NovelToon NovelToon
The Dancing Soul

The Dancing Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Cahaya keemasan matahari pagi perlahan menyusup melalui celah gorden kayu villa, menyinari butiran debu yang menari di udara kamar yang hangat.

Di balik selimut tebal, Adrian masih enggan melepaskan dekapannya.

Ia menarik tubuh Liana lebih rapat ke dadanya, menghirup aroma rambut gadis itu yang bercampur dengan wangi sabun dan sisa malam yang panjang.

Liana bergerak sedikit, merasakan detak jantung Adrian yang tenang di punggungnya.

Ia berbalik perlahan, menatap wajah pria yang selama ini ia anggap sebagai "buaya darat" itu, namun kini tampak begitu tulus di bawah sinar fajar.

Adrian mengecup kening Liana lama, seolah sedang menyegel janji yang ia ucapkan semalam.

"Liana..." bisiknya dengan suara serak khas bangun tidur.

Liana mendongak, matanya yang jernih menatap dalam ke manik mata cokelat Adrian.

"Aku mencintaimu, Liana," ucap Adrian lembut.

Tidak ada keraguan dalam suaranya. Kalimat itu meluncur begitu saja, lebih jujur daripada ribuan baris dialog yang pernah ia tulis untuk film-filmnya.

Hati Liana berdesir hebat. Rasa takut yang sempat menghantuinya menguap seketika digantikan oleh rasa aman yang luar biasa.

Ia menyandarkan dagunya di dada bidang Adrian, lalu tersenyum manis.

"Aku juga mencintaimu, Adrian."

Adrian tersenyum lebar, sebuah senyum kemenangan yang berbeda dari biasanya—kali ini bukan karena rating atau uang, melainkan karena ia berhasil memenangkan hati "Gadis Pasarnya".

Namun, suasana romantis itu harus segera berganti dengan kenyataan profesional. Adrian melirik jam di nakas, lalu menghela napas panjang.

"Ayo, sekarang mandi. Setelah itu kita sarapan bersama kru. Sepertinya mereka sudah dalam perjalanan ke sini untuk persiapan syuting hari kedua."

Liana menganggukkan kepalanya pelan. Ia tahu, di luar pintu kamar ini, mereka kembali menjadi produser dan penari utama yang harus menjaga rahasia besar mereka di depan puluhan pasang mata.

"Jangan lama-mana di kamar mandi, atau aku akan menyusulmu," goda Adrian sambil mengerlingkan matanya, kembali ke sifat jahilnya yang biasa.

"Pak Adrian!" seru Liana sambil melemparkan bantal kecil ke arah wajah Adrian, lalu bergegas lari menuju kamar mandi dengan wajah yang merona merah.

Di balik tawa mereka, Adrian sempat melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja.

Ada tiga panggilan tak terjawab dari Rina dan satu pesan singkat dari nomor internasional yang belum ia buka.

Ia tahu, kebahagiaan pagi ini adalah ketenangan sebelum badai besar dari Paris benar-benar mendarat di tanah air.

Sutradara bertepuk tangan dua kali, memberikan komando kepada tim kostum dan penata rias untuk segera bergerak.

Suasana di pelataran villa yang tadinya santai karena sarapan, mendadak berubah menjadi sibuk dan penuh energi profesional.

"Liana, ayo! Ganti pakaianmu dengan gaun merah yang sudah disiapkan. Kita butuh kontras warna yang kuat dengan hijaunya hutan pinus pagi ini," seru sutradara sambil memeriksa sudut pandang melalui kameranya.

Liana meletakkan sendoknya, memberikan anggukan kecil yang sopan kepada Adrian, lalu mengikuti asisten kostum masuk ke ruang ganti.

Tak lama kemudian, ia keluar dengan penampilan yang memukau.

Gaun merah menyala berbahan sutra ringan itu tampak kontras dengan kulitnya yang bersih, menjuntai indah hingga menyapu rumput yang masih berembun.

Sutradara menunjuk ke sebuah area terbuka di antara pepohonan yang tinggi, di mana cahaya matahari pagi jatuh menyamping membentuk garis-garis dramatis.

"Ayo, Liana. Ini adegan kunci di babak kedua," ucap sutradara dengan nada penuh semangat.

"Bayangkan karaktermu akhirnya menemukan titik balik. Kamu lelah bersembunyi, lelah dikekang oleh ketakutan masa lalu. Di sini, di tengah hutan ini, Liana, menarilah seolah kamu sedang menari mencari kebebasan! Lepaskan semua bebanmu!"

Liana berdiri di titik tengah set. Ia menarik napas panjang, merasakan udara pegunungan yang segar mengisi paru-parunya.

Ia melirik sekilas ke arah Adrian yang berdiri di balik monitor, menatapnya dengan bangga dan penuh pemujaan.

Mengingat ucapan cinta Adrian tadi pagi, Liana merasa seolah-olah memiliki sayap.

Ia tidak lagi menari karena terpaksa atau karena kontrak tiga bulan.

Ia menari karena hatinya benar-benar sedang merasa bebas dan dicintai.

"Kamera siap! Musik! Action!"

Liana menganggukkan kepalanya pelan, lalu mulai menggerakkan tubuhnya.

Gerakannya kali ini lebih bertenaga, lebih lebar, dan penuh dengan lompatan-lompatan kecil yang anggun.

Ia berputar di antara batang pohon pinus, membiarkan kain gaun merahnya berkibar tertiup angin, menciptakan pemandangan yang begitu puitis.

Setiap lekukan tubuhnya menceritakan tentang pembebasan.

Dari kejauhan, Rina yang masih berdiri dengan wajah tegang hanya bisa menghela napas panjang.

Ia melihat betapa tulusnya tarian Liana, dan betapa besarnya cinta yang terpancar dari sana—sebuah ketulusan yang justru membuat Rina merasa semakin berdosa karena menyimpan rahasia tentang Arum.

Di balik monitor, Adrian tidak berkedip. Baginya, Liana bukan lagi sekadar penari pasar yang ia temukan secara tidak sengaja.

Liana adalah mahakarya hidupnya yang paling indah, yang kini sedang menari menjemput kebebasan, tanpa tahu bahwa belenggu kenyataan sedang bersiap untuk menjerat mereka kembali.

Sutradara menatap layar monitor dengan mata berbinar, merasa ada energi yang belum tuntas terpancar dari tarian solo Liana.

Ia menoleh ke arah Adrian yang berdiri di sampingnya, lalu memberikan isyarat dengan tangan.

"Adrian! Masuk! Jangan cuma menonton di sana!" seru sutradara penuh semangat.

"Liana butuh lawan main untuk mengimbangi kebebasannya. Masuk ke dalam frame dan menarilah bersamanya. Tunjukkan kalau karaktermu adalah alasan dia merasa bebas!"

Adrian sempat tertegun, namun senyum tipis muncul di wajahnya.

Ia melepas jaketnya, menyampirkannya ke kursi, dan melangkah masuk ke tengah set tanpa ragu.

Liana yang sedang berputar indah dengan gaun merahnya, sedikit terkejut melihat Adrian mendekat. Namun, ia tidak berhenti.

Ia justru memberikan tangan kanannya, menyambut kehadiran pria itu dalam ritme gerakannya.

"Ikuti aku, Adrian," bisik Liana di sela-sela napasnya yang memburu.

Adrian melingkarkan tangannya di pinggang Liana, mengikuti putaran gadis itu dengan langkah yang kini jauh lebih mantap daripada hari pertama latihan.

Mereka bergerak di antara batang-batang pinus yang menjulang, menciptakan kontras yang luar biasa antara gaun merah menyala Liana dan kemeja hitam Adrian.

"Aku tidak akan membiarkanmu menari sendirian lagi," balas Adrian pelan, menatap mata Liana dengan penuh pemujaan.

Mereka menari dengan perasaan yang meluap, mengabaikan instruksi teknis dan hanya mengikuti detak jantung masing-masing.

Di bawah naungan pohon pinus dan sorotan cahaya matahari pagi yang menembus celah daun, dunia seolah hanya milik mereka berdua.

Liana merasa benar-benar bebas, dan Adrian merasa akhirnya menemukan apa yang selama ini ia cari di luar naskah-naskah filmnya.

"Sempurna! Teruslah menari! Jangan berhenti!" teriak sutradara dari jauh, terpesona oleh pemandangan murni yang tersaji di depan lensanya.

Momen magis di antara pepohonan pinus itu mendadak buyar saat saku celana Adrian bergetar hebat.

Getaran yang konstan dan panjang—sebuah panggilan internasional yang sudah sangat ia kenali polanya.

Adrian menarik napas tajam, langkah tariannya terhenti seketika.

Ia merogoh saku, melirik layar ponselnya yang menyala terang menampilkan nama "Arum ".

Kilat panik melintas di matanya, sebuah kontras drastis dari tatapan pemujaan yang ia berikan pada Liana sedetik lalu.

"Sutradara, potong! Maaf, aku ada urusan mendesak," seru Adrian tanpa menunggu aba-aba.

Ia melepaskan tangan Liana dengan terburu-buru, bahkan hampir mengabaikan raut bingung di wajah gadis itu.

Liana berdiri mematung di tengah set dengan gaun merahnya yang masih berkibar pelan, menatap punggung Adrian yang melangkah lebar-lebar meninggalkan area syuting.

Adrian setengah berlari menuju ke balik bukit kecil, menjauh dari kerumunan kru dan jangkauan telinga Liana.

Begitu merasa aman, ia menekan tombol hijau dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Halo, Arum? Iya, Sayang. Maaf, tadi sinyal di sini agak sulit," ucap Adrian, suaranya mendadak berubah menjadi sangat lembut dan penuh perhatian, nada yang sama yang ia gunakan saat membisikkan kata cinta pada Liana tadi pagi.

"Adrian! Kenapa lama sekali angkatnya?" suara Arum terdengar manja namun menuntut dari Paris.

"Aku baru saja melihat gaun pengantin di butik dekat hotel, dan aku langsung ingat kamu. Aku tidak sabar pulang tiga bulan lagi, atau mungkin aku akan minta cuti lebih awal untuk mengejutkanmu!"

Adrian memijat pelipisnya, keringat dingin mulai muncul di keningnya.

"Jangan, Sayang. Maksudku, selesaikan pekerjaanmu di sana dengan baik. Aku akan menunggumu di sini. Aku sedang sangat sibuk dengan syuting di gunung sekarang."

Sementara itu, di pinggir set, Rina berdiri mematung sambil memegang botol air minum.

Ia melihat seluruh adegan itu; dari bagaimana Adrian melepaskan tangan Liana hingga bagaimana pria itu bersembunyi untuk mengangkat telepon dari tunangannya.

Rina hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan dengan tatapan sinis yang penuh rasa miris.

Ia melirik ke arah Liana yang masih berdiri di tengah hutan, tampak rapuh dan kesepian tanpa pasangan tariannya.

"Permainan yang sangat berbahaya, Pak Adrian," gumam Rina pelan pada dirinya sendiri.

"Semakin tinggi kamu membangun mimpi ini untuk Liana, semakin sakit saat dia jatuh nanti."

Rina menghela napas panjang, lalu berjalan mendekati Liana untuk memberikan jaket, berusaha menutupi jejak pengkhianatan bosnya dengan perhatian kecil yang sebenarnya terasa hampa.

Adrian melangkah kembali ke tengah set dengan rapi, berusaha mengatur napas dan ekspresi wajahnya agar kembali terlihat tenang. Namun, sisa-sisa kegugupan dari percakapannya dengan Arum masih menyisakan kilat aneh di matanya.

Liana masih berdiri di tempat yang sama, memegangi ujung gaun merahnya yang sedikit kotor terkena embun tanah.

Ia menatap Adrian yang mendekat, rasa ingin tahunya tak bisa lagi dibendung.

"Siapa yang menelepon, Adrian? Kelihatannya sangat penting sampai kamu harus menjauh begitu," tanya Liana pelan, matanya menyelidik mencari kejujuran di wajah pria itu.

Adrian tersenyum tipis, sebuah senyum profesional yang sering ia gunakan untuk menutupi keraguan.

Ia mengulurkan tangannya, merapikan sehelai rambut Liana yang tertiup angin ke pipi, mencoba mengalihkan perhatian gadis itu dengan sentuhan lembutnya.

"Hanya klien, Sayang," jawab Adrian mantap, suaranya kembali rendah dan meyakinkan.

"Biasalah, urusan distribusi film yang tidak bisa menunggu. Mereka cerewet soal kontrak, jadi aku harus menjelaskannya pelan-pelan agar tidak ada salah paham."

Liana terdiam sejenak, menatap mata Adrian dalam-dalam.

"Klien? Tapi nada bicaramu tadi terdengar sangat lembut. Seperti bukan sedang bicara soal kontrak."

Adrian terkekeh pelan, menarik pinggang Liana agar kembali mendekat ke pelukannya.

"Itu taktik bisnis, Liana. Menghadapi investor besar harus dengan kepala dingin dan suara yang manis agar mereka mau mengeluarkan uang lebih banyak untuk film kita. Kamu tidak perlu memikirkan itu, fokus saja pada tarianmu yang indah tadi."

Liana akhirnya mengangguk, meski ada rasa mengganjal yang tidak enak di lubuk hatinya.

Ia ingin percaya, sangat ingin percaya bahwa pria yang baru saja memberikan janji tanggung jawab semalam adalah pria yang jujur.

Dari kejauhan, Rina yang baru saja meletakkan botol air minum hanya bisa memalingkan muka.

Ia mendengar kebohongan itu meluncur begitu mulus dari bibir bosnya.

Ia melihat bagaimana Adrian dengan lihai menukar sosok tunangannya di Paris dengan sebutan "klien" di depan Liana.

"Bagus sekali, Adrian. Kamu benar-benar produser jempolan," gumam Rina sinis di balik punggungnya.

"Bahkan dalam hidup nyata pun, kamu masih terus berakting."

Sutradara kembali berteriak menggunakan pengeras suara, memanggil mereka untuk menyelesaikan adegan terakhir sebelum matahari terlalu tinggi.

Adrian mengecup kening Liana sekilas, lalu membimbingnya kembali ke posisi semula, seolah tidak pernah ada rahasia yang baru saja ia sembunyikan di balik sakunya.

1
Laila Isabella
awal cerita yg menarij
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
merry yuliana
hmmmmmm bioin si adrian bertekuk.lutit bucin abis sama liana kak
winpar
ceritanya seru
merry yuliana
hadir kak
ditunggu crazy upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!