jeon jungkook gadis manis itu menyimpan sebuah rasa kepada sahabat masa kecilnya kim taehyung tapi sayang kim taehyung mencintai wanita lain.
hingga sebuah perjodohan membuat keduanya tinggal serumah.
akankah jungkook bisa mengungkapkan perasaannya?? atau justru dia akan memilih diam?
bagaimana nasib rumah tangga mereka dengan berbagai konflik yg hadir khususnya orang ketiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi
Ketika di dunia mimpi aku bisa memilikimu, maka aku lebih memilih terjebak di dunia mimpi itu
^^^Jungkook^^^
Jungkook mengerjap dan berusaha menajamkan pandangannya, bau disinfektan menyapa indera penciumannya.
Perlahan mata onyx itu terbuka dan pemandangan pertama yang dia lihat wajah letih sang mama seperti berhari hari tidak tidur.
“Akhirnya kamu sadar juga sayang, apa yang kamu rasakan katakan kepada mama", tanya nyonya jeon sambil menggenggam tangan pucat putri semata wayangnya.
“Kookie dimana? Dimana taehyung", kata jungkook lirih dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih dan kebingungan yang mengusik dirinya saat ini saat tidak mendapati tunangannya tidak berada disampingnya.
Tak beberapa lama dokter datang dan memeriksa jungkook
“Kondisi pasien sudah lebih baik, pasien sudah melewati masa kritisnya dan tinggal pemulihan saja", jelas sang dokter.
Setelah kepergian dokter nyonya jeon menghampiri putrinya yang tengah duduk bersandar sambil memandang keluar jendela.
“Sayang", panggil nyonya jeon.
"Apa yang terjadi? Dimana taehyung?” Tanya jungkook lagi kepada sang mama.
"Kamu tidak sadarkan diri selama 1 minggu lebih, mama menemukanmu di balkon kamar pagi hari dengan tubuh sedingin es sayang”, kata nyonya jeon.
"Aku kritis? Lalu pertunanganku dengan taehyung?”, tanya jungkook.
Mama jeon manatap sang putri penuh tanda tanya.
"Pertunangan apa sayang? Tidak ada pertunangan antara kamu dan taehyung”, kata mama jeon.
Deg.
Jungkook membeku di tempatnya, otaknya mencoba memproses apa yang sebenarnya terjadi.
Apakah semua yang dia alami itu hanya mimpi? Tapi kenapa terasa begitu nyata, bahkan aroma tubuh taehyung masih melekat di ingatannya saat ini.
"Tapi mah, taehyung membeli mansion untuk kita tinggali berdua”, kata jungkook lagi.
Nyonya jeon menggenggam tangan putrinya.
"Sayang dengar mama, tidak ada pertunangan dan kamu juga tidak tinggal dengan taehyung”, jelas nyonya jeon.
Jungkook terdiam dan refleks tangannya mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas sebelah tempat tidurnya. Dirinya melihat tanggal yang ada di ponsel tersebut.
Keningnya mengernyit saat melihat tanggal yang terpampang, 1 minggu lebih setelah dirinya sembuh dari demam.
“Apakah semuanya hanya mimpi?" Monolog jungkook lirih.
"Kamu bilang apa sayang?” Tanya nyonya jeon saat mendengar jungkook seperti mengatakan sesuatu.
Jungkook menggeleng pelan
"Tidak mah, tidak bilang apa-apa”, kata jungkook.
Keesokan paginya terlihat jaehyunh yang memasuki ruang rawat jungkook.
"Eoh jae, kamu datang lagi”, sapa nyonya jeon.
"Iya tante, tante bisa pulang dan istirahat biar jae yang menjaga jungkook”, kata jaehyun sopan.
"Baiklah tante titip putri tante ya, oh ya jungkook sudah sadar semalam”, kata nyonya jeon sebelum meninggalkan ruangan.
Sebuah senyuman terbit di bibir jaehyun saat mendengar kabar itu.
"Kabar yang sangat baik untuk kita dengar tante”, kata jaehyun sambil tersenyum.
"Terima kasih ya jae ,selama hampir 1 minggu ini kamu selalu menjaga jungkook”, kata nyonya jeon sambil menggenggam tangan jaehyun.
"Jangan berterima kasih tante, jungkook adalah sahabat jae jadi sudah sewajarnya kami saling menjaga bukan”, kata jaehyun dan nyonya jeon pun mengangguk.
Beberapa saat setelah kepergian nyonya jeon tampak jungkook yang terbangun dari tidurnya.
“Mama, kookie haus", kata jungkook lirih sambil berusaha bangun dan duduk.
Jaehyun yang melihat jungkook bangun segera menghampirinya.
“Kookie butuh sesuatu?" Tanya jaehyun lembut.
Jungkook mendongak dan mendapati jaehyun yang berada tepat di depannya.
“Jaehyun kenapa disini? Dimana rose?" Tanya jungkook heran.
“Aku menjagamu kookie, sudah hampir 1 minggu aku dan kedua orang tuamu bergantian menjagamu", jelas jaehyun.
“Lalu rose bagaimana? Bagaimana jika dia marah?" Tanya jungkook lagi.
“Ada apa dengan rose dan kenapa dia bisa marah?" Tanya jaehyun heran.
“Bukankah kalian pacaran?", tanya jungkook spontan.
“Kami tidak ada hubungan apapun kookie", jelas jaehyun.
Kookie hanya diam sambil menatap pria di depannya.
"Kookie are you okey?” Tanya jaehyun sambil menggenggam tangan jungkook.
Jungkook tersentak dan mengangguk pelan seolah masih memproses semuanya yang terjadi.
Jungkook benar-benar bingung mana yang mimpi dan mana yang nyata semuanya terasa sama dan nyata.
"Jaehyun, apakah taehyung menjengukku?” Tanya jungkook pelan.
Jaehyun menatap ke arah jungkook dengan tatapan yang sulit diartikan ketika pertanyaan itu terlontar dari bibir si manis.
Taehyung memang menjenguknya di hari pertama bahkan menemani gadis manis itu semalaman tapi entah apa yang terjadi di hari berikutnya hingga hari ini taehyung sama sekali tidak terlihat.
Jaehyun tidak tahu bagaimana mengatakannya kepada jungkook, karena dia takut jika gadis itu akan kecewa.
"Jae kenapa kamu diam saja?”, kata jungkook membuyarkan lamunan jaehyun.
"Ah maaf tadi kamu tanya apa?” Kata jaehyun.
"Taehyung, apakah taehyung menjengukku?” Tanya jungkook lagi.
"Dia menjengukmu bahkan menemanimu di hari pertama kamu kritis”, kata jaehyun.
Sebuah senyuman terbit dari bibir si manis, senyuman bahagia yang mungkin setelah ini akan hilang seketika jika jungkook mengetahui apa yang akan dikatakan oleh jaehyun setelahnya.
“Taehyung memang menemanimu di hari pertama tapi setelah itu dia tidak terlihat hingga sekarang, aku juga tidak tahu apa yang dia lakukan tapi yang aku dengar dia selalu bersama dengan irene”, jelas jaehyun lirih.
Perasaan sesak menyeruak di hati jungkook, sekarang dia tahu bahwa semua yang dia alami kemarin hanyalah MIMPI atau bisa di bilang ILUSI, kenyataan yang terpampang sekarang adalah taehyung masih menjadi kekasih irene.
Jaehyun menggenggam tangan mungil itu erat seolah menyalurkan kekuatan untuk jungkook.
"Kamu baik-baik saja?”, tanya jaehyun memastikan dan jungkook pun mengangguk pelan.
Jaehyun mengangkat dagu jungkook dan menatap gadis itu lekat, dia memang baru mengenal jungkook tapi dari sorot mata gadis itu jaehyun tahu jika jungkook teramat sangat mencintai taehyung.
"Menangislah jika ingin menangis kookie”, kata jaehyun lembut.
Jungkook hanya diam memandang pria di depannya saat ini, tiba-tiba ingatan tentang video antara taehyung dan irene melintas di pikiran jungkook seketika.
“Apa yang harus aku lakukan jae? Semuanya terasa membingungkan, aku berharap terus berada di dunia mimpi sehingga aku bisa memiliki dirinya selalu tapi kenyataan sesungguhnya menamparku, kenyataan bahwa aku sekarang hanyalah sahabat sedangkan irene adalah kekasihnya", kata jungkook panjang lebar.
Jaehyun membawa tubuh mungil itu kedalam pelukannya.
“Lepaskan jika itu terus membuatmu sakit kookie, kamu tidak harus mempertahankan sesuatu hal jika pada akhirnya itu akan selalu membuatmu sakit", kata jaehyun sambil mengelus punggung sempit jungkook.
“Tapi aku sangat mencintainya jae, bahkan aku tidak bisa membencinya", isak jungkook dalam pelukan jaehyun.
Jaehyun melepaskan pelukannya dan menangkup kedus pipi yang basah oleh air mata itu.
"Kamu tidak harus membencinya jungkook, kamu hanya perlu melepaskannya perlahan tidak perlu terburu buru”, nasehat jaehyun.
"Apakah aku bisa jae? Aku tidak yakin bisa melakukannya”, kata jungkook lirih.
Jaehyun menggenggam tangan jungkook erat.
“Aku yang akan membantumu, aku yang akan memastikan kamu bisa melepaskannya perlahan tanpa kamu sadari", kata jaehyun tanpa ada keraguan.
Jungkook menatap tepat kearah netra pria itu, tidak ada keraguan sama sekali disana, kepastian bahwa pria itu akan bisa mengeluarkan jungkook dari rasa sakitnya selama ini.