Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."
Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.
Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.
Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Perjalanan Menuju Rumah Baru
Setelah prosesi sederhana di masjid usai, tibalah saat yang paling menggetarkan hati bagi Hana, berpamitan pada orang tuanya. Di ambang pintu masjid, Mama memeluk Hana begitu erat, seolah tak ingin melepaskan putri kecilnya ke dalam badai yang belum benar-benar reda.
"Jadilah istri yang baik, Nak. Sabar adalah kunci, dan doa adalah senjatamu," bisik Mama di telinga Hana.
Papa hanya menepuk bahu Arlan dengan tatapan penuh pesan sebuah kepercayaan pria dewasa kepada pria lainnya untuk menjaga permata hati mereka.
Arlan membukakan pintu mobil untuk Hana.
Mengenai resepsi, Arlan sudah menyerahkan keputusan sepenuhnya pada Hana. Jika Hana ingin pesta yang meriah, Arlan akan mewujudkannya, namun jika Hana ingin tetap tenang seperti ini, Arlan pun tidak akan memaksa. Saat ini, yang mereka butuhkan bukanlah sorak-sorai tamu, melainkan ketenangan jiwa.
Mobil melaju membelah jalanan kota yang mulai beranjak sore. Di dalam kabin mobil yang sejuk, keheningan menyelimuti mereka berdua. Hana duduk di kursi penumpang, kursi yang selama ini selalu menjadi milik Bu Inggit.
Bayangan-bayangan masa lalu berkelebat di benak Hana, tawa renyah Inggit saat mereka pergi bersama untuk urusan butik, atau saat Inggit dengan manja menyuapi Arlan potongan buah di tengah kemacetan.
Kini, Hana duduk di sana. Bukan sebagai rekan bisnis, bukan sebagai "adik", melainkan sebagai wanita yang menyandang nama belakang pria di sampingnya.
"Hana," panggil Arlan memecah kesunyian.
Suaranya rendah, tetap berwibawa namun ada nada kehati-hatian di sana.
Hana tersentak dari lamunannya.
"Hah... iya, Pak?"
Arlan melirik sekilas melalui spion tengah sebelum kembali fokus pada jalanan.
"Apakah kamu merasa tertekan dengan pernikahan ini?"
Hana terdiam sejenak, menatap butiran tasbih kecil di jarinya. Ia menarik napas panjang, lalu menyunggingkan senyum tipis yang tulus.
"Jujur, Pak... saya merasa lega."
Arlan sedikit terkejut, ia menunggu kelanjutan kalimat Hana.
"Lega karena drama tuntutan keluarga Tante Siska sudah selesai. Lega karena saya tidak perlu lari lagi," lanjut Hana lirih.
"Tapi, Pak... untuk bersikap dan menjalankan peran sebagai seorang istri yang sesungguhnya... mungkin saya perlu waktu. Saya harap Bapak tidak keberatan."
Arlan mengangguk pelan, jemarinya mengetuk kemudi dengan ritme yang tenang.
"Saya mengerti, Hana. Saya tidak berharap kamu berubah menjadi orang lain dalam semalam. Kita jalani ini perlahan. Bagi saya, mengetahui kamu merasa aman dan tidak tertekan saja sudah lebih dari cukup."
Hana menatap profil samping wajah Arlan. Garis wajah pria itu tegas, namun sorot matanya menyimpan kelelahan yang sama dengannya.
"Pak," panggil Hana lagi.
"Iya?"
"Boleh kita ke makam Bu Inggit sebentar? Sebelum kita ke rumah?" pinta Hana.
Tanpa banyak tanya, Arlan memutar kemudi menuju arah pemakaman. Ia tahu, ada "izin" yang ingin Hana sampaikan secara batiniah.
Sesampainya di pusara Inggit, suasana begitu damai. Angin sore meniup helai hijab putih Hana. Kali ini, tidak ada tangis histeris. Tidak ada tubuh yang luruh ke tanah karena keputusasaan. Hana berjongkok, mengusap nisan kayu yang masih tampak baru itu dengan ujung jarinya.
"Bu Inggit... Hana datang," bisik Hana dengan senyum tenang.
"Hari ini Hana sudah menepati janji Hana. Hana akan menjaga Pak Arlan, seperti Ibu menjaga Hana dulu."
Arlan berdiri di belakang Hana, menatap pusara istrinya dengan perasaan campur aduk. Ia melihat Hana membacakan doa dengan khusyuk, bibirnya bergerak lembut melantunkan ayat-ayat suci. Ada rasa haru yang membuncah di dada Arlan melihat pemandangan itu. Hana tidak membenci takdir yang memaksanya menikah; ia justru memeluk takdir itu sebagai bentuk baktinya pada wanita yang sudah dianggapnya sebagai kakak.
"Terima kasih, Bu, sudah mempercayakan Hana," pungkas Hana.
Hana berdiri, membersihkan butiran tanah yang menempel di ujung bajunya.
Hana menoleh pada Arlan, matanya beradu dengan mata dosennya yang kini sudah sah menjadi suaminya.
"Saya siap pulang, Pak."
Kalimat itu sederhana, namun bagi Arlan, itu adalah pernyataan bahwa Hana telah membuka pintu rumah hatinya, meski mungkin baru sebatas beranda. Mereka melangkah meninggalkan area pemakaman, siap menghadapi kenyataan baru di bawah atap yang sama.