“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”
Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.
Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.
Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susu 5
Suara lantunan surat yasin yang dibaca Rizal dan Bu Harmi terhenti seketika saat mendengar teriakan Nadya. Bu Harmi dengan raut panik lekas melepas mukenanya seraya berjalan menyusul Rizal yang sudah lebih dulu berlari.
“Ada apa, Nad?” tanya Rizal dengan wajah panik.
“Abang lihat paha Adam, ada bekas kuku. Gila kali ya, si Dewi. Kalau nggak suka sama Nadya bilang aja, jangan Adam yang jadi pelampiasan,” oceh Nadya dengan napas tersengal—menahan amarah.
Rizal yang berdiri di samping Nadya mengelus pelan punggung gadis manis itu, tatapannya tertuju pada paha sang putra.
“Dewi mungkin juga nggak sengaja, Nad.” ucapnya kemudian, berusaha menenangkan Nadya yang masih menahan amarah di samping putranya.
Nadya terbelalak seketika, rahangnya mengeras. “Nggak sengaja? Abang nggak liat paha Adam sampe merah dan bengkak begitu?!”
Bu Harmi yang baru saja masuk kamar, langsung menghampiri dan memeriksa paha sang cucu. Dahi wanita paruh baya itu mengerut, tarikan napasnya tertahan. “Kok bisa sampai seperti ini,” gumamnya, “sudah diolesi salep, Nad?”
“Sudah, Bu. Barusan Nadya olesin,” sahut Nadya sambil terus mengusap paha Adam.
Rizal masih berdiri ditempatnya, wajahnya datar tapi ada gurat amarah di sorot matanya. Ia mencoba tenang meski sejujurnya hatinya juga sakit melihat sang putra masih terisak dalam tidurnya. Ia lalu menghela napas berat sebelum berujar pelan.
“Sholat dulu, Nad, sudah hampir lewat waktu magribnya.”
Nadya tak menjawab, hanya melirik sinis ke arah Rizal, lalu pergi keluar kamar. Bibir gadis bermata sendu itu berdecih pelan saat melihat Dewi duduk santai di meja makan sambil menghabiskan makanannya.
“Aku kira kamu pergi sholat, taunya makan? Bisa ya, habis bikin Adam nangis sampe biru terus enak-enakkan makan,” sindir Nadya.
Dewi yang sedang asyik dengan kepala lele gorengnya nyaris tersedak, gadis berhijab itu melirik sinis sembari menyuapkan nasi ke mulutnya, tanpa memperdulikan cibiran dari Nadya.
Selesai menjalankan kewajibannya, Nadya kembali ke kamar, memeriksa paha Adam yang masih merah dan bengkak, bibir mungilnya terus berdesis seolah merasakan kesakitan sang anak susu.
“Di kasih salep lagi, Nad, atau perlu kita bawa ke dokter?” tanya Rizal, sambil mengayun pelan Adam yang ada di pangkuannya.
“Nggak perlu.” jawab Nadya ketus. “Kemana pula si Dewi itu, lama betul dari tadi nggak selesai-selesai,” lanjutnya seakan tidak sabar menunggu Dewi untuk meminta penjelasan.
“Lagi sholat mungkin?” Bu Harmi turut menyahut.
Nadya mendengus kasar, air mukanya memerah menahan amarah. “Masak belum selesai, Nadya habis sholat tadi dia sudah ambil air wudhu, emang alasan buat menghindar aja kayanya, di lama-lamain sholatnya.”
“Siapa yang kamu bilang menghindar? Jadi, kamu pikir orang sholat itu alasan?” sahut Dewi dengan suara lantang.
“Lalu, kalau bukan alasan apa? Waktunya sholat nikeu makan, giliran orang sholat nikeu cari masalah sampe paha Adam ngecap kuku begitu.” sungut Nadya. (Nikeu \= kamu)
Mendengar tuduhan Nadya dagu lancip Dewi terangkat sedikit, tatapannya menjurus ke arah Nadya. “Siapa kamu berani ngatur orang mau makan atau sholat. Lagian yang jaga Adam ‘kan kamu, kenapa paha Adam merah nyalahin aku?!”
Tawa sumbang terbit dari bibir Nadya, sorot matanya memicing tajam. “Kamu mau berbalik nyalahin saya? Jelas-jelas Adam nangis kejer waktu di gendongan kamu, dan pas saya periksa ada bekas kuku di pahanya, kok masih mau berkilah, lawang!” (gila)
Dewi belingsutan seketika, wajahnya mendadak kaku, bibirnya bergumam, namun, tidak ada suara yang keluar dari tenggorokannya. Ia lalu bergeser kecil ke samping Rizal seolah mencari perlindungan.
“Nggak bisa jawabkan kamu? Mau cari pembelaan apa lagi? Hah!” cerca Nadya.
“Kamu kenapa bisa sembrono begini sih, Dew? Kalau sampe paha Adam luka gimana?” timpal Rizal, suaranya penuh penekanan meski tak setajam Nadya.
Dewi menggigit bibir bawahnya, wajahnya pias, suaranya sedikit terbata. “I-itu, Bang, Aku nggak sengaja saking gemesnya.”
“Gemes? Heh Dewi, kamu itu bikin Adam nangis sambil ngoceh perkara aku makan satu meja sama Ibu dan Bang Rizal. Itu bukan gemes sama Adam, tapi, cemburu,” sahut Nadya.
“Cem—”
“Sudah!” sergah Rizal yang semakin tak tahan mendengar perdebatan dua gadis itu. “Lain kali lebih hati-hati, Dew. Adam itu masih bayi, kulitnya masih sensitif, kalau sampe ada apa-apa kita juga yang repot.” lanjut pria berwajah teduh itu, lalu meletakkan Adam kembali ke kasur.
Bu Harmi yang sedari tadi hanya menyimak turut menyahut. raut wajahnya tak setenang biasanya, suaranya tegas dan menusuk. “Bukan kita yang repot, tapi, Nadya. Bayi itu kalau rewel maunya netek terus, atau nggak minta gendong, dan pasti maunya cuma sama Ibunya.”
Wanita paruh baya itu lalu melirik sinis ke arah Dewi. “Lain kali kalau bayi tidur itu geletakin saja, nggak perlu digendong, atau kalau mendekati waktu magrib cukup di pangku dan jangan dibawa keluar kamar.”
Dewi tak lagi menjawab, wajahnya tertunduk dengan kilat amarah di matanya. Dalam hati ia terus menggumal tidak terima. ‘Awas aja kamu Nadya, aku laporkan ke mamah kamu.’
Di tempat yang berbeda. Suara petikan gitar mengalun merdu di caffee bergaya rustik yang ada di tengah kota. Aroma cappucino beradu manis cake coklat yang dibawa waiters menguar ke seisi ruangan. Di lantai dua, tempat kantor meneger berada, atmosfer panas sedang terjadi.
Rizka—sang meneger caffee nampak tersudut di belakang kursi kerjanya. Di depannya pria dengan tato di lengan kiri—Rozali terus mengintimidasi.
“Kamu itu bosnya, masak nggak tau anak buah kamu minggat ke mana?!” bentak Rozali.
Sorot mata Rizka gemetar namun sedikitpun tak gentar, dengan dagu terangkat dan suara tak kalah lantang gadis dengan blezzer hitam itu menjawab.
“Gue ini bosnya bukan jongosnya!”
Rozali menyeringai seram, satu tangannya terulur hendak membelai wajah ketus Rizka. “Berani betul mulut kamu ini, belum pernah dijejali batang apa!”
Gadis cantik yang merupakan sahabat dari Nadya itu pun berdecih kasar saat mendengar ucapan si preman, sudut bibirnya terangkat sedikit.
“Batang nggak ada segenggaman aja begaya, oy.” Ia kemudian menyingsingkan rok spannya, lalu naik ke atas meja seraya menatap tajam wajah bopeng Rozali. “Nggak usah bikin masalah di tempat saya kalo nggak mau batang kamu saya cincang jadi seratus bagian.” Ancamnya seraya meraih batang sakti milik Rozali dan meremasnya kuat.
“Kimakkk! Betina gila!” umpat Rozali sambil meringis kesakitan.
“Bilang sama bos sawit tua bangka itu, Nadya udah nggak butuh duitnya, suruh dia urus ayam-ayam kampus peliharaannya aja!” sungut Rizka, kemudian melepas sepatunya dan melemparkan tepat ke kepala sang preman.
Dengan kepala benjol dan batang yang masih ngilu, Rozali meninggalkan caffee milik Rizka yang ia ketahui tempat bekerja Nadya. Bibir hitam preman kampung itu terus mengomel manakala dia sudah sampai parkiran—tempat anak buahnya menunggu.
“Sial betina gila itu, sampe ngilu dibuatnya harta pusakaku. Kemana pula perginya betina satu itu, bisa mati dijejali sawit aku kalau ndak bawa dia pulang malam ini juga.”
Bersambung.
Semangat 🔥