NovelToon NovelToon
Yakusoku No Mirai

Yakusoku No Mirai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
​Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28.Deru Ibu Kota dan Tatapan Sang Penguasa

Roda besi kereta api perlahan melambat, mengeluarkan suara decit panjang yang memekakkan telinga saat memasuki peron Stasiun Pusat Jakarta. Udara dingin dari pendingin ruangan gerbong eksekutif seketika berganti dengan hawa panas yang lembap dan menyesakkan begitu pintu otomatis terbuka. Ibu kota menyambut mereka dengan kebisingan yang jauh berbeda dari ketenangan Kota Karasu; suara klakson kendaraan di kejauhan, pengumuman stasiun yang tumpang tindih, dan ribuan langkah kaki yang terburu-buru.

Ren melangkah keluar terlebih dahulu, tangan kanannya menggenggam erat tas Seruni Hitam. Matanya yang tajam langsung memindai kerumunan, mencari sosok pemuda ber-hoodie abu-abu tadi, namun sosok itu seolah telah menguap ditelan lautan manusia.

Hana menyusul di belakangnya, tampak sedikit pening karena perubahan tekanan udara dan rasa cemas yang belum hilang. Ia merapatkan syalnya, seolah benda itu adalah satu-satunya pelindung dari dunia asing yang luas ini. Yuki berjalan di sisi Hana, wajahnya tampak tegang saat ia terus memegang koper risetnya seolah itu adalah nyawa tim mereka.

"Arata-san mana?" tanya Yuki, suaranya sedikit gemetar karena gugup.

"Dia sudah di depan," jawab Ren pendek. "Jangan berpencar. Tetap di belakangku."

Saat mereka melewati pintu keluar stasiun, sebuah barisan pria bersetelan jas hitam rapi tampak berdiri membentuk barikade kecil, menghalangi jalan keluar umum. Di tengah barikade itu, berdiri seorang pria tua yang mengenakan kemeja batik sutra bermotif mahal. Wajahnya keriput namun garis rahangnya menunjukkan kekuasaan yang absolut. Di sampingnya, berdiri Ryuji Asuka, yang kini tampak jauh lebih rapi dan sombong daripada saat di Karasu.

"Selamat datang di Jakarta, Tuan Muda Akira," ucap pria tua itu. Suaranya halus, namun mengandung getaran yang membuat bulu kuduk Hana berdiri.

Ryuji melangkah maju, senyum tipisnya tersungging meremehkan. "Kenalkan, Ren. Ini adalah kakekku, Soichiro Asuka. Pemilik dari semua yang kamu lihat di sekitar sini."

Ren berhenti tepat tiga langkah di depan Soichiro. Ia tidak membungkuk, tidak juga menundukkan kepala. Ia berdiri tegak, membiarkan kemistri ketegangan di antara mereka meledak di tengah terik matahari Jakarta.

"Jadi, Anda yang mengirim pengantar pesan di kereta tadi?" tanya Ren langsung, tanpa basa-basi.

Soichiro tertawa kecil, suara tawa yang kering. "Anak muda yang tidak sabaran. Itu hanya 'salam hangat' dari keluarga kami. Aku ingin melihat apakah putra Reina memiliki nyali yang sama dengan ibunya, atau hanya sekadar koki beruntung yang menang di kota kecil."

Hana meremas lengan jaket Ren, ia bisa merasakan kemarahan yang mulai membara di dalam diri pemuda itu. "Ren, jangan terpancing," bisiknya lirih.

Yuki menatap Ryuji dengan tatapan dingin. "Jika kalian merasa begitu kuat, kenapa harus menggunakan cara kotor seperti mengancam di kereta? Apa Asuka Group mulai meragukan teknologi mereka sendiri?"

Ryuji mendengus. "Jangan sombong, Yuki. Di Karasu, kalian menang karena juri lokal yang sentimental. Di sini, di turnamen nasional, setiap milimeter masakanmu akan diuji oleh sensor yang tidak mengenal perasaan. Kamu akan hancur sebelum sempat menyalakan kompor."

Soichiro mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Ryuji diam. Ia menatap tas pisau yang dibawa Ren. "Aku tahu apa yang ada di dalam tas itu, Ren. Seruni Hitam. Pisau yang seharusnya terkubur bersama ibumu. Jika kamu pintar, serahkan pisau itu sekarang, dan aku akan memastikan keluargamu di Karasu hidup tenang tanpa gangguan finansial selamanya."

Ren terdiam sejenak. Ia melihat ke arah Hana yang tampak ketakutan, lalu ke arah Yuki yang tetap berdiri tegak mengandalkannya. Ia teringat wajah ayahnya yang lelah dan pesan ibunya di dalam surat. Perlahan, ia mengangkat tas pisaunya, namun bukan untuk diserahkan, melainkan untuk didekap lebih erat di dadanya.

"Pisau ini tidak dijual," ucap Ren, suaranya kini terdengar sangat stabil dan penuh wibawa. "Dan keberanian timku bukan sesuatu yang bisa Anda tawar. Anda menyebut ibu saya, itu artinya Anda mengakui bahwa Anda takut pada warisannya."

Mata Soichiro menyipit, kilatan amarah sesaat muncul di pupil matanya sebelum ia kembali tenang. "Sangat disayangkan. Kamu memilih jalan yang paling berdarah, Nak."

"Mobil jemputan kita sudah sampai," sela Arata yang tiba-tiba muncul dari balik kerumunan, berdiri di samping Ren dengan tatapan yang menantang Soichiro secara terbuka. "Maaf mengganggu reuni keluarga ini, Soichiro-sama. Tapi jadwal latihan anak-anak ini sangat padat."

Soichiro hanya memberikan isyarat kepada pengawalnya untuk membuka jalan. Saat Ren dan timnya berjalan melewati barisan jas hitam itu, Ryuji sempat membisikkan sesuatu tepat di telinga Ren.

"Koki Kenjiro sudah menunggumu, Ren. Dia bukan aku. Dia tidak punya hati, dan pisaunya... jauh lebih haus daripada milikmu."

Ren terus melangkah tanpa menoleh. Mereka masuk ke dalam mobil van hitam yang disediakan Arata. Begitu pintu tertutup, keheningan menyelimuti kabin mobil. Hana langsung terduduk lemas di kursi empuk, napasnya tersengal-sengal.

"Itu... itu menakutkan sekali," gumam Hana, ia menutupi wajahnya dengan telapak tangan. "Tatapan orang tua itu... seolah-olah dia bisa melihat isi kepala kita."

Ren meletakkan tas pisaunya di pangkuan. Ia melihat ke arah luar jendela, ke arah gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang menjulang tinggi, seolah siap menjepit siapapun yang berani menantangnya.

"Ini baru permulaan, Hana," ucap Ren pelan. Ia meraih tangan Hana yang gemetar, menggenggamnya dengan cara yang sangat manusiawi, mencoba memberikan kepastian di tengah ketidakpastian ini. "Mereka ingin kita takut. Tapi kita akan menggunakan rasa takut itu sebagai bahan bakar."

Yuki membuka laptopnya, jemarinya bergerak cepat mencari data tentang 'Kenjiro'. "Ren, Arata-san benar. Kenjiro bukan sekadar koki. Dia dibesarkan di laboratorium kuliner Asuka sejak usia lima tahun. Dia tidak memasak dengan rasa, dia memasak dengan algoritma kesempurnaan."

Kemistri di dalam mobil itu kini dipenuhi oleh tekad yang gelap. Mereka baru saja mendarat di medan pertempuran, dan musuh telah menunjukkan taringnya bahkan sebelum pertandingan dimulai. Namun, saat Ren merasakan genggaman Hana yang mulai menguat membalas genggamannya, ia tahu bahwa ia tidak akan membiarkan api kecil dari Karasu ini padam di tengah badai ibu kota.

1
Jack Strom
Cerita yang cukup menarik. Namun saya cukup aneh dengan lokasi cerita, kota Jayapura-Indonesia, tapi tokoh dan cerita ala Jepang??? 😁
Jack Strom
Owalah... Ngaku banyak uang, tapi masih main sabotase segala... Pengecut!!! 😁
Jack Strom
Oh, ini tentang rasa dan keahlian memasak toh..? Mantap mantap mantap!!! 😁
Jack Strom
Halah... Modus!!! 😁
Jack Strom
Wow... Betul² kosong!!? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!