Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.
Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”
Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.
Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”
Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jawaban yang Tidak Mudah
Restoran itu tiba-tiba terasa sangat sunyi.
Suara musik piano yang tadi terdengar lembut kini seperti menghilang di udara. Beberapa tamu di meja lain menoleh dengan penasaran. Bahkan pelayan yang sedang membawa makanan berhenti beberapa langkah dari meja Nina.
Raka berdiri dengan napas sedikit terengah.
Rambutnya masih sedikit basah oleh gerimis.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Ia tidak menunda kata-kata yang sudah lama ia simpan.
“Nina… aku suka kamu.”
Kalimat itu masih menggantung di udara.
Arman berdiri di samping meja dengan ekspresi yang jelas tidak senang.
Sementara Nina…
Nina hanya menatap Raka.
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada yang berbicara.
Raka menggaruk kepalanya pelan.
“Ya… mungkin ini bukan cara terbaik mengatakan itu,” katanya canggung.
Arman akhirnya memecah keheningan.
“Memang bukan.”
Raka menoleh.
“Ya, aku juga baru sadar.”
Arman menatapnya tajam.
“Kamu datang ke restoran ini hanya untuk mengatakan itu?”
Raka mengangguk.
“Iya.”
Arman tertawa pendek.
“Kamu pikir hidup ini film romantis?”
Raka berpikir sebentar.
“Sejujurnya aku berharap begitu.”
Nina hampir tertawa, tapi ia menahannya.
Situasinya terlalu rumit untuk tertawa.
Arman menatap Nina.
“Kamu tidak perlu menjawab ini sekarang.”
Raka langsung berkata,
“Tidak juga.”
Arman menoleh tajam.
Raka mengangkat bahu.
“Aku hanya bilang perasaanku.”
Nina akhirnya menarik napas panjang.
“Berhenti.”
Kedua pria itu langsung diam.
Nina berdiri dari kursinya.
Ia menatap Raka.
Lalu menatap Arman.
“Kalian membuat restoran ini seperti panggung drama.”
Raka tersenyum kecil.
“Ya mungkin memang begitu.”
Nina memijat pelipisnya sebentar.
“Aku butuh udara.”
Ia berjalan keluar restoran.
Tanpa menunggu mereka.
Beberapa detik kemudian…
Raka dan Arman berdiri saling berhadapan.
Suasana menjadi canggung.
Arman melipat tangan di dada.
“Kamu serius dengan semua ini?”
Raka mengangguk.
“Iya.”
Arman menatapnya beberapa detik.
“Kamu bahkan tidak terlihat seperti orang yang punya rencana hidup.”
Raka berpikir sebentar.
“Ya… itu benar.”
Arman menggeleng.
“Nina butuh seseorang yang stabil.”
Raka tersenyum kecil.
“Dia juga butuh seseorang yang membuatnya tertawa.”
Arman tidak langsung menjawab.
Ia menatap Raka dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Aku tidak akan menyerah.”
Raka mengangguk.
“Aku juga tidak.”
Beberapa detik mereka saling menatap.
Lalu Arman berkata,
“Kalau begitu biarkan Nina memilih.”
Raka tersenyum.
“Itu memang rencananya.”
Di luar restoran.
Nina berdiri di trotoar sambil menatap lampu jalan yang memantul di aspal basah.
Udara malam terasa dingin.
Ia menarik napas panjang.
“Kenapa hidup tiba-tiba jadi serumit ini…”
Pintu restoran terbuka.
Raka keluar.
Ia berdiri beberapa langkah dari Nina.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
“Nina.”
Nina menoleh.
“Kamu benar-benar gila datang ke sana.”
Raka mengangguk.
“Iya.”
Nina menatapnya.
“Kamu tahu itu memalukan?”
Raka mengangguk lagi.
“Iya.”
“Lalu kenapa kamu tetap datang?”
Raka berpikir sebentar.
Biasanya ia akan menjawab dengan bercanda.
Atau menunda jawabannya.
Tapi kali ini ia menjawab dengan jujur.
“Karena aku tidak ingin kehilangan kesempatan.”
Nina terdiam.
Raka melanjutkan dengan suara pelan,
“Aku selalu menunda banyak hal dalam hidupku.”
Ia menatap Nina.
“Tapi kalau aku menunda ini juga… mungkin kamu sudah memilih orang lain.”
Beberapa detik berlalu.
Lampu mobil lewat di jalan.
Angin malam berhembus pelan.
Nina akhirnya berkata,
“Raka…”
“Iya?”
“Aku tidak tahu harus menjawab apa.”
Raka tersenyum kecil.
“Tidak apa.”
Nina menatapnya heran.
“Kamu tidak ingin jawaban sekarang?”
Raka mengangkat bahu.
“Ya mungkin besok.”
Nina menatapnya beberapa detik.
Lalu tertawa kecil.
“Kamu kembali seperti biasanya.”
Raka ikut tertawa.
“Tapi kali ini aku sudah mengatakan yang penting.”
Nina menatapnya lama.
Di matanya ada sesuatu yang berbeda.
Sesuatu yang bahkan Raka tidak bisa baca.
Dan untuk pertama kalinya…
Jawaban Nina terasa seperti misteri yang tidak bisa ditebak.