Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.
Dihina. Ditolak. Dilupakan.
Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.
Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.
Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.
Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?
Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:
Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.
Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Masalah Siman
Pipi Siman terasa panas. Acara lingkungan? Dengan orang-orang? Setelah teringat lagi betapa Dina menghinanya. Siman tidak ingin dilihat lagi oleh warga, apa pun kondisinya. Siman khawatir Dina berada di acara lingkungan tersebut.
"Aku... anu... sepertinya nggak bisa, Murni." Siman menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia benci menolak, apalagi menolak ajakan Murni, satu-satunya sahabatnya.
"Lah, kenapa? Tadi pas subuh Bapak kamu bilang bisa kok," ujar Murni, keningnya berkerut. Senyumnya pudar sedikit, digantikan raut bingung. "Bukannya kemarin kamu semangat, Man? Kan ada banyak anak muda juga di sana."
"Mmm, bukan begitu. Aku harus bantuin Ibu di rumah. Banyak cucian yang harus diurus," bohong Siman, merasakan sakit hati pada diri sendiri atas kebohongan itu.
Murni menatapnya curiga, namun memilih untuk tidak banyak bertanya. "Ya sudah, deh, kalau gitu." Dia menghela napas, lantas mengangkat kantong plastiknya yang berisi kebutuhan pokok keluarganya. "Padahal kata Bu RT ada hadiah menarik buat yang rajin gotong royong, lho. Tapi, kalau kamu nggak bisa ya sudah."
"Bukan rezekiku, Murni," Siman berkata datar. Keberuntungan seperti itu tidak pernah berpihak padanya.
"Dulu memang kamu nggak suka acara kayak gitu, ya. Selalu di rumah saja. Sendirian. Kan sekarang sudah beda, Man." Murni memandangnya lagi, sorot matanya yang hangat kini sedikit diselimuti gurat kekhawatiran yang mendalam.
"Kalau sudah habis dagangannya, nanti pulang ya? Jangan nyari kesibukan lain."
*
Langit mulai bergemuruh ketika rintik hujan pertama menetes di lengan Siman. Senja baru saja menjulurkan bayangnya, namun suasana kota sudah tampak meredup. Ia mempercepat langkah, menyusuri jalanan becek di pinggir rel, menuju rumah reyotnya. Dagangannya memang sudah ludes, tetapi rasa lelah di punggung dan hatinya terasa berlipat ganda, seperti ditimbuni masalah bertumpuk. Bukan cuma masalah perut hari ini, melainkan masalah mentalnya yang kembali tergoncang dengan ancaman penggusuran itu, apalagi dengan tatapan Murni yang dipenuhi kekhawatiran itu.
Ia sampai di depan rumah. Aroma tanah basah dan basingan kereta yang mulai meredup mengisi indra penciumannya. Saat kakinya hampir menginjak ambang pintu rumahnya, sebuah desahan pelan terdengar, disusul suara benda jatuh yang tidak terlalu keras, namun cukup untuk menarik perhatiannya.
Siman menghentikan langkah, memicingkan mata ke arah gundukan sampah yang memang tidak jauh dari teras rumahnya, di antara bayang-bayang pohon asem tua. Sebuah bayangan samar tergeletak di sana, tertutup bayangan senja yang mulai gelap.
"Siapa itu?" seru Siman, rasa lelahnya sesaat terlupakan, terganti oleh keheranan.
Hanya gumaman lemah yang menjawabnya. Siman maju selangkah. Matanya membesar. Seorang nenek tua berjongkok, tangannya menekan lutut. Tampaknya ia baru saja terjatuh. Bajunya basah dan sebagian tubuhnya yang kurus tampak menggigil diterpa angin sore dan rintik hujan.
Siman menghampiri dengan hati-hati. Wajah nenek itu berkerut, dengan rambut putih acak-acakan. Matanya yang gelap, menatap Siman dengan sorot yang entah mengapa, terasa aneh, begitu dalam seolah dapat melihat hingga relung hatinya. Aroma rempah dan tanah basah menguar dari tubuh nenek itu.
"Nenek baik-baik saja?" tanya Siman, membantu nenek itu berdiri dengan perlahan. Tubuhnya ringan dan terasa rapuh dalam dekapannya. Siman membimbingnya menuju teras rumah, menjauh dari basahnya rintik hujan yang kini mulai membesar.
"Saya… Saya cuma terpleset sedikit, Nak," jawab nenek itu, suaranya parau. Namun ada semacam senyuman tipis tersungging di bibirnya. Senyum yang menyiratkan kedamaian. "Kamu anak yang baik, menolong orang tua seperti saya."
"Cuma nolong aja kok, Nek." Siman merasa canggung. Ia menyuruh nenek itu duduk di bangku reyot yang ada di teras. Siman membersihkan bagian pinggir kursi. Lalu duduk sedikit berjarak di sisi nenek itu. Hujan rintik-rintik pun mulai bertamu. "Dari mana, Nek? Hujan-hujan begini malah sendirian."
"Sudah keliling mencari banyak hal, Nak," sahut nenek itu. Matanya menerawang jauh, melewati gumpalan asap kereta yang berhenti sesaat, memandang hamparan permukiman padat di seberang rel. Lalu pandangannya kembali menancap ke wajah Siman.
"Begini, Nak. Saya merasa berutang budi dengan kebaikanmu ini," lanjutnya, tiba-tiba meraih tangan kanan Siman yang terkulai lemas di atas paha. Tangan nenek itu terasa dingin dan berkerut. "Mungkin kamu akan menganggap saya aneh, tapi saya tidak punya uang untuk membalas budimu ini. Hanya benda ini yang bisa saya berikan kepadamu."
Nenek itu membuka kepalan tangannya yang berkerut. Siman mengerutkan dahi. Di telapak tangan yang telah banyak menahan asam garam kehidupan itu, sebuah benda kecil berwarna biru berkilauan. Warnanya seperti biru laut jernih yang memikat mata, dan di dalamnya seolah ada cahaya samar yang menari. Bentuknya lonjong sempurna, dan ketika dipegang, terasa dingin namun dengan denyutan samar, seperti jantung yang berdetak pelan.
"Ini… apa, Nek?" tanya Siman, keningnya berkerut. Ia mengambil benda itu dengan perlahan. Terasa begitu halus, begitu eksotis. Sebuah cincin dengan mata batu yang sangat indah, berbeda dengan akik-akik murahan yang biasa ia lihat dijajakan di pasar.
"Itu akik biru laut, Nak," jawab nenek itu, senyumnya semakin lebar. "Jaga baik-baik benda itu, jangan sampai lepas dari tanganmu. Akik itu tahu pemilik sejatinya, dan dia akan menuntun pemiliknya. Bukan untuk jalan pintas, tapi sebagai penuntun untuk melewati badai dan terowongan takdir. Dia adalah pusaka yang akan membimbingmu pada perjalanan hidupmu, memberikan jawaban yang tak dapat kau temukan sendirian."
Siman membalik-balik cincin akik itu di telapak tangannya. Matanya tertuju pada guratan misterius di permukaan batu yang belum pernah ia lihat. Apa ini cuma batu biasa? Tapi kok rasanya lain? Dari sorot mata Nenek yang dalam itu. Perasaan Siman, seperti biasa, meremehkan benda ini, menganggapnya tidak lebih dari akal-akalan orang tua untuk menutupi tidak adanya uang sebagai rasa balas budi.
"Kalau nggak ada duit nggak apa-apa, Nek. Saya nggak berharap kok," sahut Siman, canggung. "Simpan aja benda ini, Nek. Kayaknya lebih berharga kalau Nenek yang pegang."
"Tidak, Nak. Benda ini bukan untuk disimpan selamanya. Benda ini tahu ke mana dia harus pergi." Nenek itu kembali menatapnya, dengan tatapan yang memaksa Siman memegang akik itu erat-erat. "Kebaikan yang kamu berikan tadi bukan sekadar menolong seorang tua jatuh, Siman. Itu… adalah jejak awal takdir yang memilihmu."
Siman menelan ludah. Bagaimana nenek ini tahu namanya? Ia tidak pernah menyebutkan namanya sejak tadi. Lagi-lagi perasaan tidak nyaman menyergapnya.
"Ah, Nak, tenggorokan saya rasanya kering sekali," potong nenek itu, seolah membaca keraguan di wajah Siman. Ia berdeham perlahan. "Bisakah kamu berikan saya segelas air putih?"
Permintaan itu mengalihkan Siman dari segala keanehan yang baru saja terjadi. "Tentu, Nek! Tunggu sebentar, ya. Akan saya ambilkan."
***