Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Jendela Kekosongan
Debu-debu halus menari di udara, diterangi oleh pilar cahaya matahari pagi yang menembus tajam melalui lubang menganga selebar dua meter di atap Dapur Luar. Udara di ruangan itu masih berbau ozon yang tajam, bercampur dengan aroma hangus dari kayu sirap yang baru saja terkelupas paksa oleh ledakan energi spiritual.
Di bawah pilar cahaya itu, 'Kursi Goyang Energi Qi' masih berayun dengan ritme yang stabil.
Lin Fan duduk bersandar di kursinya, menatap lurus ke atas dengan ekspresi yang sulit diartikan. Rambutnya sedikit berantakan, tertiup oleh sisa-sisa angin spiral dari terobosannya. Di matanya, tidak ada kilatan kegembiraan karena berhasil mencapai Alam Pendirian Fondasi (Foundation Establishment)—sebuah pencapaian yang membuat ribuan kultivator rela menumpahkan darah. Yang ada di mata sayu itu hanyalah kalkulasi matematis yang sangat duniawi.
*Satu, dua, tiga... ada sekitar dua belas papan kayu yang hancur,* batin Lin Fan, napasnya terdengar berat. *Belum lagi penyangga utamanya patah. Jika mereka memotong gaji pelayanku untuk memperbaiki ini, aku harus makan bubur encer selama sebulan penuh. Dan yang paling parah... cahaya matahari ini tepat menyinari wajahku. Bagaimana aku bisa tidur siang jika ada lampu tembak kosmik di atas kepalaku?*
Wang Ta dan Zhao Er masih berlutut di lantai batu, tubuh mereka gemetar hebat. Mereka tidak berani mengangkat kepala. Tekanan aura Alam Pendirian Fondasi yang baru saja meledak dari tubuh Lin Fan, meski telah ditarik kembali ke dalam Dantian-nya, masih menyisakan residu yang membuat udara terasa seberat timah. Bagi mereka, pemuda berjubah kumal di atas kursi goyang itu kini terasa seperti dewa yang turun ke bumi.
"T-Tuan Lin..." suara Wang Ta bergetar, memecah keheningan. "S-selamat atas... atas terobosan Anda menembus batas fana. Dapur Luar... tidak, seluruh sekte ini... diberkati oleh cahaya Anda."
Lin Fan menunduk menatap Koki Kepala yang gemuk itu. Ia menghela napas panjang.
"Koki Wang," ucap Lin Fan datar. "Apakah sekte menyediakan asuransi kerusakan properti akibat bencana alam spiritual? Atau... mungkinkah kita bisa menuduh burung raksasa yang menabrak atap ini?"
Wang Ta ternganga. Otaknya yang sudah dicuci oleh pemujaan fanatik seketika mencari pembenaran filosofis dari pertanyaan aneh tersebut. *Asuransi? Burung raksasa? Ah! Master Lin pasti sedang menguji pemahaman saya tentang karma dan ilusi kepemilikan material!*
Sebelum Wang Ta sempat memberikan jawaban yang sok bijak, udara di luar Dapur Luar tiba-tiba bergemuruh.
*WUSSS! WUSSS! SWING!*
Suara belasan pedang terbang yang membelah angin terdengar bersahut-sahutan, disusul oleh kepakan sayap binatang buas spiritual. Bayangan-bayangan raksasa menutupi sinar matahari di halaman depan dapur. Gelombang energi yang luar biasa kuat—gabungan dari belasan ahli tingkat tinggi—menekan turun, membuat seluruh bangunan kayu Dapur Luar berderit memprotes.
Pemimpin Sekte Linghu telah tiba, membawa serta eselon tertinggi Sekte Awan Mengalir.
Di luar, debu beterbangan saat Pemimpin Sekte mendarat dengan anggun dari atas pedang terbangnya, jubah keemasannya berkibar megah. Di belakangnya, Tetua Inspeksi 'Mata Elang', Tetua Puncak Pedang, Tetua Puncak Formasi, Tetua Bai, dan Su Qingxue ikut mendarat. Wajah mereka semua memancarkan ketegangan dan euforia yang tak terbendung.
Lonceng sembilan dentuman tadi adalah tanda mutlak. Seorang ahli baru telah lahir, dan fondasinya begitu murni hingga memicu resonansi langit dan bumi.
Pemimpin Sekte Linghu melangkah maju. Ia tidak langsung mendobrak pintu. Ia berhenti tiga langkah dari ambang pintu yang rusak, menarik napas dalam-dalam, lalu menangkupkan kedua tangannya di depan dada dengan sikap sangat hormat. Sikap ini biasanya hanya ia tunjukkan kepada leluhur sekte yang sudah menjadi mumi di goa pengasingan.
"Linghu, Pemimpin Sekte Awan Mengalir generasi ketujuh belas, memohon izin untuk menghadap Master Lin!" suara Linghu menggelegar, namun diwarnai dengan kerendahan hati yang membuat ratusan murid pelayan di luar dapur nyaris pingsan karena syok.
Pemimpin Sekte! Orang terkuat di radius ribuan mil, membungkuk di depan Dapur Luar!
Di dalam, Lin Fan memutar bola matanya. *Hebat. Rombongan penagih utang sudah datang. Mereka pasti melihat cahaya dari atap ini dan sekarang mau menuntut ganti rugi kerusakan bangunan.*
"Masuklah. Pintunya tidak dikunci," jawab Lin Fan santai, enggan berdiri dari kursinya. Ia menarik selimutnya sedikit lebih tinggi, menutupi lehernya. Ia harus bersiap untuk berdebat soal biaya perbaikan.
Pemimpin Sekte Linghu dan rombongan elitnya melangkah masuk. Begitu mereka melewati ambang pintu, langkah mereka serentak terhenti.
Mata para elit sekte ini langsung tertuju pada pemandangan di sudut barat laut. Di sana, di atas kursi rotan kayu cendana yang mereka buat dengan darah dan air mata, duduklah Lin Fan. Di bawah tumit Lin Fan, Batu Giok Api-Es Yin Yang yang legendaris masih tergeletak setia sebagai ganjalan kaki yang ergonomis.
Su Qingxue tersenyum tipis melihat batu giok itu, merasa bangga bahwa persembahannya "diterima dan digunakan dengan baik" oleh sang Master.
Namun, yang paling menyita perhatian mereka bukanlah batu giok itu, melainkan lubang raksasa di atap tepat di atas kepala Lin Fan. Cahaya matahari menyorot Lin Fan bak sorotan lampu panggung surgawi.
Linghu menelan ludah. Ia bisa merasakan sisa-sisa energi murni Pendirian Fondasi yang mengambang di sekitar lubang itu. Kecepatan terobosan ini... dari Tingkat 8 ke Pendirian Fondasi hanya dalam waktu semalam! Ini adalah kecepatan yang menentang kehendak langit!
"Master Lin," ucap Linghu dengan nada bergetar, melangkah mendekat namun tetap menjaga jarak lima meter agar tidak menyinggung. "Kami merasakan resonansi surga. Anda telah menembus penghalang fana. Kami datang untuk memberikan penghormatan tertinggi, dan memohon arahan dari kebijaksanaan Anda yang baru."
Lin Fan mengedipkan matanya perlahan. Ia melihat ke arah Linghu, lalu ke arah atap yang bolong, lalu kembali ke Linghu.
Otaknya yang sedang bekerja dalam 'Mode Menghindari Tanggung Jawab' langsung berputar cepat. Jika ia mengakui bahwa itu adalah kecelakaan karena ia tidak bisa mengontrol energinya saat tidur, mereka mungkin akan menyuruhnya memperbaiki atap itu sendiri. Memanjat atap? Mengangkat palu? Itu adalah neraka. Ia harus memutarbalikkan fakta ini menjadi sebuah konsep kultivasi yang sangat abstrak sehingga mereka tidak berani menyentuhnya.
Lin Fan mendesah panjang. Sebuah desahan yang terdengar sangat berat, sarat akan beban filosofis berabad-abad.
"Pemimpin Sekte Linghu," panggil Lin Fan, suaranya diayunkan dalam nada bariton yang monoton dan lambat. Ia menatap pilar cahaya yang jatuh dari lubang atap itu sambil menyipitkan mata, berakting seolah-olah ia sedang menatap rahasia alam semesta (padahal matanya silau).
"Kalian melihat sebuah lubang," lanjut Lin Fan, mengangkat satu tangannya dengan lemah dan menunjuk ke arah atap yang hancur. "Kalian melihat kerusakan. Kalian melihat ketidaksempurnaan pada bangunan fisik ini."
Para Tetua saling berpandangan. Tetua Puncak Formasi segera mengeluarkan buku catatan kecil dan kuas dari lengan bajunya, bersiap mencatat setiap suku kata.
Lin Fan menurunkan tangannya, meletakkannya kembali di atas perutnya. "Tapi tanyakan pada diri kalian sendiri... apa itu atap?"
Keheningan melanda dapur. Pertanyaan itu terdengar sangat sederhana, namun dari mulut seorang ahli Pendirian Fondasi, itu terdengar seperti teka-teki dari dewa kuno.
"Atap... adalah pelindung dari cuaca, Master," jawab Tetua Inspeksi ragu-ragu.
"Pelindung," ulang Lin Fan, sudut bibirnya sedikit melengkung membentuk senyuman tipis yang sinis. "Benar. Pelindung dari hujan, dari angin, dari matahari. Tapi, bagi seorang kultivator yang mencari jalan menuju langit... bukankah atap adalah sebuah dinding pembatas? Sebuah penjara kayu yang mengurung jiwa kalian dari alam semesta yang luas?"
Mata Linghu seketika membelalak. Dadanya seakan dihantam godam raksasa.
Lin Fan melanjutkan omong kosong filosofisnya dengan lancar. "Kalian membangun aula yang megah, dengan atap berlapis emas dan genteng spiritual. Kalian bermeditasi di dalamnya, menutup mata kalian, dan berharap bisa menyerap Qi langit. Tapi kalian mengurung diri kalian dalam kotak. Bagaimana mungkin langit bisa menyentuh jiwa kalian, jika kalian sendiri membangun penghalang di atas kepala kalian?"
"Karena itulah..." Lin Fan menepuk sandaran kursi goyangnya pelan. "Aku membuka 'Jendela Kekosongan' ini. Aku tidak menghancurkan atap ini karena kehilangan kendali. Aku menghancurkannya untuk membiarkan cahaya bintang dan kehangatan matahari turun langsung membasuh tubuhku. Kultivasi yang sebenarnya bukanlah bersembunyi di balik bangunan yang aman, melainkan rebahan... maksudku, berserah diri sepenuhnya di bawah tatapan langit yang terbuka."
Begitu kata "Jendela Kekosongan" diucapkan, suara tarikan napas serentak menggema di antara para elit sekte tersebut.
Tetua Puncak Formasi menjatuhkan kuasnya. Tinta merembes di atas kertasnya, tapi ia tidak peduli. Tangannya bergetar hebat mencengkeram kepalanya sendiri.
"Jendela Kekosongan..." gumam Tetua Formasi, matanya berair. "Selama ini... kita memasang formasi pengumpul Qi di atap aula utama... kita memaksa energi langit masuk melalui filter buatan kita. Kita menyaringnya! Kita sombong! Kita berpikir kita bisa mengatur alam! Master Lin menghancurkan atap untuk mengajarkan kita bahwa aliran alam tidak boleh dihalangi!"
Pemimpin Sekte Linghu mundur satu langkah, wajahnya pucat pasi namun matanya menyala dengan api pencerahan. Ia menatap lubang bergerigi di atap Dapur Luar itu. Di matanya, lubang itu bukan lagi kerusakan arsitektur; itu adalah gerbang suci menuju Dao!
"Master Lin..." suara Linghu tersendat. Ia langsung menangkupkan tangannya dan membungkuk dalam-dalam. "Kebijaksanaan Anda setajam pedang penciptaan! Kami semua telah buta selama ratusan tahun! Kami mengira keamanan fisik adalah keharusan, padahal itu adalah rantai yang mengikat kemajuan kami!"
Su Qingxue, yang berdiri di barisan belakang, menatap Lin Fan dengan rasa hormat yang nyaris fanatik. *Beliau bahkan menggunakan kecelakaan atap bocor sebagai media pengajaran. Setiap napas yang beliau hembuskan adalah Dao!*
Lin Fan mengangguk pelan dengan wajah tanpa ekspresi, padahal di dalam hatinya ia sedang bersorak kegirangan. *Berhasil! Mereka memakan umpannya bulat-bulat! Aku tidak perlu membayar sepeser pun!*
"Jadi..." Lin Fan menambahkan, pura-pura enggan. "Tolong jangan repot-repot mengirim tukang kayu untuk menambal 'Jendela Kekosongan' ini. Biarkan ia terbuka. Aku sangat menghargai ventilasi ekstra ini."
"Tentu saja tidak!" seru Linghu dengan tegas. "Menambal lubang suci ini sama saja dengan menentang kehendak langit! Bahkan, sekembalinya kami ke Puncak Utama nanti, saya akan memerintahkan agar atap Aula Meditasi Inti segera dibongkar! Mulai hari ini, sekte kita akan mengadopsi 'Arsitektur Kekosongan'!"
Tetua Puncak Pedang mengangguk setuju dengan semangat berapi-api. "Saya akan membelah atap asrama murid-murid pedang malam ini juga! Mereka terlalu nyaman! Biarkan mereka tidur di bawah hujan dan badai agar jiwa pedang mereka setajam alam!"
Di atas kursi goyangnya, Lin Fan nyaris tersedak ludahnya sendiri. *Kalian benar-benar gila. Kalian akan membongkar atap kalian sendiri? Astaga, sekte ini benar-benar dihuni oleh orang-orang masokis.*
Namun, sebuah detail kecil mulai mengganggu ketenangan Lin Fan.
Membiarkan atap bolong memang bagus untuk menghindari ganti rugi, tapi apa yang terjadi jika hujan turun? Ia benci kebasahan. Kehujanan saat sedang tidur adalah salah satu pelanggaran terberat terhadap hak asasi seorang pemalas.
Seolah mendengar kepanikan tersembunyi di dalam hati Lin Fan, suara mekanis yang sudah tidak asing lagi berdenting dengan riang di dalam tengkoraknya.
*[Ding! Misi Tersembunyi Selesai: 'Mengubah Kerusakan Properti Menjadi Sekte Filosofis Baru'.]*
*[Sistem sangat terkesan dengan kemampuan Host dalam menipu para elit menggunakan omong kosong tingkat tinggi.]*
*[Menerima Pengalaman Kultivasi +2000.]*
*[Menerima Benda Spiritual Pasif: 'Payung Nirwana Tanpa Bentuk'.]*
*[Deskripsi: Sebuah kubah energi tak kasat mata yang terpasang secara otomatis di atas kepala Host. Menolak air hujan, debu, kotoran burung, dan serangan fisik tingkat rendah, membiarkan hanya sinar matahari yang nyaman dan angin sejuk yang melewatinya.]*
Lin Fan menghela napas panjang, sebuah desahan kelegaan yang tulus. *Sistem... kadang-kadang, kau benar-benar tahu apa yang diinginkan oleh seorang pria yang hanya ingin tidur tenang.*
Dengan masalah atap dan cuaca yang sudah terselesaikan secara permanen, Lin Fan merasa sudah saatnya ia mengusir kerumunan elit ini agar ia bisa kembali menyambung mimpinya.
"Jika kalian sudah memahami arti dari Jendela Kekosongan ini," ucap Lin Fan, menggeser tubuhnya dan membalikkan punggungnya ke arah rombongan Pemimpin Sekte. "Maka kembalilah ke puncak kalian. Jangan berdiri di sini dan menghalangi aliran Qi kosmikku. Kehadiran kalian merusak sirkulasi udaraku."
Diusir secara terang-terangan oleh seorang murid luar biasanya akan berarti hukuman mati. Namun, Linghu dan para Tetua justru merasa terhormat. Mereka ditegur oleh seorang pertapa agung karena "menghalangi aliran kosmik"!
"Kami mengerti, Master Lin!" Linghu membungkuk untuk terakhir kalinya. "Kami tidak akan mengganggu 'Perenungan Langit Terbuka' Anda lagi. Mari kita pergi, para Tetua! Kita punya banyak atap yang harus dihancurkan hari ini!"
Dengan semangat yang menyala-nyala, rombongan elit itu memutar tubuh mereka dan bergegas keluar dari Dapur Luar. Mereka melompat ke atas pedang dan binatang terbang mereka, melesat kembali ke Puncak Utama dengan satu misi gila: menghancurkan fasilitas sekte mereka sendiri atas nama pencerahan.
Setelah mereka pergi, Dapur Luar kembali sunyi senyap.
Wang Ta dan Zhao Er masih berlutut, menatap punggung Lin Fan dengan kekaguman yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Master mereka baru saja meyakinkan sekte terkuat di benua selatan untuk membongkar atap mereka sendiri, dan beliau melakukannya tanpa beranjak dari kursi.
"Tuan Lin..." bisik Zhao Er perlahan. "Apakah... apakah hamba juga harus membongkar atap kamar pelayan malam ini?"
Lin Fan tidak menjawab. Ia sudah kembali mendengkur dengan nyenyak, dilindungi oleh payung energi tak kasat mata dari lubang di atapnya, tenggelam dalam mimpi di mana seluruh dunia akhirnya membiarkannya rebahan dengan damai.