Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Pagi yang penuh kejujuran itu diakhiri dengan pelukan yang semakin erat.
Jati menarik selimut tebal mereka hingga menutupi bahu Lintang, menciptakan ruang kecil yang hangat dan hanya milik mereka berdua.
Penjelasan Lintang tentang masa lalunya yang kelam bersama Dery membuat Jati semakin bertekad untuk memberikan kebahagiaan yang setimpal bagi istrinya.
"Nanti sore, Mas akan mengajakmu ke dokter kandungan terbaik di kota ini," bisik Jati sambil mengelus rambut Lintang yang berantakan.
"Bukan karena Mas meragukanmu, tapi Mas ingin kita berdua diperiksa—baik kesuburanmu maupun kondisiku setelah kecelakaan itu. Mas ingin kita memulai semuanya dengan pasti, sekaligus membungkam mulut keluarga Dery selamanya."
Lintang mendongak, menatap mata suaminya dengan rasa haru.
"Terima kasih, Mas. Saya juga ingin tahu bagaimana kondisi kita yang sebenarnya."
Jati tersenyum, lalu mengecup kening Lintang dengan lembut dan lama.
Rasa lelah setelah "pertempuran" pagi mereka mulai terasa menyergap.
"Sekarang kita tidur lagi ya, Sayang. Mas masih mengantuk sekali," gumam Jati sambil memejamkan matanya, menyandarkan dagunya di puncak kepala Lintang.
"Iya, Mas. Aku juga capek," sahut Lintang lirih.
Ia memejamkan matanya, menghirup aroma maskulin suaminya yang kini menjadi aroma favoritnya.
Di bawah perlindungan lengan kekar Jati dan di dalam kenyamanan apartemen mewah itu,
Lintang akhirnya tertidur pulas tanpa ada rasa takut akan dihina atau disakiti lagi.
Sementara Jati, meski matanya terpejam, ia bersumpah dalam hati bahwa hasil pemeriksaan sore nanti akan menjadi awal dari pembalasan yang elegan untuk semua orang yang pernah merendahkan istrinya.
Sore itu, matahari mulai meredup saat Jati membimbing Lintang keluar dari apartemen.
Jati terus memperhatikan langkah Lintang yang tampak sangat hati-hati dan sedikit kaku.
Ia tahu, penyatuan mereka semalam dan tadi pagi meninggalkan rasa perih yang nyata bagi istrinya yang baru saja melepaskan masa lajangnya.
"Sabar ya, Sayang. Pelan-pelan saja," bisik Jati sambil merangkul pinggang Lintang dengan protektif.
Sesampainya di rumah sakit khusus ibu dan anak yang paling bergengsi, mereka disambut oleh dr. Maya, seorang spesialis fertilitas ternama. Setelah sesi konsultasi singkat, dr. Maya meminta Lintang untuk naik ke kursi pemeriksaan.
"Ibu Lintang, saya akan melakukan USG transvaginal untuk melihat kondisi rahim dan sel telur Ibu secara lebih detail, ya," ujar dr. Maya dengan ramah.
Sementara pemeriksaan Lintang berlangsung, seorang perawat mendekati Jati.
"Bapak Jati, mari silakan ikut saya ke ruangan khusus. Kami perlu mengambil sampel cairan semen Bapak untuk pemeriksaan analisis sperma di laboratorium agar hasilnya akurat untuk kedua belah pihak."
Jati mengangguk paham. Ia diarahkan ke sebuah ruangan privat yang tenang dan steril.
Di sana, ia harus berusaha mengeluarkan sampelnya sendiri untuk kepentingan medis.
Setelah hampir dua puluh menit, Jati keluar dan menyerahkan wadah kecil berisi sampel tersebut kepada perawat dengan wajah yang sedikit canggung namun lega.
Setelah selesai dengan urusan laboratorium, Jati kembali menuju ruang pemeriksaan dr. Maya.
Di sana, Lintang sudah selesai diperiksa dan sedang merapikan pakaiannya.
Wajah Lintang tampak sedikit tegang, menantikan hasil dari alat yang baru saja masuk ke dalam tubuhnya.
Jati segera duduk di samping istrinya, menggenggam tangannya erat untuk memberikan kekuatan. dr. Maya sedang menatap layar monitor yang menampilkan hasil citra rahim Lintang.
"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Jati tidak sabar, suaranya terdengar berat menahan kecemasan sekaligus harapan besar.
Dokter Maya memutar layar monitor ke arah Jati dan Lintang, menunjukkan gambaran rahim yang bersih dan sel telur yang berkembang sempurna.
Senyum di wajah dokter itu membuat ketegangan di bahu Lintang perlahan luruh.
"Ibu Lintang, saya tidak melihat adanya masalah sama sekali. Rahim Anda sangat sehat, posisinya bagus, dan yang paling menggembirakan adalah..."
Dokter Maya menunjuk sebuah lingkaran kecil di layar.
"Anda sedang berada di masa subur yang sangat optimal. Melihat kondisi ini, kemungkinan besar kejadian semalam akan membuahkan hasil. Peluang kehamilannya sangat tinggi."
Lintang menutup mulutnya dengan tangan, air mata haru menggenang di pelupuk matanya.
Selama bertahun-tahun ia hidup di bawah bayang-bayang tuduhan "mandul" yang dilemparkan Dery, dan hari ini, kebenaran medis memihaknya dengan begitu indah.
Jati menggenggam tangan Lintang lebih erat, ada kilat kepuasan sekaligus amarah yang tertahan di matanya saat mengingat fitnah keluarga Dery.
"Dokter, saya minta tolong," ujar Jati dengan suara rendah namun tegas.
"Tolong cetak hasil pemeriksaan ini secara resmi. Berikan detail bahwa rahim istri saya sangat sehat dan subur. Saya ingin dokumen ini disimpan sebagai bukti otentik bahwa kami berdua tidak memiliki kendala apa pun untuk memiliki keturunan."
Dokter Maya mengangguk mengerti. "Tentu, Pak Jati. Saya akan siapkan laporannya dengan lengkap."
Setelah keluar dari ruang praktik, Jati menatap amplop berisi hasil lab tersebut dengan senyum sinis.
Ia membayangkan wajah Ibu Dery dan kakaknya saat melihat dokumen ini.
"Sayang, dokumen ini bukan cuma buat kita simpan," bisik Jati sambil merangkul Lintang menuju parkiran.
"Ini adalah senjata untuk membungkam mulut mereka selamanya. Jika mereka berani mengusikmu lagi atau membawa-bawa masalah keturunan ke pengadilan perceraian Dery, Mas akan tunjukkan surat ini di depan wajah mereka."
Lintang menyandarkan kepalanya di bahu Jati.
"Terima kasih, Mas. Akhirnya beban itu hilang dari pundak saya."
"Sekarang, tugas kita hanya menunggu kabar baik dari rahimmu," goda Jati dengan nada nakal yang membuat pipi Lintang memerah.
"Mengingat 'usaha' kita tadi pagi, sepertinya kita tidak perlu menunggu lama."
Mobil mewah Jati berhenti di depan sebuah restoran fine dining yang terletak di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit.
Cahaya lampu kota Jakarta berkelap-kelip di bawah mereka seperti hamparan permata.
Ini adalah perayaan kecil pertama mereka sebagai suami istri yang sah di depan publik.
Jati menarikkan kursi untuk Lintang dengan sangat sopan.
Lintang, yang mengenakan dress hitam elegan pemberian Jati, tampak sedikit kaku.
Matanya menyapu sekeliling ruangan yang didominasi dekorasi kristal dan pelayan berseragam rapi yang berdiri siaga.
Seorang pelayan datang membawakan buku menu besar bersampul kulit beludru.
Begitu membukanya, Lintang terpaku. Deretan nama masakan dalam bahasa Prancis dan Italia terpampang di sana, lengkap dengan harga yang membuatnya ingin segera menutup buku itu kembali.
"Mas..." bisik Lintang pelan, wajahnya tampak bingung.
"Ini, menunya banyak sekali. Saya tidak tahu ini makanan apa saja. Dan harganya apa tidak kemahalan?"
Jati yang melihat istrinya terdiam hanya tersenyum tipis.
Ia bisa merasakan kegugupan Lintang. Jati meraih tangan Lintang di atas meja, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari untuk menenangkannya.
"Pilih saja yang menurutmu gambarnya menarik, Sayang. Jangan lihat harganya. Sekarang kamu adalah istri Jati Pratama, tidak ada yang terlalu mahal untukmu," ucap Jati dengan nada rendah yang menenangkan.
Lintang menggigit bibir bawahnya, masih ragu. "Tapi saya takut salah pesan, Mas. Nanti kalau rasanya aneh bagaimana?"
Jati terkekeh pelan, merasa gemas melihat kepolosan istrinya.
"Bagaimana kalau Mas yang pesankan? Mas tahu kamu suka rasa yang gurih dan hangat. Kita pesan Wagyu Ribeye dengan saus jamur, dan untuk pembukanya kita coba Lobster Bisque. Mas jamin kamu akan suka."
Lintang mengangguk setuju, merasa sangat lega karena Jati mengambil alih kendali.
"Iya Mas, terserah Mas saja."
Sambil menunggu pesanan datang, Jati menatap Lintang dengan tatapan intens.
"Setelah makan malam ini, Mas ingin kita benar-benar melupakan semua hinaan Dery dan keluarganya. Surat dari dokter tadi sudah membuktikan segalanya. Fokus kita sekarang hanya satu: kebahagiaan kita dan calon buah hati kita."
Lintang tersenyum manis, rasa percaya dirinya perlahan tumbuh.
Di tempat semewah ini, ia menyadari bahwa ia bukan lagi Lintang yang dulu bisa diinjak-injak. Ia adalah wanita yang dicintai oleh pria hebat di depannya.