NovelToon NovelToon
Cinta Ribuan Duri

Cinta Ribuan Duri

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / CEO
Popularitas:463
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”

Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.

— Cinta Ribuan Duri —

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 – Lelaki Berbeda

Hujan turun tipis di luar jendela kafe.

Tetesannya menempel di kaca, lalu perlahan meluncur turun seperti garis-garis kecil yang saling berlomba menuju bawah. Di dalam kafe, lampu kuning menggantung redup, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan dinginnya malam.

Ardila duduk di depan Areksa.

Sudah beberapa menit mereka berada di sana, tapi percakapan di antara mereka terasa kaku.

Aneh.

Padahal dulu… mereka hampir tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan.

Ardila menatap lelaki di depannya diam-diam.

Areksa benar-benar berubah.

Potongan rambutnya lebih rapi. Kemeja yang ia pakai terlihat sederhana, tapi bersih dan teratur. Cara duduknya tegak, tidak lagi sembarangan seperti dulu.

Namun yang paling berbeda adalah ekspresinya.

Dulu, Areksa selalu tersenyum.

Senyum yang ceroboh, santai, bahkan kadang menyebalkan.

Sekarang?

Wajahnya terasa jauh lebih dingin.

“Kamu berubah.”

Ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Ardila.

Areksa yang sedang menatap cangkir kopinya perlahan mengangkat kepala.

Tatapan mereka bertemu.

Beberapa detik.

Sunyi.

“Kamu berubah, Areksa,” ulang Ardila, kali ini lebih pelan.

Areksa menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Sudut bibirnya sedikit terangkat.

Bukan senyum.

Lebih seperti… senyum sinis.

“Oh ya?”

Nada suaranya terdengar datar.

Ardila mengerutkan kening sedikit.

“Iya.”

Ia mencoba tersenyum kecil.

“Dulu kamu nggak seperti ini.”

Areksa tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap Ardila cukup lama sampai perempuan itu mulai merasa tidak nyaman.

“Seperti apa?” tanya Areksa akhirnya.

Ardila mengangkat bahu sedikit.

“Lebih ceria.”

Ia tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.

“Kamu dulu selalu tertawa. Selalu santai. Sekarang kamu terlihat… beda.”

Areksa menatapnya tanpa ekspresi.

Kemudian ia berkata pelan,

“Kamu mau tahu kenapa aku berubah?”

Ardila mengangguk.

“Iya.”

Beberapa detik berlalu.

Areksa mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.

Tatapannya tidak lepas dari wajah Ardila.

“Karena kamu.”

Ardila terdiam.

“Aku?”

Sudut bibir Areksa kembali terangkat tipis.

“Kamu yang membuatku seperti ini.”

Nada suaranya tidak keras.

Tapi ada sesuatu di dalamnya yang terasa tajam.

Ardila langsung menggeleng pelan.

“Areksa, aku—”

“Kamu ingat apa yang kamu bilang waktu itu?”

Areksa memotongnya.

Ardila tidak langsung menjawab.

“Kamu bilang aku kekanak-kanakan.”

Tatapan Areksa tetap lurus.

“Katamu aku nggak pernah memikirkan masa depan.”

Hujan di luar terdengar semakin jelas.

“Kamu bilang aku terlalu bodoh karena selalu tersenyum.”

Ardila menunduk sedikit.

Ia memang pernah mengatakan itu.

Tapi waktu itu…

Ia tidak benar-benar bermaksud menyakitinya.

“Itu cuma—”

“Bercanda?”

Areksa tertawa pendek.

Tawa itu terdengar aneh.

Tidak hangat.

Lebih seperti ejekan kecil.

Ardila merasa dadanya mulai tidak nyaman.

“Aku waktu itu cuma bercanda,” kata Ardila pelan. “Aku nggak bermaksud—”

Kursi tiba-tiba bergeser.

Suara kaki kursi yang bergesekan dengan lantai membuat Ardila terkejut.

Areksa berdiri.

Gerakannya cepat.

Ardila ikut berdiri sedikit dari kursinya karena refleks.

“Areksa—”

Lelaki itu menatapnya.

Tatapan itu membuat Ardila langsung terdiam.

Tidak ada lagi kehangatan yang dulu selalu ada di mata Areksa.

Tatapannya sekarang terasa tajam.

Dingin.

Seolah ada jarak yang sangat jauh di antara mereka.

“Lucu,” kata Areksa pelan.

Ardila menelan ludah.

“Apa?”

“Kamu bilang itu cuma bercanda.”

Sudut bibir Areksa terangkat lagi, tapi kali ini lebih pahit.

“Buat kamu mungkin cuma kata-kata.”

Ia menatap Ardila lurus.

“Tapi buat aku…”

Kalimatnya berhenti sebentar.

“…itu alasan kenapa aku berubah.”

Ardila tidak bisa menjawab.

Untuk pertama kalinya ia benar-benar menyadari sesuatu.

Perubahan Areksa bukan sekadar soal waktu.

Ada luka di baliknya.

Areksa mengambil jaketnya dari sandaran kursi.

Gerakannya tenang, tapi dingin.

“Areksa, aku nggak pernah bermaksud—”

“Sudahlah.”

Areksa memotong kalimatnya.

Nada suaranya tidak keras.

Justru terlalu tenang.

Dan itu membuatnya terasa lebih tajam.

“Kamu sudah mengatakan apa yang kamu pikirkan waktu itu.”

Ia menatap Ardila sekali lagi.

Tatapan yang membuat Ardila merasa seperti orang asing.

“Dan sekarang… aku hanya melakukan apa yang kamu inginkan.”

Ardila mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

Areksa menatapnya beberapa detik.

Kemudian ia berkata pelan,

“Aku berhenti menjadi orang yang dulu kamu anggap bodoh.”

Hujan di luar semakin deras.

Suasana kafe terasa lebih sunyi dari sebelumnya.

Ardila ingin mengatakan sesuatu.

Banyak hal sebenarnya.

Tapi kata-kata itu terasa tertahan di tenggorokannya.

Areksa berbalik.

Tanpa menunggu jawaban.

Ia berjalan menuju pintu kafe.

Langkahnya tenang.

Tidak ragu.

“Areksa!”

Ardila memanggilnya.

Tapi lelaki itu tidak berhenti.

Tidak menoleh.

Ia hanya terus berjalan sampai pintu kaca kafe terbuka.

Bel kecil di atas pintu berbunyi.

Ting.

Udara dingin dari luar langsung masuk.Beberapa detik kemudian pintu itu tertutup kembali. Dan Areksa sudah tidak ada di sana.Ardila berdiri di tempatnya.Tangannya masih menggenggam tepi meja.

Dadanya terasa berat.

Baru sekarang ia menyadari satu hal yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.

Kata-kata yang dulu ia ucapkan dengan mudah…ternyata meninggalkan luka yang begitu dalam. Dan lelaki yang dulu selalu tersenyum itu…sekarang pergi dengan tatapan yang begitu dingin.

Seolah Ardila bukan lagi seseorang yang pernah berarti dalam hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!