"Di dunia para penguasa, segalanya bisa dibeli—termasuk keturunan. Namun, apa jadinya jika rahim yang disewa justru membawa cinta yang tak terduga?"
Adrian Ardilwilaga adalah definisi sempurna dari kekuasaan dan kekayaan. Sebagai CEO Miliarder dari Ardilwilaga Group, ia memiliki segalanya, kecuali satu hal yang sangat dituntut oleh dinasti keluarganya: seorang pewaris. Pernikahannya dengan Maya Zieliński, wanita sosialita kelas atas yang anggun namun menyimpan rahasia kelam tentang kesehatannya, berada di ambang kehancuran karena tekanan sang mertua yang otoriter.
Demi menjaga status dan cinta Adrian, Maya merancang sebuah rencana nekat—sebuah kontrak rahim ilegal. Pilihan jatuh kepada Sasha Vukoja, seorang mahasiswi seni berbakat asal Polandia yang sedang terdesak kesulitan ekonomi. Sasha setuju untuk menjadi ibu pengganti, tanpa pernah menyangka bahwa ia akan jatuh hati pada sang pemberi kontrak.
Ketegangan memuncak saat Arthur, sang pangeran mahkota, lahir.Bagaimana kelanjutannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta ini Milik Kita
Hujan sisa badai sore itu masih menyisakan rintik tipis di balkon griya tawang The Obsidian Towers. Di dalam ruang tengah yang luas dan sunyi, hanya ada suara detak jam dinding dan napas halus Arthur yang terlelap di boks bayi. Adrian sedang berada di kantor hukum untuk menyelesaikan serangan balik terhadap Reza, meninggalkan dua wanita yang paling berarti dalam hidupnya dalam satu ruangan yang sama.
Maya berdiri di dekat jendela, menatap refleksi dirinya sendiri yang tampak lelah. Ia kemudian menoleh ke arah Sasha yang duduk kaku di sofa, matanya tak pernah lepas dari boks bayi. Maya mengambil dua cangkir teh hangat, melangkah mendekat, dan meletakkannya di atas meja marmer.
"Minumlah, Sasha. Jakarta sedang dingin malam ini," ucap Maya lembut, nada suaranya tak lagi mengandung racun atau otoritas.
Sasha mendongak, terkejut dengan kelembutan yang tiba-tiba itu. "Terima kasih, Nyonya Maya."
"Panggil saja Maya. Di ruangan ini, tidak ada lagi Nyonya atau pelayan. Hanya ada dua orang yang sama-sama hancur karena mencintai sesuatu yang sama," Maya duduk di hadapan Sasha, melipat kakinya dengan anggun namun matanya menyiratkan kesedihan yang jujur.
Keheningan menyelimuti mereka sejenak sebelum Maya membuka suara kembali. "Aku melihat caramu menatap Adrian tadi di ruang pertemuan. Dan aku melihat caramu menatap Arthur. Itu bukan tatapan seorang wanita yang hanya mengejar kontrak."
Sasha menunduk, jemarinya memainkan pinggiran cangkir teh. "Aku tidak pernah bermaksud menghancurkan pernikahanmu, Maya. Aku hanya... aku tidak tahu bagaimana cara berhenti mencintai pria yang telah memberiku alasan untuk bertahan hidup di tengah kesepianku di Polandia."
Maya menghela napas panjang, sebuah senyum pahit tersungging di bibirnya. "Dulu, aku pikir aku bisa memiliki semuanya. Aku pikir rahim bisa dibeli, kebahagiaan bisa disewa, dan cinta Adrian adalah hak patenku seumur hidup. Tapi melihatmu datang jauh-jauh dari Warsawa, mempertaruhkan nyawamu hanya untuk melihat Arthur... itu menyadarkanku. Aku memiliki statusnya, tapi kau memiliki jiwanya."
Maya condong ke depan, menatap mata Sasha dengan intensitas yang membuat Sasha terpaku. "Sasha, jawab jujur dari hatimu yang paling dalam. Apakah kau benar-benar mencintai suamiku? Bukan karena dia kaya, bukan karena dia ayah dari anakmu, tapi karena dia adalah Adrian?"
Air mata Sasha jatuh tanpa bisa dibendung. "Aku mencintainya sejak malam pertama kami berbicara tentang seni di apartemen rahasia itu. Aku mencintainya saat dia memegang tanganku ketika Arthur menendang untuk pertama kali. Dan aku tetap mencintainya meski aku tahu aku harus pergi."
Maya terdiam cukup lama. Ia teringat bagaimana orang tuanya menuntutnya cerai, dan bagaimana Haryo Ardilwilaga ingin membuangnya. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa memenangkan perang ini sendirian. Jika ia mengusir Sasha, ia akan kehilangan Adrian selamanya. Jika ia membiarkan Sasha pergi, hatinya akan selalu berada di Polandia.
"Aku tidak sanggup kehilangan Arthur, Sasha. Dan aku sadar, aku juga tidak sanggup kehilangan Adrian," suara Maya mulai bergetar. "Keluarga kita sedang runtuh. Musuh ada di mana-mana. Jika kita terus berebut, anak itu yang akan menjadi korbannya."
Maya menarik napas dalam, seolah mengumpulkan sisa martabatnya. "Jika aku memintamu untuk tetap di sini... bukan sebagai wali atau bibi, tapi sebagai bagian dari kami... apakah kau bersedia? Aku tidak peduli lagi dengan apa yang dikatakan orang tuaku atau dunia. Jika poligami adalah satu-satunya cara agar Arthur memiliki ibu kandungnya dan aku tetap memiliki suamiku, maka biarlah aku berbagi."
Sasha terbelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Maya, apa yang kau katakan? Kau adalah wanita terpandang, kau—"
"Aku adalah wanita yang ingin bahagia, Sasha," potong Maya, air mata kini membasahi pipinya. "Adrian mencintaimu, itu kenyataan yang harus kutelan setiap hari. Daripada aku hidup dalam bayang-bayangmu, lebih baik kau berada di depanku. Mari kita jaga Arthur bersama. Kamu memberinya darah dan cinta, aku memberinya nama dan perlindungan. Bisakah kita menjadi satu untuknya?"
Sasha meraih tangan Maya di atas meja. Dua tangan yang dulu saling bermusuhan itu kini saling menggenggam. Di tengah kepungan skandal dan kebencian orang tua mereka, dua wanita ini menemukan sebuah resolusi yang tak terpikirkan sebelumnya.
"Aku hanya ingin anakku, Maya. Dan aku hanya ingin Adrian bahagia," bisik Sasha di sela isaknya.
"Maka hiduplah bersama kami," jawab Maya mantap. "Kita akan hadapi orang tua kita bersama. Kita tunjukkan pada mereka bahwa keluarga bukan hanya soal DNA atau hukum, tapi soal siapa yang mau bertahan saat badai datang."
Di ambang pintu yang sedikit terbuka, Adrian berdiri mematung. Ia mendengar setiap kata. Ia melihat dua wanita itu menangis bersama di depan boks bayi anaknya. Beban di bahunya seolah terangkat sebagian. Masalah memang belum selesai 100%, tapi di dalam ruangan itu, perdamaian yang mustahil baru saja ditandatangani dengan air mata.