NovelToon NovelToon
Menantang Langit Yang Busuk

Menantang Langit Yang Busuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Iblis
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: KuntilTraanak

Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.

Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.

Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.

Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31—Telah Lahir

Melihat harimau itu tak kunjung keluar. Seekor ular dengan sisik baja maju menghadap Yuofan, ia tidak berniat membela harimau itu dan hanya merasa tertarik dengan bocah dihadapannya.

Senyuman sinis ia pasang kala melihat tatapan tajam yang dilontarkan Yuofan pada dirinya. Dibelakang, beruang dengan duri di sekujur tubuhnya melirik kearah Yuofan. Ia berdiri tepat dibelakang ular itu, dan ia menyadari bahwa tatapan tajam itu terlontar kepadanya bukan pada ular itu.

“Menurutmu dia memiliki kekuatan dewa walau sedikit?” tanya Yuofan memastikan ucapan Wuxu sebelumnya.

Wuxu mengangguk yakin. “Aku tidak tahu dewa apa, tapi kekuatannya berhubungan dengan alam dan pemulihan, mungkin.”

Beruang yang tahu bahwa dirinyalah yang di target kan justru malah memalingkan wajahnya. Ia tahu bahwa bocah itu bukanlah bocah biasa, apalagi bocah itu dekat dengan Di Xinyuan dan Bai Luan yang baginya itu cukup menjadi bukti bahwa dirinya tak bisa sembarangan menganggu bocah itu.

Fokusnya saat ini hanyalah sosok yang berada di dalam gua yang entah mengapa sedari tadi membuatnya merasa sedih dan memikirkan seseorang yang bahkan dirinya tidak bisa ingat siapa itu. Ia pun memegangi dadanya yang semakin terasa sesak saat berusaha mengingat sosok itu.

Namun tak berselang lama suara jeritan wanita terdengar dari dalam gua tersebut. Membuat mereka semua terkejut sekaligus penasaran. Yuofan yang tahu suara itu langsung melesat melewati ular didepannya yang bahkan tak menyadari kepergian bocah itu.

“Kak Luan, Yuan, bantu aku menahan mereka! Jangan ganggu aku selagi aku belum keluar.” Teriak Yuofan yang kemudian masuk kedalam gua.

Beruang yang melihat itu menjadi khawatir, apa sebenarnya sosok didalam sana. Apakah suara wanita itu adalah sosok yang membuat perasaan nya tidak nyaman? Tanpa disadari olehnya beruang itu melangkahkan kaki mengikuti Yuofan, tetapi dengan cepat Di Xinyuan menarik tangannya.

“Tunggu saudara Mao,” ucap Di Xinyuan membuat beruang itu menoleh kearahnya.

Dari sana, Di Xinyuan melihat bahwa mata beruang itu dipenuhi oleh air yang penuh kekhawatiran. Ia tahu, bahwa saat ini seluruh saudaranya bisa merasakan rasa sedih yang entah bagaimana membawa mereka kemari. Bersamaan dengan datangnya perasaan ini, Di Xinyuan juga kembali mengingat sosok pria yang merawat mereka.

“Aku tahu bahwa kau adalah makhluk yang paling lembut setelah saudara Bai. Kita semua saat ini merasakan hal yang sama, dan mengingat sosok yang sama. Jadi, aku mohon, tunggu lah disini hingga tuan muda datang kemari.” ucap kera itu yang kemudian disetujui oleh beruang tersebut.

Sedangkan untuk ular baja, ia hanya menatap gua itu dan kemudian berdiri disamping Bai Luan. Begitupun dengan Di Xinyuan dan beruang itu yang juga berdiri ditempat yang sama menunggu Yuofan.

Sementara itu, disisi Yuofan saat ini ia terlihat panik dan khawatir saat sebuah cairan keluar dari selakangan ibunya. Ia tahu bahwa ini adalah tanda bahwa ibunya sudah harus melahirkan.

Tangannya bergetar hebat, detak jantungnya berdetak lebih cepat, dan keringan dingin keluar dari pelipis dan dahinya. Ia merasa tidak yakin bahwa ia bisa melakukan ini, ia merasa bahwa dirinya masih belum cukup.

Cairan bening mulai menutup seluruh pandangannya, rasa takut memenuhi dirinya. Ia takut jika ia salah ambil langkah, maka nyawa ibu atau anak didalamnya sebagai ganti taruhannya.

Dengan kepanikan itu, ia menatap kearah Wuxu dengan keadaannya yang berantakan. Rubah itu bisa merasakan perasaan yang saat ini Yuofan rasakan, dengan cepat ia memperbesar tubuhnya seukuran dengan Yuofan. Ia lalu memegangi tangan bocah itu yang terus bergetar hebat, apalagi saat ini Chen Huo tidak berada di sisi mereka.

“Tenangkan dirimu, aku paham kau sangat ketakutan saat ini. Namun, jika kita tidak mengambil tindakan, maka dua nyawalah yang melayang. Yakinlah pada dirimu, aku berada disini menemani mu dan aku yakin kau pasti bisa.” ucap Wuxu.

Wuxu kemudian mulai mengarahkan Yuofan, mengingatkan kembali langkah-langkah yang pernah dijelaskan Chen Huo. Ia juga membantu Yuofan menyiapkan peralatan yang dibutuhkan seperti kain bersih, air, benang, dan lain-lainnya.

Yuofan menarik nafasnya dalam-dalam, menutup matanya sejenak untuk menenangkan diri. Bersamaan dengan pikirannya yang tenang, ibunya mulai mengejan dengan diiringi teriakan kesakitan. Yuofan pun bergerak mendekat, posisinya menyesuaikan seperti yang diajarkan. Ia memastikan ibunya berada dalam posisi yang tepat, lalu menunggu momen yang sesuai.

“Sekarang, saat ia mendorong kau perhatikan bagian bawahnya,” ujar Wuxu pelan sembari berdiri disamping Yuofan.

Yuofan mengangguk dengan tangan yang masih sedikit gemetar, tetapi ia berusaha mengendalikannya. Hingga beberapa saat kemudian, ia melihat tanda pertama.

“Wuxu, aku melihatnya.” ucap Yuofan.

“Itu kepala bayi, jangan panik,” balas Wuxu.

Yuofan menelan ludah, lalu memposisikan tangannya dengan hati-hati. Ia tidak menarik, hanya menopang, memastikan gerakannya tetap stabil. Ia mengingat setiap penjelasan Chen Huo yang mengatakan bahwa ia harus tenang dan tidak terburu-buru, serta tidak memaksa.

Ibunya kembali mengejan.

“Satu lagi,” bisik Wuxu.

Dengan dorongan berikutnya, kepala bayi akhirnya keluar sepenuhnya membuat Yuofan hampir menahan napas. Ia segera memeriksa dengan cepat, lalu sedikit menyesuaikan posisi, membiarkan tubuh bayi mengikuti dorongan berikutnya.

Tidak lama, bahu juga tubuh kecil itu pun menyusul keluar secara perlahan dan dalam beberapa detik yang terasa panjang, bayi itu akhirnya lahir sepenuhnya.

Yuofan segera menopang tubuh kecil itu dengan kedua tangannya. Tubuh bayi itu masih lemah dan licin, membuatnya harus memegang dengan lebih hati-hati. Ia melihat bahwa jenis kelamin bayi itu adalah perempuan seperti ibunya.

Untuk sesaat, semuanya terasa hening. Lalu terdengar suara tangisan kecil yang membuat Yuofan terdiam, menatap bayi di tangannya. Napasnya masih berat, tetapi kali ini bukan karena panik, melainkan karena sesuatu yang perlahan terasa lega.

“Bersihkan,” ujar Wuxu mengingatkan.

Yuofan segera bergerak. Ia membersihkan bagian wajah bayi itu dengan kain, memastikan jalan napasnya tidak terhalang. Setelah itu, ia membungkus tubuh kecil itu dengan kain bersih yang sudah disiapkan.

Tangannya masih gemetar, tetapi gerakannya jauh lebih terarah. Ia kemudian menatap ibunya yang terlihat lemah, napasnya tidak teratur, tetapi masih sadar. Yuofan mendekat, membawa bayi itu perlahan ke arahnya.

“Sudah selesai…” ucapnya pelan.

Yuofan kemudian meletakkan bayi itu dikasur bayi yang sebelumnya ia beli. Terlihat kasur tersebut sudah Yuofan pasangi Rune penghangat agar bayi itu merasa lebih nyaman. Kini, fokusnya pun teralih pada ibunya dimana ia harus mengambil langkah terakhir setelah seorang ibu berhasil melahirkan, yaitu menjahit lukanya.

Yuofan membersihkan benang dan jarumnya menggunkan energi qi miliknya. Kemudian, sebelum ia memulai menjahit, ia memberikan sebuah pil yang dahulu ia buat saat praktek bersama Chen Huo. Pil itu adalah pil pertama yang diajarkan Chen Huo, yaitu pil penahan sakit.

Setelah itu, Yuofan pun mulai memasukkan jarum itu kedalam kulit ibunya dan mulai menjahit luka robek kan tersebut.

1
Luthfi Afifzaidan
4 ap 5 thor?
KuntilTraanak: dibab ini baru dikenalin 4 kak, saya salah tulis itu 🙏
total 1 replies
Koplak
mulai seru nih
Koplak
pertama baca langsung tertarik💪
Nanik S
Cerita yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!