Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: KANVAS CAHAYA DI ATAS BETON
Ibu kota menyambut mereka dengan hujan rintik yang memantulkan lampu-lampu kota, menciptakan genangan warna-warni di atas aspal hitam. Namun, bagi Kai, pemandangan ini tidak lagi terasa seperti kekacauan yang bising. Di sampingnya, Elara menggenggam tangannya erat saat mereka berdiri di depan lobi utama Lumina Corp.
Hari ini, tidak ada seragam teknisi. Kai mengenakan setelan jas berwarna biru gelap yang elegan—pilihan warna yang ia lakukan sendiri dengan penuh percaya diri.
"Siap?" bisik Elara. Ia tampak anggun dengan mantel wol panjangnya, suaranya kini stabil dan memberikan kekuatan yang tak kasat mata bagi Kai.
"Siap," jawab Kai pendek.
Mereka melangkah masuk. Kehadiran mereka segera memicu keheningan di lobi yang luas itu. Para staf yang dulu melihat Kai sebagai target buruan kini menunduk hormat. Berita tentang kepemilikan saham mayoritas Kai telah menyebar seperti api di musim kering.
Di lantai paling atas, di ruang rapat dewan direksi yang berdinding kaca, para pengacara dan eksekutif yang tersisa sudah menunggu. Di ujung meja panjang itu, kursi direktur utama tampak kosong—kursi yang dulu diduduki Yudha dengan keangkuhannya.
"Selamat datang, Pak Kai Malik," ucap seorang pengacara senior sambil berdiri. "Kami telah menyiapkan semua dokumen transisi. Sesuai dengan wasiat terakhir ayah Anda dan keputusan pengadilan, Lumina Corp kini berada di bawah kendali penuh Anda."
Kai duduk di kursi itu. Ia meraba permukaan meja kayu mahoni yang dingin. Ia tidak merasakan haus akan kekuasaan; ia hanya merasakan tanggung jawab yang berat.
"Langkah pertama saya," suara Kai bergema di ruangan itu, tenang namun otoriter, "adalah membubarkan divisi pengembangan senjata dan pengalihan dana ilegal. Kita akan kembali ke visi asli ayah saya. Kita akan membangun ruang yang memberikan kehidupan, bukan sekadar struktur beton yang dingin."
Beberapa direktur tampak gelisah, namun mereka tidak punya pilihan selain mengangguk.
"Dan satu hal lagi," tambah Kai. "Saya ingin akses ke unit penyimpanan bawah tanah level empat. Sekarang."
Perjalanan menuju ruang penyimpanan bawah tanah itu terasa seperti turun ke dasar memori. Hanya Kai dan Elara yang diizinkan masuk. Di sana, di balik pintu baja berat yang memerlukan pengenalan pola gambar manual, Kai berdiri di depan sebuah konsol tua.
"Ayahku selalu bilang, 'Seni bukan hanya untuk dilihat, Kai. Seni adalah cara kita berinteraksi dengan cahaya'," gumam Kai.
Ia mengambil pena digital dan menggambar pola bunga matahari yang ia ingat dari foto ibunya—pola yang sama yang ia lihat pada sketsa Lumina di peron kereta.
*Sreeet... Klik.*
Pintu geser terbuka, mengungkapkan sebuah ruangan yang luas dan dipenuhi dengan proyektor laser canggih dan sensor gerak. Ini adalah purwarupa dari **"Proyek Spektrum"**.
Saat Kai menyalakan saklar utama, ruangan itu meledak dalam warna. Ribuan partikel cahaya menari-nari di udara, bereaksi terhadap gerakan tangan Kai. Cahaya itu membentuk gradasi pelangi yang sangat murni, menyelimuti mereka dalam kehangatan visual yang belum pernah Kai rasakan sebelumnya.
Elara menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca. "Kai... ini luar biasa. Ini bukan sekadar teknologi. Ini adalah perasaan."
"Ayahku merancang ini untuk mereka yang kehilangan persepsi warna akibat trauma, seperti aku," jelas Kai, suaranya bergetar karena emosi. "Sensor ini menerjemahkan emosi dan gerakan menjadi frekuensi cahaya yang bisa ditangkap oleh bagian otak yang tidak rusak. Dia ingin menyembuhkanku, Elara."
Elara melangkah ke tengah ruangan. Ia mulai bersenandung—melodi yang ia temukan di teater tua Oakhaven. Ajaibnya, proyektor itu merespons suara Elara. Cahaya di ruangan itu berubah menjadi warna biru langit yang menenangkan, berdenyut mengikuti ritme nadanya.
"Suaramu... ia memiliki warna di sini, Elara," bisik Kai.
Kai akhirnya mengerti. Tugasnya bukan hanya memimpin perusahaan, tapi menyelesaikan mahakarya ayahnya. Ia ingin menjadikan Lumina Corp sebagai pusat penyembuhan melalui seni dan cahaya bagi ribuan orang yang mengalami trauma seperti dirinya.
Namun, di tengah keindahan itu, ponsel Kai bergetar. Sebuah pesan dari Sarah.
*Kai, ada masalah di penjara pusat. Yudha menolak untuk bicara pada pengacara, tapi dia meninggalkan sebuah pesan terakhir untukmu sebelum dia dipindahkan ke fasilitas isolasi. Dia menyebutkan tentang 'Halaman yang Terbakar'. Kau harus waspada.*
Kai menatap layar ponselnya, lalu menatap Elara yang masih menari di antara partikel cahaya. Ia tahu, kemenangan ini barulah permulaan. Yudha masih memiliki kartu terakhir di lengan bajunya, sebuah rahasia yang mungkin tertanam jauh di dalam fondasi Lumina Corp sendiri.
"Ada apa?" tanya Elara, menyadari perubahan ekspresi Kai.
Kai menyimpan ponselnya dan tersenyum tipis, mencoba tidak merusak momen itu. "Hanya urusan administratif. Mari kita nikmati ini sebentar lagi. Aku ingin menggambarmu di sini, di tengah cahaya ini."
Kai mengambil tablet digitalnya. Ia tidak lagi menggambar dengan hitam dan putih. Ia memilih palet warna emas, merah muda, dan biru. Di atas kanvas digital itu, ia mulai melukis Elara—bukan sebagai wanita yang penuh luka, tapi sebagai dewi cahaya yang membawa suaranya kembali ke dunia.
Di luar gedung, badai ibu kota mulai reda. Namun di dalam lubang terdalam Lumina, sebuah mekanisme tua mulai berdetak, dipicu oleh pembukaan Proyek Spektrum. Sebuah rahasia yang telah dikubur ayahnya selama puluhan tahun kini mulai merayap naik ke permukaan.