Dua jiwa yang terjepit di antara tuntutan menjadi "Pria Baja" dan "Wanita Porselen" bertemu dalam sebuah kepura-puraan yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fakta Gelap
Hubungan mereka bergeser dari sekadar teman senasib" menjadi "mitra konspirasi .
Apartemen Arka terletak di lantai tiga puluh sebuah menara kaca yang menjulang di pusat kota. Di dalamnya, tidak ada dekorasi yang menunjukkan kehangatan.
Semuanya minimalis, dingin, dan monokrom persis seperti hidup pemiliknya. Arka berdiri di dekat jendela besar yang memperlihatkan kerlip lampu Jakarta, sementara Laras duduk di sofa kulit berwarna abu-abu tua, menatap sebuah laptop yang terbuka di meja kopi.
Malam ini, mereka sepakat untuk tidak bicara soal perasaan. Mereka di sini untuk urusan bisnis: pernikahan mereka. "Aku sudah mengetik poin-poin utamanya," suara Laras memecah kesunyian. Suaranya terdengar tegas, profesional, seperti sedang mempresentasikan proyek konstruksi. "Pernikahan ini akan berlangsung selama dua tahun. Setelah itu, kita akan mencari alasan yang 'elegan' untuk bercerai tanpa menghancurkan saham perusahaan ayahmu atau harga diri keluargaku."
Arka membalikkan badan, berjalan perlahan menuju meja. Ia menuangkan wiski ke dalam gelas kristal, namun ia berhenti sejenak, lalu menawarkan segelas air putih kepada Laras. "Dua tahun adalah waktu yang lama untuk berpura-pura, Laras."
"Bagi mereka, kita adalah pasangan emas. Bagi kita, ini adalah masa inkubasi untuk mengumpulkan kekuatan agar bisa lepas dari mereka selamanya," sahut Laras. "Sekarang, baca Pasal 1."
Arka duduk di kursi seberang Laras, matanya menyisir layar laptop.
Pasal 1: Otonomi Individu. > Laras tetap memiliki kendali penuh atas kariernya di bidang konstruksi. Tidak ada tuntutan untuk menjadi ibu rumah tangga atau berhenti bekerja demi citra keluarga Baskoro. Arka wajib memberikan dukungan publik terhadap karier Laras.
Arka tersenyum tipis, hampir tak terlihat. "Setuju. Aku tidak butuh pelayan di rumah. Aku butuh rekan yang cerdas. Sekarang giliranku. Tambahkan Pasal 2." Laras menanti dengan jari di atas keyboard.
Pasal 2: Kerahasiaan Medis dan Mental.
Laras wajib menjaga kerahasiaan kondisi kesehatan mental Arka (serangan panik/trauma) dari siapa pun, termasuk keluarga besar. Sebagai imbalannya, Arka akan menjadi perisai Laras terhadap segala bentuk pelecehan verbal atau penghakiman dari keluarga besar dan pihak luar. Laras mengetikkan kata-kata itu dengan ritme yang teratur. "Kamu benar-benar takut mereka tahu kamu manusia, ya, Ka?"
"Di duniaku, manusia adalah kelemahan," jawab Arka dingin. "Lanjut ke Pasal 3. Ini soal apa yang kita bicarakan di pesta tempo hari."
Pasal 3: Hak Atas Identitas dan Penampilan.
Arka wajib membela hak Laras untuk berpakaian dan berpenampilan sesuai keinginannya. Jika ada anggota keluarga atau kolega yang memberikan label negatif (seperti 'ani-ani', 'lonte', dll), Arka wajib mengintervensi secara langsung tanpa perlu diminta.
Laras berhenti mengetik sebentar. Ia menatap Arka dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kenapa kamu mau menjamin ini? Kamu tahu kan, ayahmu akan sangat keberatan kalau menantunya pakai baju yang menurut dia 'kurang pantas'?"
"Karena aku muak melihat kain dijadikan tolak ukur moralitas," Arka menyesap wiskinya. "Dan karena aku tahu, di bawah kebaya merah marun atau gaun hitam itu, kamu tetap Laras yang keras kepala. Aku lebih suka itu daripada boneka porselen yang dipakaikan baju apa saja hanya bisa diam."
Laras menunduk, mencoba menyembunyikan semburat aneh di hatinya. "Oke. Dan Pasal 4. Ini yang paling penting."
Pasal 4: Batasan Fisik. Tidak ada kewajiban hubungan biologis. Kamar akan terpisah. Pernikahan ini murni untuk perlindungan sosial dan strategis, kecuali jika di masa depan terdapat kesepakatan lain yang disetujui kedua belah pihak tanpa paksaan.
Arka terdiam cukup lama menatap poin terakhir itu. "Tanpa paksaan. Aku setuju. Aku tidak ingin menyentuh seseorang yang merasa terpaksa hanya karena selembar kertas pernikahan." Selama satu jam berikutnya, mereka merapikan kata-kata dalam kontrak itu. Suasana yang tadinya kaku perlahan-lahan mencair, digantikan oleh rasa saling percaya yang aneh. Mereka seperti dua pengkhianat yang sedang menyusun rencana sabotase terhadap sistem yang telah membesarkan mereka.
"Selesai," kata Laras sambil menutup laptopnya. "Kontrak ini tidak akan pernah dicetak. Hanya ada di cloud dengan pengamanan enkripsi yang aku buat. Jika salah satu dari kita melanggar, pihak lain berhak mengakhiri aliansi ini." Arka berdiri, berjalan menuju jendela lagi. "Laras, kenapa kamu memilih jalan sesulit ini? Kamu bisa saja kabur ke luar negeri, meninggalkan ibumu, dan hidup bebas."
Laras ikut berdiri, melangkah di samping Arka, menatap kemacetan Jakarta yang tak pernah tidur. "Karena kalau aku kabur, aku membiarkan mereka menang. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa sukses, aku bisa tetap jadi diriku sendiri, justru di tengah-tengah mereka yang mencoba mengaturnya. Kalau aku lari, aku pengecut. Kalau aku tetap di sini dan menang, aku bebas."
Arka menoleh ke arah Laras. Cahaya lampu kota terpantul di mata wanita itu, memperlihatkan api keberanian yang selama ini disembunyikan di balik riasan wajah yang tebal. Untuk pertama kalinya, Arka melihat Laras bukan sebagai "korban standar ganda", tapi sebagai pejuang.
"Kita benar-benar mirip," gumam Arka. "Hanya saja caraku melawan lebih... sunyi."
"Makanya kita butuh satu sama lain, Ka. Kamu butuh suaraku untuk melawan secara terbuka, dan aku butuh kekuatanmu untuk melindungiku dari belakang." Tiba-tiba, ponsel Arka bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari ayahnya.
“Besok fitting baju pengantin di butik rekan Papa. Jangan terlambat. Ingat, Arka, jangan buat malu. Pastikan Laras terlihat seperti calon menantu Jenderal.”
Arka menunjukkan pesan itu pada Laras. Laras hanya tersenyum sinis.
"Fitting baju, ya?" Laras merapikan rambutnya. "Besok, aku akan pakai baju yang menurut ibuku 'terlalu santai' untuk acara fitting. Kita lihat, apakah Pasal 3 kontrak kita benar-benar bekerja." Arka tertawa. Itu adalah tawa pertama Arka yang terdengar lepas di telinga Laras. Bukan tawa formal di pesta, tapi tawa seorang pria yang baru saja menemukan partner dalam kejahatan.
"Aku akan siap, Laras. Aku akan sangat siap."
Malam itu berakhir dengan sebuah kesepakatan yang lebih kuat daripada janji suci mana pun. Mereka pulang ke rumah masing-masing dengan membawa rahasia besar. Di atas kertas digital itu, mereka bukan lagi korban. Mereka adalah arsitek dari masa depan mereka sendiri, dan dunia tidak akan pernah tahu apa yang sedang menunggu mereka di balik etalase pernikahan yang sempurna itu.