NovelToon NovelToon
Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.

Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.

Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.

Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.

Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 : Rumahmu Adalah Rumahku

Mu Qingxue berdiri lalu merapikan rambutnya dengan satu gerakan tangan, menarik napas panjang sekali, sebelum membuka pintu kamar dan keluar, menutupnya di belakangnya dengan pelan.

Bocah itu berdiri di tengah ruang tamu dengan senyum lebar yang sudah familiar itu. Di tangannya tidak ada apa-apa. Tapi di kursi kayu dekat jendela, selimut biru yang kemarin malam Mu Qingxue ambilkan sudah terlipat rapi menjadi persegi panjang yang cukup presisi untuk ukuran anak empat belas tahun.

“Sudah aku rapikan,” cetus bocah itu dengan bangga, menunjuk ke arah selimut. “Aku tidak merepotkan, kan?”

“Kau tidak boleh tinggal di sini lagi,” tutur Mu Qingxue. Suaranya keluar lebih datar dari yang dia harapkan. Dipaksakan tegas, tapi setidaknya tidak pecah di tengah jalan.

Sementara bocah itu mengerutkan dahi. Senyumannya belum hilang sepenuhnya, masih tersisa di sudut bibirnya seperti seseorang yang yakin dia salah dengar. “Kenapa?”

“Kamu harus pulang.”

“Tapi aku sudah merapikan selimutnya. Aku tidak buat berantakan apa-apa. Bahkan sepatu sudah aku taruh di luar.” Bocah itu menoleh ke arah pintu depan, membuktikan klaimnya.

“Bukan itu masalahnya,” Mu Qingxue mencoba lebih tegas. “Pokoknya kamu harus pergi.”

Kali ini senyuman itu benar-benar hilang dan bocah itu menggeleng pelan. “Aku tidak punya tempat tinggal. Paman sudah lama pergi.” Suaranya turun menjadi sesuatu yang lebih datar, lebih berat dari yang seharusnya keluar dari anak seusianya. “Sebelum Nyonya Mu mengizinkan aku ke sini, aku tidur tiga hari di bawah jembatan dekat Pasar Utara.”

Saat Mu Qingxue tidak menjawab, bocah itu pun menunduk. Tangannya menggantung di sisinya, jari-jarinya sesekali bergerak seperti mencari sesuatu untuk digenggam tapi tidak menemukan apa-apa.

“Aku tidak minta apa-apa,” rengeknya lirih. Suaranya mulai bergetar di tepinya. “Aku hanya mau bantu berkebun. Aku berjanji tidak akan mengganggu Kak Huang Shen. Aku tahu dia tidak suka berisik. Aku bisa diam.”

Mu Qingxue berdiri di ambang pintu kamar yang masih tertutup di belakangnya. Satu langkah maju berarti mendekati bocah itu. Satu langkah mundur berarti kembali ke kamar tempat Huang Shen masih duduk dalam diam.

Dia tidak bergerak ke mana-mana. Maka pintu kamar terbuka dari dalam.

Huang Shen keluar dengan jubah luar yang belum sepenuhnya terpasang, tangannya masih mengencangkan satu kancing. Langkahnya lurus ke arah pintu depan, melewati Mu Qingxue, melewati bocah itu, tanpa satu pun pandangan yang singgah ke arah mana pun.

“Kak Huang Shen?” Bocah itu mendongak.

Huang Shen tidak menoleh. Pintu depan terbuka, lalu tertutup.

Adapun di dalam dadanya, tatkala melewati bocah itu, Gerbang Iblis dalam Darah itu menyala seperti peringatan yang diulang untuk ketiga kalinya oleh sesuatu yang sudah kehabisan kesabaran.

“Ruh ini akan membunuhnya,” tukas suara itu dari dalam Gerbang. “Kau akan melihatnya nanti.”

Langkah Huang Shen tidak berubah sampai dia menghilang ke arah kebun belakang.

Sementara bocah itu menatap pintu yang tertutup itu beberapa saat. Lalu matanya kembali ke Mu Qingxue dengan ekspresi yang tidak bisa diputuskan apakah itu sedih atau bingung atau keduanya.

“Dia marah padaku?”

“Tidak,” jawab Mu Qingxue. Lantaran itu satu-satunya kata yang bisa dia keluarkan tanpa mengambil risiko kata-kata lainnya ikut keluar sekaligus.

Air mata bocah itu pun jatuh tanpa peringatan, mengalir begitu saja dari mata kirinya, lalu mata kanannya, seperti air dari bejana yang sudah lama rusak dan baru sekarang menemukan jalannya keluar.

“Aku tidak punya tempat lain,” bisiknya. “Aku sudah coba mencoba cari pekerjaan di toko pandai besi. Mereka bilang aku terlalu muda. Aku coba di warung makan. Mereka bilang tidak butuh. Aku tidak punya uang untuk menyewa kamar.” Tangannya akhirnya menemukan sesuatu untuk digenggam yaitu ujung bajunya sendiri. “Di sini, pertama kalinya aku tidak merasa seperti orang yang harus segera pergi dari suatu tempat.”

Mu Qingxue menutup matanya sebentar.

Di balik kelopak matanya yang tertutup, dia melihat bocah itu di hari pertama. Leher menjulur dari balik pagar, tangan melambai dengan cara yang tidak mengenal malu. Suaranya memanggil “Kak Huang Shen” tanpa peduli bahwa orang yang dipanggil itu tidak pernah tersenyum balik. Caranya duduk di beranda sore hari menunggu seseorang pulang, tidak kemana-mana, hanya duduk.

Kendati semua itu bisa saja bukan yang terlihat.

Alhasil dia menarik napas, membuka matanya, dan berkata, “Duduklah di sini. Jangan ke mana-mana.”

Bocah itu mengusap matanya dengan punggung tangan. “Aku boleh tinggal?”

“Aku bilang duduk dulu.”

Bocah itu mengangguk dan menjatuhkan dirinya ke kursi kayu dekat jendela, tangan melingkar di lutut. Senyumannya belum kembali sepenuhnya, tapi ada sesuatu di wajahnya yang lebih tenang dari sepuluh menit yang lalu.

Kebun belakang sudah terbelah di beberapa baris baru.

Huang Shen mencangkul dengan ritme yang tidak berubah sejak dia mengambil cangkul dari sudut rumah tadi. Punggungnya lurus, gerakannya efisien, tidak ada yang terbuang. Tanah membalik di bawah setiap hantaman dengan suara yang bersih dan teratur.

Adapun Mu Qingxue sudah berdiri di tepi kebun.

Angin pagi membawa aroma tanah yang baru dibalik bercampur embun yang belum sepenuhnya menguap dari dedaunan di sekitar kebun. Cangkul naik. Turun. Tanah terbelah. Naik lagi.

Sampai wanita itu berani membuka mulutnya meski tidak ada yang keluar.

Terlalu banyak hal yang perlu dikatakan dan semuanya membutuhkan jawaban, dan dia belum memutuskan apakah dia siap untuk semua kemungkinan jawabannya.

Cangkul itu naik dan turun dan Huang Shen tidak menoleh.

Dari dalam rumah, samar-samar terdengar suara bocah itu bersenandung lirih. Melodi yang tidak jelas, tidak bernada pasti, seperti seseorang yang bersenandung bukan karena bahagia tapi karena butuh suara untuk mengisi ruangan yang terlalu diam.

Mu Qingxue masih berdiri di tepi kebun, angin lewat silih berganti, dan kata-katanya masih tersimpan.

1
black_rose
Thor mau nanya levelnya kok gk ditampil?
DanaBrekker: Memang di novel ini sengaja aku buat bertahap penjelasan kultivasinya, mengikuti perjalanan Huang Shen 😄

Tapi kalau mau lihat urutan lengkapnya bisa lihat di bawah ini ;

1. Pemurnian Qi
2. Pembentukan Dasar
3. Inti Emas
4. Jiwa Baru
5. Pembentuk Jiwa
6. Transformasi Jiwa
7. Manusia Abadi
8. Emas Keabadian
9. Keabadian Agung
10. Dewa Purba
11. Puncak Keabadian

Huang Shen saat ini di Inti Emas level 8. Terima kasih atas pertanyaannya. 👍
total 1 replies
Tonton Sitohang
lanjutkan updet terus mase. mantap jiwa
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Kecoa Laut
apakah ini tipe cerita yang mc-nya langsung op?
DanaBrekker: tipe Xianxia gelap dan tokoh utamanya memang op sejak awal, kelanjutannya belum tentu 😄
total 1 replies
Bg Gofar
manteb gan
DanaBrekker: Terima kasih 👍
total 1 replies
MuhFaza
menariknya novel ini sejauh yang aku baca ada sisi gelap dari fantasi timur, malah lebih mirip genre horor menurutku
Kecoa Laut: horor dengan bumbu ehem2 lebih tepatnya 🤭
total 2 replies
YunArdiYasha
coba baca karya bru. semangat
DanaBrekker: Terima kasih semoga menghibur 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!