Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.
bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18. cinta tanpa perlindungan
Pagi itu, Sakira terbangun dengan perasaan yang asing—tenang, namun rapuh. Tidak ada pesan pengingat kontrak. Tidak ada jadwal yang mengikat. Tidak ada peran yang harus ia mainkan.
Yang ada hanya kesadaran sederhana:
ia kini mencintai seseorang tanpa perlindungan apa pun.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap cahaya matahari yang menyusup lewat celah tirai. Dalam diam, ia menyadari satu hal penting—hubungan nyata tidak selalu terasa lebih aman daripada hubungan palsu. Justru sebaliknya. Ia lebih jujur, lebih telanjang, dan karena itu… lebih berisiko.
Sakira menarik napas panjang sebelum bangkit.
Hari ini ia akan menghadapi dunia tanpa kontrak.
Di kantor, suasana berubah lebih cepat daripada yang Sakira duga. Bukan karena sikap Rafael—pria itu tetap profesional, menjaga jarak di ruang publik—melainkan karena dunia di sekitar mereka tidak sebodoh itu.
Tatapan mulai berbeda.
Pertanyaan terselubung muncul dalam rapat.
Bisikan yang berhenti mendadak saat Sakira lewat.
Ia tidak bodoh. Ia tahu, meski kontrak telah berakhir, cerita mereka belum.
Dan ia tahu, hubungan dengan seorang CEO tidak pernah benar-benar menjadi urusan pribadi.
Rafael merasakannya juga.
Ia berdiri di depan jendela ruangannya, memandangi kota yang berdenyut tanpa henti. Sejak kontrak berakhir, ia merasa lebih ringan… sekaligus lebih waspada. Setiap keputusannya kini diawasi lebih ketat. Setiap langkahnya dianalisis.
Namun ia tidak menyesal.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak bersembunyi dari perasaannya sendiri.
Ponselnya bergetar.
Rafael:
Bagaimana pagimu?
Pesan sederhana. Tanpa simbol. Tanpa janji.
Namun Sakira tersenyum saat membacanya.
Sakira:
Sedikit gugup. Tapi aku baik.
Rafael membalas cepat.
Rafael:
Jika hari ini terasa berat, ingat—kamu tidak sendirian.
Sakira menutup ponselnya perlahan. Kata-kata itu sederhana, tapi cukup untuk memberinya keberanian.
Masalah datang tanpa peringatan.
Menjelang siang, sebuah artikel daring mulai beredar. Tidak menyebut nama secara terang-terangan, namun cukup jelas bagi siapa pun yang peka.
CEO muda dan staf internal: hubungan profesional atau konflik kepentingan?
Artikel itu rapi. Tidak menuduh. Tidak memfitnah. Namun justru itulah yang membuatnya berbahaya.
Sakira membacanya dengan jantung berdegup kencang. Tangannya dingin.
Tak butuh waktu lama sebelum notifikasi membanjiri ponselnya.
Rekan kerja. Teman lama. Bahkan nomor tak dikenal.
Ia menutup layar, mencoba bernapas.
Rafael memanggil rapat darurat.
Di ruang rapat besar, udara terasa tegang. Dewan komisaris hadir lengkap. Wajah-wajah serius, dingin, dan penuh perhitungan.
“Ini bukan tuduhan,” ujar salah satu komisaris. “Namun citra perusahaan sedang diuji.”
Rafael berdiri. Tegap. Tenang.
“Hubungan saya dengan Sakira terjadi setelah kontrak personal berakhir,” katanya jelas. “Tidak ada keputusan bisnis yang melibatkan konflik kepentingan.”
“Namun publik tidak peduli pada detail,” balas komisaris lain. “Mereka peduli pada persepsi.”
Sakira duduk di ujung meja. Ia tidak diminta bicara. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa… kecil.
Bukan karena Rafael. Tapi karena dunia.
Setelah rapat, Rafael menemui Sakira di koridor sepi.
“Maaf,” ucapnya pelan. “Aku tidak menyangka akan secepat ini.”
Sakira menggeleng. “Ini bukan salahmu.”
“Tapi kamu yang paling terdampak,” kata Rafael lirih.
Sakira menatapnya. Dalam. Jujur.
“Aku tahu risiko mencintaimu,” katanya. “Aku hanya tidak tahu rasanya akan sesunyi ini.”
Rafael ingin memeluknya. Tapi lorong kantor bukan tempat yang aman.
Ia hanya berkata, “Pulanglah lebih awal hari ini. Aku akan mengurus sisanya.”
Sakira mengangguk. Namun saat melangkah pergi, dadanya terasa berat.
Cinta ini nyata.
Dan dunia nyata tidak pernah ramah.
Malam itu, Sakira duduk sendirian di apartemennya. Lampu redup. Buku catatan tergeletak terbuka, namun ia tidak menulis.
Untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri—
apakah cintanya pada Rafael terlalu mahal?
Ia teringat masa lalu. Hidup yang selalu menuntutnya kuat. Mandiri. Tidak bergantung pada siapa pun.
Dan kini, ia berada di posisi paling rapuh—mencintai seseorang yang keberadaannya selalu disorot.
Ponselnya bergetar.
Rafael:
Bolehkah aku ke sana?
Sakira ragu sejenak. Lalu membalas.
Sakira:
Datanglah.
Rafael tiba tanpa pengawalan. Tanpa jas. Hanya seorang pria yang lelah.
Mereka duduk berhadapan di ruang tamu kecil. Tidak ada jarak, tapi juga belum ada sentuhan.
“Aku ingin jujur,” kata Rafael. “ “Hubungan ini akan terus diuji. Oleh perusahaan. Oleh publik. Oleh masa laluku sendiri.”
Sakira menatapnya, menunggu.
“Aku tidak akan menyalahkanmu jika kamu memilih pergi,” lanjutnya. “Aku tidak ingin menjadi alasan hidupmu semakin berat.”
Kata-kata itu menusuk, tapi juga tulus.
Sakira menghela napas panjang.
“Aku lelah menjadi kuat sendirian,” katanya pelan. “Dan aku juga lelah lari setiap kali hidup menuntut keberanian.”
Rafael terdiam.
“Tapi,” lanjut Sakira, “aku juga tidak ingin kehilangan diriku sendiri.”
Rafael mengangguk. “Aku tidak ingin kamu kehilangan apa pun. Termasuk dirimu.
Keheningan turun.
Akhirnya Sakira berkata, “Aku tidak pergi. Tapi aku ingin kita berjalan dengan cara yang jujur. Jika suatu hari beban ini terlalu berat… kita bicara. Tidak menghilang. Tidak berkorban diam-diam.”
Rafael menatapnya lama. Lalu tersenyum—lega, hangat, dan sedikit rapuh.
“Aku berjanji.”
Ia mengulurkan tangannya.
Sakira menggenggamnya.
Hari-hari berikutnya menjadi ujian kesabaran.
Media terus mengendus. Perusahaan memperketat aturan. Sakira memilih fokus pada pekerjaannya, membuktikan bahwa ia berdiri karena kemampuan, bukan karena hubungan.
Rafael berdiri di belakang layar—melindungi tanpa mendominasi.
Namun luka tetap ada.
Suatu sore, Sakira mendengar komentar sinis di pantry.
“Naik cepat karena dekat dengan atasan.”
Ia diam. Tidak membalas. Tapi malam itu, ia menangis untuk pertama kalinya sejak kontrak berakhir.
Rafael memeluknya tanpa kata. Membiarkan air matanya jatuh.
“Maaf,” bisik Sakira. “Aku tidak sekuat yang kamu kira.”
Rafael menggeleng. “Kamu lebih kuat dari yang kamu sadari. Tapi kamu tidak harus kuat sendirian.” Beberapa minggu kemudian, Rafael membuat keputusan besar.
Dalam konferensi pers internal, ia mengumumkan restrukturisasi kepemimpinan sementara. Ia mengambil langkah mundur dari beberapa wewenang strategis, menyerahkan pengawasan pada dewan independen.
“Saya ingin memastikan integritas perusahaan tidak bergantung pada satu orang,” katanya tenang. “Termasuk saya.”
Keputusan itu mengejutkan banyak pihak.
Bagi Sakira, itu bukan pengorbanan—itu tanggung jawab.
Malamnya, mereka berjalan di taman kota. Sama seperti malam kontrak berakhir.
Kamu tidak harus melakukan ini,” kata Sakira. Rafael tersenyum. “Aku ingin melakukannya. Bukan demi kita saja. Demi diriku.”
Sakira menatapnya, mata berkaca-kaca.
“Aku tidak tahu bagaimana akhir cerita ini,” katanya jujur.
Rafael menggenggam tangannya erat.
“Aku juga tidak. Tapi untuk pertama kalinya, aku ingin menuliskannya bersama.”
Sakira tersenyum di balik air mata.
Cinta ini tanpa perlindungan.
Tanpa kontrak.
Tanpa jaminan.
Namun justru karena itulah—
ia terasa paling nyata.
Beberapa hari setelah keputusan Rafael diumumkan, suasana kantor berubah menjadi lebih sunyi—bukan tenang, melainkan waspada. Orang-orang berhati-hati berbicara, seolah setiap kata bisa menjadi pisau yang melukai reputasi seseorang. Sakira merasakannya di setiap langkah. Namun kali ini, ia tidak menunduk.
Ia memilih berdiri.
Dalam rapat tim kecil, Sakira menyampaikan idenya dengan tenang, jelas, dan terukur. Tidak ada ragu di suaranya. Tidak ada upaya untuk terlihat istimewa. Hanya kerja keras yang jujur. Beberapa rekan terkejut—bukan karena idenya, melainkan karena keberaniannya.
Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu berubah: penghormatan yang lahir bukan dari bisik-bisik, melainkan dari hasil.
Sore itu, Rafael menerima laporan evaluasi kinerja Sakira dari divisi independen. Nilainya tinggi. Objektif. Tanpa catatan khusus. Rafael tersenyum kecil—bukan sebagai CEO, melainkan sebagai pria yang mencintai perempuan tangguh di balik semua tudingan.
Ia tidak mengirim pesan pujian. Ia tahu Sakira tidak membutuhkan validasi. Yang ia lakukan hanyalah menunggu.
Malamnya, mereka bertemu di sebuah kedai kopi kecil. Bukan tempat mewah. Tidak mencolok. Hanya meja kayu, aroma kopi, dan hujan tipis di luar jendela.
“Kamu kelihatan lelah,” kata Rafael.
Sakira tersenyum samar. “Tapi aku bangga.”
Rafael mengangguk. “Aku juga.”
Ada keheningan hangat di antara mereka. Lalu Sakira berkata pelan, “Aku belajar satu hal.”
“Apa?” tanya Rafael.
“Cinta yang sehat tidak membuatku berhenti menjadi diriku sendiri,” jawabnya. “Ia justru memaksaku tumbuh.”
Rafael menatapnya lama. “Dan aku belajar bahwa kekuasaan tanpa keberanian untuk jujur… tidak ada artinya.”
Mereka tidak berjanji apa-apa malam itu. Tidak membicarakan masa depan terlalu jauh. Mereka hanya duduk, berbagi waktu, dan menerima bahwa cinta dewasa tidak selalu romantis—kadang ia melelahkan, kadang menyakitkan, tapi selalu jujur.
Saat berpisah, Rafael berkata, “Jika suatu hari kamu ingin pergi, katakan padaku.”
Sakira menatapnya, mata tenang. “Dan jika suatu hari kamu ragu, katakan juga.”
Mereka sepakat pada satu hal: tidak ada lagi diam yang menyakiti.
Di apartemennya malam itu, Sakira membuka buku catatan untuk terakhir kalinya hari itu.
Cinta ini tidak menyelamatkanku dari dunia.
Tapi ia mengajarkanku cara berdiri di dalamnya.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak ingin lari.
Ia menutup buku itu perlahan.
Di luar sana, dunia mungkin masih akan menguji.
Namun di dalam dirinya, Sakira tahu—
ia telah memilih dengan sadar.
Dan pilihan itu, apa pun akhirnya, adalah miliknya sepenuhnya.
Bersambung...