“Aku akan bantu ungkap perselingkuhan suamimu, tapi setelah itu, ceraikan dia dan menikahlah denganku.”
Sekar tak pernah menyangka kalimat itu keluar dari mulut adik iparnya, Langit Angkasa. Lima bulan menikah dengan Rakaditya Wiratama, ia tengah hamil dan merasa rumah tangganya baik-baik saja. Sampai noda samar di kemeja suaminya dan transfer puluhan juta rupiah ke rekening-rekening asing membuka satu per satu kebohongan yang selama ini tersembunyi.
Sekar harus memilih: bertahan dalam luka, atau menyetujui ide gila yang bisa menghancurkan semuanya.
Dan ketika balas dendam berubah menjadi pernikahan, siapa yang sebenarnya akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hashifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman dalam senyap
“Gugurkan.”
Kalimat itu singkat, tapi cukup membuat Anita membelalak kesal. Ia menatap Raka tak percaya.
“Gila, ya, kamu, Mas? Ini anak kamu! Darah daging kamu!”
“Aku nggak punya waktu buat ini, Anita.” Suara Raka rendah, dingin. “Kamu tahu posisi aku sekarang. Kamu tahu aku punya istri. Kamu tahu semuanya dari awal.”
“Tapi aku juga tahu ini anak kamu!” balas Anita, nadanya mulai naik.
Di balik lemari, Langit menahan napas. Jantungnya berdetak lebih cepat. Tangannya mengepal keras.
Mau berapa banyak perempuan lagi yang kamu hancurkan, Raka? geramnya dalam hati.
Raka melangkah mendekati Anita. Tatapannya berubah dingin, menyapu wajah Anita yang juga menyala menahan marah.
“Aku sudah bilang dari awal. Nggak ada komitmen. Nggak ada masa depan. Kamu yang setuju.”
“Aku setuju bukan berarti kamu bisa lepas tangan!” suara Anita bergetar, tapi tetap tegas. “Aku nggak minta banyak. Aku cuma minta kamu tanggung jawab. Nikahi aku.”
Raka tertawa pelan. Pendek. Sinis.
“Tanggung jawab?” ulangnya. “Kamu tahu artinya itu buat aku sekarang? Hancur. Usaha aku, reputasi aku, mama aku. Semua yang aku bangun bisa runtuh cuma karena satu kesalahan ini.”
“Kesalahan?” Anita tersenyum tipis. “Jadi aku ini kesalahan? Bayi ini kesalahan?”
Raka diam. Rahangnya mengeras, matanya menyala tajam. Anita mengangguk pelan, seolah mengerti.
“Oke. Kalau itu mau kamu, kita akui saja sekalian,” lanjutnya tenang. “Kita keluar sekarang. Aku bilang sama istrimu kalau aku selingkuh sama kamu. Aku bilang ke semua orang kalau aku hamil anak kamu. Bahkan kalau perlu, aku bilang hubungan kita sudah ada sebelum kamu menikah.”
Raka menoleh cepat. Dalam satu gerakan, tangannya mencengkeram pipi Anita kuat-kuat.
“Jangan macam-macam, kamu!” desisnya.
Anita tidak terlihat takut. Justru sebaliknya, senyum tipis muncul di bibirnya.
“Kenapa? Takut?” tanyanya pelan. “Takut istrimu ninggalin kamu? Atau takut reputasimu hancur?”
Tatapan mereka saling mengunci.
“Sekarang kamu pilih, Mas,” lanjut Anita. “Aku keluar dan bicara sekarang … atau kamu nikahin aku. Mau alasan bisnis, kerja sama, apa pun—terserah kamu.”
Raka menatapnya tajam. Napasnya mulai tidak teratur. Ia meraup wajahnya kasar, jelas tertekan.
“Oke …,” ucapnya akhirnya. “Kasih aku waktu untuk berpikir.”
Anita menunggu Raka menyelesaikan kalimatnya.
“Tapi jangan membuat masalah apa pun,” lanjut Raka, suaranya menurun, lebih berbahaya. “Sedikit saja kamu buat kesalahan … aku nggak akan segan membuat perhitungan sama kamu.”
Anita baru saja membuka mulut tiba-tiba
Tok. Tok. Keduanya membeku.
“Mas, kamu di dalam?”
Suara Sekar. Tubuh Raka seketika menegang. Dengan cepat ia menarik Anita ke balik daun pintu, menekannya agar tidak terlihat.
“Diam di sini,” bisiknya tajam.
Ia membuka pintu dengan cepat.
Sekar berdiri di sana. Tatapannya langsung mengunci wajah Raka.
“Loh … kok kamu di sini? Kenapa, Sayang? Perut kamu keram?“ tanyanya lembut berusaha sesantai mungkin.
“Habisnya kamu lama. Katanya ke toilet, kok, di sini?“ Ia balik bertanya.
Raka tersenyum. Dipaksakan.
“Tadi emang mules. Habis dari toilet, Mas ingat harus kirim email ke klien.”
Sekar tidak langsung menjawab. Matanya bergerak perlahan, mencoba menembus ruang di belakang Raka.
Ia hampir masuk satu langkah. Namun Raka refleks bergerak maju, mempersempit celah.
“Sudah selesai, kok. Yuk, ke depan lagi, kasihan Mama nemenin tamu sendirian,” ucapnya cepat, lalu meraih bahu Sekar.
Sekar tersenyum tipis, lalu mengangguk.
“Iya, tadi Bagas juga nyariin kamu, makanya aku susul kamu.“
Nada suaranya ringan, tapi matanya terus menatap curiga. Ia sempat melirik sekilas ke dalam ruangan—cukup untuk menangkap sesuatu yang janggal. Namun ia tidak berkata apa-apa.
Raka membalik tubuh Sekar, mengarahkannya menjauh dari ruangan.
Sebelum benar-benar pergi, ia melirik cepat ke dalam—memberi isyarat singkat.
Pintu kemudian tertutup.
Di balik pintu, Anita masih berdiri dalam diam. Lalu perlahan ia tersenyum tipis namun terlihat tajam. Beberapa detik kemudian, ia melangkah keluar dengan tenang, memastikan tidak ada yang melihat.
Sementara itu Langit masih bersembunyi. Tubuhnya terlihat kaku.
Ia menunggu sampai benar-benar yakin langkah mereka sudah menjauh. Baru kemudian ia keluar perlahan dari balik lemari.
Napasnya terdengar berat. Amarahnya menggelegak tanpa bisa ia tahan.
“Ini … kelakuan anak kesayangan kamu, Pa?” gumamnya lirih, suaranya bergetar menahan emosi. “Bahkan dia lebih rendah dari binatang!”
Rahangnya mengeras. “Sudah cukup!”
Tatapannya beralih ke meja. Langit kembali mendekat. Matanya tertuju pada bagian laci yang tadi sempat ia temukan—yang tersembunyi di balik panel.
Pria itu berpikir untuk mencoba membukanya namun kemudian mengurungkan niatnya. Ia menggeleng pelan.
“Aku kehabisan waktu, kalau aku terlalu lama menghilang, mereka bisa saja curiga,” gumamnya lirih.
Dengan cepat, ia mengeluarkan ponsel, mengambil beberapa foto posisi panel dan celah tersembunyi itu.
“Permainan kamu akan segera berakhir, Raka,” bisiknya pelan.
Ia memasukkan kembali ponselnya, lalu bergegas keluar dari ruangan. Tidak aman terlalu lama di sini. Sedikit saja terlambat, semuanya bisa berbalik mencurigainya.
***
Hari semakin malam, acara empat bulanan ditutup dengan pembacaan doa untuk keluarga Raka dan Sekar. Para tamu mulai berangsur pulang satu per satu. Raka dan Sekar tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada para tamu.
Anita melangkah mendekat dengan senyum manis yang nyaris sempurna. Ia menatap Sekar penuh arti.
“Sepertinya saya juga pamit dulu, ya, Bu,” ucapnya sopan.
Sekar menoleh dan membalas senyuman itu. “Sudah mau pulang, Mbak?”
Anita mengangguk pelan. “Iya, Bu, sudah malam. Sekali lagi … selamat, ya, Bu.”
Ia melirik sekilas ke perut Sekar.
“Semoga kandungan Ibu sehat, lancar sampai lahiran nanti.”
Nada suaranya terdengar biasa, namun tatapannya terlalu tajam. Sekar tidak terlalu bodoh untuk menangkap arti tatapan itu. Tapi ia hanya tersenyum.
“Aamiin. Terima kasih, Mbak Anita.”
Anita lalu mengalihkan pandangan ke Raka. Senyumnya tetap sama—namun kini terasa lebih dingin.
“Mas Raka …,” ucapnya santai, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Saya tunggu kabar baiknya, ya … soal proposal kerja yang saya ajukan.”
Ia memberi jeda kecil. “Semoga secepatnya ada keputusan yang dapat menguntungkan kedua belah pihak.”
Kalimatnya terdengar profesional. Tapi maknanya jelas bukan membahas tentang bisnis. Raka menatapnya tanpa ekspresi. Rahangnya mengeras tipis.
“Baik, nanti saya kabari secepatnya,” jawabnya singkat.
Anita mengangguk puas. “Kalau begitu, saya pamit dulu.”
Ia melangkah pergi dengan tenang, meninggalkan halaman rumah Raka dengan senyum yang semakin mengembang.
***
Setelah Anita pergi Sekar menatap punggung wanita itu sampai benar-benar menghilang dari pandangan.
Lalu ia menoleh ke arah Raka.
“Mas …" Tiba-tiba ia menyeletuk.
Raka menatapnya. “Iya, kenapa?”
Sekar tersenyum. “Mbak Anita cantik, ya. Kayaknya pintar lagi, masih muda tapi karirnya cemerlang.”
Raka tidak langsung menjawab. Hanya mengangguk tipis.
Sekar melanjutkan, nadanya masih santai.
“Udah punya suami belum, sih?”
Raka menegang tapi buru-buru bersikap biasa saja. Ia berdeham pelan.
“Belum. Masih sendiri.”
“Oh, ya?” Sekar mengangguk kecil, seolah benar-benar tertarik.
“Pacar juga belum?”
Raka mulai merasa tidak nyaman. “Kayaknya belum. Kenapa?" tanyanya penasaran.
Sekar tersenyum lagi, ia menyeringai tipis.
“Kalau gitu … kenapa nggak dijodohin aja sama Mas Langit?”
Raka refleks menoleh.
gile nih ulet bulu ya kali bikin rusuh dipengajian 4 bulan an
bang Langit kau dimana ih lagi sibuk ama mahasiswa mu kah😂
ap mungkin foto Kaina Raka🙄
ish kebiasan si othor😂