Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.
Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.
Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.
Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.
Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.
Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.
Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…
Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Sang Penjaga
Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada suara selain mesin mobil dan hujan yang mulai turun lagi.
Langit tidak menyalakan musik. Ishani hanya menatap keluar jendela.
Di depan rumah, Langit memarkir mobil tanpa berkata apa-apa. Ia turun duluan, membuka pintu untuk Ishani seperti biasa.
Gerakannya tenang, terukur, seolah tidak ada apa-apa yang berubah. Tidak ada yang berubah secara fisik. Tapi jaraknya terasa berbeda.
Malam itu, mereka makan dalam diam. hanya denting sendok beradu dengan piring yang terdengar. Ishani beberapa kali ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata itu seperti terhenti di ujung lidahnya.
Langit tidak menatapnya lama-lama. Ishani lebih cepat masuk kamar. Lampu lorong menyala redup ketika pintu kamar ditutup pelan.
Langit tetap di ruang tengah, menatap televisi yang menyala tanpa benar-benar menonton. Gambar bergerak, suara berbicara, tapi tidak ada satu pun yang masuk ke kepalanya.
Beberapa menit kemudian, lampu kamar Ishani padam. Langit berdiri. Refleksnya ingin memastikan pintu kamar itu terbuka seperti biasa.
Terbuka.
Ia mengangguk kecil, lalu kembali ke sofa. Tangannya terlipat di dada, tubuhnya bersandar, tetapi pikirannya seperti tidak punya tempat untuk diam. Malam itu, entah mengapa untuk pertama kalinya sejak Ishani tinggal di sana, ia tidak merasa tenang.
Langit tertidur menjelang tengah malam.
Dan mimpi itu datang.
Ia berdiri di ruang tamu rumah, dindingnya masih berwarna krem pudar, sofa tua masih ada di tempatnya. Bau kayu basah bercampur dengan aroma masakan yang sudah lama tidak ia cium.
Dari dapur terdengar suara piring pecah dan langkah tergesa. Hujan turun di luar, memukul kaca jendela.
Biru berdiri di ujung ruangan. Tidak sakit. Tidak pucat. Sehat. Tersenyum seperti dulu.
“Langit.”
Suara itu membuat dada Langit sesak. Suara yang pernah ia dengar setiap hari. Suara yang kini hanya hidup di dalam ingatannya.
“Kamu harus berhenti.”
Langit ingin bergerak, tapi kakinya terasa berat, seperti tertanam di lantai. “Berhenti apa?” suaranya terdengar kecil, hampir seperti anak kecil.
Biru menoleh ke arah lorong kamar.
Ishani berdiri di sana, menggendong bayi. Wajah bayi itu samar, seperti tertutup kabut tipis. Tapi jelas, rahangnya tegas. Hidungnya lurus. Ada garis yang sangat ia kenali. Seperti dirinya.
“Dia bukan milikmu.”
Langit tersentak. “Aku cuma jaga—”
“Kamu selalu jaga,” potong Biru pelan. “Sejak dulu.”
Tiba-tiba suasana berubah.
Ia melihat dirinya kecil. Usianya mungkin sepuluh tahun. Berdiri di depan pintu kamar orang tua mereka yang tertutup rapat.
Di balik pintu, suara ibu menangis. Suara ayah meninggi. Ada bunyi benda jatuh.
Biru berdiri di belakangnya, memeluk tas sekolahnya erat-erat. Matanya merah.
“Langit,” suara ibu terdengar bergetar dari dalam kamar, seperti menembus dinding. “Kamu anak yang kuat, kan? Jagain adik kamu.”
Kalimat itu seperti mantra yang ditanamkan paksa ke dalam tulangnya. Jagain adik kamu.
Adegan berganti. Biru sedang kritis di rumah sakit.
Hujan juga turun waktu itu. Koper berdiri di dekat pintu. Ayah memegang gagangnya dengan wajah keras. Ibu berdiri di sisi lain ruangan, mata sembap.
Ibu meremas bajunya erat-erat.
Langit berdiri sendirian di sisi ayah. “Kenapa aku ikut Ayah?” tanya Langit kecil waktu itu, suaranya gemetar tapi berusaha tegar.
Ayah tidak menjawab. Tangannya hanya menepuk bahu Langit sekali, seperti keputusan itu sudah final.
Ibu menatapnya lama. Ada ragu, ada luka, ada sesuatu yang tidak pernah dijelaskan.
“Biru nggak boleh ikut Ayah,” suara ibu tegas. “Dia masih kecil dan… sakit.”
Seolah Langit tidak kecil dan tidak sakit. Seolah Langit sudah cukup dewasa dan kuat untuk dipisahkan.
Mobil berjalan menjauh.
Lewat kaca belakang yang buram oleh hujan, ia melihat Ibu berlari beberapa langkah sebelum berhenti.
“Langit…!”
Suara itu tertinggal di udara. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa dirinya bukan anak. Ia adalah pilihan. Ia adalah penjaga.
Mimpi itu kembali ke ruang tamu tadi.
Biru mendekat. Wajahnya lembut, tapi ada sesuatu yang tidak bisa Langit baca. “Kamu selalu dikorbankan untuk aku.”
Langit menggeleng. “Bukan begitu.”
“Sekarang kamu mau ambil yang harusnya bukan milikmu juga?”
Biru menoleh pada Ishani dan bayi itu.
Langit berteriak, “Aku nggak ambil apa-apa!”
Tapi suaranya tidak keluar.
Biru tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia. Bukan senyum sedih. Senyum yang membuat Langit merasa seperti anak kecil lagi. “Kalau aku bawa mereka, kamu bisa berhenti jadi penjaga.”
Tangan Biru terulur ke arah Ishani. Ruangan terasa menyempit. Udara menekan dadanya.
Langit berlari. “Jangan!”
Tangannya hampir menyentuh lengan Ishani ketika semuanya runtuh.
Langit terbangun dengan napas terengah.
Keringat membasahi pelipisnya. Kaosnya lengket di punggung. Jantungnya berdetak terlalu cepat.
Rumah sunyi. Jam digital di dinding menunjukkan pukul 02.17. Butuh beberapa detik sebelum ia menyadari dirinya tidak lagi bermimpi.
Tanpa berpikir panjang, ia berdiri dan berjalan cepat ke kamar Ishani.
Pintu terbuka sedikit. Ishani tertidur miring, satu tangan di atas perutnya. Selimut menutupi separuh tubuhnya. Napasnya teratur, tenang. Tidak ada siapa-siapa di sana selain mereka.
Langit berdiri lama di ambang pintu. Dadanya masih sesak.
“Jagain adik kamu.”
Suara ibunya seperti kembali bergaung. Tapi sekarang adiknya sudah tidak ada. Dan ia masih berdiri di posisi yang sama.
Menjaga. Menahan. Tidak pernah benar-benar memiliki.
Ia melangkah satu langkah ke dalam kamar, lalu berhenti. Tangannya hampir terulur, ingin memastikan Ishani benar-benar ada. Ingin menyentuh perutnya, memastikan bayi itu nyata dan aman. Tapi ia menarik tangannya kembali.
Hak apa yang ia punya? Ia hanya penjaga. Atau mungkin hanya merasa dirinya penjaga agar tidak merasa kosong.
Langit menutup matanya sebentar. Mengatur napas. Mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih tidak stabil.
Ia sadar sesuatu yang lebih menakutkan daripada gosip orang. Lebih menakutkan daripada wajah bayi yang terlalu mirip dirinya.
Ia tidak hanya menjaga Ishani. Ia takut kehilangan mereka seperti ia kehilangan Biru. Takut kembali berdiri sendirian di sisi yang salah dari sebuah keputusan. Takut menjadi orang yang ditinggalkan lagi.
Dan mungkin… ia juga takut kalau ia memang tidak pernah ditakdirkan untuk memiliki siapa pun. Bahwa setiap hal yang dekat dengannya pada akhirnya akan diambil kembali.
Hujan kembali turun, lebih deras. Lebih dari empat puluh hari telah berlalu sejak Biru pergi. Selama itu, ia tidak punya keberanian untuk berdiri di depan foto adiknya dan berkata bahwa ia marah. Bahwa ia lelah. Bahwa ia tidak ingin terus menjadi yang kuat.
Langit menatap Ishani sekali lagi.
Pelan, ia mundur dan menutup pintu sedikit lebih rapat, tidak sampai terkunci, hanya cukup untuk merasa jarak itu aman.
Malam semakin larut. Di ruang tengah, ia tidak kembali tidur. Ia duduk dalam gelap, mendengarkan hujan, membiarkan mimpi itu menetap di kepalanya.
Besok, akan datang hari baru. Dan mungkin untuk pertama kalinya, Langit ingin memilih. Tetap menjadi penjaga. Atau akhirnya mengakui bahwa ia juga ingin sesuatu untuk dirinya sendiri.
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
Semangat!