NovelToon NovelToon
EMOSI BERJILID

EMOSI BERJILID

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.

Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.

bagaimana kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUAMI DAN AYAH SIAGA

Hari berlalu, waktu berganti. Farhan jadi suami siaga untuk Rani. Trimester pertama Rani sangat berat, ia tak bisa kena matahari pagi. Rani akan muntah seharian jika sedikit saja cahaya matahari masuk.

"Tutup jendelanya sayang," pintanya.

"Sayang," Farhan sedih melihat kepayahan istrinya.

Kamar Rani harus gelap. Jadinya ia berkegiatan sore sampai malam. Semua terjadi selama trimester pertama.

Lalu makin besarnya janin, kepayahan Rani ketika awal-awal hamil berkurang. Ia kini tak lagi mabuk dengan sinar matahari. Malah sekarang suka dengan bau rumput basah di pagi hari.

Farhan tetap selalu di sampingnya, sebisa mungkin. Rani jiga tak pernah rewel,.sekian ia juga tak suka jika Farhan terlalu dekat dengannya.

Di sela-sela memenuhi kebutuhan istrinya. Farhan tetap tak abai dengan dua anak dari pernikahan sebelumnya.

Ia memastikan jika Leo dan Adrian pulang dan makan tepat waktu. Semua kebutuhan keduanya dipenuhi. Sinta tak perlu pusing dengan biaya pendidikan kedua putranya sampai mereka lulus kuliah.

Setelah mengantar Leo dan Adrian, Sinta ke tokonya. Sudah lebih dua bulan. Tokonya tak seramai biasanya.

Walau sibuk menjelang makan siang. Tetapi pengunjung yang datang kebanyakan hanya beli satu atau dua toples atau satu roti saja. Hal ini membuat Sinta bingung.

"Ninda ... apa brosur-brosur sudah disebar?" tanyanya.

"Sudah, Bu. Bahkan promo dan even icip-icip juga sudah berjalan," jawab Ninda sang manager toko.

"Lalu bagaimana, apa ada peningkatan?" tanya Sinta lagi.

"Ada, tapi tidak seramai dulu," jawab Ninda.

Riani datang, peluhnya bercucuran. Flyer promo masih ada beberapa lembar lagi.

"Bagaimana?" tanya Sinta.

"Sudah diusahakan, Bu. Selanjutnya, kita serahkan sama Allah!" jawab Riani.

Sinta berdiri di balik meja kasir, matanya nanar menatap jajaran kursi yang kosong. Keheningan di tokonya terasa lebih bising daripada keramaian mana pun.

Biasanya, suara denting sendok dan tawa pelanggan adalah musik baginya, tapi sekarang, hanya suara detak jam dinding yang terdengar.

"Bu," panggil Riani pelan, "Tadi ada beberapa pelanggan tetap yang lewat. Saya tanya kenapa tidak mampir, mereka bilang... mereka sedang mencoba menu baru di kafe seberang yang katanya lebih fresh."

Sinta mengepalkan tangannya.

"Lebih fresh? Resepku sudah yang paling unggul!"

Ia tidak menyadari bahwa masalahnya bukan pada rasa, melainkan pada jiwa toko itu. Sejak ia terlalu sibuk dan mulai merasa besar kepala, pelayanannya menjadi kaku. Dan tanpa intervensi Farhan yang biasanya mengarahkan klien-klien besar ke sana, Sinta harus bertarung di pasar bebas yang sangat kejam.

"Besok, kita buat varian baru. Aku tidak mau tahu, pokoknya kita harus ambil kembali pasar kita!" seru Sinta ambisius, mengabaikan fakta bahwa ia sudah melewatkan waktu makan siang anak-anaknya lagi.

Sementara itu, di perusahaan Farhan. Pria itu mendapati kembali jika Sinta mengabaikan anak-anak. Ia mengurut pelipisnya yang tiba-tiba berkedut kencang.

"Astaghfirullah!' gumamnya beristighfar.

"Lina tunda semua jadwal!' suruhnya lalu ia mengambil kunci mobilnya.

'Katakan jika saya harus menjemput anak saya dari sekolah!" lanjutnya tegas.

"Nggak nyuruh Pak Supri, Pak?" tanya Lina.

"Tidak ... sudah waktunya aku yang ambil alih!" jawab Farhan dingin.

Farhan turun ke lantai satu dengan lift khusus. Ia langsung ke parkiran mobilnya dan mengendarai kendaraannya keluar dari gedung kantornya.

Sebelas menit ia sampai, bertepatan dengan gerombolan anak-anak sekolah. Mereka membawa balok-balok kayu. Mata Farhan langsung melebar sempurna. Jantungnya berderak cepat. Kecemasan langsung melanda.

"Leo ...Adrian!"

Farhan menginjak pedal gasnya, ia mendahului anak-anak yang hendak tawuran itu dan langsung masuk halaman sekolah.

"Pak ... Tutup gerbang. Ada anak-anak mau menyerang sekolah!" teriaknya pada penjaga sekolah.

Leo dan Adrian yang duduk berdua saja di sana tampak kaget melihat kedatangan ayah mereka.

"Ayah!" mata Adrian langsung berbinar. Sementara Leo hanya diam saja.

Penjaga sekolah berlari dan langsung menutup pagar dibantu Farhan. Pria itu mengambil ponsel dan langsung melapor kepolisian jika ada penyerangan.

Bener saja, tak lama anak-anak yang mau tawuran itu berteriak-teriak. Mereka langsung menggoyang-goyangkan pagar hendak merobohkan nya.

Leo dan Adrian saling berdempetan, mereka ketakutan. Guru piket Keluar ikut mengamankan.

"Buka ... Gue bunuh Lo ya. Gue tandain Lo!" teriak seorang anak pada Farhan.

Pria itu hanya diam, ia tak menanggapi. Polisi datang dengan bunyi sirine yang keras. Anak-anak itu kabur, melarikan diri.

Satu unit patroli berhenti, dua polisi keluar dan berteriak. Farhan hanya menghela nafas panjang. Laporannya tak dianggap oleh satuan itu.

"Aman kan?" ujar polisi itu menatap tiga pria di balik pagar.

"Untung mereka takut, Pak. Coba mereka sedikit berani. Kalah orang Bapak sama mereka!" sahut guru piket mencibir.

Polisi pun pergi, Farhan bersyukur jika ia yang menjemput anak-anak. Andai itu Sinta atau Supri, entah apa yang terjadi. Farhan tak berani memikirkannya.

Ia mendatangi Leo dan Adrian yang masih shock. Ia langsung memeluk.keduanya. Tentu saja pelukan itu membuat keduanya langsung menangis.

"Ayah ... Untung Ayah datang ... hiks ... Hiks!" ujar Adrian yang masih gemetar ketakutan.

'Sudah ... Ayah di sini. Kalian tidak apa-apa kan?" keduanya mengangguk. Farhan mengucap hamdalah berkali-kali.

Mereka pun pulang, bahkan Farhan mengajak dua anaknya untuk makan siang di sebuah restoran mahal. Leo dan Adrian menikmati kehadiran ayah mereka.

Setelah puas jalan-jalan, mereka pulang ke rumah. Farhan menatap ponselnya. Sampai pukul dua, Sinta sama sekali tak bertanya tentang anak-anak. Ia menggeleng pelan.

Kendaraan itu pun masuk ke rumah besar bertingkat dua itu. Farhan mengantarkan dua putranya sampai depan pintu.

"Ayah langsung kerja lagi ya. Kalian baik-baik di rumah," ujarnya.

Adrian langsung memeluk ayahnya erat-erat. Farhan mengelus punggung putra bungsunya itu. Ia mencium pucuk kepala Adrian.

"Ayah pastii selalu bersama kalian!" ujarnya lembut.

Leo hanya diam menatap, ia sebenarnya ingin sekali memeluk ayahnya. Farhan merentangkan kedua tangannya pada Leo.

"Ayah peluk sini?" Leo menggeleng, tapi Farhan tak peduli.

Ia menarik tubuh si sulung dan memeluknya erat. Adrian juga ikut memeluk. Farhan mengecup lagi pucuk kepala kedua anaknya itu.

'Kalian harus lebih hebat dari Ayan. Ayah yakin, kalian. Bisa!" ujar Farhan lalu pamit.

Farhan naik ke mobil dan perlahan kendaraan itu bergerak. Leo menatap mobil ayahnya yang pelan-pelan meninggalkan pekarangan rumah.

Entah kenapa, tiba-tiba ia berlari.

"Ayah ... Ayah ... Ayah!' Farhan melihat putranya yang berlari dari spion tengah. Ia langsung menghentikan mobilnya.

Farhan keluar dan langsung merentangkan tangan. Leo masuk ke dalam pelukannya. Adrian ikut berlari dan memeluk keduanya.b

"Aku mencintaimu Ayah. . Aku mencintaimu!" ujar Leo dipelukan Farhan.

"Ayah jauh lebih mencintai kalian, anak-anak Ayah!"

bersambung.

Ah ... Sinta.

Next?

1
vania larasati
lanjut kak
Atik Marwati
kan..kan..mau selingkuh lagi cari yg katanya sempurna...😤😤
Atik Marwati
anak orang kaya tapi kekurangan gizi🥺🥺
Atik Marwati
anak anaknya Sam binasih ditinggal akhirnya Farhan yang jemput
Atik Marwati
anaknya empat ya... kasihan yang 2 masak ga di ingat sih..
Serli Ati
ah...pasti Rani buat alasan sambil bermanja dengan Farhan dan Farhan pasti percaya apa yg dikatakan rani dan masalah selesai dech, Rani merasa aman.
Serli Ati
ah....istri Soleha yg manja dan penurut Farhan memang selalu membutuhkan uang Farhan ya, semoga Rani bisa membuka mata dan hati Farhan utk melihat keburukan dan tipu muslihat Rani yg telah menjerat leher dan meruntuhkan rumah tangganya terdahulu.
Atik Marwati
kelihatan belangnya sekarang...rasakan Farhan
Atik Marwati
🧐🧐🧐
vania larasati
lanjut kak
Serli Ati
sungguh malang nasib Farhan istri tua yg setia tapi mandiri dan ambisius istri muda yg manja, tamak dan rakus hanya ingin menguasai harta saja Farhan saja.
dewi: tp ms mending yg pertama lah mnrt aq ms bisa di beri pengertian pelan2 dr pd istri kedua
total 1 replies
nurry
lanjuuuuttt
nurry
nah sekarang puyeng kan Bu Rani 😄
nurry
sama-sama gila kakak 😄😄😄
nurry
wah wah wah Rani mulai gak jujur sama Farhan, hati2 main api kalo kebakar gosong 😄
nurry
set dah Rani 😬
nurry
astaga Rani 😬
Atik Marwati
berharap dapat berlian ternyata krikil...
vania larasati
lanjutt kak
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!