NovelToon NovelToon
The Adgof

The Adgof

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Romantis / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Setelah kecelakaan tragis empat tahun lalu, Lyodra Taylor terbangun dari koma panjang di Chicago dalam keadaan amnesia total. Keluarganya, yang menyimpan dendam dan mengira kecelakaan itu adalah sabotase bisnis, memilih memalsukan kematian Lyodra dan menghapus seluruh masa lalunya—termasuk rahasia bahwa ia sempat hamil dan keguguran saat kecelakaan terjadi.
Di sisi lain, Archello Dominic, sang kekasih yang hancur karena mengira Lyodra telah tiada, berubah menjadi pria yang dingin dan menutup diri. Di bawah tekanan ibunya, Archello terpaksa bertunangan dengan Oliver Bernardo, seorang gadis baik hati yang tidak tahu apa-apa tentang konspirasi besar di balik perjodohan mereka.
Tanpa mereka sadari, kecelakaan itu sebenarnya adalah skenario manipulatif kakek Oliver demi ambisi bisnis keluarga. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang membeku dan kebohongan yang rapi tersusun, Archello mulai berjuang antara kesetiaannya pada memori Lyodra atau membuka hati bagi ketulusan Oliver.

🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#11

Lampu-lampu pameran otomotif Chicago masih berpijar terang, namun bagi Archello, dunia seolah kehilangan warnanya tepat setelah bibirnya menyentuh bibir Oliver.

Di tengah hiruk-pikuk kerumunan, Oliver Bernardo masih mematung, seolah jiwanya baru saja melayang ke langit ketujuh. Matanya berbinar, memancarkan kebahagiaan murni yang selama lima bulan ini hanya ia impikan.

Oliver melingkarkan tangannya erat di pinggang Archello, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. "Terima kasih... terima kasih untuk ciuman ini, Archello," bisiknya dengan suara bergetar karena emosi. "Ini adalah hadiah terindah yang pernah kau berikan padaku."

Archello menarik napas panjang, aroma parfum Oliver memenuhi indranya, namun pikirannya justru melayang pada aroma lili yang dulu selalu melekat pada Lyodra. Ia mengelus rambut Oliver dengan kaku, mencoba menenangkan debar jantungnya sendiri yang bukan karena cinta, melainkan karena gejolak rasa bersalah.

"Aku sudah katakan, Oliver," suara Archello terdengar rendah, hampir seperti gumaman pada dirinya sendiri. "Aku akan berusaha mencintaimu. Aku akan menepati janjiku."

Archello melepaskan pelukan itu perlahan. Secara insting, ia mengalihkan pandangannya ke arah kerumunan, lalu jauh ke arah koridor menuju tempat parkir.

Ada sebuah perasaan aneh yang menggelitik tengkuknya—sebuah rasa seolah-olah ada mata yang menatapnya dengan penuh luka. Ia menyisir kerumunan, mencari sesuatu yang tidak mungkin ada di sana. Untuk sesaat, ia merasa melihat bayangan seorang gadis dengan rambut panjang yang berlari menjauh, namun bayangan itu segera hilang di antara desakan orang-orang.

"Ada apa, Archello?" tanya Oliver menyadari kegelisahan tunangannya.

Archello menggeleng, mencoba mengusir firasat buruknya. "Tidak ada apa-apa. Hanya... udara di sini mulai terasa menyesakkan. Ayo kita pulang, Oliver."

"Ya, baiklah. Ayo," jawab Oliver dengan riang, tangannya tak lepas menggenggam jemari Archello seolah takut pria itu akan berubah pikiran.

Sepanjang perjalanan pulang menuju kediaman ayah Oliver di Chicago, suasana di dalam mobil mewah itu sangat kontras. Oliver duduk di kursi penumpang dengan wajah yang tak henti-hentinya dihiasi senyuman. Ia sesekali melirik Archello yang sedang fokus mengemudi, lalu menatap keluar jendela ke arah lampu-lampu kota yang seolah ikut merayakan kemenangannya.

Bagi Oliver, ciuman tadi adalah segalanya. Itu adalah deklarasi bahwa Archello siap membuka gerbang hatinya yang selama ini terkunci rapat. Ia merasa bahwa usahanya selama ini, kesabarannya menghadapi kedinginan Archello, akhirnya membuahkan hasil. Ia mulai membayangkan pernikahan mereka dua bulan lagi, membayangkan masa depan di mana ia benar-benar menjadi satu-satunya wanita di hidup Archello.

Namun, di sisi lain kemudi, Archello Dominic sedang berada di dalam neraka pribadinya sendiri.

Tangan Archello mencengkeram kemudi dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan.

Di dalam kepalanya, suara tawa Lyodra bergema, menghujam kesadarannya dengan kejam. Ia merasa seperti seorang pengkhianat yang paling rendah.

Apa yang baru saja kulakukan? batinnya berteriak.

Ia telah membalas ciuman Oliver. Sebuah tindakan yang selama empat tahun ini ia anggap sebagai tindakan terlarang.

Baginya, bibirnya, sentuhannya, dan sisa-sisa hatinya adalah hak milik Lyodra Taylor—wanita yang ia percaya telah tewas demi membawa buah cinta mereka ke liang lahat. Dengan membalas ciuman Oliver, Archello merasa seolah-olah ia baru saja mengkhianati janji suci yang pernah ia bisikkan di apartemen mereka dulu.

Maafkan aku, sayang... Maafkan aku, Lyodra...

Rasa sesak itu naik ke tenggorokan. Archello mencoba menahan emosinya, namun pertahanannya runtuh. Tanpa bisa dicegah, setetes air mata jatuh dari sudut mata kanannya, mengalir pelan melewati pipinya yang tegas. Itu adalah tetesan air mata duka yang murni, sebuah permohonan ampun pada masa lalu.

Dengan gerakan cepat yang hampir tidak terlihat, Archello menghapus air mata itu dengan punggung tangannya. Ia tidak ingin Oliver melihatnya. Ia harus tetap terlihat kuat, ia harus tetap menjadi pria yang "berusaha mencintai" tunangannya. Ia kembali memasang wajah dingin dan fokus pada jalanan Chicago yang mulai sepi.

Sesampainya di mansion ayah Oliver, Archello langsung pamit menuju kamarnya dengan alasan kelelahan. Oliver yang masih diliputi kebahagiaan hanya mengangguk dan memberikan kecupan ringan di pipi Archello sebelum pria itu menghilang di balik pintu.

Begitu pintu kamar tertutup, Archello tidak langsung mengganti pakaiannya. Ia menyandarkan punggungnya di pintu, lalu perlahan merosot hingga terduduk di lantai yang dingin. Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang menembus celah gorden.

Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bayangan Lyodra yang tersenyum saat mereka pertama kali berciuman di bawah guyuran hujan SMA kembali muncul. Rasa hangat bibir Lyodra adalah satu-satunya memori yang ia jaga agar tidak pudar, namun malam ini, ia telah membiarkan rasa itu tercampur dengan orang lain.

"Aku menjanjikan hidupku padanya, Ly," bisik Archello parau ke arah kegelapan. "Tapi kenapa rasanya seperti aku sedang membunuhmu untuk kedua kalinya?"

Rasa bersalah itu begitu besar hingga fisiknya terasa sakit. Kepalanya berdenyut hebat. Ia merasa kotor, merasa bahwa ketulusan Oliver justru menjadi cambuk yang menyakitkan baginya. Ia ingin membenci Oliver agar rasa bersalahnya berkurang, namun ia tidak bisa karena gadis itu terlalu baik.

Akhirnya, dengan tubuh yang masih dibalut pakaian lengkap, Archello merangkak naik ke atas tempat tidur. Ia tidak menyelimuti dirinya. Ia hanya ingin memejamkan mata dan berharap saat ia bangun, beban di dadanya sedikit berkurang. Namun, saat ia mulai terlelap dalam tidur yang gelisah, satu-satunya hal yang ia bawa adalah bayangan Lyodra yang menangis—sebuah proyeksi dari rasa bersalahnya yang tidak tahu bahwa di sudut lain kota Chicago, Lyodra memang benar-benar sedang menangis karena dirinya.

Di rumah keluarga Taylor, suasananya jauh lebih hancur. Lyodra sudah berada di kamarnya, namun ia menolak untuk menyalakan lampu. Ia meringkuk di atas tempat tidur, memeluk kakinya erat-erat. Isakannya tidak lagi tertahan.

Ingatan yang kembali secara mendadak itu seperti air bah yang menghancurkan segala pertahanannya. Ia ingat semuanya. Ia ingat malam saat ia tahu dirinya hamil. Ia ingat betapa bahagianya ia saat mengemudi menuju apartemen Archello untuk memberikan kabar itu. Ia ingat kilatan lampu truk dan suara benturan yang menghancurkan dunianya.

"Kau menghianati kita, Ello..." isak Lyodra, suaranya teredam oleh bantal. "Kau berjanji tidak akan ada orang lain... Kau berjanji akan membangun rumah untuk anak kita..."

Lyodra menyentuh perutnya, air matanya semakin deras. Baginya, Archello yang ia lihat di pameran tadi bukanlah pria yang dulu ia cintai. Pria itu sudah milik orang lain. Pria itu sudah memberikan sentuhan yang dulu hanya miliknya kepada gadis lain.

Ia merasa sangat bodoh. Ia merasa sangat malang karena harus bangun dari koma hanya untuk melihat pria yang paling ia cintai sedang merayakan hidupnya di atas pusara cintanya.

"Aku harus pergi, Ed," bisik Lyodra di tengah tangisnya, meski Edric tidak ada di sana.

"Aku tidak bisa di sini. Aku tidak bisa berada di kota yang sama dengannya. Jika bagi dia aku sudah mati, maka biarlah aku tetap mati. Aku tidak akan membiarkan dia tahu bahwa aku masih hidup dan menderita."

Malam itu, Chicago menjadi saksi dari dua jiwa yang sama-sama hancur. Yang satu tertidur dengan rasa bersalah karena mencoba untuk maju, dan yang satu terjaga dengan rasa sakit karena baru saja ditarik kembali ke masa lalu yang paling menyakitkan.

Archello tidur dalam kegelapan mansion, sementara Lyodra meratapi nasibnya di bawah selimut, keduanya sama-sama tidak tahu bahwa jarak di antara mereka kini hanya hitungan beberapa kilometer, namun jurang kebohongan keluarga telah membuat jarak itu terasa ribuan tahun cahaya.

🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Meris
suka dgn karakter Alexander Dominic
ros 🍂: Ma'aciww sudah mampir kak🥰
total 1 replies
Meris
Suka dgn ketegasan Ello...sbg suami yg bertanggungjawab.
winpar
gmna yh pertemuan mreka????
winpar
smkin seru thor 🥰😍
ros 🍂: Ma'aciww kak🥰
total 1 replies
winpar
ceritanya selalu aj bgus 🥰😍
ros 🍂: ma'aciww kak🫶🥰
total 1 replies
winpar
seru🥰😍
winpar
kk cerita ini msih lnjut kn kk????
ros 🍂: masih kak🙏
total 1 replies
winpar
smga cinta elo dan lyodra kuat mnghdpi neneknya yg jhat
Amy Chacha
sangat suka dengan alur ceritanya gk bertele2 dan kasian lyodra thor pertemukan dengan ello thor kasian lyodra thor
ros 🍂: Sabar kak ini ujian 🤭🥰
total 1 replies
Amy Chacha
lanjut lagi thor up yang banyak
Amy Chacha
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!