NovelToon NovelToon
The Dancing Soul

The Dancing Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti desa saat mobil SUV hitam milik Adrian terparkir di depan halaman rumah Liana.

Suasana terasa canggung. Erwin, dengan wajah yang masih kaku dan waspada, kini berada di balik kemudi—mengambil alih kendali kendaraan sekaligus posisi sebagai pelindung Liana.

Di ambang pintu rumah, Mama menggenggam jemari Liana erat-erat. Ada gurat kecemasan di mata tuanya, namun ia mencoba tegar.

"Liana, jaga kesehatan ya, Ndhuk. Jangan telat makan. Kalau ada apa-apa, langsung kabari Mama atau Erwin," ucap Mama dengan suara yang sedikit bergetar.

Liana menganggukkan kepalanya perlahan, mencoba memberikan senyum yang paling menenangkan untuk ibunya.

"Iya, Ma. Liana berangkat dulu. Mama juga jaga kesehatan di rumah."

Liana melangkah menuju mobil. Tanpa menoleh ke arah Adrian, ia membuka pintu belakang dan masuk ke sana sendirian.

Ia sengaja menciptakan jarak, menjadikan kursi belakang sebagai benteng pertahanannya dari bayang-bayang masa lalu yang masih menghantuinya.

Sementara itu, Adrian yang kondisinya sudah sedikit membaik meskipun wajahnya masih pucat, duduk di kursi depan di samping Erwin.

Keheningan di dalam kabin mobil itu terasa begitu mencekam.

Erwin melirik Adrian sekilas dengan tatapan yang tajam sebelum menyalakan mesin.

"Kita berangkat sekarang," ucap Erwin dingin, lebih seperti sebuah pernyataan daripada pemberitahuan.

Mobil mulai bergerak meninggalkan halaman rumah yang asri itu.

Dari kaca spion tengah, Adrian sesekali mencuri pandang ke arah Liana yang hanya menatap kosong ke luar jendela, melihat pepohonan dan sawah-sawah Yogyakarta yang mulai menjauh.

Adrian ingin bicara, ingin meraih tangan Liana, namun kehadiran Erwin di sampingnya dan tatapan dingin Liana dari belakang membuatnya sadar bahwa perjalanan menuju Jakarta kali ini akan menjadi perjalanan paling sunyi dan penuh tekanan yang pernah ia alami.

Di bawah deru mesin mobil, Liana memejamkan matanya rapat-rapat.

Ia tahu, di ujung aspal ini, Jakarta sudah menunggu dengan segala kerumitan dan luka yang mungkin akan terbuka kembali.

Mobil terus melaju membelah jalanan aspal yang panjang.

Di kursi belakang, Liana akhirnya terlelap karena kelelahan emosional yang luar biasa, kepalanya bersandar lemas pada bantal leher yang dibawanya.

Suara napasnya yang teratur menjadi satu-satunya melodi lembut di tengah ketegangan yang membara di kabin depan.

Erwin melirik spion tengah, memastikan Liana benar-benar sudah tertidur pulas sebelum ia mencengkeram kemudi lebih erat.

Matanya tetap fokus ke jalan, namun suaranya meluncur dingin, tajam seperti sembilu.

"Jangan pernah berpikir kamu bisa memilikinya lagi, Adrian," desis Erwin tanpa menoleh.

Adrian yang sejak tadi menyandarkan kepala ke jendela, perlahan menegakkan duduknya.

Wajahnya masih pucat, namun matanya membalas tatapan Erwin lewat pantulan kaca.

"Kamu tidak berhak menentukan siapa yang bisa memiliki siapa, Erwin. Ini urusanku dengan Liana."

"Urusanmu?" Erwin tertawa hambar, suara tawa yang penuh penghinaan.

"Urusanmu itu sudah selesai saat kamu membiarkan dia menangis sendirian di Jakarta. Kamu pikir dengan datang ke Jogja, demam, lalu memelas, semua dosamu lunas? Kamu itu racun buat dia."

Adrian mengepalkan tangannya di atas paha. "Aku tahu aku salah. Aku bodoh karena tidak menyelesaikan masalah Arum lebih cepat. Tapi perasaanku pada Liana itu nyata. Aku mencintainya lebih dari karirku sendiri."

"Cinta?" Erwin mendengus kasar, lalu menginjak gas sedikit lebih dalam.

"Cinta macam apa yang membiarkan wanitanya dihina sebagai orang rendahan? Kalau aku jadi kamu, aku akan malu menampakkan muka di depannya lagi. Dia itu permata di desa kami, Adrian. Dia penari yang terhormat, bukan sekadar pelarian atau mainan orang kota sepertimu."

Adrian terdiam sejenak, tenggorokannya terasa tercekat.

"Aku akan membuktikannya di Jakarta nanti. Aku akan memutuskan hubunganku dengan Arum secara resmi, di depan publik jika perlu."

"Silakan saja," sahut Erwin dengan nada mengancam.

"Tapi ingat satu hal. Aku ikut ke Jakarta bukan cuma jadi manager. Aku adalah pagar yang tidak akan membiarkanmu lewat sedikit pun. Sekali saja aku lihat Liana menangis karena ulahmu atau perempuan tunanganmu itu, aku tidak akan cuma memukul rahangmu. Aku akan membawanya pulang ke Jogja dan memastikan kamu tidak akan pernah melihat bayangannya lagi seumur hidupmu."

Adrian menoleh ke arah Erwin, matanya menunjukkan perlawanan namun juga pengakuan atas posisi Erwin.

"Kita lihat saja nanti, Erwin. Liana punya hak untuk memilih jalannya sendiri."

"Dia sudah memilih," ucap Erwin final sambil melirik Liana dari spion.

"Dia memilihku untuk menjaganya. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk menjauhkanmu."

Keheningan kembali menyelimuti mobil itu, jauh lebih pekat dari sebelumnya.

Di kursi belakang, Liana bergerak sedikit dalam tidurnya, tidak menyadari bahwa di baris depan, dua pria sedang menabuh genderang perang demi memenangkan hatinya yang masih terluka.

Mobil SUV itu perlahan menepi di sebuah rest area besar yang cukup ramai.

Matahari siang yang terik menyengat aspal, membuat hawa panas merayap masuk saat pintu mobil dibuka.

Liana terbangun, mengerjapkan matanya yang masih terasa berat, dan mengikuti langkah kedua pria itu menuju sebuah rumah makan lesehan yang cukup asri.

Begitu mereka duduk di meja kayu yang panjang, Erwin segera mengambil posisi di samping Liana.

Dengan gerakan yang sangat protektif dan penuh kasih, Erwin menggenggam tangan Liana di atas meja, seolah ingin menunjukkan kehadirannya secara nyata di depan Adrian.

"Kamu pasti lapar, Li. Wajahmu masih pucat," ucap Erwin lembut, ibu jarinya mengusap punggung tangan Liana.

"Aku pesankan makanan kesukaan kamu ya?"

Liana menatap Erwin, ada rasa nyaman yang mulai kembali tumbuh saat ia berada di dekat sahabat masa kecilnya itu.

Ia menganggukkan kepalanya pelan, memberikan senyuman tipis yang tulus.

"Iya, Win. Terserah kamu saja."

Erwin kemudian memanggil pelayan dengan lambaian tangan yang tegas.

"Mbak, saya pesan ayam bakar madu dua porsi, nasi putihnya dua, dan es kelapa muda dua ya. Pastikan ayamnya yang empuk."

Pelayan itu mencatat pesanan dengan cepat. Adrian yang duduk di seberang mereka hanya bisa terdiam, menatap genggaman tangan itu dengan rasa sesak yang menghimpit dada.

Ia baru saja akan membuka mulut untuk memesan, namun Erwin mendahuluinya dengan nada suara yang sangat dingin dan tidak bersahabat.

"Kalau mau makan, silakan pesan sendiri, Pak Produser," sindir Erwin sambil menatap Adrian dengan sorot mata menantang.

"Aku di sini sebagai manager Liana, bukan asisten pribadimu. Aku hanya memesan untuk Liana dan diriku sendiri."

Mendengar ketegasan Erwin yang sangat blak-blakan itu, Liana tidak bisa menahan dirinya.

Sebuah tawa kecil yang sudah lama tidak terdengar lolos dari bibirnya.

Ia menutup mulutnya dengan tangan, namun matanya yang berbinar jenaka menunjukkan bahwa ia sedikit terhibur dengan cara Erwin menghadapi Adrian yang biasanya selalu dilayani oleh semua orang.

Adrian terpaku. Tawa Liana adalah suara paling indah yang ingin ia dengar, namun ironisnya, tawa itu muncul karena ia sedang dipermalukan oleh Erwin.

Ia hanya bisa menelan salivanya dan mencoba menelan harga dirinya yang jatuh ke titik terendah.

"Tidak apa-apa, Erwin. Aku bisa pesan sendiri," sahut Adrian lirih, mencoba tetap terlihat tenang meski hatinya terbakar cemburu melihat kedekatan mereka yang begitu alami.

Pesanan ayam bakar madu yang harum mengepul akhirnya tersaji di atas meja.

Aroma manis gurihnya seketika membangkitkan selera makan.

Di tengah suasana yang kaku itu, Adrian berusaha mencari celah untuk memberikan perhatian kecil.

Ia melihat kaleng kerupuk putih di ujung meja, lalu dengan gerakan pelan, ia mengambil satu kerupuk yang paling utuh dan berniat meletakkannya di piring Liana.

"Ini, Liana, kamu biasanya suka makan kerupuk kalau sedang makan nasi hangat," ucap Adrian lembut, tangannya terulur ke arah piring Liana.

Namun, sebelum kerupuk itu mendarat, tangan Erwin bergerak secepat kilat.

Dengan gerakan yang sangat santai namun penuh penegasan, Erwin menyambar kerupuk itu dari tangan Adrian dan langsung menggigitnya hingga berbunyi nyaring.

Kriuk!

"Wah, pas sekali. Aku memang lagi kepingin kerupuk. Terima kasih ya, Pak Produser," ujar Erwin dengan mulut yang masih mengunyah, matanya menatap Adrian dengan sorot jenaka yang mematikan.

Adrian tertegun, tangannya menggantung di udara selama beberapa detik.

Wajahnya memerah karena menahan geram, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa di depan Liana.

Liana yang melihat pemandangan itu menghela napas panjang.

Ia merasa sedikit kasihan melihat Adrian yang terus-menerus dipojokkan oleh Erwin, meski ia tahu Adrian memang bersalah.

Kemudian Liana mengambil piring kecil berisi kerupuk tambahan yang memang disediakan di meja, lalu menyodorkannya tepat ke arah depan Adrian.

"Ini, ambillah, Pak Adrian. Jangan hanya melihat saja, nanti maag kamu kambuh lagi," ucap Liana dengan nada suara yang mulai melunak.

Mendengar perhatian kecil itu, mata Adrian seketika berbinar.

Sebuah kemenangan kecil terasa sangat berarti baginya saat ini.

Ia mengambil satu kerupuk dari piring yang diberikan Liana, lalu menatap Erwin dengan senyum tipis yang sarat akan makna—seolah ingin menunjukkan bahwa meskipun Erwin adalah managernya, ia tetaplah pria yang pernah memiliki tempat di hati Liana.

Erwin hanya mendengus kasar, ia kembali menyantap ayam bakarnya dengan lahap sambil tetap menggenggam tangan kiri Liana di bawah meja, seolah tak mau kehilangan kendali sedikit pun atas situasi tersebut.

Di tengah riuhnya suasana rest area, meja kayu itu menjadi saksi bisu perang dingin yang semakin memanas.

Liana hanya bisa menunduk, menyantap makanannya dalam diam, menyadari bahwa perjalanan menuju Jakarta ini baru saja dimulai.

1
Laila Isabella
awal cerita yg menarij
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
merry yuliana
hmmmmmm bioin si adrian bertekuk.lutit bucin abis sama liana kak
winpar
ceritanya seru
merry yuliana
hadir kak
ditunggu crazy upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!