AK 47, senjata laras panjang yang kini diarahkannya pada leher suaminya.
"Tambah satu wanita lagi, bangunlah Harem hingga kamu kenyang oleh darah." Sebuah sindiran dari wanita yang tersenyum menyeringai.
Dirinya bereinkarnasi sebagai istri jahat dalam novel pria bertema sistem dan kiamat. Dengan ending kematian tragis.
Sedangkan suaminya hidup bahagia dengan 9 wanita cantik di haremnya.
Berusaha bersikap baik, tidak seperti dalam alur cerita novel. Berharap suaminya tidak akan membangun harem seperti dalam cerita novel.
Tapi tetap saja susu besar membuat pria ini tertarik, paha mulus menggetarkan hatinya.
Daripada menunggu kematian, lebih baik, dirinya menggunakan rudal balistik untuk menghancurkan suaminya.
Dalam dunia kiamat diantara hidup dan mati, dimana makanan adalah lebih berharga daripada emas. Hukum tidak berlaku lagi.
Dunia dimana dirinya dapat membantai pria ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Seharusnya menjadi perjalanan yang cukup panjang. Tapi jarak tempuh dapat dipersingkat, karena Ren menaiki harimau putih yang memiliki bentuk tubuh seukuran gajah. Sedangkan Sarah, fisiknya bagaikan berbeda dari orang biasa saat ini.
Berlari begitu cepat dengan jarak yang begitu jauh, anehnya dirinya sama sekali tidak merasa kelelahan.
Membuka pintu bunker miliknya dengan menggunakan sandi khusus. Kala itu kedua orang tuanya terlihat, kondisi fisik Mereka terlihat lebih baik. Tidak seperti sebelumnya di mana, begitu kurus, dengan wajah yang begitu layu.
Mengurus kebun botani buatan bawah tanah, tidak begitu sulit sejatinya.
"Sarah..." Marina tersenyum menghampirinya, memeluk putrinya erat.
"Kami menangkap ayam, kita dapat memeliharanya. Ada beberapa kandang kecil di bagian belakang." Kalimat to the point yang diucapkan oleh Sarah kepada ibunya.
"Seharusnya, kamu bertanya pada ibu, apa Ibu baik-baik saja? Ibu sehat-sehat saja tinggal di sini? Tapi malah langsung berkata tentang urusan bertahan hidup. Anak macam apa kamu." Gerutu sang Ibu pada putrinya.
"Maaf tapi ayam ini begitu penting untuk bunker, kita harus segera membuat ekosistem buatan. Nanti kita bisa membawa beberapa orang baik dari perjalanan untuk tinggal dengan kita." Jelas arah kembali dalam mode serius.
"Paman, bagaimana kesehatan kaki paman?" Tanya Ren yang menghampiri Suwandi.
"Kakiku sedikit sakit, mungkin karena cuaca yang terlalu dingin. Kenapa kamu bisa tahu?" tanya Suwandi yang tengah mengurus tanaman tomat penasaran.
"Saat perjalanan terakhir, paman beberapa kali memukul lutut paman. Karena itu aku menebak lutut Paman sakit. Ambil tanaman ini, dan ini... lalu haluskan. Tempelkan pada area lutut paman, rasanya akan memberikan efek hangat." Ren tersenyum bicara pada Suwandi.
"Itu baru putra kami..." kalimat yang diucapkan Marina, menatap dari jauh pada pemuda yang begitu peduli, keadaan suaminya.
"Aku putri kalian..." Sarah mengangkat sebelah alisnya.
Marina meraih dua ekor ayam yang dibawa oleh putrinya. Kemudian melangkah ke area belakang, mengambil kandang.
"Seperti itulah yang kami harapkan dari seorang menantu. Karena itu, kami tidak pernah menyetujui hubunganmu dengan Kelvin. Bukan karena status sosial Kelvin yang berasal dari kelas rendah. Tapi caranya memperlakukan kami, dia selalu meminta untuk dihormati, tapi sama sekali tidak pernah menghormati mertuanya sendiri. Kesabaran kami juga memiliki batasan. Ibu harap kamu mengerti, karena itu kami selalu berdebat dulu denganmu." Marina menghela napas, mengingat masa lalunya sebelum dunia ini mengalami kiamat.
Dirinya dan suaminya merupakan pemilik perusahaan kelas atas. Tiba-tiba saja, putrinya membawa seorang pemuda dari keluarga yang tidak sederajat. Mereka pada awalnya berusaha untuk menerima, tapi setelah mengetahui sifatnya, pertengkaran sering terjadi dengan putrinya.
Mereka hanya mencemaskan Sarah, memiliki suami dengan ego yang tinggi. Tapi begitu pemalas dan selalu ingin dihormati. Tidak pernah memikirkan orang lain, hanya memikirkan tentang egonya.
Sedangkan Sarah hanya memikirkan tentang alur cerita novel. Wanita itu menghela nafas, merasa bersalah kepada kedua orang tuanya.
"Aku mengira ibu dan ayah tidak menyukai Kelvin karena status sosialnya." Gumam Sarah memasukkan kedua ekor ayam ke dalam kandang.
"Kami tidak memiliki pemikiran sedangkal itu, kami hanya ingin masa depan cerah untukmu. Jika kamu bersama Kelvin, di mana menurut egonya dia selalu ingin berada di atas wanita. Maka perlahan perusahaan keluarga akan dituntut berada di atas namanya. Padahal dia sama sekali tidak memiliki tekad dan ketekunan untuk berbisnis. Pada kami juga... dia sama sekali tidak menghormati dan menyukai kami. Karena itu kami juga tidak akan menyukainya." Sebuah penjelasan dari ibunya membuat Sarah tertegun diam sejenak.
Keputusan Sarah dalam cerita novel, ternyata bukan hal yang buruk. Wanita jahat dan keluarganya yang merendahkan suaminya, berakhir mati dalam kesengsaraan di dunia kiamat. Itulah Sarah dalam cerita novel, ternyata kesalahan juga terletak pada Kelvin.
Kesalahan Sarah mungkin mengenal dan menikahi Kelvin.
Tapi sudahlah, semuanya sudah berlalu. Dirinya mulai memberi makan ayam, menggunakan buah-buahan setengah busuk.
"Sarah, Apa kamu tidak bermaksud menikah lagi?" Marina berbisik padanya.
"Menikah lagi?" Sarah mengangkat sebelah alisnya.
"Ren... walaupun dia lemah tapi dia bersungguh-sungguh, mempunyai kemampuan untuk menetralkan radiasi. Dia juga peduli pada ibu dan ayah. Dia juga terlihat menyukaimu, jika kalian menikah Ibu tidak akan keberatan." Kalimat yang diucapkan ibunya, masih berbisik kepada putrinya. Sesekali mereka melirik ke arah pemuda yang tengah membantu Suwandi mengurus tanaman tomat.
Sarah menelan ludah, pria ini begitu sering sembarangan mencium dan memeluknya. Tapi, tidak dipungkiri wajah rupawannya adalah tipenya, ditambah dengan baik hati dan rela berkorban. Begitu polos, dirinya dan Ren dapat saling mengenalkan.
Tapi dengan cepat pula, Sarah menggeleng."Aku tidak tertarik untuk menikah lagi. Yang terpenting saat ini adalah bertahan hidup."
Sang Ibu menatap sengit padanya, kemudian memberikan nasehat."Suatu masa, hanya memiliki satu kesempatan. Kamu tidak akan tahu bagaimana sebuah perpisahan terjadi, dan jika sudah terjadi, yang tertinggal hanya kenangan dan sesal."
Sarah menyipitkan matanya, menatap ke arah sang ibu."Ibu menyumpahi Ren pergi!?"
"Tidak, Ibu hanya mengatakan perpisahan dapat terjadi karena apapun." Marina tersenyum tanpa rasa bersalah.
Wanita yang hanya dapat menghela napas kasar, menatap ke arah putrinya. Di dunia kiamat ini, dirinya juga ingin memiliki cucu. Sebelum perang nuklir terjadi, Kelvin tidak menyukai anak-anak, dengan alasan belum siap menjadi seorang ayah, Kelvin meminta Sarah untuk selalu menggunakan kontrasepsi.
Putrinya saat ini berusia 28 tahun, jika memiliki anak di usia ini, akan cukup bagus. Lagi pula di bungker semua kebutuhan bertahan hidup tersedia. Tinggal mengawinkan pejantan dan betina, agar cepat bertelur. Seperti dua ekor ayam ini, yang tinggal dalam satu kandang, sudah pasti cepat atau lambat akan bertelur.
Ya walaupun lambat... dirinya mengenal watak putrinya. Wanita yang sesekali melirik ke arah Ren, sudah menyukainya tapi ragu untuk mendekat. Pura-pura cuek, aslinya hatinya nekat, lihat acuh, sebenarnya bertekad. Percintaan anak muda yang membuat Marina, merasa lebih muda.
"Ren! Suwandi! Kemari!" Marina melambaikan tangan.
Dua orang yang melangkah mendekati mereka. Bungker ini sejatinya bukan tempat yang sempit, tempat ini seperti kebun botani buatan bawah tanah. Mungkin memerlukan waktu sekitar 5 tahun bagi Sarah, untuk membangunnya secara rahasia sebelum dunia kiamat terjadi.
"Kenapa?" tanya Suwandi mendekat.
"Ren... Sarah ingin mengatakan sesuatu padamu." Kalimat yang diucapkan Marina, benar-benar ingin menjodohkan putrinya.
"Ada apa... Nona Sarah?" tanya Ren berkedip beberapa kali.
Memang dasar ibunya sialan! Sudah dibilang anaknya tidak berminat, tapi malah nekat memanggilnya. Sekarang apa yang harus dikatakan olehnya?
"Apa ada hal penting?" tanya Ren penuh senyuman, pria ini begitu dekat, begitu rupawan, ada di jarak yang tidak aman, jujur saja benar-benar terlalu dekat.
"A...aku...
Hayu Miau...terus provokasi Ren biar panas
up nya udah ada aja nih,thor.
Kamu kalau menilai suka sesukamu aja sih,Miau
Lempar nih...