Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.
Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.
Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.
Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.
Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Ujian dari Bayangan
Yue Xin sudah berdiri di depan penginapan sebelum Huang Shen turun dari kamarnya. Wanita itu benar-benar serius setelah semalam dipaksa Huang Shen untuk keluar dari kamarnya, tapi di sinilah dia sekarang. Bersandar di tiang kayu dengan cara orang yang sudah terbiasa menunggu tapi tidak mau terlihat menunggu, dengan lengan disilangkan, matanya bergerak ke setiap orang yang lewat di jalan sebelum akhirnya menetap pada Huang Shen yang keluar dari pintu depan.
“Pagi,” sapanya.
Huang Shen tidak menjawab dan berjalan ke arah warung sarapan di seberang jalan.
Yue Xin ikut berjalan di sampingnya, tidak diminta dan tidak diusir. “Aku sudah survei tempat yang bagus untuk kita berlatih. Di luar kota sebelah barat, lapangan kosong bekas ladang yang tidak dipakai. Lokasi itu juga terbilang cukup jauh dari penduduk.”
“Bukan latihan,” kata Huang Shen.
“Benar. Bukan latihan.” Yue Xin tersenyum. “Tapi aku perlu melihatnya sendiri, bukan hanya mendengar dari orang lain. Guruku mengirimku untuk ini.”
Huang Shen duduk di bangku kayu warung itu, memesan bubur dan segelas air tanpa melihat ke arah Yue Xin.
Adapun wanita itu duduk di seberangnya tanpa perlu dipersilakan, memesan hal yang sama, dan tidak mengucapkan satu kata pun selama mereka makan. Kesabaran yang terlatih. Huang Shen mengenalinya karena dia sendiri punya jenis kesabaran yang sama meski dengan asal yang berbeda.
Setelah selesai, dia berdiri. “Di luar kota.”
Yue Xin berdiri juga. “Lima ratus langkah dari gerbang barat. Aku sudah tandai.”
Lapangan itu memang persis seperti yang Yue Xin gambarkan. Bekas ladang yang tanahnya sudah mengeras karena tidak diolah bertahun-tahun, ditumbuhi rumput kering setinggi lutut di bagian pinggir dan relatif bersih di tengahnya. Sementara matahari baru naik setinggi dua tombak, cukup terang untuk melihat tapi belum cukup panas untuk mengganggu.
Yue Xin berdiri di satu sisi lapangan, mengencangkan tali sarung pedangnya. “Aku tidak akan tarik keluar pedangku. Terlalu besar perbedaannya kalau pakai senjata.”
“Terserah.”
“Katanya rekormu seratus persen. Tiga tahun, tidak pernah gagal.” Matanya menilai Huang Shen dari atas ke bawah dengan cara yang profesional, bukan mengejek. “Aku ingin tahu bagaimana keaslian rumor itu.”
Maka dia bergerak cepat untuk ukuran Inti Emas. Jalur serangannya tidak lurus, memotong ke samping lalu balik ke tengah, pola yang dirancang untuk membingungkan lawan yang mengandalkan mata. Tangannya terarah ke titik di bawah tulang rusuk kanan Huang Shen, jenis serangan yang menonaktifkan tanpa membunuh.
Sedangkan Huang Shen menutup matanya setengah detik sebelum serangan itu tiba.
Gerbang di dadanya tidak menyala penuh. Hanya Resonansi, tipis dan lebar, mengalir keluar seperti riak di permukaan kolam. Getaran Yue Xin bisa terasa jelas di antara rumput kering dan tanah keras di bawah mereka. Berat badannya pun bergeser ke kaki kiri sebelum serangan itu dilepaskan, sebuah petunjuk kecil yang mata tidak bisa tangkap tapi Resonansi bisa melakukannya.
Huang Shen pun melangkah ke kanan setengah langkah, hingga serangan Yue Xin melewati sisinya.
Dia tidak membalas langsung. Membiarkan Yue Xin mendarat, membiarkan dia mengubah posisi untuk serangan kedua, dan membiarkan Resonansi membacanya lagi. Bahu kanan turun sebelum serangan kanan. Kaki kiri mundur sebelum dia melompat. Pola-pola kecil yang tidak disadari tapi nampak.
Serangan kedua yang diikuti serangan-serangan berikutnya!
Huang Shen menghindar dari keempatnya dengan gerakan yang tidak efisien untuk ukuran orang yang tidak tahu apa yang akan datang, tapi sangat efisien untuk ukuran orang yang sudah tahu.
Sementara Yue Xin melompat mundur, napasnya masih teratur tapi matanya sudah berbeda. “Kau menggunakan Resonansi.”
“Kau tahu cara kerja Resonansi?” Huang Shen menyipitkan matanya.
“Tahu teorinya. Tapi aku belum pernah melihat ada yang menggunakannya dalam pertarungan seperti ini.” Yue Xin memiringkan kepalanya. “Biasanya Resonansi dipakai untuk kultivasi, bukan untuk membaca gerakan lawan.”
“Bedanya tidak terlalu besar.”
Yue Xin pun tersenyum. “Coba blokir yang ini.”
Kemudian serangan berikutnya datang dengan pola yang berbeda. Dia mengubah cara berpijaknya, menggunakan Qi untuk mengurangi tekanan di kaki kiri sebelum bergerak sehingga pergeseran berat badannya lebih kecil dan sulit dibaca. Tapi bukan berarti tidak bisa dibaca.
Huang Shen membiarkan dirinya terkena satu serangan di bahu kanan. Sengaja, untuk mengkalibrasi ulang sebelum Cakar Iblis muncul di tangan kirinya.
Yue Xin berupaya menghindar ke belakang, namun Resonansi sudah memberi tahu Huang Shen bahwa mundur adalah pilihan yang akan dia ambil. Kakinya bergerak memotong sudut, bukan mengejar langsung. Cakar Iblis terarah bukan ke tubuh tapi ke jalur pergerakannya.
Karena itulah Yue Xin tidak punya cukup jarak untuk mengubah arah lagi, dan ujung Cakar Iblis berhenti setengah jengkal dari sisi lehernya. Cukup dekat untuk dirasakan panasnya.
Alhasil selama beberapa saat tidak ada yang bergerak. Angin lewat, membawa bau rumput kering. Sementara di kejauhan, suara kota Yunan sudah mulai ramai.
Yue Xin menurunkan tangannya perlahan. “Berapa lama kau berlatih Resonansi untuk ini?”
“Tidak sengaja.”
Lantas wanita itu mendecak seperti seseorang yang baru saja mendapat jawaban yang tidak dia harapkan dan harus memproses terlebih dahulu. “Tidak sengaja? Kau mengembangkan teknik baru untuk pertarungan secara tidak sengaja.”
Huang Shen menarik Cakar Iblisnya, mengembalikan tangannya ke bentuk normal. “Siapa yang mengirimmu?”
“Guruku.” Yue Xin duduk di tanah tanpa basa-basi, menaruh tangannya di lutut. “Dia petinggi di Istana Bayangan. Organisasi pembunuh bayaran yang sudah berdiri lebih dari dua ratus tahun.” Matanya menatap Huang Shen yang masih berdiri. “Dia mendengar tentang Kaisar Darah dan memutuskan lebih baik merekrut daripada biarkan bergerak sendiri.”
“Aku tidak berminat.”
Yue Xin tidak terkejut. “Aku sudah menduga kau akan bilang begitu.”
“Aku tidak bergabung dengan organisasi mana pun,” cetus Huang Shen. “Aku menerima kontrak lewat perantara. Cara kerjaku tidak berubah karena ada yang ingin mengaturnya.”
“Huft… guruku akan kecewa.”
“Itu urusannya sendiri.”
Yue Xin terdiam sebentar, lalu tertawa pelan. Tawa yang tidak terdengar dipaksakan. “Kau berbeda dari yang kukira, Kaisar Darah.”
Huang Shen tidak menjawab, malah berbalik dan berjalan ke arah gerbang barat kota.
Kendati demikian, saat dia melewati gerbang dan masuk kembali ke kesibukan Jalan Perunggu, langkah kaki di belakangnya tidak menghilang.
Yue Xin berjalan di jarak tiga langkah di belakangnya. Tidak terlalu dekat untuk mengganggu, tidak terlalu jauh untuk terlihat tidak sengaja. Jarak yang sudah diperhitungkan.
Huang Shen sendiri tidak menoleh.
Manakala dia berhenti di lapak perlengkapan untuk membeli satu gulung tali dan sebungkus ramuan pemulihan standar, Yue Xin berdiri di sisi lapak seberang dan memeriksa dagangan yang tidak dia beli, sebelum pindah ke kedai teh di persimpangan, Yue Xin duduk dua meja di belakangnya.
Tidak mengajak bicara atau apapun.
Sedangkan Huang Shen menuangkan teh ke cangkirnya dan memutuskan bahwa ada hal-hal yang lebih layak dipikirkan daripada kehadiran seorang wanita yang sudah kalah duel dan memilih untuk tidak pergi.
Lalu sesuatu menarik perhatiannya.
Itu terasa seperti tekanan di sisi punggung kanannya, layaknya sesuatu yang dialirkan dari kejauhan ke arahnya. Yang jelas ini bukan Qi biasa karena terasa lebih tua dari itu dan juga dingin.
Huang Shen pun menoleh ke arah atap bangunan di seberang jalan. Namun tidak ada siapa-siapa.
Hanya atap kayu dengan beberapa genteng yang sudah bergeser, dan langit biru yang tidak peduli dengan apa yang ada di bawahnya.
“Ada apa?” tanya Yue Xin dari mejanya.
Huang Shen tidak menjawab. Matanya menyapu satu kali lagi ke arah atap itu, ke sudut gang di sampingnya, ke jalur antara dua bangunan yang cukup sempit untuk orang yang tidak ingin terlihat.