"Cepat tutup pintu dan jendela, jangan sampai terbuka!"
Semua warga yang ada di desa Bondowoso tidak ada yang pernah berani keluar bila sudah Maghrib datang, mereka hanya berdiam diri dalam rumah sampai nanti pagi menyapa.
Dulu desa ini tidak seperti itu, namun sejak beberapa bulan terakhir maka mereka mendapat teror yang begitu mengerikan sekali, semua ini akibat kematian dari seorang gadis bernama Mirasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Mayat Laila
Arifin terbangun di pagi hari dan dia sudah tidak menemukan Laila di sebelahnya lagi, namun dia tidak mempermasalahkan hal itu karena memang Laila kerap bangun terlebih dahulu dan dia keluar dari rumah untuk menyapu halaman serta berbeda tempat yang lain juga, sebab halaman mereka cukup besar sehingga Laila memutuskan untuk sering bangun pagi.
Itu semua karena dulu pesan orang tua mereka ketika masih pagi hari maka mereka di suruh untuk menyapu halaman agar tetap bersih ketika matahari menyapa, jadi Arifin sudah terbiasa ketika Laila bangun terlebih dahulu dan tidak ada kabar seperti ini karena dia menganggap Laila telah keluar dari rumah untuk berberes.
Jadi pria ini bangun terlebih dahulu dan menyeduh kopi sendiri seperti biasa di belakang namun kali ini dia tidak langsung menuju bagian dapur, ketika dia melihat pintu depan masih tertutup rapat dan itu tentu saja tidak biasa, sebab biasanya Laila pasti akan membuka pintu itu ketika dia menyapu di halaman luar.
Tidak pernah Laila menutup kembali seperti ini dan terlihat juga pintu itu terkunci dari dalam, Arifin agak bingung karena Laila tidak mungkin dia keluar lewat belakang dan itu tentu saja sudah menjadi kebiasaan tersendiri sehingga Arifin hafal dengan tabiat sang istri, oleh sebab itu dia merasa bingung dan penasaran apa yang telah terjadi.
"Kemana dia pergi, pintu itu masih rapat!" batin Arifin bingung juga.
Maka tanpa ragu dia segera menuju bagian dapur untuk melihat apakah sang istri ada di sana sedang memasak sesuatu, walah selama ini Laila tidak pernah memasak ketika masih pagi seperti ini karena sudah pasti dia belum memiliki stok bahan untuk di masak.
Namun langkah Arifin yang sebelumnya terlihat begitu yakin untuk menuju bagian dapur, ini mendadak saja menjadi tegang dan kaku karena menghasilkan seonggok tubuh tengah terbaring dengan keadaan penuh darah seperti itu, jantung Arifin berdesir kencang karena dia tidak sanggup menyaksikan bahwa sang istri telah meninggal dunia.
"Laila, ini tidak mungkin." Arifin gemetar dan segera duduk di sebelah mayat sang istri.
"Laila, buka mata mu. ada apa dengan dirimu, Laila?!" Arifin segera mengangkat tubuh sang istri.
"Laila dengarkan aku, buka mata mu sekarang!" teriak Arifin sangat tidak bisa terima dengan ini semua.
Namun Laila memang sudah tidak bergerak lagi karena dia telah meninggal dunia akibat kehabisan darah, luka yang ada pada bagian leher menunjukkan bahwa tadi malam ada seseorang yang telah mendatangi rumah ini untuk mencelakai Laila, namun Arifin sendiri tidak mengetahui siapa orang tersebut karena dia tidak menyaksikan secara langsung bagaimana kejadian itu.
"Fin ada apa, Fin?!" Samsul menggedor pintu dari luar karena dia mendengar suara Arifin yang berteriak.
"Tolong istriku, Sul! ya Allah tolong istriku ini." Arifin menangis dan tidak bergerak sama sekali.
"Kau buka dulu pintu ini agar aku bisa menolong kalian yang ada di dalam." teriak Samsul kebingungan juga.
"Ya Allah Laila, kenapa dia harus mati dengan cara ini?!" isak Arifin sudah seperti orang gila.
"Buka dulu pintu nya biar aku bisa menolong, Fin." pekik Samsul bingung sendiri.
"LAILAAAAAA....
"Astaga ini bagaimana, apa yang terjadi pada Laila dan juga Arifin di dalam?" Samsul kebingungan di luar rumah.
Di luar Samsul kebingungan karena mendengar isak tangis dan juga bagaimana suara Arifin yang sedang panik itu, tapi mau masuk ke dalam rumah juga tidak bisa karena rumah Arifin sedang, Arifin masih kebingungan di dalam dan dia tidak bisa untuk membuka pintu rumah agar Samsul bisa masuk ke dalam dan menolong keadaan Laila yang memang sudah kaku.
Ini mau di dobrak juga tidak mungkin karena pintu rumah milik Arifin begitu kuat dan juga kokoh sehingga membutuhkan tenaga yang begitu besar, sementara Samsul di luar hanya sendirian dan sama sekali tidak ada tetangga lain yang datang untuk membantu dia agar bisa membuka pintu ini.
"Kenapa kau pagi pagi panik begini, Sul?" tanya Agus yang lewat mau kesawah.
"Arifin menangis di dalam sambil memanggil Laila, aku takut mereka ada apa apa." jelas Samsul.
"Hah benarkah? ada apa dengan mereka!" Agus juga panik.
"Maka nya aku ini bingung untuk masuk pada bagian dalam rumah, mau didobrak juga tidak mungkin karena ini pintu kokoh." Samsul mencoba untuk melihat lewat jendela.
"Arifiiiiin! kau kenapa di dalam?" Agus juga berteriak karena dia ikut merasa cemas.
"Dengarkan suara tangis dia yang sangat pilu itu, apa terjadi sesuatu pada Laila?" tanya Samsul dengan suara gemetar karena ada rasa panik di dalam hati.
"Kita tidak bisa juga mau masuk ke dalam karena ini pintu sangat kuat, sedangkan jendela juga dalam keadaan di tralis." Agus berkata lirih.
"Nah oleh sebab itu aku sejak tadi bingung sekali mau masuk ke dalam dan menolong dia, Arifin juga tidak mau membuka pintu ini." keluh Samsul.
Padahal Arifin bukan karena tidak mau membuka pintu tapi karena dia masih tidak memiliki tenaga untuk bangkit dan membuka pintu tersebut, dia masih terpuruk dan memeluk sang istri karena Laila yang sudah kaku dengan mata melotot serta leher geroak karena terkena cakaran dari seseorang yang sama sekali Arifin tidak ketahui.
"Laila, aku harus membawa dia juga." Arifin menangis dan memanggul tubuh sang istri untuk membuka pintu.
Kleteeek.
"Nah itu dia mau membuka pintu untuk kita!" Agus sudah tidak sabar dan merasa senang ketika mendengar suara kunci terbuka.
"Iya ini, ada apa dengan mereka di dalam sana sehingga Arifin menangis seperti itu." Samsul juga sangat cemas.
Namun ketika pintu itu terbuka dan muncul Arifin sambil membawa tubuh Laila yang kaku, Samsul dan Agus menjadi kaget bukan main karena ini adalah pemandangan yang sangat tidak biasa serta mereka langsung ketakutan setelah melihat darah yang terus menetes dari leher Laila itu, namun tetesan darah sudah tidak banyak karena sebagian telah mengering dan kemungkinan besar dia sudah tidak memiliki darah lagi di tubuh ini.
"A..ada apa ini, Fin?" Samsul gagap karena dia ketakutan.
"Siapa yang sudah melakukan ini kepada istriku?" Arifin menatap mereka berdua dengan mata merah.
"K...kau...kau juga tidak tahu siapa yang melakukan pembunuhan ini?!" Agus justru curiga bahwa Arifin adalah pelaku.
Arifin menggeleng karena dia memang sama sekali tidak mengetahui siapa yang telah membunuh Laila, tapi yang jelas dia sangat berduka dan tidak ingin melepaskan jasad sang istri begitu saja, kedua tetangga yang melihat hal itu menjadi tertegun dan mereka bingung untuk melakukan apa saat ini.
Selamat pagi besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
anak nya slah masih ja di bela
kasihan bgt
nanti pas setan datang mau di ajak nya masak kali ya