Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.
Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.
Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Beberapa orang percaya bahwa uang bisa membeli waktu, tapi di Aethelgard, uang lebih sering digunakan untuk membeli kebisuan atau kesetiaan yang terpaksa. Masalahnya, bagi mereka yang tidak pernah memiliki apa pun selain harga diri, menerima bantuan dari seseorang yang berada di puncak menara terasa seperti meminum racun yang dibungkus madu. Rasanya manis karena menyelamatkan nyawa, namun setelahnya, ada rasa pahit yang tertinggal di tenggorokan—rasa malu karena harus berhutang pada sistem yang selama ini ingin kau hancurkan.
Arlo Valerius berdiri di balkon kamarnya, memandangi kabut tipis yang menyelimuti kaki bukit istana saat fajar baru saja menyingsing. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah botol kecil kosong yang identik dengan botol obat yang ia kirimkan secara rahasia ke barak pekerja semalam. Ia tidak tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat wajah Kalea yang sembap dan mendengar suaranya yang pecah menyebutnya sebagai "simbol ketidakadilan".
Arlo tahu, mengirimkan obat itu melalui tangan Lord Cedric dengan perintah "jangan sebutkan namaku" adalah sebuah kebohongan publik yang sia-sia. Di istana sekecil ini, tidak ada rahasia yang benar-benar bisa bernapas lama. Kalea pasti tahu. Dan pengetahuan itu pasti sedang menyiksanya sekarang.
"Yang Mulia, kuda Anda sudah siap," suara Lord Cedric terdengar dari balik pintu yang terbuka sedikit.
Arlo tidak menoleh. Ia merapatkan jaket kulitnya, merasakan hawa dingin pagi yang menusuk hingga ke tulang. "Apakah obatnya sudah sampai?"
"Sudah, Yang Mulia. Diterima langsung oleh gadis itu. Dia tidak bertanya, tapi matanya... matanya seolah tahu siapa yang mengirimnya," jawab Cedric dengan nada datar yang sarat akan kekhawatiran. "Raja bertanya mengapa Anda memesan pasokan medis khusus dari pelabuhan selatan. Saya bilang itu untuk kebutuhan latihan prajurit."
"Terima kasih, Cedric. Teruskan kebohongan itu sampai aku tidak bisa lagi menanggungnya," ucap Arlo dingin.
Arlo melangkah keluar, menghindari koridor utama yang sudah mulai dipenuhi oleh para dayang yang menyiapkan sarapan untuk Putri Helena. Ia tidak ingin bertemu Helena. Ia tidak ingin mencium bau melati yang kini terasa seperti aroma kematian baginya. Langkah kakinya membawanya menuju Sayap Utara, area yang kemarin dilarang oleh Kalea untuk ia kunjungi.
Area Sayap Utara jauh lebih sibuk pagi ini. Puluhan pekerja sedang memindahkan balok kayu raksasa, dan suara teriakan mandor memenuhi udara yang masih berkabut. Arlo berhenti di bawah pohon ek besar, tempat ia mengikat Obsidian kemarin. Dari sana, ia bisa melihat perancah besi yang masih berdiri kokoh di fasad bangunan.
Kalea ada di sana. Tapi hari ini dia tidak berada di atas.
Gadis itu sedang berdiri di dekat sumur tua yang digunakan para tukang untuk mengambil air. Ia mengenakan kemeja kain kasar yang sama, namun wajahnya terlihat jauh lebih pucat. Di depannya, seorang pria tua—yang Arlo duga adalah ayahnya—duduk di atas bangku kayu sambil terbatuk-batuk kecil. Kalea sedang memegang botol obat yang dikirim Arlo semalam, menuangkan cairannya ke dalam sendok perak kusam dengan tangan yang sedikit gemetar.
Arlo memperhatikan dari jauh. Ia melihat bagaimana Kalea membujuk ayahnya untuk meminum obat itu. Ia melihat bagaimana Kalea menyeka sisa obat di bibir ayahnya dengan sangat lembut, sebuah pemandangan yang membuat jantung Arlo berdenyut nyeri. Di tengah kekerasan hidupnya, Kalea memiliki kelembutan yang tidak pernah Arlo temukan di balik gaun-gaun sutra para bangsawan.
Begitu ayahnya masuk ke dalam barak dengan bantuan tukang lain, Kalea tetap berdiri di sana. Ia menatap botol obat di tangannya, lalu kepalanya perlahan menoleh ke arah pohon ek tempat Arlo berdiri.
Seolah-olah mereka terhubung oleh benang tak kasat mata, mata mereka bertemu.
Kalea tidak terkejut. Ia justru meletakkan botol itu di pinggir sumur dan mulai berjalan menuju Arlo. Langkah kakinya lambat namun tegas. Setiap langkahnya seolah sedang mengikis jarak kasta yang mereka miliki.
Arlo tidak bergerak. Ia membiarkan Kalea mendekat hingga mereka hanya dipisahkan oleh beberapa langkah. Bau debu kapur pagi hari menyatu dengan aroma tanah basah, menciptakan atmosfer yang menyesakkan.
"Anda datang untuk menagih hutang saya?" suara Kalea terdengar lebih tenang dari kemarin, namun ketenangan itu justru terasa lebih berbahaya.
Arlo mengerutkan dahi, tangannya terkepal di saku jaket. "Aku tidak pernah menganggapnya sebagai hutang, Kalea."
"Tapi bagi saya, ini hutang," Kalea merogoh kantong bajunya dan mengeluarkan sepotong kain lap kotor yang membungkus sesuatu. Ia membukanya, memperlihatkan beberapa koin perunggu yang kusam. "Ini semua yang saya punya sekarang. Ini tidak akan cukup untuk membayar sepersepuluh dari harga obat itu, tapi saya akan membayarnya setiap minggu. Jadi tolong, jangan pernah berpikir Anda memiliki saya atau nyawa ayah saya hanya karena Anda punya akses ke tabib pelabuhan."
Arlo menatap koin-koin perunggu itu dengan perasaan terhina. "Simpan koinmu, Kalea. Aku tidak membelimu."
"Lalu apa namanya ini?" Kalea melangkah maju, matanya berkilat-kilat di bawah cahaya matahari fajar yang pucat. "Amal? Kasihan? Anda melihat saya dari atas balkon Anda, merasa sedih karena 'tikus' kecil ini sedang sekarat, lalu menjatuhkan sebotol obat agar Anda bisa tidur nyenyak di malam hari? Itu bukan bantuan, Arlo. Itu adalah cara Anda memberi makan ego Anda sendiri!"
Arlo meraih pergelangan tangan Kalea, menariknya sedikit lebih dekat hingga gadis itu terpaksa menatap matanya yang kini memancarkan kemarahan yang sama besar. "Kau pikir aku ingin merasa seperti ini? Kau pikir aku menikmati menjadi orang yang mengirimkan obat itu secara sembunyi-sembunyi seperti seorang pengecut? Aku melakukannya karena aku tidak bisa melihatmu hancur, Kalea! Apa itu salah?"
Kalea terdiam, napasnya memburu mengenai dada Arlo. Ia mencoba melepaskan tangannya, namun Arlo memegangnya dengan kokoh.
"Ini salah karena Anda adalah Pangeran Aethelgard!" bisik Kalea dengan suara yang bergetar. "Setiap kali Anda menyentuh saya, setiap kali Anda membantu saya, Anda hanya mempertegas jarak di antara kita. Anda akan menikahi Helena. Anda akan menjadi Raja. Dan saya akan tetap di sini, memahat batu sampai paru-paru saya penuh debu. Obat itu hanya memperpanjang penderitaan ayah saya di dunia yang tidak adil ini, sementara saya harus menanggung beban karena merasa berhutang pada orang yang mewakili ketidakadilan itu."
Kalea akhirnya berhasil menyentakkan tangannya. Ia menatap telapak tangannya yang memerah karena cengkeraman Arlo. "Jangan kembali lagi ke sini, Arlo. Jika Anda benar-benar peduli, biarkan saya bekerja dalam damai. Biarkan saya membenci Anda dengan tenang tanpa harus diganggu oleh rasa terima kasih yang tidak ingin saya miliki."
Arlo menelan ludah, tenggorokannya terasa sangat kering. Ia melihat Kalea berbalik dan berjalan kembali menuju perancah besi. Gadis itu tidak menoleh lagi. Ia mulai menaiki tangga besi yang tinggi itu dengan gerakan yang terlihat dipaksakan.
Arlo berdiri di bawah pohon ek itu selama satu jam, hanya memperhatikan Kalea yang kembali bertarung dengan batu-batu fasad bangunan. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan: Niat baik tanpa perubahan sistem hanyalah penghinaan bagi mereka yang tertindas.
Ia kembali ke istana utama dengan langkah gontai. Di aula utama, ia melihat Putri Helena sedang berdiri di depan cermin besar, mencoba sebuah tiara baru yang baru saja tiba. Helena tampak sangat bahagia, berputar-putar di depan para dayang yang memujinya setinggi langit.
"Arlo! Lihat ini! Bukankah safir ini cocok dengan mataku?" Helena berseru riang saat melihat kehadiran Arlo.
Arlo menatap safir di kepala Helena. Harga safir itu mungkin bisa membeli satu gudang penuh obat yang tadi diminum oleh ayah Kalea. Ia menatap Helena, lalu menatap bayangan dirinya sendiri di cermin. Ia membenci apa yang ia lihat.
"Ya, cocok sekali," jawab Arlo pendek, suaranya terdengar seperti robot.
"Ada apa denganmu? Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu," Helena mendekat, jemarinya yang dingin menyentuh pipi Arlo. "Dan kau berbau debu lagi. Arlo, aku sudah bilang berkali-kali—"
"Aku tahu apa yang kau katakan, Helena," Arlo menepis tangan Helena dengan halus namun tegas. "Aku akan mandi dan bersiap untuk makan siang resmi."
Arlo berjalan menuju kamarnya, namun di tengah jalan, ia berbelok menuju ruang kerja ayahnya. Ia tidak mengetuk pintu. Ia langsung masuk, mengejutkan Raja Valerius yang sedang memeriksa peta militer.
"Ayah, aku ingin bicara," ucap Arlo tanpa basa-basi.
Raja Valerius mengangkat kepalanya, matanya yang tua menatap Arlo dengan penuh selidik. "Tentang pernikahanmu? Atau tentang obat pelabuhan selatan yang kau pesan?"
"Tentang para pekerja di Sayap Utara dan Barat," Arlo berdiri tegak di depan meja besar ayahnya. "Mereka bekerja dalam kondisi yang tidak manusiawi. Debu kapur merusak paru-paru mereka, dan upah mereka tidak cukup untuk membeli obat dasar. Kita menghabiskan ribuan koin emas untuk pesta pertunangan, sementara orang-orang yang membangun aula pestanya sedang mati perlahan."
Raja Valerius terdiam lama. Ia meletakkan pena bulunya dan menyandarkan punggung ke kursi emasnya. "Arlo, kau bicara seolah-olah kau baru pertama kali melihat dunia. Kita adalah penguasa. Tugas kita adalah menjaga kestabilan, bukan mengurusi batuk para tukang cat. Mereka tahu risikonya saat mengambil pekerjaan itu."
"Mereka tidak punya pilihan, Ayah! Itu bedanya!" Arlo sedikit menaikkan nadanya. "Kita memonopoli sumber daya, dan mereka hanya punya tenaga untuk dijual. Ini bukan kestabilan, ini adalah eksploitasi yang terstruktur."
"Cukup!" Raja menghantam meja dengan telapak tangannya. "Kau terlalu banyak menghabiskan waktu di tempat kotor itu. Pikiranmu jadi kacau. Besok, aku ingin kau fokus pada Helena. Jangan biarkan aku mendengar kau berkeliaran di Sayap Utara lagi, atau aku akan memecat seluruh tim renovasi itu dan menggantinya dengan narapidana kerja paksa. Apakah kau mengerti?"
Ancaman itu membuat Arlo membeku. Jika ia terus mendekat, Kalea dan teman-temannya yang akan menanggung akibatnya. Ayahnya tidak bercanda. Kekuasaan mutlak raja tidak mengenal kata ampun bagi mereka yang dianggap sebagai alat politik.
Arlo menundukkan kepala, giginya bergeletuk menahan amarah yang meluap. "Saya mengerti, Yang Mulia."
Arlo keluar dari ruangan itu dengan perasaan kalah yang lebih berat daripada sebelumnya. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa menyelamatkan Kalea dengan cara menyerang sistem secara frontal seperti ini. Ia harus bermain dengan cara yang lebih halus, atau ia hanya akan menghancurkan gadis itu lebih cepat.
Malam itu, saat perjamuan makan malam berlangsung, Arlo duduk di samping Helena dengan wajah yang benar-benar tanpa ekspresi. Ia mendengarkan Helena merencanakan perjalanan mereka ke Vandellia setelah pernikahan. Ia mendengarkan tawa para menteri. Tapi di dalam kepalanya, ia hanya mendengar suara batuk ayah Kalea dan derit perancah besi yang bergoyang.
Ia meraba saku jaketnya yang ia gantung di kamar. Di sana ada koin-koin perunggu pemberian Kalea yang sempat ia ambil dari pinggir sumur sebelum pergi tadi. Koin-koin itu terasa kasar dan kotor, namun bagi Arlo, koin itu adalah benda paling berharga yang pernah ia miliki.
"Arlo, kenapa kau tidak minum anggurmu?" Helena menyentuh lengannya.
Arlo menatap gelas kristalnya yang berisi cairan merah pekat. "Aku sedang memikirkan tentang retakan, Helena."
"Retakan apa lagi?" Helena mendesah kesal.
"Retakan yang tidak bisa ditutupi oleh cat mana pun," Arlo menyesap anggurnya, rasanya pahit, sepahit kenyataan bahwa ia baru saja memulai perang yang mungkin tidak akan pernah ia menangkan.
Dan di kejauhan, di barak pekerja yang gelap, Kalea Elara sedang duduk di samping ayahnya yang sudah tertidur karena pengaruh obat. Ia menatap langit malam dari celah atap yang bocor, tangannya yang kasar meraba permukaan botol obat yang kosong. Ia membenci Arlo Valerius. Ia benci betapa pria itu membuatnya merasa memiliki harapan di dunia yang sudah lama mematikan harapannya.
Retakan itu kini merambat ke dalam mimpi-mimpi mereka, membelah kenyataan menjadi dua bagian yang tidak mungkin lagi disatukan. Dan di tengah kegelapan Aethelgard, sebuah badai politik dan perasaan sedang bersiap untuk meluluhlantakkan segalanya.