NovelToon NovelToon
My Cold Guardian Husband

My Cold Guardian Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Dosen Dingin

Gedung Fakultas Ekonomi Universitas Nasional pagi itu tampak sibuk, namun suasana di lantai tiga—area kantor para dosen senior—terasa jauh lebih tenang dan teratur. Di ujung lorong, sebuah pintu kayu jati dengan papan nama minimalis bertuliskan Morgan Bruggman, M.Econ. tertutup rapat.

Di dalam ruangan itu, udara terasa sejuk, nyaris dingin karena pendingin ruangan yang disetel rendah. Aroma kopi hitam pekat bercampur dengan bau kertas baru menyelimuti ruangan yang sangat rapi. Di balik meja kerja besar dari kayu ek, Morgan Bruggman duduk dengan punggung tegak sempurna. Kemeja putihnya yang disetrika kaku tidak menunjukkan satu pun lipatan, kontras dengan kacamata berbingkai tipis yang membingkai sepasang mata tajam sedalam telaga es.

Morgan sedang memegang sebuah pulpen mewah, memberikan koreksi pada lembar jurnal internasional. Setiap coretannya presisi, setiap argumennya mematikan. Baginya, hidup adalah variabel yang harus terukur. Jika sesuatu tidak logis, maka sesuatu itu tidak berharga untuk dikerjakan.

Ketukan pintu yang terburu-buru merusak konsentrasinya. Morgan tidak mendongak. Ia tahu siapa itu dari irama ketukannya yang tidak sabar.

"Masuk, Liam. Pintunya tidak dikunci," ucap Morgan dengan suara bariton yang datar namun jernih.

Pintu terbuka lebar, menampakkan Liam Shine yang terlihat seperti belum tidur selama dua hari. Jasnya tersampir di lengan, dasinya sudah dilonggarkan, dan rambutnya yang biasa tertata rapi kini sedikit berantakan. Liam masuk dan langsung menjatuhkan diri ke kursi di hadapan Morgan.

Morgan meletakkan pulpennya pelan, lalu melepas kacamatanya. Ia menatap sahabat lamanya itu dengan tatapan yang sulit dibaca—lembut dalam perhatiannya, namun kaku dalam pembawaannya.

"Kau terlihat seperti baru saja kehilangan salah satu gedung propertimu dalam semalam," komentar Morgan pelan.

"Lebih buruk dari itu, Morgan," jawab Liam sambil memijat pelipisnya. "Aku kehilangan kendali atas adikku sendiri. Liana ... dia benar-benar di luar batas."

Morgan terdiam sejenak. Ia mengenal Liam sejak mereka masih di bangku kuliah, dan ia tahu betul betapa Liam memuja adiknya. "Dia baru delapan belas tahun, Liam. Hormon remaja, ditambah dengan kekayaan yang kau berikan tanpa batas, biasanya menghasilkan pemberontakan. Itu matematis."

"Ini bukan sekadar pemberontakan remaja biasa!" Liam memajukan tubuhnya, menatap Morgan dengan intensitas yang membuat suasana ruangan semakin berat. "Dia bersama Derby Neeson. Anak itu kriminal kecil-kecilan. Dia memakai Liana untuk uangnya, untuk statusnya, dan aku takut ... aku takut dia akan menghancurkan masa depan Liana lebih jauh lagi. Semalam Liana pulang mabuk berat. Mereka berciuman di depan mataku seolah aku ini orang asing."

Morgan hanya menaikkan satu alisnya. "Lalu? Apa hubungannya denganku? Aku seorang dosen ekonomi, bukan psikolog keluarga."

Liam menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan niat gilanya. "Aku ingin kau menjaganya. Bukan sebagai pengawal, karena dia akan melarikan diri. Aku ingin kau mengikatnya dalam sesuatu yang sah. Sesuatu yang membuatnya tidak punya pilihan selain berada di bawah pengawasanmu."

Morgan menyandarkan punggungnya, melipat tangan di depan dada. "Bicaralah dengan jelas, Liam. Jangan gunakan metafora."

"Nikahi dia, Morgan. Kontrak lima tahun."

Keheningan seketika menyergap ruangan itu. Detak jam dinding di sudut ruangan seolah terdengar sepuluh kali lebih keras. Morgan tidak terkejut, tidak juga marah. Ia hanya menatap Liam seolah sahabatnya itu baru saja mengatakan bahwa 1 + 1 \= 3.

"Kau gila," ucap Morgan singkat, tanpa emosi. "Dia mahasiswa baru di fakultas ini. Aku adalah dosen yang akan mengajar di kelasnya dalam beberapa minggu ke depan. Kau memintaku menikahi mahasiswaku sendiri? Secara profesional, itu bunuh diri. Secara logika, itu tidak masuk akal."

"Ini satu-satunya cara!" Liam sedikit berteriak, frustrasinya memuncak. "Liana butuh disiplin yang tidak bisa aku berikan karena aku terlalu lunak padanya. Kau ... kau kaku, kau dingin, kau tidak bisa dimanipulasi oleh air mata buayanya. Di bawah atapmu, dia akan memiliki aturan. Dan dengan status pernikahan, Derby tidak akan bisa mendekatinya secara hukum tanpa berhadapan dengan posisi yang rumit."

Morgan bangkit dari duduknya, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah taman kampus. Ia berdiri di sana, sosoknya yang tegap tampak seperti menara yang tak tergoyahkan. "Pernikahan bukan instrumen hukum untuk mendidik anak nakal, Liam. Itu adalah komitmen."

"Ini pernikahan kontrak!" Liam ikut bangkit, mendekati Morgan. "Lima tahun. Selama itu, kau hanya perlu memastikan dia kuliah, tidak keluyuran di kelab malam, dan tetap aman dari Derby. Aku tidak memintamu menjadi suaminya dalam arti yang ... intim. Aku melarangmu menyentuhnya sampai dia berusia dua puluh satu tahun dan dia sendiri yang menerimamu. Jika dalam lima tahun dia tidak berubah, ceraikan dia. Aku akan memberimu apa pun. Pendanaan untuk risetmu, saham di perusahaan propertiku, apa saja!"

Morgan berbalik perlahan. Tatapannya menajam di balik matanya yang dingin. "Kau pikir aku bisa dibeli dengan saham?"

"Tidak, aku tahu kau tidak bisa dibeli," Liam merendahkan suaranya, hampir memohon. "Tapi aku tahu kau punya rasa hormat pada keluarga ini. Ayahku dulu yang membantumu mendapatkan beasiswa ke luar negeri saat keluargamu jatuh. Aku memintanya sebagai saudara, Morgan. Selamatkan masa depan Liana sebelum bajingan itu menghamilinya dan menghancurkan hidupnya selamanya."

Mendengar nama mendiang ayah Liam, rahang Morgan mengeras. Itu adalah titik lemahnya. Morgan Bruggman adalah pria yang sangat memegang teguh hutang budi dan integritas.

"Kau punya drafnya?" tanya Morgan dingin.

Liam segera mengeluarkan sebuah map cokelat dari tasnya dan meletakkannya di meja kerja Morgan dengan tangan gemetar. "Sudah aku siapkan. Poin-poinnya jelas. Rahasia total. Tidak ada yang boleh tahu di kampus maupun di publik. Lima tahun. Jika dia menolak atau melanggar aturan rumah tangga, aku akan memotong seluruh fasilitasnya."

Morgan membuka map tersebut. Ia membaca setiap baris dengan ketelitian seorang profesor. Matanya berhenti pada poin: 'Pihak Pertama (Morgan Bruggman) dilarang melakukan aktivitas intim dengan Pihak Kedua (Liana Shine) sampai Pihak Kedua mencapai usia 21 tahun.'

Morgan mendengus samar, sebuah reaksi langka. "Kau tidak perlu khawatir soal poin itu, Liam. Aku tidak tertarik pada gadis kecil yang masih berbau alkohol dan asap rokok."

"Jadi ... kau setuju?" tanya Liam penuh harap.

Morgan merapikan tumpukan kertas di mejanya hingga presisi, seolah-olah aktivitas itu membantunya menata keputusannya yang paling tidak logis tahun ini. "Aku akan melakukannya. Bukan untuk sahammu, tapi untuk menghormati mendiang ayahmu. Tapi ingat satu hal, Liam ..."

Morgan melangkah mendekati Liam, aura dominasinya memenuhi ruangan. "Begitu dia menandatangani ini dan pindah ke rumahku, dia berada di bawah aturanku. Aku tidak akan mentoleransi drama, aku tidak akan mentoleransi keterlambatan, dan aku tidak akan mentoleransi pemberontakan. Kau tidak boleh ikut campur saat aku mendidiknya."

Liam mengangguk cepat, merasa sebuah beban berat terangkat dari pundaknya. "Aku janji. Aku menyerahkannya padamu sepenuhnya."

Morgan kembali mengenakan kacamatanya, wajahnya kembali menjadi topeng es yang misterius. "Bawa dia menemuiku besok sore. Di rumahmu. Pastikan dia tidak tahu apa yang menantinya."

Liam meninggalkan kantor Morgan dengan perasaan campur aduk antara lega dan bersalah. Sementara itu, Morgan kembali duduk di kursinya, menatap draf kontrak pernikahan itu. Ia mengambil pulpennya dan menuliskan namanya dengan garis yang tegas di kolom saksi sementara.

"Liana Shine," gumamnya pelan, suaranya sedingin angin musim dingin. "Mari kita lihat seberapa keras kepalamu saat berhadapan dengan kenyataan."

Di saat yang sama, di sebuah kafe remang-remang, Liana sedang tertawa bersama Derby, sama sekali tidak menyadari bahwa kebebasan yang ia agung-agungkan baru saja dijual oleh kakaknya sendiri kepada pria yang paling ia benci: dosennya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!