Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor
Elvan Bagaskara
CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.
Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .
Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33
Malam di rumah itu sebenarnya sangat tenang.
Hampir semua lampu sudah dimatikan. Hanya beberapa lampu kecil di lorong yang masih menyala.
Namun di ruang kerja elvan , lampu masih terang.
Dira berdiri di dekat pintu sambil memegang buku di dadanya.
Ia melirik ke arah sofa sudut kiri… lalu ke arah jendela.
“Kenapa sih malam ini serem banget om …”
Padahal rumah itu aman. Bahkan ada penjaga di luar.
Tapi tetap saja.
Ia menghela napas. “Aish… ya udah.”
Elvan hanya melirik sebentar.
Dira duduk di sofa. Lalu membuka Bukunya untuk belajar.
Sedangkan, Elvan sudah duduk di kursi kerjanya dengan laptop dan beberapa dokumen di meja.
Ia mengangkat kepala sesekali melirik ke arah dira yang sedang fokus belajar.
Namun sesaat kemudian… tatapannya sedikit berubah.
Karena Dira hanya memakai pakaian tidur pendek dengan sweater tipis dan rambut yang sedikit berantakan.
Dira belajar dengan santai.
“Wah boleh juga di sini”
Elvan kembali melihat dokumennya. Namun sebenarnya fokusnya tidak sepenuhnya di sana.
Karena beberapa kali matanya tanpa sadar melirik ke arah Dira terus - menerus.
Dira yang duduk di sofa terlihat serius membaca buku.
Kadang ia menggigit ujung pulpen. Kadang mengacak rambutnya sendiri saat bingung.
Beberapa menit kemudian…
Dira mulai menguap.
“Ngantuk…”
Ia masih mencoba membaca. Namun matanya semakin berat. Sudah tidak sanggup menahan kantuknya.
Elvan memperhatikan dari kursinya. “Kalau kamu mengantuk, tidur.”
Dira mendengus kecil. “Sebentar lagi deh.”
Namun lima menit kemudian ia benar-benar menyerah. Padahal ia masih ingin melanjutkan belajar nya.
Dira berdiri dari sofa dan berjalan mendekat ke meja kerja Elvan.
Elvan mengangkat alis. “Ada apa?”
Dira tidak menjawab. Ia malah langsung duduk di pangkuan Elvan. Dan melingkarkan tangannya ke leher elvan.
Elvan langsung menegang. “ Dira. Apa yang kamu la–”
Dira sudah menyandarkan kepalanya di bahu Elvan.
“Aku ngantuk om…” potong dira
Elvan mencoba tetap tenang. “Kamu bisa tidur di sofa dulu dir.”
Dira menggeleng pelan. “Enggak mau.”
Ia memeluk Elvan dengan santai. “Aku takut tidur sendiri.”
Elvan diam.
Sejak tadi sebenarnya ia sudah menahan diri untuk tidak terlalu memperhatikan Dira.
Namun sekarang gadis itu duduk di pangkuannya… memeluknya… dengan jarak yang sangat dekat.
Elvan menarik napas pelan.
“Dira…Kalau seperti ini.” Namun kalimatnya terhenti.
Karena Dira sudah benar-benar tertidur. Napasnya pelan dan teratur.
"huh..kamu membuatku tersiksa cantik" guman elvan menahan hasratnya.
Tangannya masih memeluk Elvan erat seperti anak kecil. Seolah takut terjatuh.
Elvan hanya bisa menatap wajahnya.
Beberapa helai rambut jatuh menutupi pipi Dira.
Elvan menggeser rambut itu perlahan.
Ia menghela napas kecil. “Anak ini…”
Tatapannya kemudian turun ke bibir dira yang sedikit terbuka. Perlahan namun pasti elvan mendekatkan wajahnya ke wajah dira. Hingga bibirnya menyentuh bibir dira dan menekannya perlahan dalam ciuman yang hangat. Ia lakukan secara perlahan agar tidak membangunkan dira.
Elvan terus melumat bibir dira.
"ugh..." dira berdesis
Melihat gerakan dira elvan segera melepaskan tautan bibirnya.
Ia tidak berani banyak bergerak agar tidak membangunkannya.
Akhirnya Elvan kembali hanya duduk diam di kursinya. Sambil melanjutkan pekerjaan nya yang tertunda.
Dengan Dira yang tertidur di pangkuannya, memeluknya erat.
Dan untuk pertama kalinya malam itu…
Ruang kerja yang biasanya sunyi terasa jauh lebih hangat.
***
Ruang kerja itu masih sunyi.
Lampu meja menerangi ruangan dengan cahaya hangat. Di luar jendela, malam sudah semakin larut.
Elvan masih duduk di kursinya..Dan di pangkuannya… Dira masih tertidur.
Kepala gadis itu bersandar di bahunya, tangannya melingkar memeluknya seperti takut dilepas.
Elvan menatap wajahnya beberapa saat.
Napas Dira pelan dan teratur.
Wajahnya terlihat jauh lebih tenang saat tidur.
Elvan menghela napas pelan. “Bagaimana aku bisa bekerja jika seperti ini…”
Ia mencoba sedikit bergerak. Namun Dira malah semakin mendekat.
Ia menggumam pelan dalam tidurnya.
“Om…”
Elvan langsung diam.
Dira sedikit menggeser posisi, lalu memeluknya lebih erat.
Hal itu membuat Elvan semakin menegang. Bagaimana pun kondisi dira sekarang sangat tidak menguntungkan baginya. Ia harus menahan diri , Agar tidak lepas kendali.
Ia mencoba tetap tenang.
“Dira… kamu harus tidur di tempat tidur.”
Namun Dira tidak bangun.
Ia malah menyembunyikan wajahnya di leher Elvan.
Elvan menutup matanya sebentar.
“Ini tidak membantu sama sekali…”
Beberapa menit ia hanya duduk diam. Akhirnya Elvan menghela napas panjang.
Dengan sangat hati-hati ia mengangkat Dira bridal style dari kursinya.
Dira sedikit bergerak tapi tidak bangun. Tangannya masih memegang baju Elvan.
Elvan berjalan keluar ruang kerja menuju kamar Dira.
Langkahnya pelan agar tidak membangunkannya.
Sesampainya di kamar, ia menaruh Dira perlahan di atas tempat tidur.
Namun saat Elvan mencoba menjauh—
Tangan Dira masih memegang bajunya. Ia mengerutkan kening sedikit dalam tidurnya.
“Jangan pergi…”
Elvan terdiam. Ia menatap wajah Dira beberapa detik.
Akhirnya ia duduk di tepi tempat tidur. Mengalah.
“Baik.”
Ia melepaskan tangan Dira dengan pelan… lalu menarik selimut menutupi tubuhnya.
Dira akhirnya tidur lebih nyenyak.
Elvan hendak berdiri. Ingin mengerjakan kembali pekerjaan nya . Namun sebelum pergi…
Ia menatap wajah Dira sekali lagi. perlahan wajahnya mendekat dan mengecup kening dira.
Ia terus menatap wajah dira.
Ada senyum kecil di wajahnya. " I love you " bisik elvan
Ia menatap wajah Dira sekali lagi.
Elvan menghela napas pelan. “Selalu membuatku khawatir…”
Ia mengulurkan tangan dan mengusap rambut Dira dengan lembut.
Dira sedikit bergerak.
Lalu tanpa membuka mata… ia meraih tangan Elvan dan menggenggamnya.
Elvan membeku beberapa detik.
Namun kali ini ia tidak menarik tangannya. Ia memilih hanya duduk di sana…
Menunggu sampai Dira benar-benar tertidur lelap. Malam itu terasa jauh lebih lama dari biasanya.
Dan ia senang melakukan nya.
Elvan tidak keberatan sama sekali.
Kamar Dira masih tenang.
Lampu tidur kecil menyala redup, membuat suasana malam terasa hangat dan sunyi.
Elvan masih duduk di tepi tempat tidur.
Tangannya masih digenggam oleh Dira yang tertidur lelap.
Ia sebenarnya sudah berniat pergi sejak tadi. Namun setiap kali ia mencoba menarik tangannya…
Dira malah menggenggamnya lebih erat.
Elvan menatap wajahnya pelan.
“Anak ini…”
Akhirnya ia mencoba sekali lagi. Namun hasilnya tetap sama.
Ia perlahan menarik tangannya agar lepas dari genggaman Dira.
Namun baru saja ia berdiri—
Tiba-tiba…
Dira menarik bajunya.
Elvan kehilangan keseimbangan sedikit dan tubuhnya jatuh kembali ke arah tempat tidur.
“Dira—”
Belum sempat ia bicara…
Dira sudah memeluknya erat.
Elvan kehilangan keseimbangan sedikit dan tubuhnya jatuh kembali ke arah tempat tidur.
“Dira—”
Belum sempat ia bicara…
Dira sudah memeluknya erat.
Tangannya melingkar di pinggang Elvan dengan kuat, wajahnya menempel di dadanya.
Seolah-olah ia takut Elvan pergi.
Elvan langsung membeku.
“Dira…”
Namun gadis itu masih setengah tidur.
Ia menggumam pelan. “Jangan pergi om…”
Elvan menatapnya beberapa detik. “Dira… kamu tidur.”
Namun Dira malah semakin mendekat.
Kepalanya bersandar di dada Elvan, tangannya memeluknya erat seperti anak kecil.
Elvan menghela napas panjang.
Posisi mereka sekarang terlalu dekat.
Sangat dekat.
Elvan bisa merasakan napas Dira di dadanya. Ia mencoba sedikit menjauh.
Namun Dira langsung mengerutkan kening dalam tidurnya.
“Om el…”
Suara itu sangat pelan.
Namun cukup membuat Elvan berhenti bergerak. Dira memeluknya lebih erat lagi.
“Takut…”
Elvan akhirnya menyerah.
Ia kembali berbaring sedikit di samping Dira.
Tangannya ragu-ragu beberapa detik… lalu akhirnya ia mengusap punggung Dira dengan lembut.
“Tidak ada apa-apa.”
Dira akhirnya terlihat lebih tenang. Napasnya kembali teratur.
Namun tangannya masih memeluk Elvan.
Tidak memberi kesempatan sedikit pun bagi Elvan untuk pergi.
Elvan menatap langit-langit kamar dengan napas berat.
“Kalau kamu tahu apa yang kamu lakukan…”
Ia menutup matanya sebentar. Namun beberapa detik kemudian…
Ia menoleh ke arah Dira.
Wajah gadis itu terlihat damai saat tidur.
Tanpa sadar…
Elvan tersenyum kecil.
Tangannya kembali mengusap rambut Dira.
“Tidurlah cantik.…” Ia ikut memejamkan matanya
Dan malam itu…
Untuk pertama kalinya sejak lama menunggu.
Elvan tetap di sana sampai pagi.
.
.
.
.
.
.
Bersambung..............