Area 21 +
Rasa kecewa tak bisa terbendung lagi bagi kedua orang tua Alana kala mengetahui dirinya tengah hamil di luar nikah.
"Katakan sama papi, siapa laki laki itu. Kalau kamu tidak ingin memberitahu. Papi akan cari tahu sendiri. Dan kamu tentu tahu bagaimana dengan mudahnya papi mencari. Papi hanya ingin kamu jujur saat ini." Tekan papi Wibowo menatap putrinya yang menangis tersendu sendu. Alana meragu.
~~~~~~~
Alana tak menyangka karena rasa cinta yang begitu sangat dalam membawa nya kejurang yang salah.
Dia harus mengandung tanpa seorang suami di sisinya. Alana memutuskan pergi meninggalkan tanah air tanpa memberitahu anak yang di kandung nya pada ayah biologis.
Alana juga berusaha untuk membuang rasa cinta nya, pada pria yang merupakan cinta pertamanya itu. Pada sepuluh tahun kemudian, Alana memutuskan untuk kembali ke tanah air dengan status yang berbeda.
Bukan single mom.
Tapi sebagai seorang istri dan memiliki seorang putra.
Alana menikah dengan pilihan orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hee_Sty47, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23
***
Alana menunggu kepulangan sang suami sejak tadi, namun sekarang jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam pria itu tak kunjung datang.
Kevin tadi mengatakan pada nya jika Rayan masih ada yang di urus, namun pria itu sudah berada di kediaman opa dan oma.
Akhirnya Alana memutuskan masuk ke dalam kamar, untuk menunggu Rayan di dalam sana. Ya, wanita itu menunggu Rayan di ruang keluarga sejak tadi.
Dia melangkah menuju nakas di mana ponselnya berada.
Karena bosan wanita itu memutuskan membuka sosmed nya. Dan melihat story di salah satu aplikasi media sosial.
Melihat story Lauren, wanita itu tersenyum melihat postingan Lauren yang menunjukkan gambar mobil dalam perjalanan dengan caption 'otw ketemu my crush' . Namun senyum itu melurus kala melihat Rayan ada di sana kala di story selanjutnya.
Tangan Alana tiba tiba menggetar dengan perasaan yang terasa tercubit. Dia tertawa getir. Tanpa sadar air mata nya menetes membasahi pipi nya.
Tangis Alana pecah usai melempar ponsel nya ke atas kasur. Wanita itu sampai meringkuk dengan menepuk -nepuk dada nya yang terasa nyeri.
Kenapa ini lebih sakit ketimbang dengan Bian.
Rasanya Alana tak dapat berpikir apa apa saat ini. Dia hanya bisa menumpah kan air matanya.
Apa dia sudah jatuh cinta pada Rayan.
Mengetahui pria itu ada bersama Lauren perasaan Alana begitu sangat hancur.
Ketersiksaan nya seminggu tak ada komunikasi dengan Rayan saja sudah membuatnya selalu uring uringan. Lalu melihat ini, rasanya Alana hendak berteriak sekencang mungkin agar dirinya merasa sedikit membaik.
"Jahat banget. " Lirih Alana di sela tangis nya. Ia mengusap air mata nya.
Lama Alana menangis sampai wanita itu merasa sedikit tenang. Meski hatinya di liputi perasaan sakit di hati nya.
Dia melangkah ke kamar mandi guna membasuh wajah nya.
Ia tatap wajah nya yang sembab itu dari balik kaca wastafel yang menempel di dinding.
Rasa kecewa dan marah pada Rayan dan Lauren membuat air mata Alana kembali menetes.
Apa Rayan memang berselingkuh.
Mengingat perkataan Lauren kala itu membuat kedua tangan Alana mengepal sempurna.
"Jangan nangis Alana, jangan buang air mata lo di atas kesenangan orang lain. Please, lo sudah sejauh ini dengan perasaan sakit, jangan lo tambah lagi. " Gumam nya pada diri sendiri, tangan nya bergerak mengusap air mata nya kembali yang sialnya selalu menetes tanpa permisi.
Ia benci keadaan saat ini.
Serasa tenang kembali, Alana memilih keluar dari kamar mandi. Namun langkah wanita itu terhenti kala melihat Rayan yang duduk di tepi kasur. Pria itu melihat nya.
Sejak kapan, jangan sampai dia tahu gue nangisin dia. Bisa besar kepala.
Pandangan keduanya bertemu sesaat. Sebelum akhirnya Alana lah yang lebih dulu memutuskan pandangan nya. Wanita itu memilih melangakah untuk keluar kamar.
Alana enggan satu kamar lagi dengan Rayan.
Rasa sakit nya kembali terasa saat melihat Rayan saat ini, dia seperti benar benar di khianati oleh pria itu.
Alana sejak tadi menunggu kedatangan pria itu, namun ternyata sedang bersenang senang di luar sana, bahkan bersama orang terdekat nya. Baju yang di kenakan Rayan bahkan sama persis dengan yang di story oleh Lauren.
Semua niat nya untuk memulai bicara dengan Rayan musnah. Berganti dengan rasa sakit yang tercipta hingga menyesakkan dada.
Grep!
Langkah Alana terhenti kala Rayan memeluk nya dari belakang. Wanita itu sampai menahan nafas.
Rayan membenamkan wajahnya di ceruk leher Alana, menghirup rakus aroma yang satu minggu ini membuatnya rindu berat.
"Lepas!" Satu kata itu keluar dari mulut Alana bahkan terkesan dingin. Suara nya serak dan bergetar. Wanita itu memberontak, hingga akhirnya Rayan melepas diri dengan terpaksa
"Kita perlu bicara." Kata Rayan menatap
dalam pada Alana, pria itu tak benar benar melepaskan Alana, karena saat ini ia menggenggam pergelangan tangan wanita itu sebab takut Alana kabur .
Sementara Alana tersenyum masam.
Wanita itu menatap Rayan, tangan nya bergerak menyentak kuat tangan Rayan.
"Nggak ada yang perlu kita bicarakan lagi."