NovelToon NovelToon
SI IMUT MAFIA

SI IMUT MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Saerin853

Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.

Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.

Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.

"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."

Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Pagi itu, meja makan panjang di teras vila terasa lebih sempit dari biasanya. Ragas dengan sigap menyusun enam piring, sementara Kaelan, sang Ketua Klan yang biasanya dilayani, berdiri di depan kompor dengan apron hitam yang melilit pinggangnya.

Anya duduk di ujung meja, menyilangkan kaki dan menatap Kaelan dengan tatapan puas. Di sebelah kanannya, duduk Lucia yang terus berceloteh riang, dan di sebelahnya lagi ada Rico yang terlihat masih mengantuk. Di seberang meja, tepat di hadapan Anya, duduklah Keira. Wanita cantik itu tampak gelisah, sesekali melirik ke arah Kaelan yang sibuk membalik telur.

Suasana canggung menguar di udara, tebal dan bisa dipotong dengan pisau daging.

"Kaelan, kau... kau memasak sendiri?" tanya Keira akhirnya, suaranya pelan dan penuh ketidakpercayaan. Diingatannya, Kaelan remaja adalah pemuda yang bahkan tidak tahu cara menyalakan kompor.

Kaelan menoleh sekilas tanpa melepaskan spatulanya. "Ya. Anya bilang kalau aku tidak memasak, dia akan membakar dapur ini."

Anya mendengus bangga, meraih sepotong roti panggang. "Aku preman pasar, Nona Paris. Bukan koki bintang lima. Lagipula, masakannya lumayan untuk ukuran bos mafia yang kerjaannya memegang pistol."

Keira memaksakan senyum anggunnya, menunduk menatap cangkir tehnya. "Kau... kalian terlihat sangat dekat."

"Oh, tentu saja mereka dekat, Kak Keira!" seru Lucia polos, sama sekali tidak menyadari ketegangan di antara kedua wanita itu. "Semalam aku melihat Kak Kaelan memeluk Anya dari belakang saat di depan kamar! Gila, kan? Kak Kaelan yang biasanya anti-sentuhan itu sekarang berubah jadi beruang madu yang menempel terus!"

Uhuk!

Rico tersedak kopi hitamnya, sementara Ragas pura-pura tidak mendengar sambil mengelap meja dengan sangat, sangat lambat. Kaelan membeku di depan kompor, wajahnya seketika berubah merah padam hingga ke telinga. Rahasianya terbongkar telak oleh kepolosan Lucia.

"L-Lucia!" tegur Rico setelah berhasil mengatur napasnya. "Jaga bicaramu."

"Apa? Memang benar, kan?" protes Lucia tanpa dosa, menatap kakaknya.

Anya tertawa terbahak-bahak, tawanya renyah dan menular. Ia menatap Kaelan yang masih mematung dengan spatula di tangan. "Santai saja, Bos Es. Tidak perlu malu. Toh, memang kau yang lebih dulu merengek minta ditemani."

Kaelan menghela napas panjang, mencoba mengontrol emosinya. Ia mematikan kompor dan membawa piring berisi setumpuk pancake dan telur ceplok ke meja makan. Dengan gerakan pelan yang disengaja, ia meletakkan piring itu di depan Anya, lalu mengambil tempat duduk tepat di sebelah gadis tomboy itu, bukan di ujung meja seperti biasanya.

Tindakan kecil itu tidak luput dari pandangan Keira. Mata wanita anggun itu menyorotkan rasa sakit yang dalam.

"Makanlah," ucap Kaelan pada Anya, suaranya kembali datar namun tak menyembunyikan perhatiannya.

Anya langsung menyambar garpu dan pisau, memotong pancake dengan semangat. Namun, saat ia melirik ke arah Keira, gadis tomboy itu menghentikan gerakannya. Keira hanya mengaduk-aduk tehnya dengan lesu, tidak menyentuh makanan sama sekali.

Insting jalanan Anya selalu bisa membaca situasi. Ia benci wanita menye-menye, tapi ia juga bukan orang jahat. Ia tahu Keira terluka karena kenyataan bahwa cinta pertamanya telah memilih orang lain. Dan lebih dari itu, Anya merasa menang telak, jadi tidak ada gunanya terus-terusan menusuk luka orang.

Anya mengambil sepotong pancake utuh dari piringnya, meletakkannya di piring kecil, lalu menggesernya menyeberangi meja hingga tepat di depan Keira.

Semua orang di meja itu terdiam. Termasuk Kaelan yang menaikkan sebelah alisnya.

"Makan," perintah Anya singkat, nada suaranya tegas namun tidak sinis. "Kau baru saja terbang belasan jam dari Paris. Teh tidak akan membuatmu kenyang. Dan kalau kau sakit di pulau ini, Kaelan pasti akan menyuruhku merawatmu karena Ragas sudah tua. Aku tidak mau repot."

Keira menatap pancake itu, lalu menatap Anya. Di balik sikap kasar dan mulut pedas gadis berambut wolf-cut itu, Keira bisa melihat kejujuran yang murni. Tidak ada kepalsuan, tidak ada basa-basi. Sesuatu yang sangat langka di dunia mafia yang penuh topeng.

Perlahan, senyum tipis yang jauh lebih tulus terukir di bibir Keira. "Terima kasih, Anya."

Anya hanya mendengus pelan dan kembali fokus pada makanannya. "Ya, ya. Sama-sama. Tapi ingat, jangan coba-coba merebut porsi sosisku."

Kaelan menatap interaksi kedua wanita itu dalam diam. Sebuah kelegaan yang luar biasa menyusup ke dalam dadanya. Ia takut Anya akan terus menyerang Keira karena cemburu, atau Keira akan membuat drama. Tapi Anya... preman pasar ini selalu punya cara unik untuk menyelesaikan konflik dengan gayanya sendiri yang kasar namun berhati lembut.

Kaelan mengulurkan tangannya di bawah meja, mencari tangan Anya yang sedang beristirahat di paha gadis itu. Saat ujung jari mereka bersentuhan, Anya sedikit terkejut namun tidak menarik tangannya. Kaelan menggenggam tangan mungil itu erat-erat, menyalurkan rasa terima kasih dan cintanya yang tak terhingga.

Anya menoleh sekilas, membalas genggaman Kaelan dengan erat, lalu tersenyum tipis—sebuah senyum yang hanya bisa dilihat oleh sang mafia es.

"Ngomong-ngomong," celetuk Lucia tiba-tiba dengan mulut penuh telur. "Kak Kaelan, kau ingat kan hari ini kita harus kembali ke kota? Kak Rico bilang urusan dewan belum sepenuhnya selesai, dan... oh ya! Paman Arthur yang sudah ompong itu kabarnya sedang merencanakan sesuatu dari rumah sakit!"

Seketika, aura di meja makan itu berubah drastis. Kehangatan pagi menguap, digantikan oleh ketegangan yang pekat.

Kaelan melepaskan genggamannya pada Anya. Ia duduk lebih tegak, raut wajahnya mengeras, dan mata hitamnya memancarkan kilat berbahaya. Sang Ketua Klan Obsidian telah kembali sepenuhnya ke mode tempur.

"Rico. Siapkan pesawat," perintah Kaelan dingin, menatap lurus ke depan. "Liburan selesai. Kita kembali ke kota sekarang. Dan kali ini... aku tidak akan membiarkan Arthur keluar dari rumah sakit itu hidup-hidup."

Anya meletakkan garpunya. Ia menatap wajah keras suaminya, lalu tersenyum menyeringai. Preman pasar itu sudah gatal ingin kembali beraksi.

"Bagus," sahut Anya, membunyikan buku-buku jarinya. "Tongkat bisbolku pasti sudah berdebu di penthouse. Pastikan Ragas mengepaknya, karena Nyonya Obsidian sudah siap berburu."

1
supermine
💪
supermine
🤭
supermine
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!