Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.
Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.
Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.
[Sistem Analisis Nilai Aktif.]
[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]
Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.
Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.
Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?
(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6--Misi Menangkap jambret
Udara malam terasa lembab setelah gerimis tipis yang turun menjelang magrib. Jam sudah menunjukkan pukul 22.45 ketika rolling door minimarket akhirnya ditutup.
Rahmat meregangkan bahu pelan. Shift malam selalu melelahkan, tapi hari ini berbeda. Entah kenapa pikirannya terasa lebih ringan.
“Capek banget gue hari ini,” keluh Danu sambil mengunci gembok tambahan. “Lu nggak capek, Mat?”
Rahmat hanya tersenyum tipis.“Lumayan, Kak. Habis ini pulang, kerjakan pr sekolah, paginya sekolah sampai sore, lalu kerja lagi ya. Gak ada kamus capek di hidup orang kurang mampu, kak,”
Begitu yang ia katakan, padahal kosakata kurang mampu jelas sangat gak cocok untuk dirinya yang sekarang punya ratusan juta dengan sistem. Ia jelas berubah jadi bocah kaya.
Cuma merendah saja.
Danu menepuk bahunya. “gue salut sih sama lo, masih muda, tapi pejuang keras. Tapi sekali-kali santai dan istirahat … Yuk, mie ayam depan gang. Laper banget gue.”
Rahmat mengangguk. Benar tidak ada salahnya makan sebelum pulang.
Motor RX King yang tadi ia parkir di samping toko kini terlihat kontras di bawah lampu jalan. Meski bukan baru, tampilannya jauh lebih rapi dari kemarin. Mesin yang sudah dibersihkan terdengar lebih halus.
Danu melirik motor itu lagi sebelum naik motornya sendiri.
“Gue masih bingung sih,” ucapnya santai, “lu dapet duit dari mana beli RX King begituan?”
Harga Rx king memang bukan ratusan jutaan, tapi melihat rahmat yang bahkan kesulitan sangat susah dibayangkan ia dapat uang banyak buat beli gituan. Pun bocah ini buka tipe orang yang gensi, kredit, main judol dll.
Rahmat sudah menduga pertanyaan itu akan keluar. Ia wajar dicurigai
“Itu barang jualan, Kak,” jawabnya ringan.
“Jualan apaan?” Danu menyipitkan mata.
“Motor itu juga barang jualan. Gue beli murah, pemiliknya kelilit hutang pinjol, lagian itu pajak sudah mati 3 tahun, terus gue jual lagi. Laku berkali-kali lipat.”
Danu tertawa kecil. “Ah masa sih? Emang bisa dapat untung banyak dengan kondisi gitu? Bukan bermaksud gimana, gue malah takutnya lo ditipu dan itu ternyata barang curian.”
“Aman, kak. Gak usah khawatir, aku sudah cek kok. Dan memang kondisi pajak mati, jadi minus, tapi mesin masih bagus banget, dan aku kenal orang maniak yang rela habisin duit banyak untuk ginian, untung banyak mah pokoknya.”
Danu mengerutkan kening. Bocah ini memang agak beda untuk anak seusianya, terlau cepat dewasa. “Lo paham masalah ginian ya?’
“Gimana lagi, orang miskin harus pinter jualan untuk untung kalau engga, ga ada makanan.”
Danu tidak terlalu memikirkan. Baginya, Rahmat itu bocah pintar yang mungkin beruntung sekali dua kali.
Mereka berhenti di warung mie ayam sederhana di pinggir jalan. Lampu kuning temaram, kursi plastik sedikit goyah, dan aroma kuah kaldu langsung menyambut.
Dua mangkuk mie ayam datang mengepul.
Danu menghela napas puas. “Gue yang bayar ya. Sesuai janji.”
Rahmat langsung menggeleng. “Nggak usah, Kak. Kali ini gue.”
Danu menatapnya heran. “Lu jangan aneh-aneh. Duit lu kan lagi dipakai buat rumah sakit.”
Rahmat tersenyum lebih lebar dari biasanya. “Udah aman.”
“Aman gimana maksudnya?”
“Udah lunas. Bahkan sudah pindah ke VIP.”
Sendok Danu berhenti di udara. “Serius?”
Rahmat mengangguk pelan.
Danu terdiam beberapa detik. Menatap motor baru rahmat, menatap paras rahmat yang memang terlihat lebih rapi, auranya juga beda dari tempo hari.
“Wah, jangan-jangan lu sekarang miliarder ya, Mat?” Nada suaranya bercanda. Tapi ada sedikit rasa tak percaya di sana.
Rahmat hanya tersenyum tipis tanpa menjawab.
Motor RX King itu terparkir tak jauh dari mereka, terkena cahaya lampu jalan. Danu kembali meliriknya.
“Gue bilang juga apa… sekarang aura lu beda, Mat.”
Rahmat tertawa kecil. “Ah, Kak Danu kebanyakan baca komik.”
Mereka menyelesaikan makan dalam suasana lebih ringan dari biasanya. Untuk pertama kalinya, Rahmat merasa bisa membalas kebaikan seseorang.
Setelah membayar, mereka berdiri dan bersiap pulang.
Dan saat itulah—
“Jambret! Jambret! Tolong!”
Seorang perempuan berteriak histeris dari arah ujung jalan.
Sosok pria berjaket hitam melesat dengan motor matic, menarik tas dari bahu perempuan itu. Motor itu hampir menyerempet pejalan kaki sebelum tancap gas menuju jalan besar.
Baik Rahmat maupun Danu membeku sepersekian detik.
“Astaga—” Danu spontan bergerak maju.
Rahmat merasakan sesuatu bergetar di benaknya.
[Ding.]
Layar transparan muncul di depan matanya.
━━━━━━━━━━━━━━━
[Misi Darurat Terdeteksi]
— Tangkap Pelaku Jambret
— Amankan Barang Korban
Hadiah:
• +5 Poin Status
• Bonus Rp15.000.000
• Fitur Minor: Analisis Kecepatan Objek
Waktu: 3 Menit
━━━━━━━━━━━━━━━
Jantung Rahmat berdetak lebih cepat.
Bukan karena uangnya.
Tapi karena ini pertama kalinya sistem memberi misi yang bukan soal bisnis.
Ini soal tindakan.
Motor jambret itu sudah berbelok ke jalan raya.
Rahmat menoleh ke RX King miliknya.
Mesin dua-tak itu… jauh lebih bertenaga dibanding motor matic biasa.
Danu memandangnya.
“Mat, jangan nekat!”
Namun Rahmat sudah mengambil helm.
Matanya berubah tajam.
“Kalau bukan kita… siapa lagi?”
“Kenapa lo jadi nekad gini sih?”
“karena pahlawan himmel akan melakukan hal yang sama,” jawabnya penuh pd karena dia mengingat sebuah kutipan dari serial kartun yang ia tonton.
Ah, Danu tercengang. Memang demikian bocah bernama rahmat seharusnya.
Mesin RX King meraung keras saat dinyalakan, ramat dengan cepat mengejar itu jambret.