Raka Adiyaksa adalah definisi nyata dari "Sobat Misqueen". Mahasiswa biasa yang rela makan mie instan diremas setiap akhir bulan demi menabung untuk gebetannya, Tiara. Namun, pengorbanannya dibalas dengan pengkhianatan. Di malam konser yang seharusnya menjadi momen pernyataan cintanya, Raka justru melihat Tiara turun dari mobil mewah milik Kevin, anak orang kaya yang sombong, sementara Raka ditinggalkan sendirian di trotoar GBK dengan dua tiket yang hangus.
Di titik terendah hidupnya, saat harga dirinya diinjak-injak, sebuah suara mekanis berbunyi di kepalanya.
[DING! Sistem Sultan Gacha Tanpa Batas Telah Diaktifkan!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Ferrari 812 dan Tantangan Sang Maestro
|Depan Stand BEM - Universitas Mulia|
Sambil mengisi formulir pendaftaran dengan pulpen pinjaman Bella, pandangan Raka terhalang oleh panel holografik sistem yang tiba-tiba meledak dengan cahaya keemasan.
Hadiah dari misi "Penguasa Kampus" telah cair.
[GACHA DIMULAI!]
Roda rolet berputar gila-gilaan di retina Raka.
[TING! TING! TING!]
Rentetan hadiah bermunculan:
-[Uang Tunai: Rp 10.000.000]
-[Uang Tunai: Rp 10.000.000]
-[SKILL UPGRADE: "Deteksi Bidadari" -> "MATA KEBENARAN (True Eye)"!] (Mampu melihat data statistik lengkap, rahasia tersembunyi, dan tingkat kejujuran seseorang)
-[SKILL UTAMA: "God of Music" (Master Semua Alat Musik)!] (Penguasaan mutlak atas piano, biola, gitar, dan instrumen lainnya setara Grand Maestro)
-[Uang Tunai: Rp 10.000.000]
-[SKILL TEMPUR: "Ancient Martial Arts: Pencak Silat (Grandmaster)"!] (Peningkatan dari MMA dasar. Teknik mematikan jarak dekat.) "bingung sih, mau pencak silat atau Wingchun penulis seneng sama IP-Man. Kalo pencak silat nanti jurusnya Harimau Turun gunung, Tapak sakti, Tendangan seribu bayangan. Galauu..."
-[Item Virtual: 1.000.000 Koin PandaLive!]
-[GRAND PRIZE: Kendaraan "Ferrari 812 Superfast" (Warna: Giallo Modena / Kuning)!]
-[Item Virtual: 1.000.000 Koin PandaLive!]
-[Item Virtual: 1.000.000 Koin PandaLive!]
Jantung Raka berdegup kencang. Ferrari 812 Superfast. Mobil dengan mesin V12 Naturally Aspirated yang legendaris. Harganya di Indonesia? Mungkin tembus 14 Miliar Rupiah. Lebih mahal dan lebih buas daripada McLaren 720S-nya.
"Gila..." batin Raka. "Garasi gue mulai penuh."
Tapi yang lebih menarik perhatiannya adalah dua skill baru: [Mata Kebenaran] dan [God of Music].
Tiba-tiba, sebuah sensasi hangat mengalir ke seluruh tubuhnya. Informasi tentang not balok, teknik jari, harmoni, dan ribuan partitur musik klasik membanjiri otaknya. Di saat yang sama, otot-ototnya terasa lebih padat, efek dari upgrade bela diri Bajiquan.
Raka merasa... berbeda. Lebih tajam. Lebih peka.
"Raka? Udah ngisinya?" suara Bella membuyarkan lamunan Raka.
Raka tersadar. Dia menyerahkan formulir itu kembali ke Bella. "Udah, Kak. Simpel kan?"
Namun, suasana di sekitar mereka sudah berubah drastis.
Jika tadi tatapan para mahasiswa adalah kagum dan iri, kini tatapan itu berubah menjadi sinis dan bermusuhan.
Berita tentang Raka yang masuk BEM lewat "Jalur Orang Dalem" (Nepotisme) menyebar secepat kilat.
Para calon pendaftar lain yang sudah antre berjam-jam, membawa portofolio, dan latihan wawancara, merasa dikhianati.
"Eh, liat deh. Itu si Maba yang bawa McLaren." "Katanya dia langsung diterima masuk Divisi Seni tanpa audisi?" "Sumpah? Parah banget anjir! Gue aja ditolak tahun lalu padahal gue bisa main gitar!" "Mentang-mentang kaya, semua bisa dibeli. Jabatan BEM juga dibeli." "Kak Bella juga parah, masa karena cowoknya ganteng langsung dilos-in?"
Bisik-bisik itu semakin keras, berubah menjadi hate speech terbuka.
Seorang mahasiswa cowok berkacamata, mungkin semester 3 yang gagal seleksi tahun lalu, memberanikan diri maju. Wajahnya merah menahan marah.
"Kak Bella!" seru cowok itu lantang. "Interupsi! Pendaftaran udah tutup belum? Kok dia bisa langsung masuk tanpa tes?"
Bella terdiam. Wajah cantiknya terlihat canggung. Dia tahu dia salah secara prosedur, tapi dia Ketua Divisi, dia punya hak veto. Tapi dihakimi massa begini tetap saja tidak enak.
"Ehm... Dia..." Bella mencoba mencari alasan.
"Dia punya bakat khusus!" potong Bella, meski terdengar tidak meyakinkan.
"Bakat apa?!" timpal mahasiswa lain. "Bakat pamer mobil? Bakat tebar pesona?"
"Ini nggak adil woy! Bubarin aja BEM kalau isinya titipan semua!" "Blacklist! Viralin!" "Ordal! Ordal!"
Suasana memanas. Raka kini menjadi Public Enemy nomor satu. Puluhan mahasiswa menunjuk-nunjuk ke arahnya. Mereka menggunakan isu "keadilan sosial" untuk melampiaskan rasa iri mereka terhadap kekayaan Raka.
Bella menggigit bibir bawahnya, bingung harus berbuat apa. Dia ingin membela Raka, tapi kalau dia salah ngomong, reputasinya sebagai Primadona Kampus bisa hancur.
Para wakil ketua divisi lain di stand BEM juga menunduk, tidak berani menatap massa.
Raka, yang sedari tadi diam mendengarkan, akhirnya mengangkat wajahnya. Dia menatap kerumunan yang marah itu.
Bukannya takut, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyum miring yang meremehkan.
"Kalian bilang ini curang? Nepotisme?" tanya Raka, suaranya tenang tapi terdengar jelas di tengah keriuhan.
"Kalian tau dari mana kalau gue nggak punya bakat?"
Pertanyaan itu membuat hening sejenak.
Si mahasiswa berkacamata maju lagi. "Buktiin dong! Lo tadi cuma ngisi formulir terus ketawa-ketiwi sama Kak Bella! Lo nggak ada tes main alat musik, nggak ada tes nyanyi! Apa buktinya lo pantes masuk Divisi Seni?!"
"Bener tuh!" "Palingan modal tampang doang!" "Orang kaya taunya cuma gesek kartu, mana ngerti seni!"
Caci maki kembali terdengar. Raka dituduh sebagai "Sultan Kosong".
Bella menyentuh lengan Raka pelan, khawatir. "Raka... udah, kita pergi aja yuk. Nggak usah diladenin. Nanti Kakak yang urus mereka."
Raka menepis tangan Bella dengan lembut. Dia menatap Bella sekilas, memberikan tatapan yang menenangkan namun penuh otoritas.
"Nggak perlu, Kak. Kalau gue pergi sekarang, nama lo yang jelek. Dikira lo miara sampah," kata Raka.
Raka maju selangkah, berhadapan langsung dengan massa.
"Oke," ucap Raka lantang. Aura dominasinya menguar, membuat beberapa mahasiswa mundur selangkah.
"Kalian nggak terima gue masuk lewat jalur khusus? Kalian pikir gue nggak kompeten?"
Raka menunjuk ke arah panggung kecil di belakang stand Divisi Seni, tempat sebuah Grand Piano putih diletakkan untuk pajangan.
"Gimana kalau kita taruhan?" tantang Raka.
"Kalian cari orang terbaik di sini. Atau kalian sendiri yang maju. Kita adu skill."
"Kalau gue kalah, atau kalau permainan gue jelek... gue bakal mundur dari BEM, dan gue traktir kalian semua makan siang sepuasnya."
Kerumunan mulai tertarik. Makan gratis?
"Tapi..." Raka melanjutkan, tatapannya menajam setajam silet.
"Kalau gue main lebih bagus dari kalian... Kalau gue bisa buktiin gue pantes..."
"Tutup mulut kalian yang bau itu, dan minggir dari jalan gue. Paham?"
HENING.
Tantangan itu gila. Sombong. Arogan. Tapi sangat efektif.
"Oke! Siapa takut!" seru si mahasiswa berkacamata. "Gue anak Band kampus! Gue bakal buktiin lo cuma menang gaya!"
Raka tidak menjawab. Dia berjalan santai menuju panggung kecil itu.
Sambil berjalan, dia melepas jas Louis Vuitton dan kemeja luarnya, menyisakan kaos polos putih yang membalut tubuh atletisnya.
"Kak Bella, tolong pegangin," Raka melempar jas mahalnya ke arah Bella.
Bella menangkapnya dengan refleks. "Raka... kamu yakin? Kamu bisa main piano?"
Raka tidak menjawab. Dia hanya tersenyum misterius.
Dia menggulung lengan kaosnya sedikit, memperlihatkan otot lengan yang terbentuk sempurna.
Saat Raka duduk di bangku piano, atmosfer di sekitarnya tiba-tiba berubah.
Aura "Playboy Kaya" yang tadi melekat padanya menguap seketika. Digantikan oleh aura yang tenang, dalam, dan agung.
Raka menatap deretan tuts piano hitam putih di hadapannya. Sebelum hari ini, dia tidak pernah menyentuh piano seumur hidupnya. Dia hanya tahu Do-Re-Mi dari pelajaran seni musik SD.
Tapi sekarang... Jari-jemarinya terasa gatal. Otaknya memetakan setiap kunci. Dia tahu persis berapa tekanan yang dibutuhkan untuk menghasilkan nada F Sharp yang sempurna.
Skill [God of Music] aktif.
Raka mengangkat kedua tangannya, menggantung di atas tuts piano sejenak. Pose itu... pose seorang Maestro.
Seorang mahasiswi seni yang berdiri di barisan depan menahan napas. "Gila... auranya..." bisiknya. "Kayak liat pianis profesional di TV."
"Halah, paling gaya doang! Paling main Bintang Kecil!" cibir si mahasiswa berkacamata, meski hatinya mulai ragu.
Raka menutup matanya sejenak, menarik napas dalam. Lalu, dia menekan tuts pertama.
Ting...
Satu nada. Jernih. Bulat. Sempurna.
Dan detik berikutnya, jari-jari Raka mulai menari.
Bukan lagu pop cengeng. Bukan lagu viral TikTok. Raka memainkan "La Campanella" karya Franz Liszt. Salah satu lagu tersulit dalam sejarah piano.
Kecepatan tangannya tidak masuk akal. Nada-nada tinggi berdenting seperti lonceng gereja yang magis, susul-menyusul dalam tempo yang gila namun tetap harmonis.
Bella Anindya, yang juga seorang pianis, matanya terbelalak lebar. Mulutnya terbuka, tangannya menutup mulut tak percaya.
Dia tahu lagu itu. Dia pernah mencoba memainkannya dan gagal total karena jari-jarinya kram. Itu lagu level dewa.
Dan Raka... Raka memainkannya dengan mata terpejam, dengan ekspresi yang begitu menjiwai, seolah dia sedang bercinta dengan musik itu sendiri.
Aura yang dipancarkan Raka saat ini... Bella pernah melihatnya sekali. Saat dia menonton konser orkestra di Vienna Golden Hall (Musikverein) di Austria lewat YouTube.
Aura seorang Virtuoso. Seorang Maestro kelas dunia yang sedang turun ke dunia fana untuk memberi pelajaran pada manusia biasa.
Seluruh kampus terdiam. Tidak ada yang berani bernapas. Hanya ada suara denting piano yang menggila dan sosok Raka yang bersinar di tengah panggung.