Vera merantau ke kota dan bisa di katakan bawa dia jarang pulang ke rumah karena memiliki hubungan yang tidak baik dengan Pak Darto Ayah kandung dia sendiri, namun kali ini Dia terpaksa harus pulang ketika mendengar kabar bahwa Bu Elma telah meninggal dunia.
semula Vera menganggap bahwa kematian Bu Elma adalah kematian yang biasa, namun beberapa malam saja dia tinggal di rumah itu malah menemukan keanehan yang tidak biasa.
benarkah Bu Elma meninggal karena sesuatu yang tak kasat mata?
mampukah Vera untuk mengungkap masalah tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Kena tendang
"Rum, bisa dengar suara Kakak?" Dina mendekati sang adik yang terbaring lemas dan belum bisa membuka mata.
"Kakak." Arum cepat meraba tangan Dina karena dia ketakutan.
"Tangan dia masih sangat panas, Ra." Dina menoleh pada Kiara.
"Kan tadi Mama ku sudah bilang kalau racun itu sudah menyebar, Arum harus di rawat dulu sampai beberapa waktu." jawab Kiara.
"Ya Allah panas nya sampai begini, apa tidak sebaiknya kerumah sakit juga?" Dina panik sehingga apa saja terpikirkan oleh dia.
"Dari awal bila kau memang ragu untuk mendatangi rumah ini maka tidak usah pernah datang dan langsung saja menuju rumah sakit!" Kiara berkata dengan nada sengit.
"Kau Kenapa sangat kekeh ingin datang ke rumah sakit?" Vera menatap Dina yang memiliki pikiran tersendiri.
"Ya aku hanya cemas saja karena ini kita juga tidak bisa melihat siapa yang mengobati Arum, malah sekarang panas yang ada di tubuh dia tak kunjung turun." jelas Dina hati hati.
Kiara menarik nafas panjang karena memang mungkin Dina merasa ragu setelah tidak melihat ada dokter di ruangan ini atau bahkan ada orang yang sedang mengobati keadaan Arum sehingga pantas saja bila dia merasa ragu dan ingin membawanya untuk pergi dari ruangan ini, padahal bila dia bisa melihat maka dapat menyaksikan bahwa Gun yang sedang berusaha keras untuk menyembuhkan Arum.
Namun Dina tidak memiliki mata batin sehingga pantas saja bila dia tidak bisa melihat keberadaan Gun atau member lain yang ada di dalam ruangan ini sehingga pantas saja saat dia merasa ragu dan kemudian ingin mencari dokter yang tepat, Vera sudah merasa mulai kesal karena dia yakin dengan Kiara dan Dina justru ragu.
Walau tidak langsung turun namun setidaknya saat ini Arum sudah tidak melantur lagi dan pandangan ketika dia melihat Mayang dan Elma di dalam kolam darah itu sudah menghilang dari mata dia, jadi setidaknya sudah ada perubahan di dalam tubuh Arum itu walau tidak secara langsung.
Kiara agak kesal dengan Dina yang tidak tahu tentang masalah itu tapi malah memiliki pendapat sendiri dan ingin membawa Arum pergi dari rumah Purnama saat ini juga, padahal tadi sudah jelas di peringatkan oleh Purnama agar Arum tidak perlu di bawa pulang atau keluar dari rumah ini.
Kadang yang membuat kesal ketika menolong orang memang hal seperti ini, sudah jelas di beri peringatan tapi malah keras kepala dan kekeh ingin membawa sang Adik pulang karena rasa tidak percaya di dalam diri ketika pengobatan orang lain yang menurut dia tidak seberapa paten akibat mata yang tidak bisa melihat secara langsung.
Ini untung tidak didengar langsung oleh Purnama Karena bila sampai Ratu ular itu mendengar maka pasti dia akan mengamuk dan mengatakan agar Dina segera keluar dari rumah ini membawa Arum, Kiara masih bisa mengontrol emosi walau kadang dia juga seperti Purnama saat sudah berbicara dengan orang lain.
Namun setidaknya dia masih berusaha membujuk dan mengatakan kepada Dina bahwa Arum akan celaka ketika dia keluar dari dalam rumah ini, terlebih lagi ketika nanti Arum kembali ke rumah Darto maka dapat di pastikan bahwa gadis kecil itu akan mengalami beberapa masalah hidup tentang hal gaib juga di sana.
"Kau bila ingin pulang silahkan saja, aku yang akan menunggu Arum di sini." tegas Vera.
"Aku juga tidak mau pulang, aku mau di sini saja." Arum menggeleng kan kepala.
"Dengarkan telinga mu, Arum sendiri merasa nyaman di sini." kesal Kiara.
"Ya aku cuma merasa takut saja, bila memang semakin parah maka lebih baik kerumah sakit." lirih Dina.
Buaaaaaak.
"Heh!" Vera kaget bukan main karena tendangan maut mengarah pada punggung Dina sehingga gadis itu terjungkal.
"Aku sudah berusaha sabar dari tadi, kalau sampai Mama ku tau maka kau akan kena banting!" geram Kiara usai menendang punggung Dina.
"Din bangun, maka nya kau jangan ngeyel lah." Vera cepat membantu sang adik.
"Gila kau ini, main tendang saja seperti itu!" Nana menarik Kiara yang sudah terlanjur emosi.
"Sejak tadi dia terus saja ngeyel, kalau Mama sampai dengar maka dia pasti akan marah juga sama Dina!" Kiara memang mudah tersulut emosi sekarang.
Nana hanya bisa memutar bola mata malas karena dia juga mengetahui bahwa Kiara dan Purnama ini memiliki sifat yang sama, padahal memang sejak tadi Nana juga sudah terlanjur emosi karena Dina terus saja keras kepala dan ingin membawa Arum keluar dari rumah ini akibat rasa tidak percaya di dalam diri dia.
Hingga akhirnya sekarang mau tidak mau dia justru terkena tendangan maut dari Kiara sehingga punggung gadis itu terasa seakan mau patah, untung yang kena tendang masih bagian punggung dan bila itu bagian depan maka dapat dipastikan Dina akan segera pingsan karena tidak sanggup menahan serangan yang begitu mendadak dari anak ratu ular satu ini.
Vera sendiri sama sekali tidak menyangka bahwa Kiara memang akan mengambil tindakan seperti itu setelah lama berdebat dengan mereka tadi, mungkin benar apa yang dikatakan oleh Dina bahwa Kiara ini agak angkuh dan bila sudah tidak menyukai percakapan maka dia akan mengambil tindakan sendiri seperti tadi.
"Ayo bangun dulu." ajak Vera lembut kepada sang adik.
"Aku tidak mau pulang, aku takut dia akan datang lagi." Arum sudah mulai merintih.
"Tidak, kau tidak akan pulang kerumah itu lagi ya." Kiara datang mendekati Arum.
"Kamu pasti orang baik yang menolong aku, terima kasih ya." Arum tetap aja berbicara walau mata dia tidak terbuka sama sekali.
"Iya, kamu harus tetap semangat agar bisa sembuh seperti sedia kala." Kiara berkata dengan lembut.
"Eh apa ini gadis cantik yang bersama dengan tabib agak ngondek tadi?" tanya Arum karena dia mengira bahwa Kiara adalah Sukma.
"Bangsat, dia bilang pula aku ngondek!" Gun tidak terima.
"Udah enggak apa apa, biar pun kamu ngondek tapi aku tetap cinta." Sukma menahan Gun.
"Jangan bicara seperti itu, nama tabib itu adalah Gun! dia orang yang menyelamatkan mu dari racun setan." nasihat Kiara.
"Nanti bila aku bertemu lagi dengan dia maka aku akan mengucapkan terima kasih." sahut Arum.
Padahal sekarang Gun sudah membuang muka karena dia kesal di katakan ngondek oleh Arum tadi, padahal memang benar bahwa Gun sedikit ngondek dan dia tidak macho seperti para member lainnya yang ada di agensi ini, tapi ini sudah lebih baik karena dulu jauh lebih parah dan dia memang menyukai laki-laki tapi sekarang sudah insaf dan jatuh cinta kepada Sukma.
Selamat siang besti, sudah kalian beberes rumah untuk lebaran kita?
😍
keangkuhan mu ga seberapa ver di banding rombongan ratu ular👻🥰👍