NovelToon NovelToon
SI IMUT MAFIA

SI IMUT MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saerin853

Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.

Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.

Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.

"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."

Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Pesta BBQ dadakan itu akhirnya usai menjelang tengah malam. Lucia, yang kekenyangan makan gurita dan jagung bakar, berakhir tertidur pulas di atas tikar pantai hingga harus digendong oleh Rico menuju kamar tamu di lantai bawah. Ragas dengan cekatan membersihkan sisa-sisa pesta, membiarkan majikannya beristirahat.

Anya menguap lebar sambil meregangkan kedua lengannya ke atas saat ia menaiki tangga menuju lantai dua. Perutnya kenyang, hatinya menghangat, dan otaknya terasa lelah namun bahagia.

Gadis tomboy itu baru saja akan memutar gagang pintu kamar tamunya ketika sebuah tangan besar dan hangat tiba-tiba menahan pergelangan tangannya dari belakang.

Anya tersentak dan menoleh. Kaelan berdiri tepat di belakangnya. Pria itu sudah melepas kausnya, kini hanya mengenakan celana training hitam panjang yang menggantung rendah di pinggulnya, memamerkan otot perutnya yang tercetak sempurna dan tato sayap gagak di bahu kirinya.

Anya buru-buru memalingkan wajahnya, menatap lurus ke arah pintu kayu di depannya. Wajahnya langsung terasa panas.

"Ehem. B-Bos Es, kau tahu kan konsep memakai baju saat berkeliaran di malam hari?" sindir Anya gugup, mencoba menarik tangannya, namun genggaman Kaelan tidak mengendur sama sekali.

"Ini rumahku, Anya. Aku bisa berkeliaran tanpa busana sekalipun kalau aku mau," bisik Kaelan dengan suara serak yang memabukkan, tepat di telinga gadis itu.

Anya menelan ludah. Bulu kuduknya meremang. "O-oke. Terserah kau. Aku mau tidur. Punggungku pegal karena duduk di pasir."

"Jangan tidur di kamar ini," perintah Kaelan mutlak. Pria itu menarik pergelangan tangan Anya dengan lembut, membalikkan tubuh gadis itu hingga mereka berhadapan.

Anya mengerutkan kening, menatap dada bidang Kaelan karena tidak berani menatap matanya. "Hah? Lalu aku tidur di mana? Di garasi bersama motor trail-mu?"

Kaelan mendengus geli. Tangan kirinya yang bebas terulur, menyelipkan seuntai rambut wolf-cut Anya ke belakang telinganya. "Di kamarku. Bersamaku."

Keheningan menyergap lorong lantai dua itu. Jantung Anya seakan berhenti berdetak selama satu detik penuh sebelum kembali berpacu layaknya mesin jet. Matanya membulat sempurna, akhirnya berani menatap langsung ke dalam mata hitam legam Kaelan yang memancarkan intensitas luar biasa.

"K-kamarmu?" cicit Anya, suaranya naik satu oktaf. Preman pasar yang biasanya tak kenal takut itu mendadak gagap parah. "T-tapi... ranjangnya... maksudku, kita kan biasanya..."

"Biasanya tidur terpisah karena kau hanya istri kontrakku. Ya, aku tahu," potong Kaelan, menangkup sebelah pipi Anya. Tatapannya berubah menjadi sangat lembut, sebuah tatapan yang hanya ia berikan pada gadis di hadapannya ini. "Tapi kontrak itu sudah tidak berlaku lagi bagiku, Anya. Dan setelah tertidur selama tujuh hari... aku menyadari satu hal."

"Menyadari apa?" bisik Anya, seolah terhipnotis oleh suara Kaelan.

"Milo tidak hanya menumpang di tubuhku. Dia membagikan ingatannya padaku," ucap Kaelan pelan. "Aku ingat bagaimana rasanya tertidur di pangkuanmu. Aku ingat lagu yang kau nyanyikan. Dan aku ingat betapa damainya perasaanku saat kau mengelus rambutku malam itu."

Anya terkesiap. Rona merah di pipinya kini menjalar hingga ke leher. Kaelan mengingat semuanya?

"Aku... aku tidak bisa tidur nyenyak di ranjang sebesar itu sendirian lagi, Anya," Kaelan menundukkan kepalanya, menyatukan dahi mereka. "Pikiranku masih terlalu bising oleh sisa-sisa peperangan kemarin. Aku butuh kau di sisiku. Jadi... temani aku malam ini. Kumohon."

Lagi-lagi, kata 'kumohon' keluar dari bibir sang mafia kejam itu. Dan bagi Anya, itu adalah kelemahan terbesarnya. Preman pasar itu menghela napas pasrah, menahan senyum tipis yang mendesak di sudut bibirnya.

"Baiklah, Bayi Raksasa," goda Anya, membalas tatapan Kaelan dengan senyum tengilnya yang khas untuk menutupi kegugupannya. "Tapi ingat, aku ini tukang tendang kalau sedang tidur. Kalau hidung mancung mu itu patah besok pagi, jangan salahkan aku."

Senyum miring yang mematikan kembali terukir di wajah Kaelan. "Aku bos mafia, Preman Pasar. Aku tahu cara menaklukkan musuh yang agresif di atas ranjang."

Tanpa aba-aba, Kaelan membungkuk dan menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Anya. Dalam satu gerakan mulus, ia mengangkat tubuh gadis itu ala bridal style.

"WAA! Kaelan! Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri!" pekik Anya panik, refleks mengalungkan kedua lengannya di leher pria itu agar tidak jatuh.

"Diamlah, atau kubuang kau ke kolam renang," ancam Kaelan ringan, melangkah santai menuju kamar utama yang terletak di ujung lorong, mengabaikan pukulan-pukulan kecil Anya di dadanya.

Kamar utama itu sangat luas, didominasi warna abu-abu gelap dan jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan laut di bawah sinar rembulan. Di tengah ruangan, sebuah ranjang king size yang tampak luar biasa empuk mengundang untuk ditiduri.

Kaelan meletakkan Anya dengan hati-hati di atas kasur, lalu menyusul naik dan berbaring di sebelahnya. Pria itu menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua.

Anya berbaring sekaku papan setrika. Matanya menatap lurus ke langit-langit kamar. Tangannya mencengkeram erat ujung selimut. Jarak antara tubuhnya dan tubuh Kaelan hanya beberapa sentimeter. Hawa panas dari tubuh pria itu terasa sangat jelas merambat ke kulitnya.

Ini adalah pertama kalinya mereka benar-benar berbagi ranjang dalam keadaan sadar (dan Kaelan dalam mode 'Bos Es', bukan Milo).

Terdengar helaan napas panjang dari sebelah kanannya.

"Kau bernapas seperti orang yang mau dieksekusi mati, Anya," gumam Kaelan, nada suaranya terdengar geli.

"Aku... aku cuma sedang menghitung domba. Jangan menggangguku," dusta Anya cepat.

Tiba-tiba, sebuah lengan kekar melingkar di pinggang ramping Anya. Sebelum gadis itu sempat memprotes, Kaelan menarik tubuh Anya dengan kuat hingga punggung gadis itu menabrak dada bidangnya yang hangat.

Kaelan memeluk Anya dari belakang (posisi spooning), menenggelamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu. Kaki Kaelan yang panjang mengait kaki Anya, mengunci pergerakan preman pasar itu sepenuhnya.

"K-Kaelan?!" cicit Anya, tubuhnya menegang hebat. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga ia yakin Kaelan bisa merasakannya dari balik punggungnya.

"Tenanglah, Nyonya Obsidian," bisik Kaelan, suaranya bergetar pelan karena getaran tawanya sendiri. "Aku tidak akan menggigit mu malam ini. Aku benar-benar hanya ingin memelukmu dan tidur."

Hembusan napas Kaelan yang teratur menerpa kulit leher Anya, mengirimkan sengatan listrik yang membuat tubuh gadis itu perlahan-lahan rileks. Kehangatan dada Kaelan dan pelukan posesif itu... anehnya, memberikan rasa aman yang tak terlukiskan.

Anya perlahan melepaskan cengkeramannya pada selimut. Ia membiarkan tubuhnya bersandar sepenuhnya pada Kaelan. Tangan mungilnya terulur, menyentuh lengan Kaelan yang melingkari pinggangnya, lalu mengelusnya pelan.

"Bos Es?" panggil Anya dengan suara yang nyaris tak terdengar.

"Hm?" gumam Kaelan dengan mata terpejam, menikmati aroma stroberi yang menguar dari rambut istrinya.

"Kalau Paman Arthur sudah tidak ada, dan kau sudah membersihkan dewan... apa itu artinya kau tidak perlu istri kontrak lagi untuk menakut-nakuti mereka?"

Kaelan terdiam sejenak. Ia mempererat pelukannya di pinggang Anya, menempelkan bibirnya di bahu gadis itu.

"Tidak ada lagi kontrak, Anya," jawab Kaelan dengan nada final yang tak terbantahkan. "Kontrak itu sudah ku hancurkan di kepalaku sejak kau nekat menantang bahaya demi melindungi ku. Besok, saat kita kembali ke kota, kita akan mengurus surat pernikahan yang sah secara hukum dan agama. Tidak ada batasan waktu. Tidak ada jalan keluar."

Anya tersenyum dalam kegelapan. Mata cokelatnya mulai terasa berat karena rasa nyaman yang menyelimutinya.

"Itu terdengar seperti vonis penjara seumur hidup," canda Anya pelan.

"Memang," Kaelan mengecup pelan leher gadis itu sebelum menyamankan posisinya. "Kau adalah tahanan eksklusifku sekarang, Anya. Dan aku adalah sipir yang paling kejam. Selamat tidur, Istriku."

"Selamat tidur, Suami Kulkas," balas Anya dengan senyum lebar.

Malam itu, di bawah cahaya rembulan surga tropis, sang Ketua Klan Mafia yang paling ditakuti akhirnya menemukan kedamaian yang sesungguhnya. Bukan di balik tumpukan uang atau kekuasaan, melainkan di dalam pelukan hangat seorang gadis tomboy mantan preman pasar yang kini telah resmi menjadi ratu di hatinya.

1
supermine
💪
supermine
🤭
supermine
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!