NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.

Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.

Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.

Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Elena dan Evan berjalan keluar dari rumah Clara pagi itu dengan satu tas ransel lusuh di punggung dan uang yang tidak akan bertahan lebih dari dua hari di kota ini.

Evan berjalan di sampingnya tanpa banyak bertanya.

Di ujung jalan Elena berhenti. Mengeluarkan ponselnya. Membuka kontak yang sudah lama tidak ia sentuh, kontak yang selama delapan tahun ia simpan tapi tidak pernah ia tekan.

Ayah itu nama di kontaknya.

Ia menekannya. Elena merasa lega saat mendengar nada masih tersambung.

"Halo?"

Suara itu, suara yang sama yang bertahun-tahun ia dengar di mimpinya, suara yang sama yang terakhir kali ia dengar dalam pertengkaran yang mengakhiri semuanya delapan tahun lalu, membuat tenggorokan Elena terasa sesak tiba-tiba.

"Ayah." Suaranya keluar pelan. "Ini Elena."

Hening di seberang. Lama sekali, membuat Elena merasa cemas.

"Di mana kamu?" Suara ayahnya akhirnya keluar, suaranya terdengar berat, seperti menahan sesuatu yang berat dan tidak bisa di ucapkan.

"Di kota." Elena menjawab. "Aku... aku mau pulang, Yah. Apa Ayah masih mau menerimaku?"

Hening lagi di seberang sana. Lalu.... "Kamu tanya boleh atau tidak sekarang? kemana ajah kamu selama ini? masih ingat kamu punya orang tua?"

Elena memejamkan matanya sebentar.

"Maafkan Elena, Ayah."

"Pulang sekarang."

kalimat itu terdengar seperti bentakan tapi justru membuat hati Elena lega.

****

Rumah itu masih sama, saat Elena akhirnya sampai di depan rumah orang tuanya.

Pagar putih yang tinggi, pohon mangga di sudut halaman yang sudah lebih tinggi dari yang Elena ingat, lantai teras yang sama yang dulu sering Ayahnya duduki sore-sore sambil meminum kopinya.

Evan berdiri di sampingnya menatap semuanya dengan mata yang lebar.

"Rumah siapa ini, Bu?"

"Kakek nenekmu."

Evan menatapnya. "Aku punya kakek nenek?"

Elena hampir tersenyum. "Iya."

Pintu terbuka sebelum mereka sempat mengetuk.

Ibunya berdiri di sana, lebih tua dari yang Elena ingat, rambutnya sudah banyak putihnya, tapi matanya sama persis. Mata yang langsung berkaca-kaca begitu melihat Elena berdiri di depan pintunya dengan tas ransel lusuh dan anak kecil di sampingnya.

"Elena." Ibunya tidak berkata apa-apa lagi. Ia langsung membuka tangannya.

Dan Elena, perempuan yang sudah lama berpura-pura tegar dan tidak menangis, perempuan yang sudah mengunci semua yang ia rasakan di tempat yang paling dalam, berjalan masuk ke pelukan ibunya dan menangis. Benar-benar menangis karena merasa bersalah dan berdosa pada ibunya.

"Maafkan Elena, Bu. Elena berdosa pada ibu."

"Ibu sudah memaafkan kamu, Elena. Ibu tidak pernah benar-benar marah, ibu hanya menunggu kamu sadar dan kembali."

Evan menatap ibunya menangis dengan ekspresi yang tidak ia sembunyikan, ekspresi anak yang terkejut karena belum pernah melihat ibunya menangis seperti ini.

Ayahnya muncul sore itu. Hendra Wirawan, lelaki enam puluh tahun dengan rahang yang mengeras dan mata yang sama kerasnya, berdiri di ambang pintu ruang tamu menatap Elena yang duduk di sofa dengan Evan di sebelahnya.

Ia tidak langsung bicara. Elena juga tidak.

Mereka menatap satu sama lain dalam diam yang sangat panjang, diam yang menyimpan delapan tahun di dalamnya, delapan tahun yang penuh dengan hal-hal yang tidak terucapkan dari kedua arah.

"Kamu sangat kurus dan lusuh." Ayahnya akhirnya berkata.

"Iya." jawab Elena malu

"Adrian mana?"

"Sudah tidak ada urusan lagi dengan nya."

Ayahnya menatapnya lama. Rahangnya bergerak seperti menahan sesuatu.

"Aku bilang apa dulu sebelum kamu pergi?"

Elena tidak menjawab.

"Aku bilang lelaki itu tidak akan bisa jaga kamu." Suara ayahnya berat. "Aku bilang kamu akan menyesal."

"Yah..."

"Aku benar kan?"

"Ayah." Suara Elena pelan. "Aku tahu ayah benar. Aku minta maaf, Ayah." Ia menatap ayahnya langsung. "Tapi aku tidak pulang untuk mendengar itu. Aku pulang karena aku butuh keluargaku."

Ayahnya diam lalu menatap Evan, anak yang belum pernah ia lihat sebelumnya, cucunya yang lahir dan tumbuh tanpa ia tahu.

Sesuatu di wajah keras itu bergerak. Ia menarik kursi dan duduk di depan Elena.

"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi padamu."

Dan Elena bercerita.

Semuanya. Dari awal sampai akhir. Dari Adrian yang di-PHK sampai Adrian yang pergi, dari kabar yang tidak dibalas sampai transfer yang berhenti, dari Ara yang demam sampai Ara yang akhirnya meninggal, dari rumah Clara sampai pagi tadi ketika ia berjalan keluar dari rumah Clara.

Ayahnya mendengarkan semuanya tanpa memotong.

Dan saat Elena selesai, saat tidak ada lagi yang bisa ia ceritakan, ayahnya hanya berkata satu kalimat.

"Kamu dan Evan tinggal di sini sekarang. Karena disinilah seharusnya kamu tinggal."

Tiga bulan kemudian.

Elena duduk di kursi yang dulu milik ayahnya, kursi di balik meja besar di sudut kantor Wirawan Group yang jendelanya menghadap ke jalan raya kota.

Banyak yang berubah dalam tiga bulan.

Rambutnya yang dulu sering ia ikat asal-asalan sekarang tertata rapi. Bajunya bukan lagi daster pudar melainkan blazer navy yang pas di bahunya, celana bahan yang rapi, sepatu yang tidak menipis solnya. Wajahnya semakin terlihat cantik karena sekarang tersentuh make up dan perawatan, tapi ada sesuatu di matanya yang berbeda, lebih tajam, lebih terukur, lebih seperti perempuan yang tahu persis apa yang ia mau.

Evan baik-baik saja. Lebih dari baik-baik saja, anak itu tumbuh dengan cara yang membuat Elena menghela napas lega setiap kali melihatnya berlari di halaman rumah yang luas sambil dikejar-kejar kakeknya yang pura-pura tidak bisa berlari cepat.

1
Lili Inggrid
lanjut
Ovha Selvia
Pasti si clara lah pelakunya, klo si adrian mah ngikut2 aja..
Ovha Selvia
Waaah gak nyangka ternyata clara juga pintar, dia bahkan tau niatnya elena.. Elena, kamu harus selangkah lebih maju daripada pelakor.. Buktikan klo kamu seorang Elena Wirawan 💪
As Tini
yg kyk gini br AQ suka, hrs tegas berwibawa dan TDK menye"😄
As Tini
knp GK minta bantuan ke kluarga sndiri, pdhl kaya raya, demi anak hilangkan ego dan malu. pasti bklan di bantu kok, kasian ara
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuut 💪
Dessy C: siap kak 🫰
total 1 replies
arniya
mampir kak
Dessy C: makasih kak🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!