanya berkaca-kaca. "Dan kau? Kau ingin menjadi monster agar aku bisa tetap menjadi malaikat? Itu tidak adil bagimu!"
Marvel mendekat, mengusap noda cat di pipi adiknya dengan ibu jari yang kasar. "Aku sudah lama mati, Aria. Biarkan aku memastikan kau tetap hidup."
Apakah Anda ingin melihat rencana Marvel untuk mengirim Aria pergi secara diam-diam, atau Aria yang justru ikut turun tangan dalam konflik ini untuk menyelamatkan kakaknya?
Setelah Marvel mengancam ayahnya, ia menemukan Aria di balkon. Aria menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kau melakukannya lagi, Kak," bisik Aria. "Kau menghancurkan segalanya demi aku."
Marvel hanya menatap langit malam Milan yang kelam. "Aku tidak menghancurkan segalanya, Aria. Aku hanya sedang menyingkirkan apa pun yang menghalangi kebahagiaanmu."
Dengan tas kecil berisi paspor palsu yang ia curi dari brankas kerja Marvel dan sedikit uang tunai, Aria menyelinap keluar melalui jalur pelayan. Ia hafal jadwal pergantian penjaga; Marvel terlalu sibuk berdebat dengan ayah mereka di lantai atas untuk menyadari pergerakan adiknya.
Namun, tepat saat jemarinya menyentuh gerbang belakang yang dingin, sebuah suara rendah menghentikan detak jantungnya.
"Kau pikir kau akan sampai ke mana, Aria?"
Marvel berdiri di sana, bersandar pada pilar beton hitam.
Wajahnya tidak terlihat karena kegelapan, hanya bara rokoknya yang menyala kecil seperti mata predator.
"Lepaskan aku, Marvel !" Aria berbalik, matanya berkaca-kaca namun penuh tekad. "Aku bukan aset Ayah, tapi aku juga bukan boneka pajanganmu! Kau membunuh jiwa kakaku yang dulu demi menjagaku, dan aku tidak bisa melihatnya lagi!"
Marvel melangkah maju. Cahaya lampu jalan pucat menyinari wajahnya yang dingin tanpa emosi. "Dunia di luar sana akan memakanmu hidup-hidup dalam hitungan jam. Musuh-musuh kita sedang menunggu di balik kabut itu hanya untuk membedahmu dan mengirim potongan tubuhmu kepada kita."
"Lebih baik aku mati bebas daripada hidup sebagai alasanmu menjadi monster!" teriak Aria.
Marvel berhenti tepat di depan adiknya. Ia tidak marah, dan itu jauh lebih menakutkan. Ia perlahan mengambil tas kecil dari tangan Aria dan menjatuhkannya ke tanah.
"Kau ingin bebas?" bisik marvel, suaranya sedingin es. Ia mengeluarkan pistolnya dan meletakkannya di telapak tangan Aria yang gemetar. "Tembak aku sekarang. Jika aku mati, penjaga akan kacau, dan kau bisa lari sepuasmu. Tapi selama aku masih bernapas, kau tidak akan pergi ke mana pun."
Aria menatap pistol berat itu, lalu menatap mata kakaknya yang kosong. "Kau gila, Marvel ..."
"Aku menjadi gila sejak aku harus memilih antara mencintaimu sebagai adik atau menjagamu sebagai Moretti," balas marvel . Ia menggenggam tangan Aria yang memegang senjata, mengarahkannya tepat ke jantungnya sendiri. "Tarik pelatuknya, atau kembali ke kamarmu."
Ketegangan Memuncak:
Psikolog Marvel : Ia memberikan pilihan ekstrem untuk menunjukkan bahwa satu-satunya cara Aria bebas adalah dengan kehancuran marvel sendiri.
Dilema Aria: Ia ingin lepas dari "cinta yang menyesakkan", tapi ia tidak sanggup melukai kakaknya.
Aria berlari menuju stasiun kereta bawah tanah Milan yang remang-remang. Ia merasa bebas untuk beberapa menit, sampai ia menyadari bahwa dunia di luar mansion Moretti jauh lebih buas dari yang ia bayangkan. Di sudut peron, tiga pria dengan tato kalajengking di leher—anak buah keluarga Valerio, musuh bebuyutan ayahnya—sudah menunggunya.
"Lihat siapa yang keluar dari sarangnya," desis salah satu dari mereka, menarik pisau lipat. "Putri kecil Moretti yang cantik."
Aria mundur, jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba berteriak, tapi tangan kasar membekap mulutnya. Saat itulah, sebuah bayangan hitam melesat dari kegelapan.
Duar! Duar!
Dua tembakan presisi menjatuhkan pria yang memegang Aria. Marvel muncul dari balik pilar beton, wajahnya tidak lagi dingin—kali ini ada kemarahan murni yang menyala di matanya. Ia tidak menggunakan peluru untuk pria ketiga; ia menerjangnya, menjatuhkannya ke lantai, dan menghajarnya dengan kepalan tangan yang berlumuran darah sampai pria itu tak bergerak lagi.
Marvel berdiri, napasnya memburu. Ia menatap tangannya yang merah, lalu menatap Aria yang gemetar di sudut.
"Inilah duniamu jika kau pergi dariku, Aria!" teriak marvel, suaranya parau. "Mereka tidak akan mencintaimu. Mereka akan merobekmu hanya untuk mengirim pesan pada Ayah dan aku!"
Aria menatap kakaknya dengan ngeri. "Dan kau? Kau baru saja membunuh mereka di depanku! Kau membuktikan bahwa kau adalah apa yang aku takuti!"
Marvel berjalan mendekat, setiap langkahnya meninggalkan jejak darah di lantai stasiun yang dingin.
Ia mencengkeram bahu Aria, tidak dengan lembut kali ini. "Aku lebih baik kau membenciku seumur hidup dalam keamanan mansion itu, daripada aku harus mencium keningmu yang sudah dingin di kamar mayat."
Marvel menyeret Aria kembali ke mobil hitam yang sudah menunggu. Pelarian Aria gagal, namun sesuatu yang lebih besar pecah malam itu: Aria menyadari bahwa marvel tidak akan pernah melepaskannya, dan Marvel menyadari bahwa satu-satunya cara menjaga Aria adalah dengan menghancurkan siapa pun yang berada di luar tembok rumah mereka—termasuk sisa-sisa kewarasan kakaknya sendiri.
Hampir saja. Jantung Aria serasa berhenti berdetak saat moncong senjata anak buah Valerio menempel di pelipisnya. Dinginnya baja itu nyata, sekon terakhir sebelum maut menjemput. Namun, dalam sekejap mata, dunia seolah meledak.
BRAKK!
Sebuah mobil hitam legam menghantam pilar stasiun tepat di samping mereka, menciptakan hujan kaca yang menyilaukan. Dari balik kemudi, Marvel keluar seperti iblis yang merayap dari neraka. Ia tidak menunggu pintu terbuka sepenuhnya; ia menerjang dengan kecepatan yang tak manusiawi.
"Lepaskan dia," suara Marvel bukan lagi dingin, tapi parau oleh murka yang tertahan.
Penjahat itu gemetar, tangannya yang memegang pistol berkeringat. "Satu langkah lagi, Dewangsa, dan adikmu mati!"
Marvel berhenti. Matanya yang abu-abu menatap lurus ke arah Aria. Di sana, di tengah kekacauan, ada komunikasi tanpa kata. Marvel tidak melihat pistol itu; ia melihat ketakutan di mata adiknya, dan itu menghancurkannya lebih dari peluru mana pun.
"Kau pikir kau bisa mengancamku dengan satu-satunya hal yang membuatku tetap menjadi manusia?" Marvel tertawa kecil, suara yang paling menakutkan yang pernah Aria dengar. "Jika kau menarik pelatuk itu, aku tidak akan hanya membunuhmu. Aku akan meratakan seluruh silsilah keluargamu dari muka bumi ini malam ini juga."
Dalam keraguan sedetik si penjahat, Marvel bergerak.
CRAKK!
Marvel mematahkan pergelangan tangan pria itu dengan satu sentakan cepat. Pistol terjatuh. Aria terhuyung ke belakang, jatuh ke pelukan pelindung yang paling ia benci sekaligus ia butuhkan. Marvel menarik Aria ke belakang tubuhnya, menjadikannya tameng hidup, sementara ia menghajar pria itu tanpa ampun hingga wajahnya tak lagi bisa dikenali.
"Cukup, marvel! Cukup!" Aria menjerit, menarik lengan jas kakaknya yang bersimbah darah.
Marvel berhenti. Napasnya memburu. Ia menoleh, menatap Aria yang menangis tersedu-sedu. Untuk sesaat, topeng "Ice King" itu retak. Ia merengkuh wajah Aria dengan tangannya yang masih merah oleh darah musuh.
"Hampir saja, Aria," bisik marvel, suaranya bergetar hebat. "Hampir saja aku kehilangan duniamu."
Marvel mengangkat tubuh Aria yang lemas dan membawanya kembali ke mobil. Pelarian itu berakhir di sini, di bawah lampu jalan yang berkedip, menyisakan kesadaran pahit bagi Aria: Dunia di luar memang kejam, tapi cinta kakaknya jauh lebih mengerikan karena ia tidak akan pernah membiarkannya pergi—bahkan jika ia harus membunuh seluruh dunia untuk itu.
Apa yang terjadi setelah mereka sampai di rumah?
Marvel mengunci Aria di kamar tanpa akses keluar sama sekali.
Ayah mereka murka karena marvel merusak aliansi dengan menyerang anak buah Valerio demi Aria.
Aria menemukan rahasia di mobil marvel yang menjelaskan mengapa ia begitu terobsesi melindunginya.
Malam itu, di dalam kamar besar yang kini terasa sempit, Marvel duduk di kursi beludru, menatap Aria yang meringkuk di sudut tempat tidur. Marvel masih mengenakan kemeja putih yang bercak darahnya mulai mengering menjadi warna cokelat tua. Di tangannya, ia memegang sebuah kunci perak tunggal.
"Mulai malam ini, kau tidak akan keluar dari sayap bangunan ini, Aria," suara marvel datar, tanpa emosi, namun mutlak.
Aria mendongak, matanya merah karena terlalu banyak menangis. "Kau tidak bisa melakukannya, marvel! Aku bukan anjing peliharaanmu!"
Marvel berdiri, langkahnya pelan dan mengancam. Ia berlutut di tepi tempat tidur, menyamakan tingginya dengan Aria. "Dunia di luar sana mencoba merobekmu, Aria. Ayah mencoba menjualmu. Keluarga Valerio mencoba membunuhmu. Hanya di sini, di bawah pengawasanku, kau tetap utuh."
"Aku lebih baik mati daripada hidup seperti ini!" teriak Aria, mencoba mendorong dada Marvel.
Marvel menangkap kedua pergelangan tangan Aria dengan satu tangan besarnya, menguncinya dengan kekuatan yang membuat Aria meringis. "Jangan pernah katakan kata 'mati' di depanku. Aku sudah membunuh terlalu banyak orang agar kau tetap bernapas. Kau tidak punya hak untuk membuang nyawa yang aku jaga dengan darahku sendiri."
Marvel melepaskan cengkeramannya, lalu mengeluarkan sebuah kalung emas dengan liontin gembok kecil. Ia memakaikannya ke leher Aria dengan gerakan yang sangat lembut, kontras dengan kekejaman kata-katanya.
"Kalung ini adalah tanda," bisik Marvel di telinga adiknya. "Bahwa siapa pun yang melihatmu akan tahu kau milik Moretti. Dan siapa pun yang menyentuhmu akan tahu bagaimana rasanya neraka di tangan kakaknya."
Marvel berdiri, berjalan menuju pintu, dan memutar kunci dari luar. Suara klik logam itu terdengar seperti vonis mati bagi kebebasan Aria.
Di balik pintu, marvel menyandarkan kepalanya ke kayu ek yang tebal. Ia memejamkan mata, membiarkan setetes air mata jatuh—satu-satunya tanda bahwa di balik monster itu, masih ada seorang kakak yang hancur karena takut kehilangan satu-satunya hal yang ia cintai.
Hubungan marvel & Aria Saat Ini:
Vico (The Overprotective Monster): Menganggap obsesinya sebagai bentuk perlindungan tertinggi. Ia rela dikutuk oleh Aria asal adiknya aman.
Aria (The Caged Bird): Terjepit antara rasa syukur karena diselamatkan dan kebencian karena kemerdekaannya dirampas.