Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1.Terlamat Di Hari Pertama
Pukul 07:12 WIT. Matahari sudah merangkak cukup tinggi hingga mengeluarkan hembusan panas yang membuat aspal di depan gerbang SMA Sakura Harapan terasa seperti akan mencair. Udara pagi yang biasanya segar kini sudah mulai terasa lembap, bercampur dengan aroma debu jalanan dan sedikit aroma bunga kamboja yang tumbuh di sudut tembok sekolah.
Di sebuah gang sempit yang menyembulkan jalan langsung ke belakang kompleks sekolah, sepasang kaki melangkah dengan ritme yang stabil namun penuh tenaga. Rambut putih yang bersinar di bawah sinar matahari – warna yang selalu membuat guru kedisiplinan mengerutkan kening dan menyangka hasil dari botol cat rambut mahal – bergerak mengikuti setiap langkahnya. Ren menutup bibirnya sejenak, menelan ludah yang sedikit pahit sambil merasakan bekas sensasi hangat dari kaldu dasar yang baru saja ia aduk dengan cermat di dapur restoran ayahnya.
Paru-parunya mengembang lebar saat ia menarik napas dalam, menyesuaikan ritme napas dengan langkahnya. Ujung jarinya masih terasa sedikit kaku karena lama memegang gagang panci baja yang berat, namun ia tidak mengeluh. Bagi Ren, sensasi tepi jari yang sedikit kesemutan akibat panas kaldu adalah tanda bahwa ia telah melakukan pekerjaan dengan benar – jauh lebih berharga daripada datang tepat waktu untuk mendengar bel masuk yang mengganggu.
Ia menoleh sebentar ke arah jalan raya yang ramai, melihat sepeda motor dan mobil yang berlalu lalang dengan cepat. Bayangan tangisan ayahnya yang khawatir kalau ia terlambat lagi muncul sejenak di benaknya, tapi kemudian lenyap ketika ia ingat betapa harumnya kaldu dashi yang sudah ia siapkan untuk hari ini – dengan perbandingan ikan bonito dan rumput laut yang tepat hingga satu gramnya.
Tiba-tiba, ia melihat bayangan pagar besi gerbang utama mulai bergerak perlahan. Tanpa perlu menghitung atau menghitung jarak dengan angka pasti, tubuhnya yang terlatih oleh latihan setiap pagi bersama ibunya sudah secara alami menyesuaikan kecepatan. Otot paha dan betisnya bekerja dengan lancar, menggerakkan tubuhnya yang atletis namun selalu disembunyikan di bawah seragam putih yang sedikit kebesaran. Seragam itu berkibar dengan setiap lompatan langkahnya, membuat bayangannya tampak seperti melayang di atas aspal.
Tepat saat Pak Satpam mulai mendorong pagar yang berat itu dengan wajah memerah karena kesusahan, sebuah bayangan putih melesat dengan cepat melalui celah yang hanya tersisa tiga puluh sentimeter saja. Bunyi besi yang bergesekan terdengar keras, diikuti oleh teriakan yang sudah sangat akrab di telinga Ren.
"Woi! Ren! Bukan Akira lagi kali ini kan?! Kamu selalu seperti ini!"
Suara Pak Satpam tenggelam di balik dentuman keras saat pagar tertutup rapat. Ren tidak berhenti melangkah. Ia hanya mengangkat satu tangan ke atas tanpa menoleh ke belakang – sebuah gerakan yang sudah menjadi tradisi: ucapan maaf dan sapaan sekaligus yang selalu ia berikan setiap kali terlambat. Kakinya terus menginjak lantai koridor yang kini mulai sepi, karena suara pembuka pelajaran jam pertama sudah terdengar dari beberapa kelas.
Namun, tepat di belokan yang mengarah ke kelas 12-A, langkahnya tiba-tiba terhenti.
Ada seseorang di sana.
Seorang gadis dengan rambut pirang keemasan yang diikat rapi dengan pita merah muda berdiri bersandar di dinding, kedua tangan dilipat di depan dadanya. Cahaya matahari yang masuk lewat jendela koridor menerangi wajahnya yang cerah, membuat mata cokelat jernihnya tampak lebih bersinar. Di wajahnya terlihat campuran antara ekspresi kesal yang mendalam dan lega yang tak bisa disembunyikan.
"Rekor baru untukmu, Ren. Delapan menit terlambat. Lebih buruk dari kemarin," suara Hana Kobayashi memecah keheningan koridor yang hanya diisi oleh suara angin yang masuk melalui celah jendela.
Ren berhenti tepat di depan gadis itu. Ia melihat tangannya sendiri yang masih sedikit bersinar karena bekas minyak dari memasak, bisa mencium aroma sabun cuci piring yang masih melekat padanya – sebuah aroma yang begitu berbeda dengan aroma parfum bunga sakura yang keluar dari tubuh Hana, lembut namun mampu memenuhi seluruh ruang di sekitar mereka.
"Pagar itu semakin sulit untuk dibuka dari luar. Engselnya sudah mulai berkarat, seharusnya Pak Satpam meminta uang untuk membelinya pelumas baru," kata Ren dengan nada yang tenang, namun matanya tidak bisa lepas dari pandangan Hana. Ia merogoh saku celananya dengan tangan kiri, seolah sedang mencari sesuatu meskipun sebenarnya ia tahu apa yang ada di sana.
Hana menghela napas panjang, suaranya terdengar sedikit lesu sebelum ia melangkah mendekat hingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari Ren. Ia sedikit berjinjit agar tingginya bisa menyamai Ren yang lebih tinggi, kemudian tangannya yang halus merentang perlahan untuk merapikan kerah seragam yang terlipat tidak beraturan akibat lari tadi.
"Berhenti saja mencari alasan yang seolah-olah kamu sedang memperbaiki mesin apa," ucap Hana dengan nada yang sedikit keras, tapi kemudian suaranya melunak ketika matanya menyadari sebutir keringat besar yang menetes dari pelipis Ren ke pipinya. Tanpa berpikir dua kali, ibu jarinya yang lembut menyentuh pipi Ren untuk mengusap keringat itu.
Sentuhan itu hanya berlangsung beberapa detik saja, tapi bagi Ren, rasanya seperti ada kilatan panas yang menyebar dari titik sentuhan itu ke seluruh wajahnya. Ia menatap jari-jari Hana yang kecil dan rapi, melihat bagaimana kulitnya yang putih bersih menyilang wajahnya yang mungkin masih kotor karena debu jalanan. Gadis ini selalu ada di sini – tepat di tempat di mana dunia sekolah yang penuh dengan aturan membosankan bertemu dengan dunia dapur yang menjadi bagian penting dari hidupnya.
"Aku tidak akan masalah kalau kuisnya tidak bagus. Nilai saja tidak akan membuatku tidak bisa hidup, Hana," ucap Ren dengan suara yang pelan, namun ia tidak sedikitpun menjauhkan wajahnya saat jari Hana mulai merapikan helai rambut putihnya yang berantakan akibat berlari.
Hana mengangkat alisnya, tapi ekspresi wajahnya segera berubah menjadi lebih lembut. "Tapi aku butuh kamu tetap ada di kelas ini sampai kita lulus, bodoh," ucapnya dengan nada yang ingin terdengar kasar tapi justru terasa penuh perhatian. Ia kemudian merogoh tas selempangnya yang terbuat dari kain kanvas berwarna biru muda, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil yang sampulnya sudah sedikit lusuh namun terlihat selalu dijaga dengan baik. Tulisan tangan yang rapi memenuhi setiap halamannya, bahkan di pinggir kertas juga ada catatan tambahan.
"Ini. Aku sudah merangkum semua materi yang Bu Keiko bilang akan keluar di kuis. Kamu punya dua menit untuk membacanya sebelum masuk," katanya sambil memberikan buku itu ke Ren.
Ren menerima buku dengan hati-hati. Sampulnya terasa hangat di genggaman tangannya – jelas karena Hana sudah menggenggamnya cukup lama, mungkin sejak ia mulai menunggunya di koridor ini. Ia membuka halaman pertama dan langsung melihat sebuah catatan kecil di sudut kanan bawah halaman: 'Jangan sampai kamu tertidur saat Bu Keiko menjelaskan materi berikutnya! Kalau tidak, aku akan menggambar wajahmu yang mengantuk di papan tulis kelas!' Di samping kalimat itu ada gambar sketsa wajah Ren dengan mata terkulai dan mulut terbuka sedikit – sangat mirip dengan dirinya yang memang sering mengantuk saat pelajaran yang dianggap membosankan.
Ren mendengus kecil, namun sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya – senyum yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain. "Kamu benar-benar tidak punya hal lain yang harus dikerjakan selain jadi seperti asisten pribadiku yang sok prihatin?"
Hana segera memalingkan wajahnya ke arah jendela, dan Ren bisa melihat pipinya yang sedikit memerah di bawah sinar matahari. "Anggap saja ini investasi. Kalau kamu tidak lulus bersamaku, siapa yang akan aku ajak ngobrol saat jam istirahat dan membawaku makan makanan enak di restoran ayahmu?" ucapnya dengan nada yang mencoba terdengar cuek. Ia kemudian melihat ke arah pintu kelas dan mengerutkan kening. "Sekarang cepatlah membacanya! Sebelum Bu Keiko keluar dan melempar penghapus plastik ke kepalamu seperti yang terjadi pada Rio bulan lalu!"
Ren melihat punggung Hana saat gadis itu mulai berjalan menuju pintu depan kelas dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa, seolah ingin memberikan kesan bahwa ia baru saja keluar dari kamar mandi di ujung koridor. Ia menutup buku catatan dengan hati-hati, jari-jarinya menyentuh tekstur kertas yang sudah agak tipis akibat sering digunakan.
Tanpa perlu berpikir panjang, Ren bergerak menuju arah belakang kelas. Ia tahu jalan pintas melalui jendela belakang yang biasanya tidak dikunci saat pagi hari – bukan karena ia takut nilai kuisnya jelek, tapi karena ia sangat menyadari betapa banyak waktu yang telah dihabiskan Hana untuk membuat catatan itu. Bagi Ren, mengabaikan usaha dan perhatian seseorang adalah hal yang tidak bisa ia lakukan – bahkan lebih buruk daripada melanggar peraturan sekolah yang sudah ia pelajari dari tahun pertama.