NovelToon NovelToon
Menantang Langit Yang Busuk

Menantang Langit Yang Busuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Iblis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: KuntilTraanak

Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.

Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.

Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.

Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25—Praktik Pertama

“Astaga, kenapa topeng ini susah sekali dibuka!” ucap Yuofan seraya menarik kuat-kuat topeng yang di gunakan pria itu. Beberapa kali ia mengubah posisinya, bahkan ia sampai menggusur kepala pria itu dengan niatan untuk membuka topengnya. Tetapi apapun yang ia lakukan, topeng itu seolah menyatu dengan wajah pria itu dan tak bisa dibuka sembarangan.

“Ha… sudahlah.” Pada akhirnya Yuofan menyerah, ia memutuskan untuk membersihkan lebih dahulu luka yang ada pada tubuh pria itu. Ia lalu melepaskan satu persatu pakaian yang dikenakannya hingga telanjang dada.

Berbeda dengan tampilan luarnya yang terlihat ramping dan kurus, ternyata dibalik pakaiannya terdapat sebuah otot-otot yang terbentuk walau memang tubuh pria itu kecil. Mengesampingkan kekagumannya, ia memasukan sebuah kain bersih kedalam wadah berisi air yang ia isi sebelumnya, lalu ia mengelap perlahan luka-luka di tubuh pria itu untuk mengantisipasi adanya infeksi.

Setelah itu, Yuofan mengambil sebuah kepompong dari ulat sutra langit yang sebelumnya ia tangkap saat mencari herbal untuk pria ini. Kepompong itu ia pegang dengan hati-hati, lalu ia mulai memintalnya perlahan agar tidak merusak seratnya. Dari kepompong itu, ia menarik benang tipis yang kemudian ia siapkan untuk dijadikan benang jahit.

Dengan gerakan yang pelan dan teliti, Yuofan memasukkan benang itu ke dalam jarum yang sebelumnya ia beli. Setelah itu, ia mulai menjahit satu per satu luka terbuka di tubuh pria tersebut. Setiap jahitan ia lakukan dengan hati-hati agar luka bisa menutup dengan rapi dan tidak semakin parah.

Setelah selesai menjahit luka, ia mengambil sebuah mangkuk pengaduk yang sebelumnya ia simpan di dalam ruang hampa. Ia mengeluarkannya dan meletakkannya dengan hati-hati di hadapannya, memastikan mangkuk itu berada di posisi yang stabil dan tidak mudah tergeser. Selanjutnya, ia mengeluarkan beberapa herbal yang telah ia kumpulkan sebelumnya. Daun, akar, dan potongan kecil tanaman itu tidak langsung ia campurkan. Ia menyusunnya terlebih dahulu di atas kain di sampingnya, memisahkan setiap bahan sesuai jenisnya, sebelum akhirnya satu per satu dimasukkan ke dalam mangkuk untuk diolah menjadi obat.

Tanpa terburu-buru, ia mulai menumbuk semua bahan tersebut menjadi satu. Penumbuk di tangannya bergerak perlahan, tidak hanya menekan tetapi juga memutar. Ia memutarnya searah jarum jam, sehingga suara gesekan halus mulai terdengar, berulang dan teratur, yang berasal dari pertemuan antara permukaan mangkuk dan penumbuknya. Aroma khas dari herbal yang dihancurkan perlahan mulai keluar, menandakan bahan-bahan itu mulai tercampur dengan baik.

Langkah terakhir, ia mengambil herbal jadi itu dengan tangannya. Tekstur herbal itu kini berubah menjadi sedikit padat dan berair, tidak kering dan kaku seperti sebelumnya. Perubahan itu membuatnya lebih mudah dibentuk dan tidak mudah hancur saat di sentuh.

Dengan hati-hati Yuofan menyesuaikan bentuk herbal tersebut, lalu perlahan meletakkannya di atas luka pria itu. Kandungannya menempel dengan baik pada permukaan kulit, menandakan bahwa ia telah berhasil dengan sempurna.

“Akhirnya selesai…” ujarnya seraya menyeka keringat yang muncul di dahinya. Senyuman kecil muncul diwajahnya, berharap praktek pertamanya dalam bidang kesehatan ini berhasil.

“Wah… nyalli mu besar juga ya," ucap Wuxu sembari melihat hasil pengobatan yang diberikan oleh Yuofan. “Aku tidak terpikirkan, bahwa pria ini bisa dijadikan kelinci percobaan.” lanjutnya seraya memberikan ibu jarinya kagum.

Yuofan mengelus bawah hidungnya dengan bangga. Tetapi sesaat kemudian ia mendengar suara cacing perut yang berisik dari dalam gua.

“Astaga!” Yuofan memukul jidatnya teringat bahwa ia belum membelikan cemilan. Akhirnya dengan tergesa-gesa ia memasuki hutan untuk mencarikan buah-buahan.

Yuofan menuruni lereng gua dengan cepat meninggalkan pria itu yang belum sempat ia pakaikan kembali bajunya, dan membiarkan bertelanjang dada dibawah pohon.

…………

Di sebuah hutan yang dilalui jalan setapak sempit, terlihat sekelompok orang berpakaian merah gelap bergerak cepat di antara pepohonan. Di dada kiri pakaian mereka terdapat sebuah simbol pedang retak, menandakan bahwa mereka berasal dari kelompok yang sama. Langkah mereka teratur dan handal, tetapi wajah mereka terlihat kesal karena orang yang mereka kejar masih berada cukup jauh di depan.

Pria yang mereka kejar berlari dengan cepat, sesekali melompat melewati akar pohon dan batu besar tanpa mengurangi kecepatannya. Jarak di antara mereka tidak bertambah jauh, tetapi juga tidak berkurang, membuat pengejaran itu terasa sia-sia bagi kelompok berpakaian merah tersebut.

Kelompok itu di pimpin oleh seorang pria yang berada di barisan depan, dengan penampilannya berbeda dari yang lain. Dimana ia mengenakan jubah merah gelap, tetapi salah satu lengannya tidak memiliki lengan jubah, memperlihatkan sebuah tato berbentuk rantai yang membelit dari pergelangan hingga ke atas lengannya.

Melihat target mereka hampir lolos dari jangkauan, pemimpin itu segera mengambil pisau kecil dari tas yang tergantung di sabuknya, lalu tanpa ragu merobek telapak tangannya sendiri. Darah mengalir keluar, tetapi bukannya jatuh ke tanah, darah itu berkumpul dan memanjang, membentuk sebuah rantai berwarna merah gelap. Rantai darah itu bergerak hidup, ia terlihat menggeliat seperti seekor ular. Dengan satu ayunan tangan, pemimpin itu melemparkan rantai tersebut ke arah pria yang mereka kejar.

Rantai itu melesat cepat di antara pepohonan dan langsung melilit tubuh target mereka. Tarikan kuat dari rantai itu membuat pria tersebut kehilangan keseimbangan dan terseret ke belakang hingga jatuh di tanah. Melihat hal tersebut, sang pemimpin tertawa senang ia pun melompat dalam satu dorongan keatas pria itu.

Pria yang dikejar dengan cepat melepaskan tas besar dari punggungnya dan melemparkannya ke depan. Ia membuka tas itu dan mengeluarkan sebuah boneka kayu berukuran hampir sebesar orang dewasa. Boneka itu memiliki sendi di setiap persendiannya dan wajahnya dilukis dengan ekspresi datar. Pria itu menggerakkan jari-jarinya, dan benang-benang qi tipis hampir tak terlihat terulur dari ujung jarinya menuju tubuh boneka tersebut..

Awalnya kaku, tetapi dalam beberapa detik gerakannya menjadi cepat dan tajam. Boneka itu melompat ke depan, menahan serangan pemimpin kelompok yang melompat kearah nya. Tangannya yang terbuat dari kayu keras menepis ujung rantai yang mengarah padanya, lalu memutar tubuh dan menendang pemimpin itu hingga mundur beberapa langkah.

Dua orang lain dari kelompok itu menyerang bersamaan dari sisi kiri dan kanan. Membuat boneka itu berputar, menangkis satu serangan dengan lengannya dan menahan serangan lain dengan bahunya yang keras. Suara benturan kayu dan logam terdengar berulang kali di tengah hutan.

Sementara itu, pria pengendali boneka berdiri beberapa langkah di belakang, jari-jarinya terus bergerak mengendalikan benang qi. Setiap gerakan jarinya diikuti gerakan boneka tersebut—menebas, menangkis, melompat, dan berputar seperti petarung sungguhan. Namun pemimpin kelompok merah tidak tinggal diam. Ia menarik rantai darahnya kembali, lalu mengayunkannya sekali lagi, kali ini mengarah langsung ke boneka tersebut untuk membatasi pergerakannya dan membuka celah bagi anak buahnya untuk menyerang.

Salah atau satu mereka maju dengan sebuah pedang terangkat, dan saat pedang itu akan mengenainya…

“HAH!!”

Pria dengan topeng putih terbangun dari pingsannya dengan nafas yang terdengar terengah-engah. Pandangannya kemudian jatuh pada tubuhnya yang sudah di obati, bahkan luka-lukanya sudah dijahit dengan cukup baik. Kini pandangannya bergerak pelan menelusuri sekelilingnya yang terasa asing, hingga ia berhenti pada sesosok wanita yang terbaring diatas sebuah batang kayu yang ditutupi oleh jerami dan dilapisi oleh kain.

Ia memandangi wanita itu yang terlihat sangat cantik, wajahnya kecil dengan bibir tipis, kulitnya putih bersih, bola matanya berwarna biru menatap takut kearahnya. Namun ia pun menjadi fokus pada perut wanita itu yang cukup besar.

1
KuntilTraanak
Maaf ya guys update bab nya telat, soalnya akhir-akhir ini disekolah sibuk banget. Buat permintaan maafnya, saya update 3 bab buat kalian.
Koplak
mulai seru nih
Koplak
pertama baca langsung tertarik💪
Nanik S
Cerita yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!