NovelToon NovelToon
Pergi Dengan 1 Milyar

Pergi Dengan 1 Milyar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Single Mom / Lari Saat Hamil
Popularitas:51.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.

8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

"Om, om!" panggil Arka tapi tak mendapatkan respon. "Ish, kok malah bengong sih. Om!" panggilnya lebih kencang, setengah teriak, sampai Rizal yang sedang main HP ikut menoleh.

"Ah iya, ada apa?" Naka gelagapan.

"Bisa main bricks gak?" Arka menunjukkan kotak mini brick di tangannya. "Dari kemarin nyusun ini gak bisa-bisa, susah," menghela nafas berat.

Naka mengambil kotak brick dari tangan Arka, memperhatikan contoh gambarnya. "Kayaknya gampang deh."

"Susah Om, beneran. Om coba deh, pasti gak bisa."

Naka menahan tawa, bisa-bisanya seorang anak kecil menantangnya menyusun mini bricks. Dari gambar di kotaknya saja, sudah terlihat kalau bentuknya simpel, gampang. Beberapa menit dia pasti juga udah kelar. "Kalau Om bisa, gimana?" ia ganti menantang.

"Kalau bisa, aku kasih es teh gratis, tapi jangan yang jumbo, mahal, yang standar aja."

Naka terkekeh mendengar itu. Meski tertulis angka nominalnya, tapi pada kenyataannya nilai uang itu relatif. Yang barusan contohnya, bagi anak kecil di depannya, 6 ribu itu mahal, namun baginya, secangkir kopi 30 ribu masih tergolong murah. Bahkan kadang di hotel ia harus membayar air mineral seharga 30 ribu, dan itu sama sekali tak masalah baginya. "Ok, kalau begitu, deal," ia mengulurkan tangan ke arah Arka.

"Deal, apa deal?" Arka mengernyit bingung.

Naka menutup mulut, menahan tawa. "Setuju."

"Oh... " Arka manggut-manggut. "Ok, aku setuju," ia menjabat tangan Naka. "Aku keluar ya Om, kita susun di luar." Ia turun dari kursi, gegas keluar dari booth lalu menghampiri Naka.

Naka mengusir Rizal dari kursinya, menggunakan kursi plastik tersebut tempat meletakkan mini brick yang akan dia susun. Ia duduk di kursi, sementara Arka berdiri di depannya, fokus memperhatikannya.

Rizal garuk-garuk kepala. Di Jakarta banyak sekali pekerjaan yang menunggu, bisa-bisanya malah nyantai disini untuk urusan gak jelas, nungguin penjual es teh. Kayak yang penting banget aja. Dan sekarang, malah main brick sama anak-anak, sungguh membagongkan. Namun melihat mereka, ia tak bisa menahan senyum. Dilihat dari samping seperti ini, benar-benar mirip. Iseng, ia mengambil foto mereka. Nanti akan ia tunjukkan pada Naka, biar pria itu tak bisa lagi menyangkal kalau dirinya mirip anak Zara.

"Cil, nama kamu siapa?" tanya Rizal.

"Arka, Om."

"Kelas berapa?"

"Satu."

"Ini Mak lo nganter teh kemana sih, lama amat?"

"Tadi pas Om datang, Ibu baru pergi," jawabnya tanpa menoleh, terlalu asyik memperhatikan Naka.

"Makanya, lain kali kalau ada pesenan, suruh bapak lo aja, biar tetep ada yang jaga disini."

"Ayah kamu kerja apa Arka?" Naka tiba-tiba ikut kepo. Jika benar Zara adalah Zea, ia ingin tahu seperti apa laki-laki yang telah mengalahkannya.

"Gak kerja."

"Heh!" kedua alis Rizal bertaut. "Jadi mak lo tulang punggung keluarga? Padahal mak lo cakep, mau-maunya sama mokondo."

"Mokondo? Apa itu mokondo?" Arka menatap Rizal dengan ekspresi penasaran.

"E... e... " Rizal mengusap tengkuk, bingung menjelaskan. Artinya terlalu vulgar untuk dijelaskan pada anak-anak seusia Arka.

"Laki-laki yang gak kerja," jawab Naka.

"Nah, itu dia," timpal Rizal sambil manggut-manggut. "Laki-laki gak kerja, pemalas."

"Ayahku bukan pemalas!" Arka menatap Rizal sengit, bibirnya mengerucut ke depan, kedua tanganya dilipat di dada.

"Kalau gak malas, ngapain gak kerja?"

Naka yang sedang menyusun brick, sampai berhenti, menatap Arka, penasaran dengan jawabannya.

"Ayahku udah gak ada di dunia, Ayah udah di surga."

"Innalillahi," Rizal langsung menutup mulutnya, merasa salah ngomong.

"Jadi ayah kamu sudah meninggal?" Naka memastikan, takut salah menafsirkan ucapan anak-anak.

Arka mengangguk pelan.

"Sejak kapan?"

"Sejak aku bayi."

Ekspresi Naka dan Rizal seketika berubah simpati.

"Jadi kamu gak pernah bertemu ayah kamu?" tanya Rizal.

"Enggak," Arka menggeleng, ekspresi wajahnya berubah sendu.

"Cuma lihat di foto ya."

"Enggak," Arka kembali menggeleng. "Ibu gak punya foto ayah."

Naka dan Rizal kompak saling tatap. Arka masih kelas satu SD, masih anak beberapa tahun yang lalu, bukan anak zaman penjajahan. Bisa-bisanya di zaman yang sudah canggih, Zara tidak mempunyai foto alm. suaminya. Kayak yang gak masuk akal.

"Mak lo punya HP kan?" tanya Rizal.

"Punya."

"Ya masa gak ada foto alm. ayah kamu?"

"Gak ada," Arka menggeleng. "Ibu bilang gak ada, udah kehapus semua."

"Foto manten juga gak ada? Di simpan di album atau di pasang di dinding gitu."

Arka kembali menggeleng.

Rizal sampai garuk-garuk kepala sambil nyengir. Aneh aja menurutnya. Tapi, seenggak punyanya foto, pasti yang satu ini ada. "Lihat di buku nikah mak lo, di sana ada foto ayah lo."

"Buku nikah?" Arka terlihat bingung.

"Iya, buku nikah, warna hijau. Nanti tanya deh sama Mama kamu."

"Emang dibuku nikah pasti ada, Om?"

"Pasti. Karena kalau enggak, gak boleh nikah."

Arka mengangguk cepat sambil tersenyum. Akan segera ia tanyakan nanti. Ia ingin sekali mengetahui wajah ayahnya.

"Ayah kamu meninggal kenapa?" tanya Naka, tangannya masih sibuk menyusun brick.

"Kata Ibu sakit."

"Sakit apa?"

Arka menggeleng, "Gak tahu."

"Eh, emak lo punya pacar gak?" tanya Rizal.

"Ngapain tanya itu?" Naka menoleh, menatap Rizal dengan kedua alis bertaut.

"Ya kan dia janda, Bos. Jandakan cepat laku."

"Bos!" Arka salfok dengan cara Rizal memanggil Naka. "Om ini bos?" menatap Naka.

"Iya. Bos dia itu, duitnya banyak. Horang kaya," sahut Rizal.

"Pasti punya mobil, punya motor gede, dan rumahnya tingkat."

Tebakan Arka membuat Rizal dan Naka tertawa. Ternyata anak kecil menilai kaya tidaknya seseorang dari itu semua.

"Dia punya rumah tingkat 10, punya mobil 10, punya pesawat, kapal pesiar, punya kuda, sapi, kambing, uang, punya segalanya pokoknya," Rizal malah sengaja melebih-lebihkan, sampai Naka geleng-geleng.

"Wow!' mulut Arka menganga lebar, menatap Naka takjub. " Pasti enak jadi anaknya Om."

"Enak banget," Rizal menyahuti. "Kalau jadi anaknya, mau apapun pasti dituruti. Eh Ka, si bos ini lagi nyari anak angkat, coba deh kamu bilang, Om, angkat aku jadi anakmu."

Di luar ekspektasi, Arka malah menggeleng.

"Loh, kenapa?" Rizal mengernyit bingung, demikian pun dengan Naka. Meski yang dikatakan Rizal cuma gurauan, namun respon Arka tak sesuai ekspektasi mereka.

"Aku mau jadi anak ibu aja. Aku sayang ibu," Arka menunduk, menggerak-gerakkan telapak kakinya di lantai. "Meski om bos kaya, tapi aku gak mau jadi anak angkatnya, aku gak mau nanti di suruh tinggal dengannya. Aku maunya cuma sama ibu."

Hati Naka tiba-tiba mencelos, kagum pada cara Arka menyayangi ibunya. "Good boy," ia mengusap kepala Arka.

Dari kejauhan, Zara yang mengendarai motor dengan kecepatan rendah, kaget melihat Arka bersama Naka. Melihat cara Naka mengusap kepala Arka, hatinya langsung terenyuh, matanya panas, berkaca-kaca.

Mendengar suara motor ibunya, Arka langsung menoleh. "Itu ibu datang."

Zara memarkirkan motornya di dekat booth. Sebelum turun, menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan untuk mengurangi rasa gugup. Dalam hati terus berdoa semoga Naka tidak menyadari kemiripannya dengan Arka. Sambil mengulum senyum, turun dari motor lalu menghampiri mereka. "Maaf, nunggu lama ya?"

"Banget," sahut Rizal dengan ekspresi jengahnya. "Udah tahu janjian jam 11, malah ditinggal," gerutunya.

Naka hanya melirik sekilas, masih sibuk dengan brick yang ia susun.

"Sekali lagi saya minta maaf."

"Ibu, Om bos bantuin aku nyusun brick," Arka menunjuk mini brick nya yang ada pada Naka, yang sejak beli hingga hari ini, belum berhasil ia menyusunnya.

"Oh.. " Zara bingung harus merespon seperti apa.

"Buruan lah, ambil es tehnya, kita masukin ke mobil," Rizal sudah tak sabar.

"I, iya." Zara berjalan ke belakang booth, mengajak serta Rizal untuk membantunya. 100 cup es teh jumbo tidak sedikit, berat untuk membawanya menuju mobil meski sudah di dimasukkan ke dalam beberapa keresek.

Sementara Naka, ia masih melanjutkan menyusun brick yang tinggal sedikit, sampai akhirnya. "Jadi.. " serunya sambil menujukan pada Arka.

"Wow!" Arka mengambil mini brick bentuk kucingnya dari tangan Naka. "Om bos emang hebat," ia memberikan jempolnya.

"Hadiahnya jangan lupa," Naka mengingatkan.

"Ibu," Arka berjalan menghampiri ibunya yang baru meletakkan keresek terakhir es teh pesanan Naka. "Tadi aku janjiin es teh gratis ke om bos kalau dia bisa merangkai brick punyaku," menunjukkan brick nya. "Gak papa kan, Bu. Yang standar kok, bukan jumbo."

"Jangan marahi dia," Naka menatap Zara. "Kalau gak boleh gak apa-apa, saya masih punya uang untuk beli. Cuma 4 ribu kan, bukan 1 milyar?" tersenyum penuh arti.

Zara seketika salah tingkah di sindir seperti itu. Apa ini artinya, Naka sudah yakin jika dia adalah Zea? Lalu Arka, apa Naka juga mengetahui soal itu? "Gak papa kok, saya buatin gratis." Ia buru-buru masuk ke dalam booth untuk membuatkan Naka es teh. "Mau yang apa? Lemon seperti kemarin?" mengambil satu gelas teh ukuran standar.

"Iya, es teh lemon, tapi yang pakai sereh."

Gerakan tangan Zara reflek terhenti, namun melihat Naka memperhatikannya, ia segera pura-pura bersikap biasa saja. "Baik, saya buatkan."

Meski sudah berjualan cukup lama dan sudah fasih membuat teh, Zara sedikit gugup kali ini. Bagaimana tidak, Naka berdiri tepat di depan booth, menatap ke arahnya. Ia sampai terus menunduk, tak mau melihat ke depan, takut tak sengaja bertatapan dengan Naka.

Naka pura-pura sibuk dengan ponselnya, namun yang ia lakukan sebenarnya, diam-diam mem videokan Zara. Jari jempolnya pura-pura sibuk mengetik, aslinya tidak ngapa-ngapain. Ia menghentikan video saat dirasa sudah cukup untuk ditujukan pada Bima. Ia menyimpan kembali ponsel ke dalam saku lalu menatap Zara yang masih sibuk. "Ze," panggilnya.

"Iya."

Deg

Zara kaget saat keceplosan menjawab.

1
Humaira
sakkarepmu lah naka, kamu sama aja sama bapakmu, menyebalkan 😤😤
Septi
ya ampun sampai kepikiran keramas 🤣🤣
Septi
wkwkwkwkwk ngomongin orang depan orang nya🤣
Septi
wkwkwkwkwk korban salah sasaran kah🤣🤣
Septi
siap-siap aja bayar hutang yang menumpuk🤣
Valen Angelina
papamu yg jahat naka..jgn nyesal ya nanti klo Uda terbongkar
NUR..8537
makasih unt up..nya🙏smg Kaka sehat slalu 💪🙏😘
NUR..8537
naka" km akan menyesal stlh tau semua..nya🥹 good job kaka👍🙏😘
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Naka mmg ngeselin, pak Very mmg pemain pembohong
jumirah slavina
buahahahahahahahahahaaaaa 🤣🤣

o...o'o... kycduk kalian....

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jumirah slavina
astaga s' dodol🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jumirah slavina
kita gak usah membela diri sm orang yang menganggap kita buruk krn gak ngaruh yang ada bikin emosi., jelaskan cukup 1x sisa 'y biar Tuhan yang urus.,

itu sih Aku ya Ze😄🤣
Bunda Idza
kamu cerdas banget si nak....☺️
Bunda Idza
sepertinya udah tau banget kamu Naka ☺️
Sugiharti Rusli
semoga saja dia bisa berpikir lebih dalam tentang kondisi si Zea dulu yang pasti sangat memprihatinkan dalam kondisi hamil,,,
Sugiharti Rusli
kalo dulu saat si Zea pergi dalam keadaan hamil Arka, seharusnya dia berpikir apa uang yang si Zea ambil bisa mencukupi mereka b-2 selama 8 tahun ini
Sugiharti Rusli
dia hanya mau melihat kesalahan dan keburukan si Zea saja yang dia bilang cewe matre,,,
Sugiharti Rusli
apalagi kan setelah dia operasi dan bisa melihat lagi orang" yang dulu tahu keberadaan si Zea tiba" dipecat/dipaksa resign pasti sama Verdy
Sugiharti Rusli
lagi yah si Naka kalo sudah mendapati dulu si Zea dibohongi oleh ayahnya, harusnya dia berpikir ada rahasia yang coba ditutupi oleh bapaknya itu sih,,,
Sugiharti Rusli
hadeh uda ketemu yang adalah malah berantem wae yah mereka,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!