Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
Mobil hitam itu melaju tanpa ragu, seolah kecepatan dan arah sudah diputuskan jauh sebelum Rachel masuk ke dalamnya. Di dalam mobil itu, seorang pria paruh baya tampak duduk di balik kursi kemudi di depannya, dengan punggung yang tegak dan kedua tangan mantap memegang kemudi. Ia tidak menoleh ke belakang, tidak bertanya apa pun, seolah seorang perempuan yang baru saja menerobos mobilnya adalah hal yang biasa dan tidak perlu dipertanyakan.
Di kursi belakang, Rachel menempelkan tubuhnya yang terasa lemas ke pintu—bahunya terangkat, napasnya masih tidak teratur dan dadanya terasa sesak setiap kali ia menghirup udara. Tangannya menggenggam kain gaunnya sendiri dengan jari-jarinya yang dingin dan gemetar. Ia belum menyadari bahwa ada seorang pria yang duduk terdiam di sebelahnya. Atau mungkin ia sudah menyadari itu, namun hanya saja belum berani menatapnya.
Pria di sampingnya itu bernama Liam. Liam Smith. Ia duduk dengan tenang—punggungnya bersandar santai di kepala kursi dan kedua lengan diletakkan di sandaran kursi di kedua sisi tubuhnya. Tidak ada ketegangan di bahunya, juga tdak ada ekspresi apapun di wajahnya. Ia tampak seperti seseorang yang terbiasa berada di tengah kekacauan, dan tetap menguasainya.
Ia mengangkat dua jari untuk memberi isyarat singkat ke depan. Sopir itu pun langsung membelokkan mobil, menjauh dari arah bar dan memilih jalan yang lebih sepi tanpa perlu bertanya.
“Kau aman sekarang,” kata Liam akhirnya. Suaranya rendah dan terkendali, seperti seorang alpha.
Rachel pun menelan ludah. Ia menarik napas dalam untuk memaksa paru-parunya bekerja normal. Saat ini, ia masih sepenuhnya dalam mode waspada. Sebab hal buruk bisa saja terjadi kapanpun. Dan ia harus siap akan hal itu.
Beberapa saat kemudian, ia akhirnya menoleh. Tatapannya bertemu dengan wajah pria itu—tenang, tajam, dan tidak berusaha terlihat ramah. Rachel melihat sebuah karisma, wibawa dan kekuasaan di sana secara bersamaan. Pria itu tampak seperti seseorang yang sangat dominan dan memiliki kendali penuh atas sesuatu.
Sepanjang sisa perjalanan singkat itu, Liam mengamati Rachel tanpa terang-terangan. Luka kecil di sudut bibir Rachel yang masih tampak kemerahan, tangan yang tak berhenti bergerak seolah mencari pegangan, dan gaun mahal yang membalut tubuhnya yang tampak tidak selaras dengan caranya duduk— seperti pakaian pinjaman yang dipaksakan pada seseorang yang ingin segera melepaskannya. Pikir Liam, perempuan ini tampak seperti seseorang yang baru saja lolos dari sesuatu yang serius.
“Kemana saya harus melajukan mobil ini, Tuan Smith?” suara sopir di depan sana akhirnya terdengar. dengan nada formal dan datar.
Rachel menangkap sebutan itu. Matanya membesar sedikit sebelum ia menahannya kembali. 'Tuan Smith? Pria itu sepertinya bukan pria biasa. Bahkan dari penampilannya saja, pria itu... terlalu sempurna', batin Rachel.
Liam tidak langsung menjawab. Ia melirik Rachel sekali lagi, seolah menimbang sesuatu di kepalanya. Sementara Rachel sedang sibuk dengan pikirannya. Rachel tahu ia belum mengenal siapa pria yang duduk tepat di sampingnya itu. Entah pria itu benar-benar seorang pria baik yang tanpa sengaja membantunya, atau justru sebaliknya. Mungkin saja ia adalah pria yang lebih berbahaya dibandingkan Tom. Namun, entah kenapa Rachel justru merasa aman di dekatnya. Ia tidak merasa terancam seperti ketika ia berada di dekat Tom.
Liam masih menatap wajah Rachel, lebih lama dari yang seharusnya. Bukan karena kecantikannya—bukan karena itu. Ada sesuatu yang lebih dalam, yang membuat Liam terbawa ke sebuah ingatan lama. Cara rahangnya mengeras setiap kali ia menelan napas, cara giginya menekan bibir bawahnya tanpa sadar seolah itu satu-satunya cara untuk menahan diri agar tidak gemetar, juga cara tangannya melingkari lengannya sendiri dengan gerakan protektif. Di situ, Liam merasa bahwa pemandangan yang dilihatnya tampak tidak asing. Jelas, ia pernah melihatnya, respon itu, bahkan juga wajah itu.
Suara mesin mobil pun kini perlahan memudar. Dengung halus itu berubah menjadi kesunyian yang lebih kasar dan lebih dingin. Kilatan lampu kota di luar jendela berganti menjadi cahaya lampu jalan berwarna kuning pucat yang berkedip lemah di malam yang lebih gelap. Lalu sebuah ingatan tiba-tiba datang tanpa permisi—menarik Liam kembali ke hari itu, ke malam itu, malam yang tidak pernah ia lupakan dalam hidupnya.
Malam itu dingin, begitulah yang ada di ingatannya. Jalanan tampak terlalu sepi untuk kota yang biasanya dijuluki sebagai kota yang tidak pernah tidur. Aspal terasa keras di punggung Liam ketika ia jatuh dengan napasnya yang terhempas keluar dari paru-paru. Rasa panas menjalar dari bahunya, menyebar cepat, diikuti denyut yang membuat pandangannya perlahan kabur.
Sebuah peluru menancap di bahunya, dan ia jelas tahu rasanya. Ia pernah terluka sebelumnya, bahkan tidak sekali atau dua kali. Tapi saat ia terluka dulu, setidaknya ia tidak pernah benar-benar sendirian seperti ini. Tidak dengan darah yang mengalir terlalu cepat hingga membasahi lengan bajunya, dan membuat jari-jarinya licin saat mencoba menekan luka itu.
Lalu, suara langkah kaki terdengar samar. Liam mengangkat kepala dengan susah payah dan satu matanya terpejam. Dalam cahaya lampu jalan yang redup, ia melihat sosok kecil berhenti mendadak beberapa meter darinya. Itu adalah seorang gadis.
Gadis itu tampak masih sangat muda, dengan tas sekolah tergantung di satu pundak dan jaket tipis membungkus tubuhnya. Wajahnya tampak pucat ketika matanya menangkap tubuh Liam yang tergeletak di trotoar.
“Aku—” suara gadis itu bergetar. “Aku akan telepon ambulans.”
Liam menggeleng pelan, rasa sakit yang dirasakannyamembuat dunia seolah berputar. “Tidak,” katanya, suaranya serak dan seperti dipaksakan keluar. “Jangan. Bantu aku saja... luka ini...”, sambungnya, sambil melirik luka tembak yang berlumuran darah di bahunya.
Gadis itu tampak ragu. Dan keraguan itu jelas sekali tergambar di wajahnya. Kakinya bergeser setengah langkah mundur, seakan naluri menyuruhnya pergi untuk menyelamatkan diri. Tapi malam itu nyatanya ia tidak lari.
“Tapi aku… aku tidak mengenalmu,” katanya, hampir berbisik.
“Aku tahu.” Liam menarik napas pendek. “Tapi kalau kau pergi… aku mungkin tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi.”
Hening membentang di antara mereka. Lalu gadis itu menghela napas panjang, seolah membuat keputusan yang terlalu besar untuk usianya.
“Baiklah. Rumahku ada di dekat sini,” katanya akhirnya. “Aku akan membantumu,”
Rachel membantu tubuh lemah Liam untuk berdiri dan berjalan dengan susah payah, menuju rumahnya yang berdiri tidak jauh dari sana. Rumah itu terasa cukup sunyi. Tidak ada suara televisi yang menyala di malam hari, juga tidak ada suara langkah orang dewasa yang menyambut kedatangan mereka. Rachel membantu Liam masuk dengan tenaga yang nyaris tidak cukup. Dengan hati-hati, ia membaringkannya di atas sofa ruang tamu dengan tangannya yang gemetar ketika melihat darah menembus kemejanya.
“Kau terluka parah. Aku harus telepon rumah sakit,” katanya panik, bahkan kini sudah meraih ponsel di sakunya.
“Jangan,” Liam menahan pergelangan tangannya. Cengkeramannya lemah tapi cukup untuk menghentikannya. “Keluarkan saja pelurunya.”
Rachel menatapnya seolah ia baru saja meminta sesuatu yang mustahil. “Aku… aku tidak bisa. Aku bukan—”
“Kau pasti bisa,” potong Liam pelan. “Ambil kotak P3K. Dan… cutter atau pisau... atau sesuatu yang tajam.”
Rachel berdiri kaku beberapa detik sebelum berlari kecil ke kamar mandi. Ketika ia kembali, tangannya penuh dengan perban, alkohol, dan sebuah cutter kecil yang tampak terlalu tajam untuk dipegang oleh gadis seusianya.
Tangannya gemetar hebat. “Aku takut,” katanya, air mata sudah menggenang, membasahi wajahnya. “Kalau aku salah—”
“Aku akan mengarahkannya,” kata Liam, menahan rasa sakit yang membuat rahangnya mengeras. “Dengarkan aku. Kau hanya perlu melakukan apa yang aku bilang.”
Rachel mengangguk ragu, meski air mata terus jatuh tak tertahankan. Saat ia membuka kemeja Liam dan melihat luka itu dengan jelas, isak kecil lolos dari bibirnya. Ia menutup mata sesaat, menarik napas panjang, lalu membukanya lagi.
“Maaf,” gumamnya, entah pada siapa.
Proses mengeluarkan peluru dari tubuh Liam itu tidak berlangsung dengan cepat, juga tidak rapi. Bahkan Rachel hampir menjatuhkan cutter dua kali. Tangannya kaku, napasnya tersengal, dan beberapa kali ia berhenti, lalu menangis tanpa suara karena tidak sanggup melanjutkan.
“Jika tidak sanggup lagi, kau bisa berhenti,” kata Liam di satu titik, ia akhirnya tidak tega melihat wajah ketakutan Rachel yang hampir runtuh.
Rachel menggeleng keras. “Tidak. Kalau aku berhenti sekarang… itu mungkin akan jauh lebih buruk.”
Akhirnya, Rachel pun melanjutkan apa yang sudah ia mulai. Setelah melewati menit demi menit yang menegangkan, peluru itu akhirnya keluar dan jatuh ke nampan kecil berisi kain dengan bunyi kecil yang terdengar cukup keras di ruangan sunyi itu. KIni, Rachel yang sejak tadi memaksakan tubuhnya untuk bergerak mengeluarkan peluruh itu pun hampir roboh. Setelah mengambil jeda singkat untuk menenangkan diri, ia lalu membersihkan luka di tubuh Liam dan membalutnya seadanya. Setelahnya ia terduduk di lantai, punggungnya bersandar ke sofa, dan menangis kelelahan.
Liam menatap Rachel cukup lama. Gadis itu bisa saja lari. Ia bisa saja membiarkannya terkapar di atas trotoar sana dan berpura-pura tidak pernah melihat apa pun. Tapi nyatanya, ia tidak melakukannya. Yang ia lakukan justru menyelamatkan nyawanya—tanpa tahu siapa Liam sebenarnya.
Rachel berdiri dari lantai dengan langkah goyah setelah semuanya selesai. Tangannya masih bergetar ketika ia menatap Liam yang terbaring di sofa dengan wajah pucat tapi napasnya sudah lebih teratur.
“Kau harus istirahat,” katanya pelan. “Aku akan ambilkan air minum.”
Liam mengangguk singkat. Kepalanya terasa berat, tapi kesadarannya masih cukup jernih untuk menyadari satu hal, bahwa ia tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi. Gadis ini sudah melakukan terlalu banyak untuk orang asing sepertinya. Dan ia tidak ingin membawanya dalam bahaya.
Rachel berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air minum untuk Liam. Ia mengambil air dengan memenuhi gelas kaca di tangannya—sesuatu yang bisa ia berikan untuk Liam yang masih terbaring di atas sofa sana.
Sementara itu, Liam bangkit dengan hati-hati. Setiap gerakan mengirimkan denyut nyeri dari bahunya, tapi ia berusaha mengabaikannya. Ia bergerak perlahan agar tidak mengeluarkan suara, menuju pintu utama yang berada beberapa langkah dari sofa. Ia menoleh sekali ke arah dapur—ke arah gadis yang sedang menyiapkan air untuknya, lalu beranjak pergi.
Malam itu Liam tidak memperkenalkan diri, tidak meninggalkan sebuah pesan, dan tidak meninggalkan apa pun yang bisa menautkan hidupnya dengan gadis itu lagi.
Saat pintu menutup nyaris tanpa suara, Rachel sedang berjalan dari arah dapur untuk kembali ke ruang tamu dengan segelas air di tangannya. Namun sofa di depannya itu tampak sudah kosong. Pria yang baru saja ia selamatkan sudah tidak ada di sana.
Rachel berdiri terpaku beberapa detik dengan kebingungan yang memenuhi pikirannya, lalu meletakkan gelas di atas meja. Ia berjalan ke arah pintu, membukanya sedikit, lalu menatap jalanan yang tampak sunyi. Tidak ada pria asing itu di luar sana, bahkan tidak ada siapapun yang tampak berlalu-lalang
Malam itu, Rachel hanya menganggapnya sebagai kejadian aneh dan menakutkan yang mungkin sebaiknya harus ia lupakan. Namun bagi Liam, malam itu menjadi kenangan yang akan selalu ia ingat sepanjang hidupnya.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” suara Rachel yang ada di samping Liam akhirnya menariknya kembali dari lamunannya tentang malam itu.
Liam berkedip pelan. Kini wajahnya kembali tenang dan terkendali, seperti sebelum ingatan itu datang menghantam. Sementara itu, mobil yang mereka tumpangi terus melaju melewati lampu-lampu kota yang memantul di kaca gelapnya.
“Tidak. Kau hanya mengingatkanku dengan seseorang,” katanya akhirnya. Membuat Rachel mengerutkan kening dan memproses ucapannya.
Liam terdiam. Ia tidak berniat melanjutkan penjelasan tentang pertanyaan yang dilontarkan Rachel tadi. Hingga akhirnya keheningan pun turun di antara mereka. Dan Rachel tampaknya juga tidak tahu harus berkata apa. Ada sesuatu dalam cara pria ini menatapnya dan berbicara, yang entah kenapa membuat hati Rachel bergetar.
Lalu, dari kursi depan, sopir akhirnya berbicara dan memecah keheningan di antara mereka. “Tuan Smith?” tanyanya, membuat Liam mengangkat pandangan, dan menatapnya melalui kaca spion mobil dalam.
“Anda belum menjawab. Ke mana saya harus mengemudikan mobil ini?”
Rachel menegang seketika. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi baginya, itu seperti sebuah persimpangan hidup. Ia tidak punya alamat tujuan dan tidak punya tempat aman yang bisa ia datangi malam ini. Hanya satu kepastian bahwa ia tidak bisa kembali ke rumahnya dalam kondisi seperti ini. Sebab, Sam pasti sudah menunggunya di sana.
Liam tidak langsung menjawab. Ia menoleh dan menatap Rachel. Tatapan itu tajam tapi tidak mengintimidasi. Sebuah tatapan yang sedang menunggu kepastian dari seseorang.
“Jadi,” kata Liam akhirnya, suaranya rendah, hampir santai, tapi penuh kendali. “Ke mana aku akan mengantarmu?”
Rachel pun membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia tersadar bahwa ia tidak punya jawaban. Yang ia tahu hanya satu, bahwa ia harus mencari tempat aman sementara untuk malam ini.
Mobil hitam mewah itu terus melaju menembus suasana malam kota. Rachel belum tahu bahwa pria yang duduk di sebelahnya, yang baru saja memberinya jalan keluar dari neraka Tom, adalah pria yang dulu hampir mati di ruang tamunya. Dan Liam belum mengatakan satu hal terpenting, bahwa hutang yang ia simpan sejak malam itu, akhirnya menemukan wajahnya kembali.