Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.
Sejak saat itu, dunia Arga berubah.
Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.
Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.
Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Kidung di Balik Kabut Kematian
Lampu neon di dalam kabin kapal tua itu berkedip-kedip, seolah ikut sekarat bersama napas pria yang terbaring di atas ranjang besi. Bau karat, air garam, dan aroma logam yang menyengat dari merkuri yang membakar tubuh Arga menciptakan atmosfer yang menyesakkan. Kapal ini, Nusantara Raya, membelah kabut laut menuju sebuah titik buta di peta—sebuah pulau terasing yang hanya ada dalam dongeng pelaut dan arsip rahasia keluarga Mahendra.
Sari duduk di samping Arga, jemarinya yang kecil menggenggam tangan Arga yang kini terasa sedingin es, namun terkadang berdenyut panas seolah ada larva cair yang mengalir di baliknya. Ia tidak menangis dengan isak yang keras; matanya hanya mengalirkan sungai kecil yang tak kunjung kering.
"Jangan menyerah pada kegelapan itu, Arga," bisik Sari. Suaranya pecah, bergetar di antara deru mesin kapal yang kasar. "Kau sudah menjemputku dari tabung kaca itu. Kau sudah berjanji tidak akan ada yang memisahkan kita. Jangan jadikan janji itu hanya sebagai debu di laut ini."
Sari mengusap dahi Arga yang dipenuhi keringat darah. Ia menempelkan telapak tangannya ke dada Arga, tepat di atas Mustika Macan Kencana yang kini berdenyut pelan, meronta dalam asimilasi yang menyakitkan dengan energi Pedang Mahendra.
Tiba-tiba, tubuh Arga kejang. Aura platinum tipis muncul ke permukaan kulitnya, membakar ujung jemari Sari. Sari meringis kesakitan, namun ia tidak melepaskan genggamannya. Ia justru memeluk tubuh Arga yang bergetar hebat, menyandarkan kepalanya di dada pria itu.
"Ambil rasa sakitnya dariku jika itu bisa membuatmu bangun," isak Sari. "Gunakan nyawaku sebagai jembatan, Arga. Pulanglah..."
Kemistri di antara mereka di ruangan sempit itu terasa begitu sakral. Bukan lagi sekadar romansa dua insan, melainkan dua jiwa yang saling mengikatkan benang takdir di ambang maut. Sari, sang gadis yang dulu rapuh, kini menjadi tiang penyangga bagi sang dewa perang yang tumbang.
Di anjungan kapal, Maya menatap radar dengan mata yang merah karena kurang tidur. Di sampingnya, Abah sedang mencoba menstabilkan frekuensi komunikasi agar tidak terlacak oleh satelit Mahendra.
"Dia tidak akan bertahan jika kita tidak sampai dalam dua jam, Bah," suara Maya datar, namun getaran di tangannya saat memegang kemudi tidak bisa berbohong. "Akselerator Merkuri itu menghancurkan jaringan sarafnya. Dia bertarung seperti dewa, tapi dia membayar harganya sebagai manusia."
Abah menghembuskan asap rokoknya ke arah jendela yang berembun. "Dia adalah Mahendra yang asli, Maya. Mahendra tidak mati karena luka fisik. Mereka mati jika mereka kehilangan alasan untuk hidup. Dan selama gadis di bawah sana terus memanggil namanya, maut pun akan segan menjemputnya."
Abah menoleh ke arah peti kayu tempat Pedang Patah diletakkan. Pedang itu kini berselimut kain putih, namun denyut biru elektriknya masih terasa merayapi udara. "Pedang itu sudah memilihnya. Masalahnya sekarang, apakah Arga cukup kuat untuk menjadi tuan bagi dua kekuatan yang saling membenci itu?"
Di dalam ketidaksadarannya, Arga berada di sebuah padang abu yang tak berujung. Di depannya berdiri seekor Macan Kencana raksasa dengan mata emas yang membara, dan di sisi lain, sesosok bayangan ksatria Mahendra dengan pedang cahaya biru. Keduanya sedang saling mencabik, menjadikan kesadaran Arga sebagai medan tempur mereka.
“Kau terlalu lemah untuk kami berdua, Inang!” raung sang macan.
“Kau hanya kuli panggul yang mencuri darah bangsawan!” cemooh sang ksatria.
Arga berdiri di tengah-tengah mereka, tubuh spiritualnya hancur dan berdarah. Ia hampir menyerah. Ia ingin membiarkan dirinya hancur menjadi debu di padang abu itu. Namun, di tengah gemuruh pertempuran itu, ia mendengar sebuah melodi. Sebuah senandung kecil yang sering dinyanyikan Sari saat mereka masih bekerja di dermaga.
“Arga... pulanglah...”
Suara itu menembus kabut maut. Arga mendongak. Matanya yang platinum mulai menyala kembali, namun kali ini bukan karena amarah, melainkan karena cinta yang murni.
"Kalian berdua... dengarkan aku," suara Arga bergema, membungkam raungan macan dan denting pedang. "Kalian ada di dalam tubuhku bukan untuk bertempur. Kalian ada di sini untuk menjadi senjataku demi melindungi dia. Jika kalian tidak bisa bersatu, maka aku akan menghancurkan kalian berdua bersamaku!"
Arga merentangkan tangannya. Ia memaksa macan dan ksatria itu untuk saling bersentuhan. Ledakan cahaya putih menyilaukan meletus di alam bawah sadarnya.
Kembali di kabin kapal, Arga mendadak membuka matanya.
Mata itu tidak lagi berwarna emas atau biru. Irisnya berubah menjadi perak bening yang sangat jernih, memantulkan wajah Sari yang sembab oleh tangisan. Arga menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang seolah menyedot seluruh udara di ruangan itu.
"Sari..." bisik Arga. Suaranya lembut, setipis sutra, namun mengandung kekuatan yang mampu menggetarkan kapal.
Sari tertegun. Ia tidak berani bernapas. "Arga? Kau... kau kembali?"
Arga mengangkat tangannya yang gemetar, menyentuh pipi Sari dengan ujung jemarinya. Sentuhan itu tidak lagi membakar; itu terasa hangat dan menenangkan, seperti sinar matahari pertama setelah musim dingin yang panjang.
"Bau garam... dan air matamu," gumam Arga dengan senyum puitis yang sangat tipis. "Jangan menangis lagi. Dewa perangmu sudah bangun hanya untuk menghapus air matamu."
Sari tertawa di sela tangisnya, ia memeluk leher Arga erat-erat, menenggelamkan wajahnya di pundak pria itu. Di tengah samudera yang ganas dan pengejaran keluarga elit, momen kecil itu terasa seperti keabadian. Kemistri mereka telah berevolusi; mereka bukan lagi dua orang yang saling membutuhkan, tapi dua jiwa yang telah menyatu dalam resonansi yang tak terpatahkan.
"Kita hampir sampai, Arga," bisik Sari di telinganya. "Pulau itu... tempat rahasia ayahmu."
Arga mengangguk pelan. Ia bisa merasakan kekuatan baru mengalir di nadinya—kekuatan Platinum Mahendra yang telah stabil. Namun ia juga tahu, di pulau itu, bukan hanya perlindungan yang menantinya, melainkan kebenaran pahit yang mungkin akan mengubah pandangannya tentang dunia selamanya.
"Biarkan mereka datang," ujar Arga, matanya menatap langit-langit kabin dengan ketajaman yang baru. "Kali ini, aku tidak akan lari. Aku akan menjemput takhtaku yang dicuri."