NovelToon NovelToon
Academy Of Fallen Marks

Academy Of Fallen Marks

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:218
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sangkar Hijau

Malam merayap perlahan menyelimuti Crimson Crest. Sesuai janji mereka, ini seharusnya menjadi malam kedua bagi latihan rahasia di reruntuhan perbatasan. Di asrama Arcanova, Vivienne sudah bersiap dengan jubah kelamnya, sementara Daefiel baru saja selesai membasuh wajahnya, siap untuk kembali meledek Lucien di tengah latihan nanti.

Namun, di asrama Crimson Crest, Lucien berdiri mematung di depan pintu utama aula asrama.

Ia mengulurkan tangannya, mencoba melangkah keluar menuju kegelapan malam. Namun, tepat saat jemarinya hampir melewati ambang pintu, sebuah getaran sihir terasa di udara. Seberkas cahaya zamrud tipis memancar dari simbol daun hijau di bahunya, bereaksi dengan segel pengaman asrama.

Wuuush—

Sebuah dinding transparan yang berkilauan seperti kaca tipis muncul seketika, menghalangi langkahnya. Lucien mencoba mendorongnya, namun permukaannya sedingin es dan sekeras baja. Ini adalah Segel Penjara Hijau, sebuah protokol disiplin yang berlaku di seluruh akademi penyihir.

Simbol daun hijau bukan sekadar tanda peringatan di siang hari; ia adalah kunci penjara di malam hari. Bagi siswa normal, pintu asrama hanyalah pintu biasa yang bisa dilewati untuk mencari udara segar atau sekadar berjalan-jalan di koridor luar. Namun bagi pemikul simbol daun, asrama berubah menjadi sangkar emas yang tak tertembus. Kekuasaan dewan kedisiplinan atas simbol ini bersifat absolut—sebuah sihir pengikat yang bahkan tidak bisa ditembus oleh kekuatan fisik maupun mana biasa.

"Sial," desis Lucien. Ia mengepalkan tinjunya dan memukul dinding transparan itu. Tak ada retakan, hanya dengungan sihir yang mengejeknya.

Bahkan jika ada pengumuman darurat atau panggilan mendesak dari luar, Lucien akan tetap terkurung di sini hingga matahari terbit dan simbol itu kehilangan sifat “penjara”-nya. Peraturan ini dibuat agar siswa yang melanggar benar-benar melakukan refleksi diri dalam kesunyian, tanpa gangguan dunia luar.

Sementara itu, di reruntuhan yang sunyi, Vivienne dan Daefiel sudah menunggu selama hampir satu jam.

"Di mana si kaku itu?" Daefiel menggerutu sembari melempar kerikil ke arah pilar yang hancur. "Apa dia tertidur karena terlalu lelah menangisi daun di bahunya?"

Vivienne menatap ke arah asrama Crimson Crest yang jauh di ufuk sana. Ia teringat akan aturan lama yang pernah ia baca di buku panduan kedisiplinan. "Dia tidak akan datang, Daefiel," ucap Vivienne pelan, wajahnya tampak cemas.

"Hah? Kenapa?"

"Simbol daun hijau. Di malam hari, simbol itu berubah menjadi segel pengurung. Lucien terjebak di dalam asramanya sendiri. Dia tidak bisa keluar, meskipun dia ingin," jelas Vivienne.

Daefiel terdiam sejenak, lalu ia tertawa hambar. "Jadi, Sang Pewaris Vlad benar-benar menjadi tahanan rumah? Ironis sekali. Padahal kita butuh dia untuk menyeimbangkan energi kutukan ini."

Vivienne mengepalkan tangannya di balik jubah. "Ini buruk. Jika kita tidak bisa berlatih bersama, kontrol kita akan melemah. Dan yang lebih menakutkan... Lucien sendirian di sana dengan 'iblis'-nya tanpa ada kita yang bisa membantu jika energinya meluap."

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak insiden Hutan Abyss, aliansi mereka terbelah oleh dinding sihir yang tak terlihat, meninggalkan Lucien dalam kesunyian kamarnya, bergulat dengan kegelapan yang mulai berbisik di balik simbol yang seharusnya membawanya pada ketenangan.

Di dalam kesunyian kamarnya yang luas dan dingin, Lucien mondar-mandir seperti serigala yang terkurung. Kamar asrama Crimson Crest miliknya hanya diterangi oleh cahaya rembulan yang masuk melalui jendela besar. Namun, jendela itu pun kini tertutup oleh lapisan tipis cahaya hijau—manifestasi dari Segel Penjara Hijau.

Rasa penasaran mulai merayap di benak Lucien. Ia menatap telapak tangannya, lalu melirik simbol daun yang masih bersinar redup di bahunya. Apakah sihir buatan manusia ini bisa menahan kekuatan yang berasal dari kegelapan terdalam? pikirnya.

Lucien duduk bersila di tengah ruangan. Ia memejamkan mata, namun kali ini ia tidak mencari ketenangan seperti yang ia lakukan saat latihan bersama Vivienne dan Daefiel. Sebaliknya, ia memanggil sedikit saja rasa sakit dan amarah yang tersimpan di balik segel kutukannya. Ia melakukannya dengan sangat perlahan, mengatur napas agar energi itu tidak meluap dan menghancurkan kesadarannya.

"Sedikit saja..." bisiknya.

Tiba-tiba, udara di sekelilingnya menjadi berat. Percikan petir hitam seukuran jarum mulai menari-nari di ujung jari telunjuknya. Meskipun kecil, petir itu mengeluarkan hawa dingin yang menusuk tulang. Lucien tidak merasa kesakitan yang hebat seperti saat di Hutan Abyss, hanya rasa geli yang tajam di sepanjang sarafnya.

Ia mengarahkan jarinya ke arah jendela, tepat pada dinding transparan hijau yang menghalanginya. Lucien melepaskan petir hitam itu.

ZAP!

Alih-alih ledakan besar, yang terjadi adalah benturan frekuensi yang mengerikan. Petir hitam itu menghantam segel daun hijau, menciptakan suara dengungan frekuensi tinggi yang sangat keras hingga memekakkan telinga. Dinding transparan itu bergetar hebat, dan sebuah retakan kecil muncul di titik benturan, memancarkan cahaya ungu dan hijau yang tidak stabil.

Lucien terbelalak. Ia segera menarik kembali energinya, namun suaranya sudah terlanjur bergema di seluruh koridor asrama.

DUNGGGGG—!

Suara itu terdengar seperti lonceng raksasa yang dipukul di dalam ruangan hampa. Dalam sekejap, lampu-lampu sihir di kamar-kamar sebelah mulai menyala. Terdengar suara pintu yang dibuka dengan kasar dan gumaman bingung dari para siswa yang terbangun dengan kaget.

"Suara apa itu?!"

"Apa ada serangan?!"

Lucien segera melompat ke tempat tidurnya, menyelimuti dirinya seolah-olah ia sedang tidur nyenyak, meski jantungnya berdegup kencang karena kaget dengan hasil eksperimennya sendiri. Ia menyadari satu hal penting: kekuatan iblis memang bisa merusak segel dewan, tapi harganya adalah keributan yang mustahil disembunyikan.

Jika ia meneruskan serangannya untuk menghancurkan dinding itu, seluruh asrama akan hancur dan Master Alaric—atau lebih buruk lagi, Master Silas—pasti akan muncul dalam hitungan detik. Kekuatan itu terlalu asing, terlalu berisik, dan terlalu berbahaya untuk digunakan sebagai kunci pelarian.

Lucien menatap retakan kecil di jendela yang perlahan-lahan menutup kembali oleh sihir otomatis segel daun hijau. Ia harus menunggu pagi. Mencoba melawan hukum akademi dengan kekuatan kegelapan hanya akan menyeretnya ke dalam lubang yang lebih dalam.

1
gempi
h
Sean Sensei
/Shame/ Vivienne baru saja kena 'mental' dua kali: pertama karena tanda misterius di tulang selangkangannya, kedua karena disindir soal nilai ujian sama Daefiel. Suka banget sama dinamika karakternya, Daefiel kelihatan tipe cowok yang menyebalkan tapi bikin nagih. Semangat nulisnya!
REY ASMODEUS
aku suka 💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!