NovelToon NovelToon
Bayangkan Di Rumah Sendiri

Bayangkan Di Rumah Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cerrys_Aram

Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Retakan di Panggung Hukum

Ruang pertemuan di lantai atas Hotel Mayfair berubah menjadi ruang krisis dadakan.

Lampu putih yang terang membuat wajah semua orang terlihat pucat. Di meja panjang yang biasanya digunakan untuk rapat bisnis santai, kini berserakan tablet, laptop, dan dokumen hukum yang dibuka tergesa-gesa.

Di layar tablet milik Javian, grafik saham Talandra Group terus bergerak turun. Garis merah menukik tajam seperti luka yang baru saja disayat.

Angka kerugiannya belum menghancurkan perusahaan, tapi cukup untuk membuat pasar panik.

Ponsel Zerya berdering tanpa henti.

Satu panggilan dari media.

Dua dari investor.

Beberapa dari nomor yang bahkan tidak ia kenal.

Ia mematikan layar ponselnya dengan kesal.

"Saya akan ke Singapura malam ini," ucap Zerya akhirnya. Suaranya bergetar tipis, bukan karena ragu, tapi karena menahan campuran amarah dan ketakutan. "Saya akan menemui Ayah saya. Dia harus menjelaskan semuanya."

Javian bahkan tidak langsung menoleh.

Ia tetap menatap grafik saham di tabletnya seolah angka-angka itu jauh lebih menarik daripada rencana nekat Zerya.

"Kau ke sana," katanya tenang, "Kau akan bunuh diri reputasi."

Zerya menatapnya tajam.

"Regulator pasar modal London baru saja mengirim notifikasi resmi," lanjut Javian sambil menggeser layar tablet. "Mereka akan menyelidiki transaksi saham Talandra dalam empat puluh delapan jam terakhir."

Ia akhirnya menatap Zerya.

Tatapannya dingin. Tajam. Tanpa emosi.

"Dan Kau, Zerya… adalah fokus utama mereka."

Zerya merasa dadanya seperti ditekan sesuatu yang berat.

"Karena saya menandatangani adendum kontrak itu," bisiknya pelan.

Javian tidak menyangkal.

Hening memenuhi ruangan selama beberapa detik.

Di luar jendela, hujan London turun tipis membasahi jalanan kota.

"Apa yang harus saya lakukan?" tanya Zerya akhirnya.

Untuk pertama kalinya sejak tiba di London, suaranya terdengar rapuh.

Ia menatap Javian, bukan sebagai mitra bisnis atau sekutu strategis, tapi sebagai satu-satunya orang di ruangan itu yang mungkin tahu jalan keluar.

Javian berjalan menuju jendela besar di ujung ruangan.

Ia memandang hujan yang jatuh di atas lampu-lampu kota.

"Aldric mengira dia bisa mengorbankan Kau untuk menyelamatkan dirinya," ucapnya pelan.

Ia berbalik.

Tatapannya kembali dingin dan penuh perhitungan.

"Dia salah."

Zerya menunggu.

"Apa yang kita lawan sekarang bukan hukum," lanjut Javian. "Kita melawan persepsi."

Ia berjalan mendekat.

"Jika Kau terbang ke Singapura sekarang, Kau terlihat seperti orang yang panik. Seperti seseorang yang mencoba menutup jejak."

Zerya mengerti arah pikirannya.

"Jadi saya harus tetap di London?"

"Tepat."

Javian berhenti tepat di depannya.

"Kau akan menjadi saksi kunci bagi regulator London."

Zerya menatapnya tidak percaya.

"Saksi kunci… melawan ayah saya sendiri?"

Javian bahkan tidak berkedip.

"Jika Kau ingin bebas," katanya datar, "Kau harus membakar jembatan yang menghubungkan Kau dengan masa lalu."

Ia mengambil tablet di meja dan menampilkan beberapa dokumen transaksi.

"Tunjukkan pada regulator bahwa Seorang Zerya Omerly tidak memiliki akses ke informasi insider trading itu."

Ia menggeser layar.

"Dan bahwa tanda tangan Kau digunakan Aldric untuk transaksi tersebut."

Perlahan, strategi Javian mulai terlihat jelas di benak Zerya.

Dia tidak mencoba melindungi Aldric.

Dia juga tidak mencoba melawan hukum.

Dia sedang mengubah posisi Zerya.

Dari tersangka…

menjadi korban.

"Ini berarti…" suara Zerya hampir tidak terdengar, "saya benar-benar hancur sebagai anak."

Javian menatapnya tanpa simpati.

"Kau sudah hancur sebagai anak sejak dia menggunakan Kau sebagai alat."

Kata-katanya tajam seperti pisau.

"Lalu sekarang pilihlah," lanjutnya.

"Kehancuran emosional sebagai anak…"

ia berhenti sejenak,

"atau kehancuran total secara hukum dan reputasi."

Satu jam kemudian, berita baru muncul dari Singapura.

Pernyataan resmi dari kantor Aldric Omerly dirilis ke publik.

Di layar televisi ruang rapat, juru bicara perusahaan membacakan kalimat yang terasa seperti pengkhianatan terang-terangan.

"Zerya Omerly bertindak di luar otoritas perusahaan. Kami menyesalkan tindakannya."

Sederhana.

Dingin.

Dan mematikan.

Aldric baru saja membuang putrinya sendiri di depan publik.

Di London, Zerya membaca pernyataan itu di layar ponselnya.

Ia menunggu rasa sakit.

Ia menunggu kemarahan.

Namun yang datang hanya satu hal.

Dingin.

Dingin yang menjalar pelan di seluruh tubuhnya.

Ia mengangkat kepalanya.

Di ujung ruangan, Javian sedang berbicara dengan tim hukumnya melalui telepon, membahas langkah selanjutnya dengan nada tenang seolah semua ini hanyalah permainan strategi biasa.

Zerya menatapnya beberapa detik.

Lalu sesuatu dalam dirinya berubah.

Ia tidak lagi membutuhkan perlindungan.

Ia membutuhkan pembalasan.

"Tuan Javian."

Javian berhenti berbicara dan menoleh.

Suara Zerya kali ini datar.

Namun matanya berbeda.

Tajam. Tegas. Dingin.

Tatapan yang bahkan belum pernah Javian lihat sebelumnya.

"Saya siap menjadi saksi kunci."

Ruangan menjadi sunyi.

Javian perlahan menutup teleponnya.

Ia menatap Zerya selama beberapa detik, lalu sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

Bukan senyum hangat.

Bukan senyum kemenangan.

Tapi senyum kagum seorang grandmaster yang baru saja melihat pionnya berubah menjadi ratu di papan catur.

"Bagus," ucap Javian pelan.

Tatapannya kembali tajam.

"Permainan yang sesungguhnya…"

ia berhenti sejenak,

"baru saja dimulai."

1
Iqlima Al Jazira
next thor, kopi & vote untukmu👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!