Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: KEKACAUAN DI IBU KOTA
Yun-seo menarik tangan Yehwa, berlari sekencang mungkin.
Di belakang mereka, suara ledakan berturut-turut mengguncang tanah. Asap hitam membubung tinggi di langit, menutupi sinar matahari. Teriakan panik bercampur dengan benturan senjata dan erangan kesakitan.
"Lebih cepat!" teriak Yun-seo.
Yehwa berlari di sampingnya, napasnya terengah-engah. Tanpa kekuatan iblis, tubuhnya selemah manusia biasa—bahkan mungkin lebih lemah karena belum terbiasa dengan keterbatasan baru ini.
Mereka melewati pasar yang biasanya ramai, kini berubah jadi neraka. Pedagang meninggalkan dagangan mereka berlarian. Anak-anak terpisah dari orang tua, menangis histeris. Seorang wanita tua jatuh tersungkur, dan Yun-seo tanpa pikir panjang membantunya bangkit.
"Terima kasih, Nak!" teriak wanita itu sebelum kabur.
"Awas!"
Yehwa menarik Yun-seo kasar ke samping. Sesosok bayangan hitam melesat dari langit, menghantam tanah tepat di tempat Yun-seo berdiri tadi. Tanah merekah, debu beterbangan.
Makhluk itu bangkit—tinggi dua meter, kulit abu-abu gelap, tanduk bengkok di kepala, sayap kelelawar terlipat di punggung. Iblis. Iblis sungguhan.
Matanya yang merah menyala menemukan mereka.
"Manusia," geramnya, suara berat seperti batu bergesekan. "Makanan."
Yun-seo gemetar. Ini bukan game. Ini bukan cutscene. Ini iblis beneran, siap mencabik-cabiknya.
Tapi sebelum iblis itu bergerak, Yehwa melangkah maju. Ia berdiri di depan Yun-seo, menatap iblis itu dengan tatapan tajam—tatapan yang dulu membuat ribuan iblis berlutut.
"Mundur," perintahnya dengan suara rendah penuh wibawa.
Iblis itu tertegun sesaat. Matanya mengamati Yehwa—wanita manusia biasa tanpa kekuatan. Tapi ada sesuatu di matanya...
"Siapa kau?" geramnya.
"Tidak penting. Pergi dari sini."
Iblis itu menggeram, bingung. Instingnya menyuruhnya patuh pada suara itu, tapi logikanya bilang ini cuma manusia tak berdaya. Konflik internal itu membuatnya diam beberapa detik.
Cukup untuk Yun-seo.
Cincin di jarinya bersinar. Tanpa sadar, ia mengaktifkannya—bukan karena latihan, tapi karena adrenalin dan insting bertahan hidup. Cahaya merah menyelimuti tubuhnya, membentuk lapisan tipis.
Iblis itu melihat cahaya itu. Matanya melebar.
"Cincin Pemanggil?!" serunya tidak percaya. "Kau—"
Tidak sempat melanjutkan. Dari belakang, sebilah pedang berkilau menembus dadanya. Iblis itu terhuyung, jatuh berlutut, lalu roboh.
Di belakangnya, Seo Jung-won berdiri dengan pedang terhunus. Wajah tampannya dingin, matanya tajam. Darah iblis menetes dari ujung pedangnya.
"Kalian," katanya, menatap Yun-seo dan Yehwa. "Cepat pergi ke tempat aman. Ini bukan tempat untuk warga sipil."
Yun-seo mengangguk cepat. "T-tapi—"
"Tidak ada tapi. Pergi!"
Seo Jung-won sudah berlari lagi, bergabung dengan pendekar lain yang berdatangan. Dari langit, lebih banyak iblis turun. Pertempuran sengit pecah di berbagai sudut kota.
Yun-seo menarik Yehwa, berlari lagi. Kali ini tidak ada yang menghadang. Mereka tiba di Lorong Kegelapan saat matahari mulai condong.
---
Lorong Kegelapan relatif lebih tenang dari pusat kota.
Mungkin karena tidak ada yang berharga di sini—hanya orang miskin dan buangan. Iblis tidak tertarik. Tapi suara pertempuran masih terdengar dari kejauhan, membuat warga Lorong Kegelapan berkumpul di gang-gang, berbisik ketakutan.
Yun-seo dan Yehwa tiba di barak pengungsi. Beberapa tetangga—termasuk Nenek Mal-soon—langsung menghampiri.
"Kamu selamat!" seru Mal-soon, memeluk Yehwa erat. "Syukurlah, syukurlah. Aku khawatir sekali."
Yehwa kaku dalam pelukan itu. Tapi perlahan, ia rileks. Tangannya naik, membalas pelukan—canggung, tapi tulus.
"Aku... selamat, Nenek."
Mal-soon melepas pelukan, matanya berkaca-kaca. "Iblis-iblis terkutuk itu. Kapan mereka berhenti menyerang?" Ia mengelus pipi Yehwa. "Kau tidak apa-apa? Luka?"
"Tidak. Aku baik-baik saja."
"Suamimu?"
Yun-seo mengangkat tangan. "Sini, Nenek. Selamat juga."
Mal-soon tertawa kecil, memukul lengan Yun-seo pelan. "Kau harus lindungi istrimu baik-baik, Nak. Dia terlalu cantik untuk jadi janda muda."
Yun-seo dan Yehwa bertukar pandang. Wajah mereka sama-sama merah.
Malam itu, warga Lorong Kegelapan berkumpul di satu tempat—lapangan kecil di tengah pemukiman. Mereka membawa tikar, makanan seadanya, dan anak-anak. Suasana tegang, tapi juga hangat karena kebersamaan.
Seorang pria paruh baya—tukang jagal di pasar—bercerita tentang pengalamannya saat serangan. Yang lain menyumbangkan roti untuk dibagi. Ibu-ibu menyusui anak-anak mereka, berbisik lagu pengantar tidur.
Yun-seo duduk di pinggir, mengamati. Di dunia modern, bencana seperti ini membuat orang panik dan individualis. Tapi di sini, di Lorong Kegelapan, orang-orang justru bersatu.
Mungkin karena mereka hanya punya satu sama lain.
Yehwa duduk di sampingnya, diam. Ia juga mengamati—dengan tatapan berbeda. Tatapan ratu yang terbiasa melihat rakyatnya menderita.
"Mereka kuat," bisiknya tiba-tiba.
"Ya."
"Di alam iblis, kalau terjadi bencana, semua orang berebut selamatkan diri sendiri. Tapi di sini..." Ia menggeleng. "Manusia aneh."
"Mungkin karena mereka sudah terbiasa susah. Jadi berbagi itu wajar." Yun-seo menatap Yehwa. "Di duniaku, ada pepatah: 'Bersama kita teguh, bercerai kita runtuh.'"
Yehwa merenung. Lalu, pelan, "Aku ingin bangsaku seperti ini. Bersatu, saling membantu."
"Masih bisa."
"Mungkin." Yehwa menunduk. "Tapi tanpa kekuatan, apa yang bisa kulakukan?"
Yun-seo meraih tangannya—tanpa pikir panjang. Yehwa menegang, tapi tidak menarik.
"Kita cari cara," kata Yun-seo tegas. "Bareng-bareng."
Yehwa menatapnya. Di tengah temaram lampu minyak, di tengah suara dengkuran dan tangisan anak, di tengah dunia yang kacau, tatapan itu terasa hangat.
"Bodoh," bisiknya.
"Iya, tahu."
Tapi tangannya tidak dilepas.
---
Tengah malam, Hwang Cheol-soo datang.
Kakek tua itu muncul diam-diam, membawa kabar. Ia duduk di samping mereka, wajahnya lelah tapi matanya waspada.
"Serangan sudah dipukul mundur," bisiknya. "Tapi banyak korban. Aliansi Murim kewalahan."
"Pelakunya?" tanya Yehwa cepat.
"Iblis dari faksi Lilian. Aku lihat beberapa simbol yang kukenal." Hwang Cheol-soo menghela napas. "Mereka mencari seseorang."
Yehwa membeku. "Aku?"
"Mungkin. Atau mungkin hanya serangan acak untuk melemahkan Aliansi." Hwang Cheol-soo menatapnya serius. "Tapi Yang Mulia, kau harus lebih waspada. Kalau Lilian tahu kau di sini, dalam kondisi lemah..."
"Aku tahu."
"Kita harus percepat rencana. Cari tetua lain, kumpulkan informasi, buka segel."
Yun-seo mengangkat tangan. "Aku bisa bantu apa?"
Hwang Cheol-soo tersenyum. "Kau sudah bantu banyak. Tapi ke depan, kau harus lebih kuat. Latihan tidak bisa setengah-setengah lagi."
Yun-seo mengangguk tegas. "Siap."
"Bagus. Besok kita mulai pukul 4 pagi. Jangan telat."
Yun-seo hampir tersedak. "4 pagi?!"
"Mau jadi pelindung ratu tapi takut bangun pagi?" Hwang Cheol-soo terkekeh. "Yang Mulia dulu bangun jam 3 setiap hari."
Yehwa mengangguk. "Selama 200 tahun."
Yun-seo menghela napas panjang. Dunia ini benar-benar tidak kenal ampun.
---
Keesokan paginya, Yun-seo bangun jam 3.30—tanpa alarm.
Ia sudah terbiasa begadang main game, tapi bangun pagi? Itu musuh terbesarnya. Tapi melihat Yehwa yang sudah duduk bersila dengan mata tertutup, ia memaksakan diri.
Mereka pergi ke toko Hwang Cheol-soo saat langit masih gelap. Kakek itu sudah menunggu dengan dua tongkat kayu—dan satu pedang kayu untuk Yehwa.
"Hari ini kita mulai serius," katanya. "Yang Mulia, kau akan mengajarkan jurus dasar Pedang Iblis Langit pada Yun-seo. Sementara itu, aku akan melatihmu mengingat kembali gerakan-gerakan itu."
Yehwa mengangguk. Ia mengambil pedang kayu, merasakan beratnya. Lalu, tanpa aba-aba, ia mulai bergerak.
Gerakannya anggun, cepat, mematikan. Pedang kayu itu seolah hidup di tangannya—menari di udara, menusuk, menebas, berputar. Yun-seo terpana. Ini pertama kalinya ia melihat Yehwa benar-benar bergerak sebagai pendekar.
Meski tanpa kekuatan, ilmunya tetap sempurna.
"Itu jurus pertama Pedang Iblis Langit," kata Hwang Cheol-soo setelah Yehwa selesai. "Ada 36 jurus total. Yang Mulia menguasai semuanya."
Yun-seo menelan ludah. "Aku harus bisa semua?"
"Hanya dasar. Tiga jurus pertama cukup untuk pemula."
Yehwa mendekat, napasnya sedikit tersengal. "Akan kuajarkan satu per satu. Siap?"
Yun-seo mengangguk, meski hatinya dag dig dug.
---
Tiga jam kemudian, Yun-seo sudah bisa menirukan gerakan pertama—meskipun masih kaku dan lambat.
Yehwa tidak memukulnya hari ini. Mungkin karena kasihan, mungkin karena lelah sendiri. Tapi instruksinya tetap tegas, detail, tanpa kompromi.
"Langkahmu terlalu lebar. Persempit. Ayunan terlalu tinggi. Rendahkan."
Yun-seo mengikuti, berkeringat, pegal, tapi tidak menyerah. Ada sesuatu dalam dirinya yang berubah—semangat yang tidak pernah ia rasakan saat main game atau mengerjakan tugas sekolah.
Mungkin ini yang disebut "tujuan hidup".
Istirahat siang, mereka makan bekal dari Mal-soon—nasi bungkus dengan lauk telor dadar dan sayur. Sederhana, tapi hangat.
"Kau berkembang cepat," kata Yehwa di sela makan.
"Serius?"
"Biasanya butuh seminggu untuk pemula bisa melakukan jurus pertama. Kau baru tiga jam."
Yun-seo tersenyum lebar. "Berarti aku bakat terpendam?"
"Atau mungkin karena kau tidak punya pilihan." Yehwa meliriknya. "Motivasi terkuat adalah ketika kau tidak punya jalan mundur."
Yun-seo merenung. Mungkin benar. Di dunia ini, ia tidak punya rumah untuk pulang, tidak ada orang tua yang menjemput, tidak ada game untuk kabur. Satu-satunya jalan adalah maju dan bertahan.
"Kalau gitu," katanya, "aku akan maju terus. Sampai kau bisa kembali ke tahtamu."
Yehwa menatapnya. Lalu, tanpa kata, ia menyodorkan bekalnya—memberi Yun-seo telor dadarnya.
"Makan. Besok latihan lebih berat."
Yun-seo menerimanya, hati hangat.
---