NovelToon NovelToon
Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Ibu Tiri / Fantasi Isekai
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.

Besoknya, kontrak miliaran gol.

Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.

Rahimnya diangkat.

Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.

Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.

Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.

Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.

Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.

Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.

Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Mau Sampai Kapan?

Gedoran kasar di pintu depan menghamburkan fokus Sukma.

"Mbakyu! Mbakyu Sukma! Buka pintunya!"

Suara Priyambodo serak dan panik. Sukma melempar kain lap yang sedang dipegangnya ke kursi, setengah berlari membuka palang kayu.

Priyambodo berdiri di ambang pintu dengan napas memburu. Rambutnya acak-acakan, kemeja pabriknya basah oleh keringat dingin. Wajah pria itu sepucat kertas.

"Ono opo, Do? Wati nyapo?" Jantung Sukma berdetak lebih cepat. Perhitungannya meleset. HPL Wati harusnya baru dua minggu lagi.

"Wati... Wati pendarahan, Mbakyu! De'e nangis gulung-guling nang kasur, perutnya kram hebat. Aku ndak ngerti kudu piye! Tolong, Mbakyu!"

Gila. Pikiran Sukma langsung tertuju pada Ningsih dan Lasmi. Pasti ulah dua benalu itu lagi.

"Sigit!" Sukma berteriak memanggil anak sulungnya.

"Koen lari ke rumah Paklik Karto sekarang! Suruh siapkan gerobak sapi, gelar kasur kapuk yang tebal! Bilang ini darurat mau ke RSUD!"

"Nggih, Bu!" Sigit langsung melesat keluar seperti anak panah.

"Gito, Koen ke rumah Lek Pon. Minta tolong jagain Sinta sama Syaiful. Ibu mau temani Bulik Wati ke rumah sakit. Ojo rewel nang omah wong!"

Gito mengangguk kaku, menarik tangan adik-adiknya. Syaiful yang tak mengerti apa-apa hanya mengerjap bingung melihat ibunya mondar-mandir masuk kamar.

Sukma membongkar lemarinya.

Satu kedipan mata, tangannya menyusup ke ruang spasial, menarik beberapa ampul obat pereda nyeri yang aman untuk orang hamil, kain kasa steril, dan sebotol air mineral yang ia sulap wujudnya ke dalam botol kaca sirup usang.

"Ayo, Do! Kita ke rumahmu saiki!"

Pekarangan rumah tua keluarga Priyanto riuh rendah.

Suara rintihan menyayat hati Wati menembus celah anyaman bambu.

Namun anehnya, tak ada satupun tetangga yang berani mendekat.

Di teras, Pak Parno, bapak mertua Sukma, duduk mengisap rokok klobot dengan wajah masam. Asapnya mengepul tebal menutupi kerutan di dahinya.

Lasmi mondar-mandir mengipasi dirinya sendiri, mulutnya tak henti berkomat-kamit.

"Wedokan manja! Biyen aku meteng awan-awan sek nang sawah, sorene wes iso nyangkul maneh! Wati iki baru sakit sithik ae wes koyok mau mati! Bikin geger wong sak kampung!" cerocos Lasmi tanpa belas kasihan.

Jamilah berdiri di sebelah ibu mertuanya, menyilangkan tangan di dada.

"Bener, Bu. Wati iku sengaja cari perhatian Mas Dodo ben dieman-eman. Nanti ujung-ujungnya minta duit buat ke rumah sakit. Jangan dikasih lho, Bu! Duit tabungan kita wes nipis!"

"Siapa yang mau ngasih?! Duit teko ngendi?!" sahut Lasmi melotot.

"Lek Dodo ngeyel mau bawa bojone ke rumah sakit, suruh bayar dewe! Aku ndak sudi ngetokne sepeser pun!"

Toni, anak sulung Wati yang baru berumur empat tahun, duduk meringkuk di sudut teras. Air mata membasahi pipi kotornya.

Ia ketakutan melihat nenek dan tantenya memarahi ibunya yang sedang kesakitan di dalam kamar.

Brak!

Pagar bambu ditendang terbuka. Sukma dan Priyambodo menerobos masuk.

Mata Sukma langsung memindai formasi orang-orang tak berguna di teras itu. Darahnya mendidih.

"Do, cepat masuk ke dalam. Angkat Wati ke luar!" perintah Sukma tak mempedulikan tatapan tajam keluarga mertuanya.

"Heh, Sukma! Koen lapo mrene?!" Lasmi langsung berkacak pinggang menantang.

"Iki urusan keluargaku! Ojo melu-melu Koen! Wati cuma butuh rebahan, nanti juga brojol dewe!"

Sukma tak membalas. Ia melangkah lurus menuju kamar Wati, sengaja menabrak bahu Jamilah hingga perempuan itu terhuyung mundur.

"Aduh! Koen iku kasar tenan sih, Mbakyu!" jerit Jamilah memegangi bahunya.

"Mas Joko, deloken Mbakyu Sukma iki!"

Joko yang baru keluar dari kamar mandi hanya membuang muka, tak berani mencari masalah dengan Sukma setelah ancaman surat dari Sutrisno kemarin.

Di dalam kamar yang pengap, bau anyir darah langsung menyergap penciuman Sukma.

Wati terbaring lemas di atas kasur tipis yang sudah basah oleh cairan merah pekat. Wajahnya seputih kapas. Bibirnya bergetar membirukan.

"Mbakyu... tolong anakku..." rintih Wati pelan, nyaris tak terdengar. Tangannya mencengkeram sprei kuat-kuat menahan kram yang luar biasa.

Sukma segera berjongkok. Tangannya meraba perut buncit Wati yang mengeras bagai batu.

"Tenang, Wat. Tarik napas panjang. Ojo ngeden. Anakmu ndak bakal kenapa-napa."

Sukma menyelipkan sebutir pil pereda pendarahan ke mulut Wati, lalu memaksanya minum dari botol kaca yang ia bawa.

"Do! Cepat angkat Wati! Kita harus ke RSUD saiki juga!" teriak Sukma.

Priyambodo yang gemetar ketakutan langsung menyelipkan tangannya ke bawah lutut dan punggung istrinya. Ia mengangkat Wati dengan susah payah.

Darah segar menetes membasahi lantai plesteran semen.

Melihat darah itu, Lasmi menjerit histeris dari ambang pintu.

"Gusti Pangeran! Dodo! Koen mau bawa istrimu ke mana?! Rumah sakit iku mahal! Aku ndak mau bayar!"

Priyambodo menghentikan langkahnya. Matanya merah menyala menatap ibu kandungnya sendiri. Rasa hormatnya pada wanita tua itu hancur tak bersisa malam ini.

"Sopo sing minta duit Ibu?!" bentak Priyambodo dengan suara parau menahan tangis.

"Istriku pendarahan! Bayiku iso mati! Ibu malah mikir duit?! Ibu iku menungso opo demit?!"

Seketika teras itu hening. Pak Parno menghentikan isapan rokoknya. Lasmi melongo tak percaya anak ketiganya yang biasanya penurut itu berani membentaknya kasar.

"Do, ndang mlaku!" Sukma mendorong bahu Priyambodo agar kembali fokus.

Di luar pekarangan, Paklik Karto sudah menunggu dengan gerobak sapi yang disulap menjadi kasur berjalan. Sigit berdiri di samping gerobak, napasnya masih ngos-ngosan.

Priyambodo membaringkan Wati dengan hati-hati.

"Toni! Ayo melu Bapak!" Priyambodo memanggil anak sulungnya yang masih menangis di pojokan.

Balita itu berlari memeluk kaki ayahnya. Sukma segera mengangkat Toni naik ke atas gerobak, duduk di sebelah ibunya.

"Mbakyu... biaya rumah sakit..." Priyambodo bergumam putus asa, menyadari isi kantongnya yang tipis setelah gajinya disunat habis-habisan oleh Lasmi.

"Ra usah mikir duit!" Sukma menepuk pundak adik iparnya itu keras. "Sing penting nyawane Wati sama anakmu selamat!"

Gerobak sapi itu bergerak membelah malam. Suara roda kayunya berderit menembus kegelapan jalan desa.

Di sepanjang perjalanan, Wati terus merintih. Sukma duduk di sebelahnya, tak henti-hentinya menggenggam tangan Wati yang sedingin es, membisikkan kalimat-kalimat penenang.

Satu jam kemudian, mereka tiba di RSUD Kabupaten.

Lampu neon terang menyilaukan mata. Bau karbol rumah sakit langsung membuat Toni menutup hidungnya.

"Suster! Tolong! Istri saya pendarahan!" jerit Priyambodo saat mereka memasuki ruang UGD.

Beberapa perawat berseragam putih langsung berlarian membawa brankar beroda. Wati dipindahkan dengan cepat.

"Keluarga pasien harap tunggu di luar!" perintah salah satu perawat sebelum menutup pintu UGD rapat-rapat.

Priyambodo merosot jatuh ke lantai koridor. Pria itu menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya.

Tangisnya pecah. Tubuhnya bergetar hebat menahan rasa bersalah dan ketakutan yang mencekik batinnya.

"Lek sampai Wati celaka... lek sampai anakku mati... aku ndak bakal sudi nginjak rumah Ibu maneh," racaunya disela isak tangis.

Sukma berdiri bersandar di dinding keramik putih. Matanya menatap lurus ke arah pintu UGD yang tertutup.

Ini bukan sekadar pendarahan biasa. Sukma tahu betul, stres fisik dan mental yang dialami Wati akibat ulah Lasmi dan Ningsih adalah pemicu utamanya.

Tangan Sukma mengepal kuat.

"Ndak perlu nunggu Wati celaka, Do." Sukma bersuara dingin, memecah isak tangis Priyambodo.

"Malam iki juga, Koen mesti buat keputusan. Mau terus jadi kacungnya Ibumu, atau mau jadi pelindung buat anak istrimu?! Koen iku lanang, mau sampai kapan koen ngejolimi anak bojo koyo ngene? Mau sampai kapan koen lembek nggak duwe aji?"

1
Musdalifa Ifa
mau nanya Thor jangan tersinggung yah karna ini cerita sudah pernah saya baca tapi bukan bahasa begini, apakah ini karya asli author ?
SENJA
kok jadi mak karman? ibue sukma kan namanya marni lho thor🤭
SENJA
cuok drama cuok 😤
SENJA
kenapa ga berani?!? 😄🤣
SENJA
laki laki apa ini 😤
SENJA
ini lagi hadeeeh benalu 😤
SENJA
jamilah mulutnya comberen banget😤
gina altira
jgn kasih ampun Ningsih
Enah Siti
🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍😍👍👍👍smngat thor maksih
Dewiendahsetiowati
bisa gak si Jamilah dibikin stroke gitu heran bikin emosi terus
SENJA
bener kata sukma do
SENJA
cangkem mu lho 😤
SENJA
hajar terus hajar 😤😤😤 asssuuu emang dia
SENJA
lu ga tau malu banget jadi perempuan 😤
Enah Siti
🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍👍👍👍 ljut thor mksih byak byak
Enah Siti
💪💪💪💪💪😍😍😍😍 nuhun thor
Enah Siti
💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏😍😍😍😍👍👍👍👍👍ljut thor
SENJA
hadeeeeh 😤
SENJA
yaaah kebetulan banget ini weeeh 🤭🤣
SENJA
pinter sukma 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!