Kerajaan Risvela dipimpin oleh Raja Ryvons dengan dua pewaris: Seyron yang tampak sempurna, dan Reyd yang dulu dianggap bermasalah. Setelah kembali dari Academy Magica bersama Lein, Reyd berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan peduli.
Namun di balik citra baiknya, Seyron menyimpan sisi dingin yang berbahaya. Menyadari hal itu, Reyd bertekad merebut takhta demi melindungi kerajaan, meski peluangnya kecil.
Di tengah konflik keluarga, kekuasaan, dan kebenaran—Reyd memilih melawan takdirnya sendiri untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan yang Berat
Angin masih berhembus pelan di area latihan. Namun suasana sudah berubah. Tidak lagi santai, melainkan penuh ketegangan yang tak terlihat.
Reyd menatap Iselle beberapa saat. Lalu ia berbalik sedikit.
“Lein, ayo kita pergi.”
Nada suaranya tenang. Namun jelas, ia tidak ingin berada lebih lama di situasi ini.
Lein mengangguk pelan. Meski dalam hatinya masih banyak pertanyaan.
Belum sempat mereka melangkah jauh…
“Reyd.”
Suara Iselle menghentikan langkahnya.
Reyd terdiam. Ia tidak langsung menoleh.
“Ada apa lagi?”
Tanyanya singkat.
Iselle melangkah sedikit mendekat.
“Aku ingin mengundangmu.”
Reyd akhirnya menoleh. Tatapannya tajam.
“Mengundang?”
Iselle mengangguk.
“Ke Kerajaan Bervala.”
Suasana langsung hening.
Vaks dan Felixa saling melirik. Kegiant mengangkat alis tinggi.
“Serius?”
Lein menatap Reyd. Ia bisa merasakan, ada sesuatu yang berat dalam tawaran itu.
Reyd terdiam sejenak. Pikirannya kembali ke masa lalu. Ke keputusan yang ia ambil. Ke malam itu… saat ia mengakhiri hidup Raja Bervala.
Meski saat itu ia masih kecil, dan itu demi kerajaan, namun fakta itu tidak berubah. Ia adalah pembunuh raja mereka.
Reyd menghela napas pelan.
“Kalau aku datang…”
Ia menatap Iselle lurus.
“Kau tahu apa yang akan terjadi.”
Iselle tidak menjawab. Namun ekspresinya cukup menunjukkan… ia tahu.
Reyd melanjutkan.
“Aku akan ditatap sinis. Dibenci. Mungkin bahkan diserang.”
Nada suaranya tetap datar. Namun jelas, ia tidak meremehkan situasi itu.
Iselle tetap tenang.
“Itu tidak akan terjadi selama aku ada.”
Jawabnya singkat.
Namun Reyd menggeleng pelan.
“Bukan itu masalahnya.”
Ia menatapnya dalam.
“Kerajaanmu tidak akan menerimaku.”
Sunyi sejenak. Angin berhembus pelan di antara mereka.
Reyd berbalik sepenuhnya.
“Jadi jawabannya tidak.”
Iselle sedikit terdiam. Namun tidak memaksa.
Reyd melangkah kembali mendekati Lein. Namun sebelum benar-benar pergi, ia berkata lagi.
“Kalau kau ingin datang ke sini…”
Reyd menoleh sedikit.
“Kerajaan Risvela selalu terbuka.”
Tatapannya tenang. Namun mengandung makna lain.
“Kerajaan ini terlalu besar untuk menutup diri dari kerajaan kecil seperti Bervala.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun cukup jelas menunjukkan posisi takhta penguasa negeri. Dan kekuasaan besar.
Iselle tidak tersinggung. Justru, ia tersenyum tipis.
“Begitu ya…”
Reyd tidak menambahkan apa-apa lagi. Ia berjalan pergi bersama Lein. Diikuti Vaks, Felixa, dan Kegiant.
Meninggalkan Iselle sendirian di tempat itu.
Angin berhembus pelan. Rambut Iselle sedikit berkibar. Tatapannya tetap tenang.
Namun di balik itu… ada sesuatu yang tersembunyi.
“Kau tetap sama seperti dulu, Reyd.”
Ia bergumam pelan.
---
Langkah kaki mereka bergema pelan di koridor istana. Reyd, Lein, dan yang lainnya berjalan menjauh dari area latihan.
Suasana kembali tenang. Namun tidak sepenuhnya. Karena pikiran Reyd masih dipenuhi banyak hal. Tentang Iselle. Tentang masa lalu. Tentang sesuatu yang terasa tidak beres.
Saat mereka melewati halaman dalam… pandangan Reyd terangkat. Menuju sebuah balkon tinggi.
Di sana, seseorang duduk santai. Dengan satu kaki disilangkan. Tangannya memegang gelas minuman. Tatapannya mengarah ke bawah. Seolah menikmati pemandangan.
Mata Reyd langsung berubah.
“Seyron.”
Langkahnya berhenti.
Lein ikut berhenti.
“Ada apa, Reyd?”
Namun Reyd tidak menjawab. Tatapannya terkunci pada kakaknya.
Seyron menyesap minumannya dengan santai. Lalu, sedikit melirik ke arah Reyd. Namun hanya sekilas. Seolah Reyd hanyalah orang biasa.
Sikap itu… membuat Reyd terasa panas.
Kenangan lama muncul. Saat mereka masih kecil. Sering berduel. Sering bertarung. Reyd selalu kalah.
Bukan hanya kalah dalam kekuatan, namun juga dalam pandangan ayah mereka. Seyron selalu lebih unggul. Lebih tenang. Lebih “layak.”
Tangan Reyd mengepal perlahan. Angin tipis mulai berputar di sekitarnya.
“Keparat itu masih seperti itu.”
Gumamnya pelan.
Vaks melirik.
“Tenang, bung.”
Felixa juga memperhatikan dengan waspada.
Lein menatap Reyd. Ia bisa merasakan emosi itu.
Reyd melangkah satu langkah maju. Tatapannya tajam ke arah balkon.
Namun… langkahnya berhenti. Angin di sekitarnya perlahan mereda.
Ia menarik napas pelan. Lalu menghembuskannya.
“Tidak sekarang.”
Katanya pelan.
Tangan yang mengepal perlahan mengendur. Ia menurunkan pandangannya.
“Ayo.”
---
Sementara itu, di atas balkon, Seyron masih duduk. Namun kini, matanya mengikuti Reyd yang pergi.
Senyum tipis muncul di wajahnya. Ia sudah mengantisipasi semuanya.
“Si beban keluarga itu menahan diri rupanya…”
Gumamnya pelan.
Ia kembali menyesap minumannya.
“Itu bagus untuk rencanaku selanjutnya.”
Tatapannya tetap tajam pada halaman istana.
soalnya jauh bnget beda tulisannya sama novel² yg sebelumnya?
what happen?