Arka Wijaya pernah diburu seluruh pendekar di Benua Arcapura demi Permata Racun Nirwana. Terpojok di Tebing Langit Senja, ia menelan artefak itu dan melompat ke jurang kematian.
Semua orang mengira ia telah mati.
Namun Arka bangkit kembali—di tubuh seorang pemuda lumpuh dari Klan Wijaya, yang bahkan tak mampu mengolah tenaga batin.
Dihina, diremehkan, dan dianggap sampah oleh dunia pendekar, tak seorang pun menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh rapuh itu adalah legenda yang pernah mengguncang Arcapura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Suara Arka terdengar di dekat telinganya, namun terdengar sangat serak dan lemah. Ratna tersadar dan menoleh ke arahnya. Arka tampak bersandar lemah pada sandaran tempat tidur. Dahi dan pakaiannya telah basah oleh keringat, sementara wajahnya pucat mengerikan, seolah baru saja lolos dari sakit parah.
Mengingat bahwa setiap jarum disertai pengerahan kekuatan tenaga dalam, tiba-tiba muncul rasa perih di hati Ratna… rasa yang menyerupai tusukan halus. Perasaan ini membuat pikirannya kacau, karena seharusnya ia tidak memiliki rasa pedih semacam ini terhadap seseorang yang hanya terikat dengannya melalui status pernikahan.
“Aku percaya… Aku percaya bahwa kau benar-benar seorang tabib ajaib.” Ratna menatapnya dengan perasaan yang rumit.
“Tak kusangka, dirimu yang selama ini diremehkan semua orang di Kota Tirta Awan justru memiliki kemampuan yang begitu mencengangkan… Namun, kau jelas tahu bahwa aku tidak memiliki perasaan apa pun padamu. Sebulan lagi, aku tetap akan meninggalkanmu untuk selamanya… Lalu mengapa kau memperlihatkan semua ini padaku? Mengapa kau memberiku kebaikan sebesar ini dan… bersusah payah demi diriku?”
Kebaikan… ini benar-benar kebaikan yang tak terbandingkan besarnya.
“Tiga alasan.” Arka terengah-engah, napasnya berat, namun tetap tersenyum lebar.
“Hampir semua orang memandang rendah diriku, dan kau bahkan punya lebih banyak alasan untuk melakukan hal yang sama. Namun kau tidak melakukannya, malah selalu berusaha melindungi harga diriku semampumu… Tadi malam, kau keluar mencariku karena khawatir, dan diam-diam membawakanku selimut… Siapa pun yang memperlakukanku dengan baik, akan kuperlakukan jauh lebih baik lagi seumur hidupku!”
Ratna: “…”
“Alasan kedua… bagaimanapun juga, kau adalah istriku.”
Mulut Ratna terbuka beberapa kali, namun ia tak menemukan kata-kata yang tepat.
“Alasan ketiga, dan juga yang paling penting…” Senyum di wajah Arka menjadi samar.
“Aku pikir, penampilanmu setelah menanggalkan pakaian pasti akan sangat indah untuk dilihat.”
“…” Setiap kali Arka bersikap lancang, Ratna biasanya akan menanggapinya dengan dingin. Namun kali ini, melihat senyum usil di wajahnya yang pucat, ia tak mampu merasa marah.
“Penjelasanku sudah selesai. Ratna, istriku, tolong tuangkan obat di dalam pot itu dan minumlah.”
Ratna menatapnya dalam-dalam, lalu berjalan mendekat tanpa bertanya obat apa itu. Ia menuangkan ramuan tersebut dan meneguknya dalam satu kali minum.
“Ini adalah pengobatan pertama. Jika kau ingin mempertahankan kondisi ini selamanya, kau memerlukan total tujuh kali ‘pengobatan’. Waktu terbaik adalah pukul tiga dini hari, karena pada saat itulah energi yin paling kuat. Keputusan ada padamu.”
Setelah mengatakan semua itu, Arka memejamkan mata karena kelelahan. Ini jelas bukan sandiwara—kekuatan fisiknya benar-benar telah terkuras parah.
“Beristirahatlah dengan baik.” Tatapan Ratna menjadi semakin rumit. Setelah mengucapkannya pelan, ia melangkah keluar dan menutup pintu tanpa suara.
Setelah Ratna pergi, tubuh Arka pun benar-benar terkulai miring di atas tempat tidur. Ia terbaring tanpa ingin bergerak sedikit pun, mulutnya sesekali menggumam tak jelas.
“Huhu… stamina tubuhku sekarang terlalu buruk. Hanya dengan membuka gerbang tenaga dalam saja aku hampir ambruk karena kelelahan…”
“Kalau Guru tahu aku benar-benar menyuruh orang lain menanggalkan pakaiannya, mungkin beliau akan turun dari surga untuk memberiku pelajaran… Lagipula… pada usia tiga belas tahun aku sudah bisa melakukan akupunktur tanpa membuka pakaian… dan pada usia lima belas tahun bahkan bisa melakukannya dengan mata tertutup.
...
Sejak menerima surat dari Perguruan Wijaya, seluruh Keluarga Wijaya tenggelam dalam suasana yang sama sekali berbeda. Jati Wijaya dan para tetua menjalankan tugas harian mereka dengan penuh kesungguhan. Dari pagi hingga malam, mereka bersiap menyambut kedatangan utusan perguruan. Generasi muda pun berlatih semakin keras. Mereka semua bermimpi dapat membuat terobosan demi meningkatkan peluang dibawa ke Perguruan Wijaya…
Namun semua itu jelas tidak ada hubungannya dengan Arka. Ia bisa dibilang sebagai orang paling santai di seluruh Keluarga Wijaya.
Hari ini, di gunung belakang Keluarga Wijaya.
Tempat ini adalah area pemakaman yang dibuka di pegunungan belakang oleh Keluarga Wijaya. Nata Wijaya berdiri diam di depan sebuah batu nisan. Rambut putihnya berkibar bebas tertiup angin. Suasana di sekitarnya sunyi dan gersang.
Pada batu nisan itu terukir sebuah nama: Yasa Wijaya.
“…Yasa, sejak kecil kau selalu bermimpi memenuhi harapan leluhur dan kembali ke Perguruan Wijaya. Membersihkan darah kita yang terbuang ini. Kini, kesempatan itu akhirnya datang… hanya saja, terlambat enam belas tahun penuh.”
Sorot mata Nata Wijaya tampak berkabut. Ia berdiri kaku, bibirnya bergumam lirih tanpa sadar…
“Aku tahu, meski sudah bertahun-tahun berlalu, kau masih menyimpan banyak kekhawatiran… Pembuluh tenaga dalam Arka telah cacat sejak kecil… Tidak apa-apa. Kini Arka sudah menikah. Aku hanya berharap ia bisa hidup dengan damai selamanya… Meski ia bukan anak kandungmu, tetap saja dialah yang kalian lindungi dengan seluruh hidup kalian, bahkan dengan nyawa anak kalian sendiri. Aku juga akan melindungi kedamaiannya semampuku…”
Krak.
Suara patahan pelan terdengar di telinga Nata Wijaya. Ia segera tersadar dan menoleh sambil berseru pelan, “Siapa?”
Seiring dengan teriakannya, sosok Sandi muncul dari balik sebuah pohon besar. Ia menatap Nata Wijaya sejenak, lalu melangkah maju dan memberi hormat.
“Sandi memberi salam kepada Tetua Kelima… Aku tidak menyangka Tetua Kelima berada di sini. Apakah saya telah mengganggu?”
Sorot mata Nata Wijaya menunjukkan keguncangan batin. Ia tidak tahu apakah Sandi telah mendengar rahasia barusan.
“Sandi, apa yang kau lakukan di sini?”
Sandi segera menjawab bahwa ayahnya, Jati Wijaya, menyuruhnya datang untuk memberi tahu mendiang kakek tentang kedatangan utusan Perguruan Wijaya besok.
“Lalu, apakah kau mendengar apa yang baru saja kukatakan?” Suara Nata Wijaya tiba-tiba menjadi dingin. Aura tenaga dalam yang kuat terpancar. Kekuatan seseorang di puncak Alam Sejati jelas bukan sesuatu yang bisa ditahan Sandi dengan mudah.
Wajahnya langsung pucat, dan ia segera menggeleng, mengaku baru saja tiba. Nata Wijaya akhirnya mengendurkan auranya.
“Lupakan saja, tidak ada apa-apa. Utusan Perguruan Wijaya akan tiba besok. Kau adalah yang paling berpeluang terpilih.”
Nata Wijaya pun berbalik meninggalkan tempat itu. Setelah ia pergi, ekspresi Sandi perlahan berubah licik. Ia mengusap dagunya dan bergumam sambil mengernyitkan dahi,
“Jangan-jangan… jika ini benar, maka ini akan menjadi sangat menarik…”