Mimpi Rara hancur saat harus menikah muda dengan Aksara—pria kaya yang tak dikenalnya. Ia menganggap suaminya perusak masa depan, hingga sikapnya berubah sedingin es dan penuh kebencian.
Namun berbeda dengan Rara, Aksara justru mencurahkan kasih sayang dan kesabaran tanpa batas.
Bisakah pria itu meluluhkan hati sang istri yang keras kepala? Atau Rara akan terus buta melihat ketulusan yang ada di depan mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamoruuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman
Wajah Naura yang tadi terlihat serius kini berubah total, berubah menjadi tatapan tajam yang penuh ambisi dan kemenangan.
"Oh... jadi begini..." Naura tersenyum miring, senyum yang sama sekali tidak ramah. "Jadi kamu akui sendiri, ya? Kamu tidak cinta sama dia. Kamu cuma bertahan di situ karena kewajiban, karena rasa hutang budi, dan karena status istri yang kamu pegang?"
Rara tetap diam mematung. Ia tidak menjawab, tapi juga tidak menyangkal. Pengakuan itu keluar begitu saja, dan kini menjadi senjata tajam di tangan lawannya.
"Bagus. Sangat bagus." Naura mengangguk-angguk pelan. "Kalau begitu dengar baik-baik apa yang mau aku katakan sekarang."
Suara Naura merendah, namun penuh tekanan yang berat. Ia melangkah mendekat, hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa jengkal, membuat Rara bisa merasakan aura intimidasi yang dipancarkan wanita itu.
"Selama ini aku menahan diri, Ra. Aku tidak main kasar karena aku pikir kamu benar-benar mencintai Aksara. Aku tidak mau merusak kebahagiaan dua orang yang saling mencintai. Aku punya harga diri. Tapi sekarang... situasinya sudah beda total."
Naura menatap mata Rara tajam, menusuk.
"Kalau kamu memang tidak bisa mencintai dia... kalau kamu memang cuma bisa kasih dia kesetiaan kaku tanpa rasa... jangan salahkan aku kalau aku akan berusaha mengambilnya darimu!"
Rara mengerutkan kening, dadanya terasa sesak. "Apa maksud kamu bicara seperti ini?"
"Maksud aku..." Naura menyunggingkan senyum penuh percaya diri yang terlihat angkuh, "Aku cinta Aksara! Aku sangat cinta dia! Lebih dari apapun di dunia ini! Dan aku yakin seratus persen, aku bisa membuat dia jauh lebih bahagia daripada kamu yang cuma bisa diam dan dingin itu. Aku punya perasaan yang membara, siap aku berikan sepenuhnya buat dia tanpa syarat!"
Naura berhenti sejenak, menarik napas panjang sebelum mengucapkan kalimat yang benar-benar mengubah suasana menjadi mencekam.
"Dan ingat ini baik-baik... Papa aku adalah rekan bisnis terbesar di perusahaan Aksara. Kontrak kerjasama kami nilainya fantastis. Tanpa dukungan dan modal dari perusahaan keluarga aku, bisa dibilang roda bisnis Aksara akan sulit berputar, bahkan bisa macet total dan mengalami kerugian besar."
Perlahan, Naura mendekatkan wajahnya ke telinga Rara, berbisik pelan namun setiap katanya terdengar seperti ancaman membunuh.
"Jadi... kalau kamu benar-benar tidak bisa mencintai suami kamu, jangan salahkan aku kalau aku akan gunakan segala cara yang ada. Termasuk menggunakan kekuasaan dan pengaruh Papaku, demi membuat Aksara sadar... bahwa aku lah wanita yang paling pantas mendampingi dia, bukan kamu!"
"Kamu mau ancam aku?" Tanya Rara pelan. Suaranya terdengar tenang, tapi jantungnya berdegup kencang tak beraturan, tangannya dingin.
"Bukan ancaman, Ra. Ini cuma peringatan halus." Naura mundur kembali, menatap Rara dengan tatapan seolah ia sudah menang. "Coba kamu pikirkan dengan kepala dingin. Kamu tidak cinta, tapi kamu genggam dia erat-erat. Aku cinta mati, tapi aku terhalang status semata."
Naura mendekatkan wajahnya lagi, nada bicaranya semakin memojokkan.
"Kalau kamu memang sayang sama dia, kalau kamu memang benar-benar ingin dia bahagia... kalau kamu tidak bisa kasih hati kamu buat dia... serahkan dia sama aku! Atau siap-siap lihat aku berusaha merebutnya dengan cara apa pun, termasuk main keras lewat jalur bisnis!"
"Kamu pikir Aksara akan senang kalau perusahaannya bermasalah cuma karena istrinya egois?" Sindir Naura sinis.
"Pikirkan baik-baik, Ra. Demi kebaikan Aksara sendiri, dan demi kelancaran usaha dia juga. Jangan sampai karena egomu mau tetap jadi nyonya besar, perusahaan dan masa depan dia hancur berantakan karena papa ku memutuskan menarik semua dukungan dan kerjasamanya."
Tanpa menunggu balasan atau reaksi Rara, Naura berbalik badan dan berjalan pergi dengan langkah anggun namun penuh kemenangan. Ia meninggalkan Rara yang kini berdiri kaku sendirian di sudut koridor yang sepi.
Tangan Rara mengepal kuat hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan. Ancaman itu sangat masuk akal dan logis. Naura bukan wanita biasa, ia punya kekuatan dan koneksi yang besar.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya... Rara merasa benar-benar terdesak dan tak berdaya.