Dijodohkan dan bertunangan sejak putih abu membuat Naka dan Shanum menyembunyikan hubungan keduanya dari orang lain termasuk teman-temannya. Terlebih, baik Naka ataupun Shanum tak pernah ada di daftar putih masing-masing.
Tapi siapa menyangka, diantara usaha keduanya, perasaan cinta justru hadir mengisi setiap ruang hati satu sama lain. Siapakah yang akan duluan menyatakan cintanya?
Say, love you too....
Katakan, aku juga cinta kamu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Poison called Shanum
Sheyna langsung menyeru, "mana---mana?! Wah udah ya?! Emang best Kaka iparku!"
"Ini nanti kanvas remnya mesti diganti, besok bang Naka beli dulu ke toko terus kalo sempet langsung pasang."
Sheyna, wajahnya memang selalu riang dan hangat, "wah, jadi ngerepotin bang Naka ih, kan jadinya enak ke akunya!" bocah SMP itu tergelak yang langsung dihadiahi dorongan kepala dari Shanum.
"Besok besok bisa benerin mainan aku ngga bang?" tawanya lagi mengundang dengusan geli Naka. Sheyna mencoba menaiki sepedanya dan, kakinya mulai mengayuh pedal.
Tak dinyana, grekkk...
Shanum seketika dibuat melotot dan menjerit, "awww! Anjirrr!" umpatnya, tangannya refleks mencengkram lengan Naka yang berdiri di sampingnya, "Sheyna!!! kamu Giles kaki aku!" rintihnya sukses membuat Naka tertawa renyah dan Sheyna, ia menghentikan laju sepedanya lalu menoleh, "eh, maaf---maaf ngga sengaja ka!"
Shanum langsung membungkuk memegang kakinya yang digeleng ban sepeda sang adik.
"Mana sini gue liat, astaga..." Naka tak bisa menghentikan tawanya yang refleks itu meski kemudian ia berusaha menghentikannya melihat kesakitan Shanum.
Pemuda ini ikut berjongkok mencoba melepas tangan Shanum dari kakinya yang sudah mengaduh berkaca-kaca tanda sakitnya memang tak mengada-ada.
"Udah ngga usah. Lo malah ngetawain.." tepis Shanum, tapi Naka tak menyerah dan memaksa, "sinii gue liat. Barangkali berda rah seember ..nanti biar gue ambil ember buat tampung."
Plak!
Ia menggeplak lengan Naka dan mendelik sinis, tapi mau melepaskannya memperlihatkan jemari kaki yang memerah.
"Ngga apa-apa lah. Paling nyut-nyutan dikit. Lecet sedikit." Ucapnya.
"Paling..." ketus Shanum menarik kakinya.
"Terus mau dibawa ke rumah sakit? Dioperasi sekalian?" tawar Naka memancing Shanum untuk kembali mendaratkan geplakannya.
Mainaka
Ia pulang dengan membawa satu tas kain berisi makaroni schotel dan kentang mustofa oleh-oleh dari bunda Shanum untuk mamanya. Ia masih sering pulang, bahkan ketimbang ke apartemen...mungkin ia lebih sering tidur di rumah. Meski perjalanan ke sekolah memang sedikit lebih jauh.
Setelah menaruh tas kain di atas meja makan, Naka bergegas melengos ke arah kamarnya, "ma, titipan dari bundanya Shanum di meja makan!"
Naka tak seperti anak SMA kebanyakan yang pulang langsung rebahan, tidur dan malas-malasan. Untuk anak seusianya ia cukup sibuk oleh kegiatan OSIS, mengambil jadwal les private 2 sampai 3 kali dalam seminggu, lalu usahanya. Lalu waktunya untuk nongkrong dan main? Oh tenang saja, Naka masih berjiwa remaja....ia tetap mengosongkan jadwal di akhir pekan untuk bersantai dan hang out, mengisi masa-masa remajanya.
Untuk Naka, ia bukan orang kekurangan. Justru....karena ia terlahir dari keluarga pebisnis, dimana mental dan lingkungannya di didik untuk lebih---visioner, jiwa dan otaknya sudah dicekoki mental pebisnis sejak kecil.
Ia buka laptop dengan sejumlah angka dan deretan font berukuran kecil menyapa. Menyalakan pemutar musik demi membantu otak yang hampir lelah berpikir lebih tenang lagi.
Kontak bang Handi selalu menjadi dial tercepat Naka selain dari Savero dan mama.
Meski usahanya masih terbilang berkembang dan merintis tapi Naka tak pernah kehilangan semangatnya. Berangkat dari seringnya mendapat tugas membuat spanduk dan banner market day lalu menemukan peluang usaha kartu nama untuk barang kepemilikan dan pesanan kaos kelas sejak kelas 6 SD yang di setiap tahun ada saja angkatan sekolah membuat seragaman kelas.
**Bang Handi**
*Mas Ka, stok tinta minta di re-stock. Bulan ini warna hitam sama biru banyak dipake*.
**Mainaka**
*Oke bang. Nanti gue telfon orang suppliernya. Buat sablon atau Epson*?
**Bang Handi**
*Epson, mas*.
**Mainaka**
*take a picture 📷 bang, yang ini rincian re-stock nya*?
**Bang Handi**
*Siap, bener mas*.
Kembali Naka mengotak-atik laptopnya setelah selesai dengan pekerjaannya hingga tak sengaja ia dengan iseng menatap satu file yang sudah jarang ia buka, *Mainaka Rajendra*.
Satu file berisi kenangan dari masa ke masa ketika ia klik. Puluhan---mungkin ratusan foto langsung terbuka satu persatu, mulai dari ia yang masih bayi dalam gendongan Oma dan nenek. Lalu ia dan papa yang tengah bermain di game station di salah satu pusat perbelanjaan.
Hingga akhirnya scroll demi scroll terselip beberapa foto gadis kecil manis yang waktu itu cerewet sekali, tak ubahnya Sheyna sekarang. Gadis yang namanya sampai saat ini selalu mama Anye elu-elukan. Seolah tak ada gadis cantik dan manis lainnya di dunia ini yang baik untuk Mainaka. Nama gadis itu bak racun yang dicekoki oleh mama Anye ke dalam otaknya, *Sha tuh baik, cantik, manis, pinter, pokoknya mama suka, lucu banget, pengen mama kantongin tiap ketemu, dijagain ya Ka...diajakin ngobrol, diajakin main*...
*Naka! Shanumnya ajakin main*...
*Naka, Shanumnya ajakin makan*...
*Naka, Shanum minta dianterin jajan...jajan berdua deh sana*.
*Shanum sama Naka ya...kalau ngga bisa minta tolong Naka*!
*Naka, cowok itu harus berani, lindungin cewek...Naka juga gitu ke Shanum ya*...
Sampai beberapa teman ikut menggoda dan mencuiti mereka, *Naka pacarnya Shanum*...
*Naka nikahnya sama Shanum*...
Naka memijit pangkal hidungnya, bahkan tak tanggung-tanggung, mimpi basahhh yang Naka alami dulu...justru digagalkan oleh kedatangan Shanum dalam bunga tidurnya. Sebegitu racunnya nama Shanum untuk Naka, untung saja ia tak gila.
Pernah di satu hari ia sudah jengah ketika namanya selalu disandingkan dengan Shanum membuat dirinya yang sudah mulai paham situasi mulai memberi jarak, begitupun Shanum yang merasa risih.
Kehidupan bisa disebut normal ketika mereka menginjak usia kelas 5 SD, tapi siapa menyangka justru ketika SMA keduanya justru disatukan kembali oleh para orangtua dalam ikatan pertunangan. Pernah juga sebelumnya keduanya sama-sama menyukai lawan jenis lain tapi sebatas menyukai dan tak berpacaran. Pernah berpacaran tapi tak berlangsung lama.
Sampai Naka sendiri tak tau kapan tepatnya, perasaan melindungi pada Shanum itu menjadi kebutuhan. Rasanya memiliki Shanum itu bukan lagi suatu beban...dan timbulnya letupan amarah ketika gadis yang semakin cantik itu dekat dengan lawan jenis dalam artian melibatkan perasaan.
Squad Ceriwis
(Frizka freeze) Num 👀 are you oke? Lo ngga mau cerita tadi Naka ngomong apa sama Lo?
(Aditya Jegrek) belakangan ini grup ini kok ngga ada faedahnya, Saban waktu yang diomongin Naka terus, sekali-kali king Nassar kek.
(Jemima Mima) Lo ngga tau Dit, tadi Naka nyariin Shanum. bahkan sampe nungguin Shanum balik rapat MPK...ngeri ngga tuh?
(Pandu_winata) yang ngeri tuh kalo Lo lari keliling GBK telan jank.
(Chika_ika) 😱 mau ngapain?
(Frizka freeze) kayanya masalah proposal tadi, Naka ngga terima ditegur Juna di depan anak-anak, ya kan Num?
(Aditya Jegrek) ngomong dong Num, bener kagak? Diapain? Biar nanti gue yang ngomong sama Naka deh, demi teman! 🫵
(Pandu_winata) aslinya. Gue juga...ngga boleh ada yang ngapa-ngapain temen gue😤
(Chika_ika) tuh kan bener. Demi Airani yang ditegur yang dikasih ulti malah Shanum nya...😓
(Mala_Shanum) gengs, Naka ngga ngapa-ngapain. Stop negatif thinking about him. Tadi dia cuma ngasiin proposal yang udah lengkap.
Take a picture 📷
Untung saja tadi sore Naka memberikan proposal yang sudah sempat ditanda tangani oleh pak Bowo, di balik itu ada Savero dan Lutfi yang mau-maunya nyusulin ke rumah pak Bowo bersama Jeevika.
.
.
.
.