Di Medan tahun 2026, Rania Putri pendiri startup yang membantu UMKM dengan teknologi data terpaksa bekerja sama dengan perusahaan besar dari Jakarta yang dipimpin oleh Reza Aditya, mantan kekasihnya yang menghilang tanpa kabar sepuluh tahun lalu.
Pada awalnya, mereka hanya fokus pada pengembangan aplikasi "UMKM Connect", namun menemukan kode aneh dalam sistem yang menyimpan jejak masa lalunya. Saat menyelidiki asal usul kode tersebut, mereka mengungkap rahasia mengejutkan, perpisahan mereka dulu adalah rencana jahat dari Doni Pratama, mantan sahabat Rania yang mengambil alih bisnis keluarga dia.
Di tengah penyelidikan yang penuh kejadian lucu dan tantangan bisnis, rasa cinta lama mereka kembali muncul. Setelah berhasil membongkar kejahatan Doni dan mendapatkan dukungan pemerintah, mereka tidak hanya menyelesaikan proyek aplikasi yang bermanfaat bagi jutaan UMKM, tapi juga menemukan kesempatan kedua untuk cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 : Wajah yang Tak Terlupakan
Ketika pintu kereta api terbuka perlahan di Stasiun Medan, udara pagi yang segar menyambut Rania dan Siti dengan hangat. Meskipun matahari baru mulai muncul dari balik bukit, sinarnya sudah cukup untuk menerangi koridor kereta yang masih sedikit berdebu dari perjalanan panjang malam. Rania menekuk tubuh untuk mengambil tas besar dari bawah tempat duduk, merasa tangan nya sedikit gemetar bukan karena kantuk melainkan karena pikiran yang terus menghantui sepanjang perjalanan pulang dari Jakarta.
“Kita harus segera ke warung,” ucap Siti dengan suara yang lebih keras agar terdengar di tengah kebisingan penumpang yang mulai turun dari kereta. “Nenek pasti sudah menunggu kita dengan khawatir.”
Rania mengangguk, namun matanya masih terpaku pada layar hp yang baru saja menerima pesan email dari Bapak Rio. “Proyek akan segera memasuki tahap evaluasi bersama. Mohon bersiap untuk koordinasi lebih lanjut dengan tim Inovasi Nusantara.” Tulisan itu membuat dada Rania terasa sesak. Dia menutup hp dan menyimpan ke dalam tas, lalu membantu Siti yang sedang mengatur barang bawaan mereka.
“Sampai di sini dulu ya, Bu Rania,” suara seorang pria muda terdengar dari belakang mereka. Mereka berbalik melihat seorang pemuda dengan jas hitam muda berdiri di pintu gerbong, sedang membicarakan sesuatu dengan teman sebelahnya. “Nanti kita akan hubungi lagi jika ada perkembangan ya.”
Rania mengangguk dan mengucapkan terima kasih sebelum berjalan menuju keluar stasiun bersama Siti. Udara pagi Medan terasa jauh lebih segar dibandingkan Jakarta—meskipun sama-sama ramai, tapi ada aroma khas yang membuat hati lebih tenang.
Setelah sampai di luar stasiun, mereka langsung menuju angkot yang sudah mereka pesan sebelumnya. Supirnya langsung menyapa dengan ramah. “Sudah lama tidak melihat Anda, Bu Rania. Neneknya baik-baik saja kan?”
“Alhamdulillah baik-baik saja, Pak,” jawab Rania dengan senyum. “Kita baru saja kembali dari Jakarta untuk urusan proyek.”
Supir mengangguk sambil memutar kunci kontak motor. “Semoga saja proyeknya berjalan lancar ya, Bu. Kalau ada yang bisa saya bantu dari sisi transportasi atau apa saja, jangan sungkan ya.”
Rania mengucapkan terima kasih dan segera naik ke dalam mobil. Saat motor hidup dan mulai melaju keluar dari area stasiun, Rania melihat sekeliling jalan yang sudah mulai ramai dengan aktivitas pagi. Beberapa pedagang sudah mulai membuka lapak mereka di trotoar, menyusun barang dagangan dengan rapi.
Saat mereka melewati sebuah warung makan kecil dengan nama yang sudah tidak asing lagi, Rania tiba-tiba merasa ingin berhenti. “Pak, bolehkah kita berhenti sebentar di warung itu?”
Supir mengangguk dan menginjak rem perlahan. “Tentu saja boleh Bu. Mau beli apa?”
Rania menggeleng. “Cuma mau melihat saja, Pak. Nanti saya segera kembali ya.”
Dia turun dari mobil dan berjalan menuju warung tersebut. Warung kecil dengan nama “Warung Bu Lina” masih berdiri kokoh dengan dekorasi yang sama seperti dulu. Dia melihat seorang wanita sedang menyajikan makanan kepada pelanggan yang sudah duduk di meja luar. Wanita itu menoleh dan tersenyum ketika melihatnya mendekat.
“Bu Lina, apa kabarmu?” ucap Rania dengan suara lembut.
Wanita tersebut terkejut lalu tersenyum lebar. “Rania, nak! Sudah lama tidak datang ke sini ya. Mau apa nak? Mau pesan bubur pedas atau apa?”
“Nanti saja Bu, saya cuma mau melihat-melihat saja. Baru saja kembali dari Jakarta untuk urusan kerja.”
Bu Lina mengangguk sambil melanjutkan menyajikan makanan. “Oalah kerja ya, nak. Semoga saja lancar ya. Kalau ada yang bisa saya bantu bilang saja ya.”
Rania mengucapkan terima kasih dan kembali ke mobil. Saat mereka melanjutkan perjalanan, Rania melihat sekeliling kota Medan yang semakin ramai dengan aktivitas pagi. Jalan-jalan yang dulu sering dia lewati saat kuliah kini semakin luas dan ada banyak gedung baru yang tumbuh seperti jamur setelah hujan.
“Sampai di sini dulu ya, Bu,” suara supir menghentikan pemikiran nya. “Mau saya antar sampai ke rumah atau langsung ke kantor?”
“Kita akan turun saja di sini Pak, terima kasih banyak ya,” jawab Rania sambil membayar ongkosnya. Mereka berjalan melewati lorong yang semakin dekat dengan warung keluarga. Dari kejauhan sudah terlihat sosok neneknya yang sedang membersihkan meja luar warung.
“Nenek!” panggil Rania dengan suara ceria.
Neneknya langsung menoleh dengan wajah yang penuh kegembiraan. “Kamu sudah kembali ya nak! Sudah makan belum?”
“Belum Nenek, mau makan bubur pedas ya,” jawab Rania dengan senyum. Dia melihat meja luar yang sudah ada beberapa tamu duduk menikmati hidangannya. Beberapa di antaranya mengenalnya dan menyapa dengan ramah.
“Sudah dipesan ya, nak,” ucap neneknya sambil memasukan mangkuk berisi bubur pedas ke atas meja. “Tadi pagi ada beberapa tamu yang memesan banyak untuk dibawa keluar kota lho.”
Rania tersenyum melihat senyum bangga neneknya. Dia segera duduk dan mulai menikmati bubur pedas yang sudah tidak bisa dia rasakan selama beberapa hari terakhir. Rasa khas yang selalu membuat hatinya hangat kembali menyelimuti dirinya.
“Sampai di Jakarta bagaimana ya, nak?” tanya neneknya sambil mengambil barang dari dalam warung. “Sudah bisa bertemu dengan mereka?”
Rania mengangguk sambil terus makan. “Sudah bertemu Nenek. Mereka tampak sangat profesional dan berpengalaman.” Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Namun, Nenek—ketua tim nya ternyata adalah orang yang pernah kenal saya.”
Neneknya berhenti sejenak sebelum menoleh padanya. “Siapa ya nak?”
“Reza Aditya,” jawab Rania dengan suara yang sedikit tertekan. “Dia adalah ketua tim mereka.”
Neneknya terdiam sejenak sebelum kembali bekerja. “Sudah lama tidak dengar nama itu ya nak. Kalau memang harus bekerja sama ya tidak apa-apa. Yang penting kerjaannya bermanfaat bagi banyak orang.”
Rania mengangguk dan melanjutkan makanannya. Setelah selesai, dia membantu nenek membersihkan meja lalu masuk ke dalam warung untuk mengambil barang-barang yang akan dia bawa ke kantor nanti. Saat mengambil tas dari kamar belakang, matanya melihat sebuah foto lama di atas lemari kayu kecil—foto dirinya bersama teman-teman kampus yang sedang bekerja di laboratorium komputer. Di tengahnya ada wajah yang sangat akrab: Reza dengan senyumnya yang khas.
Dia mengambil foto itu dengan hati-hati dan menyimpan ke dalam tasnya. Saat keluar dari kamar, dia melihat neneknya sedang berbicara dengan seorang pria yang baru saja datang. “Selamat pagi Bu, mau pesan bubur pedas dua porsi ya.”
“Baik pak, tunggu sebentar ya,” jawab neneknya sambil mengambil mangkuk dari lemari.
Setelah melayani pelanggan tersebut, neneknya kembali ke dalam dan melihat Rania yang sedang menunggu. “Nak, kamu harus kuat menghadapi semua ya. Jangan sampai masalah pribadi mengganggu pekerjaan yang sudah kamu mulai kan.”
Rania mengangguk dan berdiri untuk membantu neneknya membersihkan meja luar. “Iya Nenek, saya akan berusaha semaksimal mungkin. Selain itu, saya juga ingin membuktikan bahwa usaha kecil bisa berkembang dengan bantuan teknologi yang tepat.”
Neneknya mengangguk dengan senyum bangga. “Itu yang baik nak. Selalu ingat ya, usaha kecil seperti bubur pedas kita—perlu perhatian dan cinta untuk bisa tetap nikmat.”
Rania mengangguk dan kembali mengambil tasnya. “Saya harus pergi dulu ya Nenek, ada beberapa hal yang harus saya siapkan untuk kunjungan mereka ke Medan minggu depan.”
“Baiklah nak, hati-hati di jalan ya.”
Rania mengucapkan terima kasih dan segera berjalan menuju luar warung. Di jalan dia melihat beberapa anak muda sedang memasang spanduk baru untuk usaha mereka. Beberapa di antaranya mengenalnya dan menyapa dengan ramah.
“Bu Rania, sudah kembali ya?” tanya salah seorang dengan suara riang. “Semoga saja proyeknya berjalan lancar ya.”
Rania tersenyum dan mengangguk sebelum melanjutkan jalan. Dia merasakan bahwa ada banyak harapan yang tertumpu padanya, membuatnya semakin merasa harus bekerja lebih keras lagi. Saat sampai di sudut jalan raya, dia melihat sebuah mobil baru berhenti di depan dia.
“Permisi Bu, mau ke mana ya?” suara seorang pria muda dari dalam mobil menyapa. “Boleh saya antar jika jalanannya ke kantor atau ke mana saja.”
Rania menggeleng dengan sopan. “Terima kasih ya, Pak. Saya akan pergi dengan ojek saja.”
Pria tersebut mengangguk dan segera melaju meninggalkannya. Rania segera menghubungi kontak untuk memesan ojek online. Sementara menunggu, dia melihat sekeliling jalan yang semakin ramai dengan aktivitas pagi. Beberapa pedagang baru mulai membuka lapak mereka dengan barang dagangan yang beragam. Ada yang menjual makanan, pakaian, hingga peralatan rumah tangga.
Setelah beberapa menit, seorang pengemudi ojek datang dan menyapa dengan ramah. “Permisi Bu, mau ke mana ya?”
“Ke kantor Nusantara Analytics ya Pak,” jawab Rania dengan senyum.
Setelah naik dan menempuh jalanan yang sudah mulai ramai, mereka sampai di kantor yang terletak di sebuah rumah dengan pagar merah bata yang sudah agak tua namun tetap terawat. Dia membayar sopir dan segera masuk ke dalam kantor yang sudah ada beberapa orang di dalamnya.
“Sampai sudah, Bu Rania?” suara Siti yang sudah ada di dalam menyambutnya dengan senyum. “Kita sudah mulai mengumpulkan data dari beberapa UMKM yang sudah bersedia menjadi sampel awal proyek kita.”
Rania mengangguk dan segera masuk ke dalam ruangan kecil yang digunakan sebagai kantor mereka. Dia melihat beberapa orang sudah duduk di meja yang sudah disiapkan dengan komputer dan barang tulis. Beberapa dari mereka sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
“Kabar baik nih, kita sudah mendapatkan tanggapan positif dari banyak kalangan,” ucap Siti dengan suara riang. “Beberapa dari mereka bahkan sudah mulai menyebarkan kabar tentang usaha kita ini.”
Rania tersenyum dan segera bergabung dengan mereka untuk menyusun beberapa hal penting yang harus mereka siapkan sebelum kunjungan tim dari Jakarta tiba. Mereka mulai membahas langkah-langkah awal yang akan mereka lakukan bersama—mulai dari pengumpulan data hingga penyusunan strategi pemasaran awal yang sesuai dengan kondisi lokal.
Setelah beberapa saat berdiskusi, mereka memutuskan untuk membuat jadwal kunjungan ke beberapa UMKM yang sudah mereka hubungi sebelumnya. “Kita akan mulai dari yang paling dekat dengan kita ya,” ucap Rania sambil menunjuk beberapa nama di daftar mereka. “Mereka sudah setuju menjadi sampel awal kita.”
Siti mengangguk dan mulai mencatat nama-nama tersebut ke dalam buku catatannya. “Kita akan mulai dari minggu depan ya,” lanjutnya. “Setelah mereka datang dan kita melakukan kunjungan bersama.”
Rania mengangguk dan melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul sebelas pagi. “Baiklah, kita akan mulai mempersiapkan segala sesuatu dengan baik. Kita harus menunjukkan bahwa usaha kecil seperti kita juga bisa memberikan kontribusi besar dengan cara yang tepat.”
Mereka segera kembali bekerja masing-masing, menyusun data dan materi presentasi yang akan mereka berikan kepada tim dari Jakarta nanti. Rania merasa bahwa ada banyak hal yang harus dia pelajari dan juga banyak hal yang harus dia tunjukkan—bukan hanya sebagai bukti kemampuan mereka, tapi juga sebagai bentuk apresiasi terhadap usaha kecil yang selama ini sering terabaikan.
Saat malam mulai menjelang, mereka baru selesai menyusun beberapa poin penting yang akan mereka sampaikan nanti. Rania melihat jam yang menunjukkan pukul lima sore. “Kita berhenti dulu ya hari ini,” ucapnya sambil mengeluarkan napas panjang. “Besok kita akan melanjutkan lagi agar siap saat mereka datang minggu depan.”
Siti mengangguk dan mulai membersihkan meja kerja mereka. “Baiklah, kita akan bersiap dengan sebaik-baiknya. Semoga saja kolaborasi ini bisa berjalan dengan baik dan memberikan manfaat yang besar bagi banyak orang.”
Rania mengangguk dan mulai membersihkan barang-barangnya. Dia merasa bahwa ada banyak hal yang akan datang dan dia harus siap menghadapinya dengan segala konsekuensinya. Saat keluar dari kantor, dia melihat langit yang mulai berubah warna dengan senja yang indah—seolah memberi tahu bahwa meskipun hari sudah mulai malam, ada hari esok yang akan datang dengan cerah dan penuh harapan.
Ketika Rania menutup pintu kantor dan berjalan menuju jalan raya, dia melihat beberapa anak muda sedang bermain sepak bola di jalanan yang sepi. Suara tawa mereka membuat hati nya sedikit lebih ringan. Dia merasakan bahwa ada banyak hal yang akan dia lalui ke depannya, tapi dia juga merasa bahwa dia sudah siap menghadapinya semua—untuk keluarga, untuk usaha kecil mereka, dan untuk semua orang yang telah mempercayakan harapan padanya.